Pengembangan Infrastruktur Telekomunikasi Harus Dipercepat

Jakarta, Kompas - Percepatan pembangunan infrastruktur 
harus dijadikan dasar untuk penentuan arah kebijakan 
persaingan dan liberalisasi sektor telekomunikasi. Sampai 
saat ini infrastruktur telekomunikasi untuk layanan publik 
masih sangat minim karena rendahnya kinerja pemerintah 
dalam pengelolaan sektor telekomunikasi.

"Untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, maka 
terminasi duopoli dan penambahan pemain baru merupakan 
kebijakan yang seharusnya dilakukan pemerintah secepatnya. 
Hal ini karena alokasi dana untuk pembangunan 
infrastruktur telekomunikasi tidak menjadi prioritas 
pemerintah sehingga mau tidak mau pasar harus dibuka," 
kata Faisal Basri dalam seminar hasil kajian Komisi 
Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tentang kebijakan 
persaingan di bidang telekomunikasi di Jakarta, Jumat 
(10/9).

Sampai saat ini teledensitas dan produktivitas sektor 
telekomunikasi masih rendah. Pemerintah melalui BUMN-nya 
hanya mampu membangun sekitar delapan juta sambungan 
telepon untuk melayani 200 juta penduduk. Jika digabung 
dengan telepon seluler yang telah mencapai 20 juta 
pelanggan, maka teledensitas di Indonesia baru 6 persen.

"Karena itu, sudah sepatutnya bagi pemerintah untuk 
meninjau kembali semua kebijakan yang terkait dengan 
kinerja telekomunikasi. Terutama kebijakan privatisasi, 
penanaman modal asing, dan kebijakan spesifik persaingan 
telekomunikasi. Pola program bagi hasil (PBH) dan kerja 
sama operasi (KSO) juga terbukti mempercepat pembangunan 
infrastruktur," kata Faisal.

Selain itu, kebijakan duopoli dan menaikkan tarif dasar 
telepon juga tidak bisa meningkatkan teledensitas maupun 
produktivitas telekomunikasi. Faisal mengatakan, sudah 
saatnya bagi pemerintah pusat untuk memberdayakan 
kemampuan daerah dengan membuka pasar lokal.

Pembangunan infrastruktur telekomunikasi tidak bisa hanya 
menunggu dari PT Telkom atau PT Indosat. Apalagi kedua 
perusahaan itu hanya tertarik untuk membangun 
infrastruktur di kota-kota besar, seperti Jakarta dan 
Surabaya. Sementara itu, untuk kota lain, perusahaan 
tersebut hanya mencari teman bisnis dengan pola PBH. 
Artinya, hanya dengan memiliki lisensi duopoli, Indosat 
tidak perlu repot membangun namun tetap dapat royalti.

"Ini jelas tidak sesuai dengan tujuan pemberian hak 
duopoli. PT Indosat pun hanya akan investasi di bisnis 
seluler dan komunikasi data yang menjanjikan. Sebaiknya 
pemerintah mengambil sikap untuk buka kesempatan kepada 
pemain baru yang serius, terutama dari kemampuan 
investasinya," kata Faisal.(OTW)

=============================================
Netkuis Instan untuk wilayah Bandung (kode area 022) - SD,SMP,SMA
Berhadiah total puluhan juta rupiah... periode I dimulai 1 April 2004
=============================================


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/IHFolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke