kumaha atuh lamun aya perpustakaan Sunda jeung penelitian resmi na--- ngan 
lumpat deui kana duit hehe...



________________________________
From: A Gunawan <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, June 28, 2010 12:06:43 AM
Subject: [Urang Sunda] Penelitian Mutakhir Naskah Sunda Kuna

  
Kenging mulung ti Kompas Jabar 26 Juni 2010. Nyanggakeun. .

Penelitian Mutakhir Naskah Sunda Kuna
Oleh. ATEP KURNIA
 
Ada beberapa naskah Sunda kuna (NSK)yang “hadir” belum lama
ini. Tentu saja, “hadir” di sini maksudnya dihadirkan karena telah dan sedang
diteliti dari sisi filologi, ilmu yang memang bergerak di bidang transliterasi,
transkripsi, rekonstruksi, translasi dan interpretasi naskah kuna. 
            Paling
tidak ada 13 NSK yang diteliti. Naskah yang dimaksud sebagai berikut: Carita
Raden Jayakeuling (CRJ, L 407), Kaleupasan (K, L 426 B), Sanghyang
Jati Maha Pitutur (SJMP, L 426 C), Kala Purbaka (KP, L 506), Sanghyang
Sasana Maha Guru (SSMG, L621), Warugan Lemah (WL, L 622), Bimaswarga (B, L 
623), Sanghyang Swawar Cinta (SWC, L 626), Kisah Putra Rama dan
Rawana (KPRR), dan empat versi naskah Sewaka Darma.
            Dari sisi
peneliti naskah, paling tidak dapat digolongkan menjadi dua golongan. Pertama,
datang dari kalangan staf Perpustakaan Nasional RI, yakni Aditia Gunawan.
Peneliti muda ini meneliti SSMG, KP, SJMP, K, WL,
dan SSC. Dari jumlah tersebut yang telah dipublikasikan baru dua, yakni
yang dibukukan menjadi Sanghyang Sasana Maha Guru dan Kala Purbaka:
Suntingan dan Terjemahan (2009).
Sementara yang kedua berasal dari
kalangan akademisi, baik mahasiswa maupun dosen yang tengah menyelesaikan studi
lanjutannya. Dari kelompok ini tercatat Undang A. Darsa (pengajar di Unpad), 
Mamat
Ruhimat (pengajar di Unpad), Rahmat (pengajar di Unpad), dan Reza Saeful
Rachman (mahasiswa UPI Bandung).
            Dari sisi
bahan ada yang menarik kita perhatikan. Dari ke-13 NSK, ada dua di antaranya
yang ditulis di atas bilah bambu. Keduanya, SJMP dan K. Penggarapan
NSK bilah bambu ini merupakan kali pertama yang dilakukan oleh peneliti, karena
sebelumnya yang banyak diteliti adalah naskah-naskah yang berbahan tulis lontar
dan nipah. 
            Sedangkan
dari asal usulnya pun tidak jauh berbeda dengan yang telah dilakukan pada 
penelitian-peneliti an
NSK sebelumnya: kebanyakannya berasal dari koleksi Perpustakaan Nasional dan
Kabuyutan Ciburuy. 
Naskah-naskah dari Perpusnas
adalah SSMG, KP, SJMP, K, B, WL, CRJ,
dan satu versi Sewaka Darma (L 408) yang pernah diteliti sebelumnya. Sementara
dari Kabuyutan Ciburuy, adalah KPRR dan tiga versi naskah Sewaka
Darma yang dua di antaranya telah ditranskripsi oleh Partini dan Edi S.
Ekadjati (1988).
            Dari sisi isinya
memang mengetengahkan keragaman, meskipun kebanyakannya disemangati oleh suasana
keagamaan baik agama Hindu-Budha maupun agama wiwitan. Dari ke-13 naskah
tersebut, di antaranya ada naskah yang berkaitan dengan kosmologi (KP),
pantun Sunda (CRJ), rajah pantun (SSWC), dan topografi (WL). 
            Naskah KPRR yang mula-mula dianggap uniqum (tidak ada salinannya) 
pada penelitian J.
Noorduyn dan A. Teeuw (2006), ternyata satu versi lagi ditemukan tercecer di
tiga kropak NSK yang ada di Kabuyutan Ciburuy. Naskah ini kini ditangani oleh
Mamat Ruhimat.
            Selain itu,
yang layak juga dicatat adalah SSMG. Dari naskah berisi etika para
pengabdi hukum (sang sewakadarma) yang
diformulasikan dalam bentuk numerik dan dibagi menjadi 46 bagian ini, kita
diperkaya dengan khazanah pengetahuan literasi yang dulu hadir di kalangan
orang Sunda, khususnya di kalangan para resi, biku, atau pendeta sebagai
pembaca dan penyalin naskah.
            Pengetahuan
tersebut berkaitan dengan penyebutan Dewa Gana yang dipercayai sebagai prima
causa tulisan. Dewa inilah yang dipercayai melahirkan lontar dan gebang
sebagai bahan tulis. Selain itu, juga disebut-sebut dewa ini pun melahirkan 
tangan, air, kuas, dan
tinta atau disatukan dengan istilah Asta Gangga Wira Tanu.
            Demikian pula penyebutan 10 media
tulis, yakni emas, perak, tembaga, baja, besi, batu, papasan kayu, bilah bambu,
daun lontar, dan daun gebang, berikut pembagian pihak yang berhak menggunakan
medianya. Ke-10 media tersebut diistilahkan sebagai dasawredi (sepuluh tanda
kemajuan). Hal tersebut, jelas, mengungkapkan bahwa di kalangan kaum 
agamawan-cendikiawa n
Sunda di masa lalu telah tumbuh kesadaran akan kekuatan yang ditimbulkan
bacaan, oleh tulisan. Dengan kata lain, literasi memang memegang kekuatan 
sebagai
pendorong kemajuan sebuah masyarakat. 
            Naskah WL pun menarik untuk disimak.
Dengan permulaan, “Ini
warugan lemah. Inge(t)keun di halana, di hayuna. Na pidayeuhheun, na
pirembulleun, na piuballeun”, NSK ini mengungkap 16
karakteristik tanah yang akan dijadikan pemukiman, konsekuensi pememakaiannya, 
serta penolak balanya. Meski miripprimbon, NSK
ini tapi sebenarnya membuktikan
kearifanlokal orang Sundatempo dulu ketika dihadapkan pada pemilihan tanah yang 
dinilai
baik bagi pemukiman.
Inilah salah satu contohnya, “lamunna témbong ka
laut ma ngarana Tuyang Laya na dayeuh. Pamalina /2r/ paéh ku bajra dayeuhan
dayeuh. Panyudana nyawung di tengah lemah poéna tupek kaliwon”(Bila menghadap 
ke laut, namanya Tuyang Laya. Akibatnya daerah tersebut akan
hangus terkena petir. Penawarnya,membuat pondok di tengah tanah, harinyakliwon).
             Naskah lainnya yang juga dapat memperkaya
referensi kita atas sastra Sunda di masa lalu adalah CRJ. Berikut bagian awal 
NSK yang bernuansakan pantun Sunda yang
berhasil dibaca dan ditransliterasi oleh Reza, “pineuh sareureuh neut 
hudang/dipeureumkeun
ha(n)teu beunang/reuwas ku i(m)piyan/ai eta ngaranna/ carek di jeuro
i(m)piyan/sada cucu midang bulan/sada careuh ngalaherang/ sada walik dina
nangsi/sada poneh di kiraway/sada cangcarang di rangrang/sada titiran
disada/sada taliktikan.”
             Sebenarnya, dari fakta-fakta di atas,  jelas penelitian NSK masih 
eksis hingga kini.
Dari komposisi para penelitinya, saya kira, kita patut gembira dengan hadirnya 
para
peneliti muda, yang diwakili Aditia, Reza, Rahmat, dan Mamat. Dengan demikian,
baik disengaja atau tidak,  pewarisan literasi
atas NSK kepada generasi muda telah berjalan. Juga menambah daftar orang yang 
literate di bidang NSK, yang sebelumnya
dikhawatirkan tidak ada lagi.
            Selain itu,
yang tak kalah pentingnya, dengan terungkapnya kandungan NSK di atas
mengisyaratkan urgennya upaya pembacaan, pengalih-aksaraan, dan penerjemahan NSK
lainnya, mengingat jumlah NSK yang belum terungkap itu masih banyak yang belum
tersentuh. 
Aditia (2009) mencatat 55 NSK
yang ada di Perpusnas. Belum yang ada di kabuyutan, seperti Kabuyutan Ciburuy,
Kabuyutan Jasinga, dan yang masih tersebar di masyarakat. Semuanya harus segera
“diselamatkan” dan ditangani secara filologis, mengingat kondisi NSK yang kian
rapuh dimakan waktu.
Karena sebagaimana yang terungkap
dari sebagian hasil penelitian-peneliti an NSK di atas, ternyata sangat
memperkaya pengetahuan kita pada kebudayaan Sunda di masa lalu. Dengan 
penanganan
yang masif dan rinci atas NSK-NSK yang belum diteliti, bisa kita harapkan 
munculnya
beragam pengetahuan baru dari perikehidupan orang Sunda di masa lalu. 
Dengan upaya demikian barangkali
kita takkan kena kutuk sebagai generasi yang pareumeun obor. Tidak
menjadi generasi yang membiarkan warisan budaya dibiarkan musnah dimangsa zaman.
Karena warisan itu dapat dijadikan kekuatan berupa cerminan untuk menghadapi
kehidupan masa kini dan membuat strategi untuk membaca masa yang akan datang. 
 
 
*ATEP KURNIA, penulis lepas, bergiat di Pusat Studi Sunda
(PSS), Rumah Baca Buku Sunda, dan Komunitas Sasaka UIN Sunan Gunung Djati,
Bandung. 
 
            
            
 
 AG
 
  

 


      

Kirim email ke