Duopoli Perlu Diterminasi Secepatnya

Asmiati Rasyid

TWO is a bad number, demikian Gerard Pogorel, dari Ecole 
National Superiour des Telecommunications (ENST), Paris, 
pada acara lokakarya yang dilaksanakan oleh Komisi 
Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pada tanggal 20 Agustus 
2004. Hasil studi banding Indonesia-Uni Eropa tentang 
kebijakan persaingan di sektor telekomunikasi mendapati 
bahwa persaingan akan efektif jika minimum ada tiga 
pemain.

Studi banding tadi menunjukkan bahwa liberalisasi pasar 
meningkatkan pendapatan sektor telekomunikasi di negara 
Eropa dan di negara-negara lain yang tergabung dalam OECD. 
Persentasi pendapatan sektor telekomunikasi dari produk 
domestik kotor (GDP) rata-rata naik dari 2 persen pada 
tahun 1999 menjadi 3.35 persen pada tahun 2001. Sebagai 
gambaran, pada tahun 2001 pendapatan sektor telekomunikasi 
di Jerman (57 miliar dollar Amerika Serikat), Perancis (29 
miliar dollar AS), Australia (13 miliar dollar AS), 
Inggris (56 miliar dollar AS), Jepang (142 miliar dollar 
AS), dan Amerika Serikat (345 miliar dollar), dan malahan 
di Mexico sudah mencapai 15 miliar dollar AS.

Di negara-negara maju, industri perangkat telekomunikasi 
juga memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap 
pendapatan sektor seperti Denmark, Jerman, Jepang, AS, dan 
Mexico. Ekspor perdagangan peralatan komunikasi di Mexico 
mencapai 12 persen dari total ekspor nasionalnya.

Studi ini juga menunjukkan bahwa pada saat liberalisasi 
dilakukan, semua segmen pasar dibuka untuk pemain baru 
(new entrances). Bukan hanya untuk telepon seluler, 
penyelenggaraan PSTN pun langsung dibuka tanpa ada 
pembatasan jumlah pemain. Pertumbuhan pasar begitu cepat 
terutama penyelenggaraan layanan komunikasi lokal. Hal ini 
dapat dilihat dari banyaknya pemain baru dalam setiap 
segmen, baik di layanan lokal, SLJJ, maupun SLI. Misalnya, 
Jerman ada 184 operator tetap (lokal, SLJJ, SLI), Perancis 
(69), Australia (89), Inggris (225), AS (2.222), dan 37 
operator di Mexico.

Berdasarkan data terakhir dari OECD Communications Outlook 
2003, pemain baru bisa mencapai pangsa pasar layanan SLJJ 
(15-40 persen) dan SLI (20-50 persen). Di negara-negara 
itu fasilitas carrier selection maupun carrier 
pre-selection telah diterapkan sehingga pelanggan dapat 
memilih dengan bebas operator SLJJ atau operator SLI yang 
diinginkannya.

Untuk segmen layanan lokal, persentase pembangunan 
jaringan akses oleh pemain baru relatif kecil, seperti di 
Perancis hanya 0,5 persen, Italia 0,98 persen, dan di 
Jerman 3 persen. Ini karena pada umumnya negara-negara 
Eropa, infrastruktur telekomunikasi telah matang sebelum 
liberalisasi dilakukan (rata-rata teledensitas lebih dari 
50 persen). Tetapi dengan diterapkannya unbundling local 
loop dan number portability maka pemain baru tetap dapat 
merebut pangsa pasar lokal 10-15 persen.

Ini menunjukkan bahwa di negara-negara maju peningkatan 
kinerja pasar sangat tergantung pada pengaturan 
interkoneksi (interconnection-based). Yaitu, bagaimana 
mengatur dan mengendalikan operator incumbent untuk 
memberikan kemudahan-kemudahan agar para pemain baru bisa 
mengakses langsung pelanggan yang tadinya sudah dikuasai 
secara penuh atau dimonopoli oleh operator incumbent. 
Selain itu juga menunjukkan bahwa pengertian kewajiban 
pemberian interkoneksi sudah lebih luas, bukan hanya 
sebatas ketersambungan jaringan antaroperator.

Dari studi ini juga dapat dilihat strategi beberapa negara 
untuk tetap memproteksi operator incumbent dari penguasaan 
dan kepemilikan pihak asing. Seperti Telstra di Australia 
dan France Telecom di Perancis, kepemilikan pemerintah 
masih dominan, 50 persen lebih. Di Australia asing hanya 
boleh memiliki saham 35 persen dan dewan direksi mayoritas 
orang Australia sendiri. Di beberapa negara, foreign 
direct investment (FDI) untuk operator yang berbasis 
infrastruktur dibatasi, di Perancis maksimum 20 persen 
sementara di Jepang 33 persen.

Di Tanah Air, privatisasi dan liberalisasi tidak mampu 
meningkatkan teledensitas dan produktivitas sektor 
telekomunikasi. Sampai saat ini pemerintah melalui 
BUMN-nya hanya mampu membangun sekitar 8 juta sambungan 
telepon untuk melayani lebih 215 juta penduduk. Jika 
digabung dengan telepon seluler yang telah mencapai 23 
juta pelanggan maka teledensitas di negara kita baru 
sekitar 6 persen. Kepemilikan pemerintah di PT Telkom 
sekitar 51 persen dan 11 persen di PT Indosat.

Penelitian empiris Bank Dunia di 86 negara berkembang 
selama periode 1986-1999 (World Bank Policy Research 
Working Paper, Oktober 2002) menemukan bahwa privatisasi 
dan liberalisasi sektor telekomunikasi mampu meningkatkan 
teledensitas 8 persen dan 21 persen produktivitas sektor. 
Demikian juga perkembangan teknologi dan investasi, dapat 
meningkatkan 5 persen teledensitas dan 9 persen 
produktivitas per tahunnya.

Pendapatan total semua operator di Indonesia pada tahun 
2003 sekitar Rp 40 triliun, kurang dari sepertiga 
pendapatan sektor telekomunikasi di Mexico pada tahun 2001 
yang telah mencapai hampir 15 miliar dollar AS. Total 
rencana investasi sektor telekomunikasi di Indonesia tahun 
ini diberitakan mencapai Rp 15 triliun, angka yang cukup 
menggairahkan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. 
Sementara itu investasi di Mexico pada tahun 2001 sebesar 
5.738 juta dollar AS atau sekitar 38,5 persen dari 
pendapatannya.

Lalu pantaskah kita cepat-cepat berbangga dengan 
pendapatan dan keuntungan PT Telkom jika dibandingkan 
dengan besarnya aset negara yang dikelola oleh BUMN yang 
peningkatan pendapatannya karena kenaikan tarif dasar 
telepon? Berapa persen dari pendapatan tersebut yang 
dialokasikan kembali untuk pembangunan infrastruktur untuk 
layanan masyarakat banyak? Karena PT Telkom dan PT 
Telkomsel adalah operator incumbent yang menduduki posisi 
dominan baik untuk PSTN (98 persen) maupun seluler (53 
persen), kinerja PT Telkom sangat menentukan produktivitas 
sektor keseluruhan.

Lebih jauh lagi, pernahkah kita berpikir apakah pendapatan 
total sektor sudah optimal? Apakah kita akan terus 
memosisikan negara ini hanya sebagai target pasar 
negara-negara industri telekomunikasi? Sementara itu di 
negara-negara lain, pendapatan sektor telekomunikasi bukan 
hanya mengandalkan dari industri jasanya, tetapi juga dari 
industri pabrikasi perangkat. Pada tahun 2001, surplus 
perdagangan peralatan komunikasi di Mexico mencapai 10 
miliar dollar AS. India saja punya strategi dalam 
mengambil peluang bisnis ini dengan membebaskan 100 persen 
investor asing untuk mendirikan pabrikasi perangkat 
telekomunikasi di negaranya.

Sepatutnya pemerintah meninjau kembali semua kebijakan 
yang berkaitan dengan kinerja sektor telekomunikasi. 
Terutama kebijakan privatisasi, kebijakan penanaman modal 
asing (PMA), dan kebijakan persaingan spesifik sektor 
telekomunikasi.

Selama ini diketahui, program pola bagi hasil (PBH) dan 
program kerja sama operasi (KSO) tidak berhasil 
mempercepat pembangunan infrastruktur. Demikian juga 
pelaksanaan privatisasi BUMN (PT Telkom dan PT Indosat) 
yang dilakukan hanya untuk kepentingan pemerintah 
ketimbang kepentingan perusahaan, selain kebijakan duopoli 
keduanya yang berarti liberalisasi dilakukan tetapi jumlah 
pemain tetap dibatasi. Meski pemerintah menaikkan tarif 
dasar telepon untuk menarik investor, nyatanya semua 
kebijakan itu belum mampu meningkatkan teledensitas maupun 
produktivitas sektor.

Harus diakui bahwa keterbatasan dana pembangunan dan 
rendahnya kinerja pemerintah dalam pengelolaan sektor 
telekomunikasi selama ini telah menyebabkan kinerja dan 
pemberdayaan sektor telekomunikasi sangat rendah. Padahal 
sebagai salah satu industri strategis, sektor 
telekomunikasi memegang peranan penting untuk mendukung 
pertumbuhan ekonomi, salah satu infrastruktur pendukung 
program pendidikan, dan untuk menjaga pertahanan dan 
keamanan negara.

Oleh karena itu, percepatan pembangunan infrastruktur 
harus dijadikan dasar untuk penentuan arah kebijakan 
persaingan dan liberalisasi sektor telekomunikasi. Suatu 
kebijakan baru sangat dibutuhkan untuk mendukung 
pertumbuhan pasar dan meningkatkan kinerja pasar sektor 
telekomunikasi di negara kita, kebijakan yang lebih 
kondusif untuk meningkatkan teledensitas dan produktivitas 
sektor.

"Infrastructure-based"

Dalam rangka percepatan pembangunan infrastruktur ini maka 
terminasi duopoli dan penambahan pemain baru merupakan 
kebijakan yang seharusnya dapat diambil pemerintah 
secepatnya. Jika memang alokasi dana untuk pembangunan 
infrastruktur telekomunikasi tidak menjadi prioritas 
pemerintah lagi maka pasar harus dibuka.

Persaingan tidak akan efektif dengan duopoli karena 
wilayah negara ini terlalu besar untuk diserahkan kepada 
dua perusahaan itu. Wajarkah kita harus menunggu lagi dan 
menggantungkan sepenuhnya pembangunan kepada PT Telkom dan 
PT Indosat?

Seperti diberitakan, PT Indosat selaku pemain baru layanan 
lokal hanya tertarik di Kota Jakarta dan Surabaya saja, 
untuk kota-kota lain mereka mencari mitra bisnis dengan 
pola bagi hasil (PBH). Artinya dengan hanya memiliki 
lisensi duopoli itu PT Indosat tidak usah repot-repot 
membangun, tapi tetap dapat royalti dan ini tidak sesuai 
dengan tujuan pemberian hak duopoli.

Perlu dicermati, dengan strategi bisnis seperti ini maka 
PT Indosat tetap bisa terus memfokuskan investasinya pada 
bisnis seluler dan komunikasi data yang lebih menjanjikan. 
Demikian juga PT Telkom akan memprioritaskan pembangunan 
di zona 20, yaitu daerah-daerah yang memberikan 80 persen 
kontribusi pendapatan.

Telah terbukti selama ini bahwa program PBH yang telah 
dilaksanakan oleh PT Telkom sejak awal tahun 1990 juga 
tidak efektif. Sebaiknya pemerintah secepatnya mengambil 
sikap untuk membuka kesempatan kepada pemain baru yang 
benar-benar serius, terutama dilihat dari kemampuan 
investasinya.

Berbeda dengan negara-negara yang telah maju, kita juga 
jangan terjebak pada kebijakan yang hanya mengandalkan 
interconnection-based. Kebijakan persaingan yang hanya 
berbasis interkoneksi jika diterapkan akan dimanfaatkan 
pemain baru yang dapat mengambil keuntungan dari 
infrastruktur yang telah tersedia, atau cherry picking 
sehingga percepatan pembangunan infrastruktur tidak akan 
jalan.

Sebagai contoh, PT Indosat selaku penyelenggara layanan 
SLJJ dan SLI secara langsung dapat menikmati keuntungan 
bisnis dari hak interkoneksi ke jaringan PT Telkom yang 
telah dibangun pemerintah selama ini. Sementara itu, 
sebagai pemegang hak duopoli penyelenggara jaringan lokal 
yang telah diberikan sejak pertengahan tahun 2002, sampai 
sekarang kewajibannya itu belum efektif dijalankan.

Diperlukan treatments khusus, setiap pemegang lisensi 
diwajibkan membayar progressive license-fee yang besarnya 
nanti ditentukan berdasarkan persentase pencapaian 
pembangunan yang telah ditetapkan. Karena jika diharapkan 
dari program USO dengan kontribusi yang hanya 0,75 persen 
dari pendapatan operator, percepatan pembangunan tidak 
akan efektif. Diharapkan kebijakan ini dapat diterapkan 
untuk memicu keseriusan operator agar teledensitas 
mencapai 20-30 persen.

Pemberdayaan daerah

Konsep dasar pembukaan pasar lokal dilakukan dengan 
pembagian wilayah layanan berdasarkan provinsi, 
masing-masing ada 3-5 penyelenggara dengan pemilihan 
teknologi yang transparan. Setiap penyelenggara diwajibkan 
membangun jaringan akses lokal sesuai dengan target 
pencapaian yang ditentukan oleh regulator. Penyelenggara 
lokal juga diperbolehkan menjadi penyelenggara 
long-distance antarjaringan lokal dalam satu provinsi 
tersebut.

Pengaturan interkoneksi, penentuan tarif di daerah dan 
pemilihan teknologi, diserahkan sepenuhnya kepada 
penyelenggara lokal. Bisa saja untuk lebih ekonomis, 
jaringan long-distance dalam satu provinsi tersebut 
dibangun secara bersama.

Jadi, di samping PT Telkom dan PT Indosat, dengan 
persetujuan BRTI, pemda setempat dapat memberikan lisensi 
baru kepada BUMD atau badan usaha swasta yang serius. 
Pemda dapat mempersiapkan peraturan daerah (perda) yang 
lebih mendorong pembangunan infrastruktur telekomunikasi 
di daerahnya masing-masing dan dapat lebih aktif 
mempromosikan daerahnya untuk menarik investor dalam 
maupun luar negeri.

Oleh karena itu, pemerintah pusat secepatnya mempersiapkan 
kebijakan investasi khususnya kebijakan PMA untuk sektor 
telekomunikasi untuk dijadikan acuan kebijakan bagi pemda. 
Dengan adanya partisipasi langsung daerah maka 
liberalisasi sektor ini akan lebih efektif.

Beberapa provinsi yang berpotensi dapat dipilih terlebih 
dahulu untuk dijadikan sebagai proyek percontohan (pilot 
project). Jika pertumbuhan ekonomi 6-7 persen bisa dicapai 
dalam 5 tahun mendatang, ditargetkan teledensitas gabungan 
telepon tetap dan bergerak bisa mencapai 30 persen pada 
tahun 2015 atau minimum semua household di negara ini 
sudah memiliki akses layanan komunikasi.

Untuk menjamin interkoneksi dan inter-working sistem 
perangkat antaroperator, dibutuhkan koordinasi dan 
sinkronisasi yang efektif antarsesama operator baik dalam 
satu provinsi maupun antarprovinsi. Pemisahan kewenangan 
pemerintah pusat dan daerah harus diklarifikasi, terutama 
hal-hal yang terkait dengan scarce resources seperti 
spektrum frekuensi dan sistem penomoran.

Agar tidak salah kaprah, banyak hal-hal yang harus 
dipersiapkan sebelum konsep ini diterapkan. Terutama 
kesiapan moral dan kompetensi personel di pemerintahan 
daerah maupun penyiapan tenaga terampil khususnya yang 
memiliki keahlian di bidang manajemen bisnis 
telekomunikasi dan informatika.

Asmiati Rasyid Pendiri Pusat Studi Regulasi Telekomunikasi 
Indonesia dan Staf Pengajar di Sekolah Tinggi Manajemen 
Bandung

---
Visit www.warnet2000.net for directory of internet cafes.
=============================================
Netkuis Instan untuk wilayah Bandung (kode area 022) - SD,SMP,SMA
Berhadiah total puluhan juta rupiah... periode I dimulai 1 April 2004
=============================================


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IHFolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke