Komunitas Digital Pedesaan Bagian dari Menyejahterakan Bangsa
Tri Djatmiko ORANG membahas dan membicarakan penetrasi dan penggunaan internet di Indonesia lebih kepada pengguna yang terpelajar, selain bagi layanan masyarakat, seperti e-government dan layanan online. Penggunaan internet di Indonesia yang masih kecil selalu dikaitkan-untuk excuse-dengan penetrasi personal computer (PC) yang masih rendah. Padahal, dengan membuka komunitas- komunitas yang ada dengan pola penggunaan PC secara bersama masih ada peluang untuk meningkatkan penggunaan internet. Komunitas besar yang masih belum tergarap adalah pedesaan miskin yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Proses penyebaran pemakaian internet di Indonesia dimulai kalangan perguruan tinggi yang diikuti komunitas perusahaan besar atau multinasional yang sadar akan kebutuhan data dan informasi global untuk menunjang bisnisnya. Kalangan pemerintahan menjadi pengguna berikutnya dengan berbagai program e-government, layanan-layanan online, e-procurement, atau fasilitas data penghitungan pemilu secara online. Belakangan mulai digarap komunitas sekolah menengah sampai dengan sekolah dasar lewat program internet goes to school (IG2S) oleh PT Telkom yang menggarap komunitas tadi menjadi komunitas digital. Ada beberapa program nasional lain yang juga mendukung program internet untuk menyentuh komunitas-komunitas yang umumnya selalu diasosiasikan dengan kaum terpelajar, ningrat baru pada zaman sekarang. Ada suatu komunitas besar di desa-desa yang miskin dan masih rendah pendidikannya yang perlu diglobalkan dengan internet. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi lebih untuk mengangkat harkat hidup warga pedesaan yang masih perlu disejahterakan. Karena tak mampu memasarkan hasil pertanian, petani tidak mendapatkan hasil optimal. Atau dalam proses penanaman benih-benih tanaman, karena kekurangtahuannya, ketika panen petani mendapat hasil yang tidak sesuai dengan permintaan pasar. Demikian pula nelayan yang memerlukan informasi cuaca akurat untuk mendapatkan hasil melaut yang optimal, walaupun mereka mempunyai cara-cara tradisi untuk mengetahui cuaca. Pada era polusi tinggi semacam ini, ramalan cuaca dengan cara tradisi makin kurang akurat. Belum lagi kaum perajin yang memerlukan informasi tentang tuntutan pasar. Di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, pengguna internet kurang dari 6 persen. Dari jumlah tersebut 90 persen lebih adalah pengguna di perkotaan yang memang sudah tersentuh oleh fasilitas telekomunikasi dan lebih teredukasi serta digelontor oleh program- program penginternetan. Singkatnya, ada komunitas besar di Indonesia yang perlu disentuh teknologi internet untuk diglobalkan, khususnya dalam bidang informasi agar kehidupan komunitas ini lebih sejahtera. Internet memberikan informasi apa saja dan layanan apa saja yang dibutuhkan oleh mereka yang miskin informasi, dan bukankah itu salah satu esensi dari layanan internet? Desa digital Pelaksanaan desa digital, salah satu nama yang dipakai di India (BusinessWeek, 28 juni 2004) maupun Banglades untuk membawa internet memerangi kemiskinan di negaranya, bisa dicontoh. Desa digital merupakan bagian dari pengentasan kemiskinan dan penyejahteraan masyarakat pedesaan. Densitas telepon kabel (biasa dipakai untuk dial up internet) yang masih rendah-baru sekitar 4 persen-dan penyebaran layanan telekomunikasi lebih berpihak kepada masyarakat perkotaan dan berduit. Kondisi ini membuat penyebaran internet untuk mewujudkan suatu masyarakat pedesaan yang "digital" akan sulit, yang sebetulnya tak seluruhnya benar. Pada pesta demokrasi yang akan berakhir dengan pemilu presiden putaran kedua, fasilitas telekomunikasi pemilu sudah menjangkau sampai ke kecamatan-kecamatan. Baik yang disiapkan PT Telkom di lebih kurang 2.600 kecamatan maupun oleh PT Pacifik Satelit Nusantara di lebih kurang 1.800 kecamatan. Fasilitas ini minimal sudah teruji pada dua putaran pemilu tahun ini dan tidak boleh disia-siakan setelah pemilu putaran akhir 20 september 2004 nanti. Fasilitas ini dapat dijadikan tulang punggung pembentukan desa digital di Indonesia dan menggelontorkan informasi positif untuk komunitas masyarakat pedesaan. Model bisnis Memasukkan internet ke pedesaan memang tidak harus dalam bentuk dedicated atau tiap pengguna memiliki satu saluran fisik internet dan satu komputer. Bisa dengan mengopi suksesnya kafe internet atau warung Internet dalam meningkatkan populasi pengguna internet, yang lebih tepat disebut kios internet. Di satu atau beberapa desa yang bisa dirapatkan dapat disiapkan kios internet dengan modal awal satu PC, modem dial up, aplikasi yang mendukung, dan printer. Tentu saja satu saluran telekomunikasi baik wireline maupun wireless yang bisa saja memanfaatkan fasilitas pemilu tadi atau fixed wireless yang menjangkau tempat tersebut. Aplikasi yang ditawarkan ke masyarakat pedesaan bisa bermacam-macam, seperti: 1. Pencarian informasi lewat browsing, misalnya data harga-harga benih tanaman, harga-harga pasar hasil pertanian, pupuk, ramalan cuaca, dan lain-lain. 2. Korespondensi melalui e-mail atau chat untuk keluarga tenaga kerja Indonesia, termasuk pengiriman pesan lewat internet 3. E-commerce untuk pertanian, perikanan, hasil kerajinan, dan berbagai produksi masyarakat pedesaan. 4. Program peningkatan kesehatan, pendidikan atau perbankan dalam bentuk "jarak jauh"/distance, dan lain-lain. Menjadi pertanyaan, bagaimana model bisnis yang dapat ditawarkan. Ada dua hal yang dapat menjadi kendala, yaitu modal awal membeli perangkat dan saluran telekomunikasi untuk layanan internet. Harus ada inisiatif dari pemerintah atau dari operator-operator telekomunikasi atau dari pihak lain yang mampu. Penyisihan sebagian kecil keuntungan perusahaan-perusahaan dapat dimanfaatkan untuk maksud ini. Apabila kendala awal ini sudah diatasi untuk suatu komunitas pedesaan, operasional dapat ditunjang oleh model kerja sama antara operator telekomunikasi (misalnya) dan pemerintah kecamatan atau kelurahan. Atau bisa dengan individu setempat yang mampu. Proses berikutnya, yang terberat, mengedukasi masyarakat itu sendiri. Tentu saja ini harus dijadikan program nasional, termasuk bagaimana model pembebanan biayanya untuk disesuaikan dengan kemampuan finansial setempat. Bagi operator atau yang melaksanakan internet masuk desa tadi akan mempertanyakan kapan kembalinya uang. Siapa tahu beberapa contoh bisnis semacam ini yang semula diprediksi tidak terlampau menguntungkan ternyata bisa meledak. Misalnya, bisnis SMS, bisnis portal (detik.com, Yahoo, dan lain-lain). Jumlah penduduk pedesaan di Indonesia yang besar mestinya merupakan pasar yang harus digarap sekaligus menyejahterakan kehidupan mereka. Dengan model bisnis yang tepat dua tujuan itu bisa dicapai, mengentaskan kemiskinan sambil memperoleh profit yang memadai. Dan, model ini sudah berjalan di negara lain, seperti di India atau Banglades. Sekali lagi, yang dibutuhkan adalah adanya kepedulian dari masyarakat yang sudah menikmati indahnya informasi kepada masyarakat yang perlu mendapatkan informasi tetapi tidak memiliki fasilitas tersebut. Mudah-mudahan kemajuan Indonesia dapat ditunjang oleh komunitas pedesaan yang makin cerdas dan makin sejahtera. Tri Djatmiko Praktisi Telekomunikasi, Domisili di Semarang --- Visit www.warnet2000.net for directory of internet cafes. ============================================= Netkuis Instan untuk wilayah Bandung (kode area 022) - SD,SMP,SMA Berhadiah total puluhan juta rupiah... periode I dimulai 1 April 2004 ============================================= ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IHFolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
