Membangun Daya Saing Industri Postel

SEJAK beberapa tahun lalu Departemen Perhubungan 
menjalankan tradisi tahunan berupa penilaian pelayanan 
kepada publik dari unit-unit kerjanya dan dari BUMN dalam 
lingkungan binaannya. Tidak hanya layanan kepelabuhanan 
atau bandara yang merupakan unit kerja departemen itu, 
tetapi juga unit kerja yang langsung melayani masyarakat 
dalam bentuk badan usaha. Misalnya PT Pelni, PT Kereta 
Api, PT Pos Indonesia, dan PT Telkom.

ADA standar penilaian yang baku yang berlaku untuk semua 
unit layanan kepada publik tadi, tidak peduli apakah dia 
perusahaan pelayaran (PT Pelni dan PT ASDP) atau 
perusahaan angkutan (PT Garuda, PT Merpati, dan PT KA), 
atau juga PT Telkom dan PT Posindo. Hanya ada sedikit 
tambahan spesifik sesuai dengan jenis layanannya, tetapi 
secara umum semua pola penilaian sama.

Bagi para penilai, tanpa bekal untuk hal-hal spesifik, ada 
beberapa ganjalan serius karena ternyata ada unit-unit 
yang tidak bisa demikian saja disamakan dengan unit yang 
lain. Misalnya layanan Plasa Telkom tak bisa begitu saja 
disamakan dengan layanan loket PT Pelni atau stasiun 
kereta api.

Standar baku layanan di antara mereka sangat berbeda, 
bahkan antara Plasa Telkom sebagai pusat layanan 
masyarakat dengan kantor pos sebagai ujung tombak PT Pos 
Indonesia. PT Telkom memiliki kriteria layanan sendiri 
yang mengacu kepada standar layanan sebagai operator kelas 
dunia, sementara unit-unit lain masih dengan "standar 
lokal".

Karena yang harus dinilai campur baur antara standar 
internasional dan standar lokal, para penilai menjadi 
bingung dan cenderung terpukau pada layanan prima PT 
Telkom. Nilai yang diberikan kepada berbagai Plasa Telkom 
sampai mendekati 99, jauh dari unit layanan lainnya yang 
paling tinggi 85.

PT Telkom memang sudah beda dengan ketika masih PN Postel 
saat masih gabung dengan PT Posindo, bahkan juga sudah 
beda dengan Perumtel sebelum berubah jadi PT Telkom. 
Sebelumnya keduanya memang merupakan saudara kembar dempet 
yang tidak terpisahkan, sejak dibentuk pada dekade- dekade 
akhir abad ke-19, tahun 1880-an.

Pemerintah kolonial Belanda ketika itu membentuk satu 
dinas layanan kepada publik yang dinamai PTT (Post, 
Telefon en Telegraaf Dienst) yang kemudian menjadi badan 
usaha dengan nama tetap PTT. Nama PTT masih tetap 
disandang hingga masa kemerdekaan, tetapi menjadi Pos, 
Telepon, dan Telegrap, terutama ketika perposan masih 
menguasai lalu lintas informasi, sementara telepon dan 
telegram sebagai pelengkap.

Perkembangannya, PTT diubah menjadi perusahaan negara, 
lalu menjadi Perusahaan Umum (Perum) Pos dan 
Telekomunikasi dalam satu wadah. Wadah ini kemudian 
dipisah karena dianggap masing-masing (terutama 
telekomunikasi) mulai berkembang sehingga perlu penanganan 
khusus dan sebaiknya tidak digabung.

Keduanya semula merupakan perusahaan yang menjalankan 
fungsi sebagai agen pembangunan sehingga kiprahnya pun 
mendukung upaya pemerintah untuk memeratakan layanan 
kepada masyarakat. Namun, telekomunikasi sesuai dengan 
bidangnya yang didukung teknologi yang berkembang berubah 
sifat menjadi lembaga bisnis walau pada awalnya masih 
mendapat beban pemerintah. Pos hingga kini masih 
menjalankan tugas pemerintah tadi meski bentuknya sudah 
perseroan terbatas dengan kendali penuh pemerintah.

KINI kualitas layanan PT Telkom sudah meninggalkan saudara 
kandungnya, PT Posindo, PT Telkom mulai mengglobal 
sementara PT Posindo masih kelas lokal saja karena 
berbagai keterbatasan yang dibuat oleh pemerintah.

Ada hal-hal yang menyebabkan PT Posindo tertinggal, antara 
lain karena sejak awal mereka diberi beban layanan kepada 
masyarakat sampai ke pelosok pedesaan yang jauh dari 
mana-mana. Sementara PT Telkom sejak awal memang tumbuh 
dari perkotaan sehingga ketika harus mengglobal, institusi 
ini tidak mendapat banyak kesulitan.

Dalam beberapa hal proteksi kepada PT Telkom dilakukan 
nyaris secara berlebihan, tidak demikian terhadap PT 
Posindo. PT Telkom hanya diberi satu pesaing dalam pola 
yang namanya duopoli, PT Indosat, sementara pesaing 
Posindo yang dibuka kerannya oleh pemerintah tidak 
terhitung jumlahnya.

Pesaing Posindo mulai dari pengantar surat atau perusahaan 
kurir gurem yang cuma punya 2-3 pegawai, sampai ke kelas 
Tiki yang menggurita dan perusahaan kelas dunia seperti 
TNT, UPS, dan DHL. Kewajiban kepada PT Posindo melayani 
masyarakat pedesaan ini yang tidak mungkin dilirik 
investor perposan, yang membuat BUMN itu sulit bergerak.

Kenyataan bahwa ada kerja sama antarperusahaan jasa 
pengiriman yang memang meminta bantuan PT Posindo, tetapi 
umumnya hanya jika mereka harus mengirim titipan ke 
pelosok. Mereka tidak akan mampu membangun jaringan sampai 
ke pelosok seperti yang dimiliki PT Posindo karena 
investasinya besar dan biaya operasinya tinggi.

Perjuangan PT Posindo untuk tetap dapat melayani 
masyarakat sangat tinggi walau sangat banyak kendala yang 
menghadang. Jika PT Telkom sudah menghapus layanan 
telegram karena sudah tidak efisien dan banyak tergantikan 
oleh SMS seluler, Posindo masih berkutat di layanan 
pengiriman surat-surat. Walau kini mereka juga mengerjakan 
order pindahan rumah, bedol desa layaknya, karena 
sebenarnya mereka mampu melakukan hal tersebut.

Pemerintah sendiri menghadapi dilema yang tidak ringan 
jika harus mengubah PT Pos menjadi perusahaan yang bebas 
untuk hidup dan berkembang. Layanan kepada masyarakat 
pedesaan itu yang tetap diperhitungkan, walau itu berarti 
menggerogoti lebih dari separuh pendapatan BUMN itu.

Akan tetapi, pada kenyataannya pemerintah tidak terlalu 
tahu kondisi di masyarakat, di pedesaan sekalipun, sebab 
kenyataan bahwa sampai ke pedalaman pun ada fungsi PT Pos 
yang diambil pihak lain. Saat ini memang untuk paket-paket 
ke alamat yang sering kurang jelas di pedalaman masih 
mengandalkan PT Posindo yang menanganinya.

Layanan seluler yang sudah kehabisan pasar di perkotaan 
dan di pulau-pulau padat seperti Jawa dan Sumatera kini 
mulai merangsek ke desa. Akibatnya, surat-surat ke 
pedesaan yang selama ini jadi primadona PT Pos mulai 
beralih ke operator seluler lewat SMS yang sedang 
menggejala.

Fasilitas telekomunikasi juga merebut pangsa PT Pos dalam 
soal kirim-mengirim uang.

Lewat ATM yang didukung transmisi satelit untuk data, 
orang bisa mengirim uang dengan cepat, bahkan si penerima 
dapat mengambil uangnya hanya dalam hitungan detik di 
tempat yang terpisah ribuan kilometer jauhnya. Kini PT Pos 
sebenarnya sudah melengkapi dirinya dengan jaringan 
komunikasi data sehingga pembayaran pensiun pegawai 
negeri, misalnya, dapat dilakukan serentak di seluruh 
Indonesia.

Namun, di kota, PT Pos pun kesulitan berkembang jika hanya 
berharap dari kegiatan tradisional berupa pengiriman surat 
dan paket. Peluang yang muncul tidak bisa segera ditangkap 
karena berbagai kendala yang muncul di kalangan internal.

Seorang kepala kantor pos di Kalimantan mengeluh bahwa 
mereka selalu gagal untuk meraih kesempatan yang sudah 
menghadang di depan mata hanya karena adanya 
batasan-batasan dari pimpinan. Tak ada otonomi dan 
kewenangan bernegosiasi untuk kantor-kantor pos sehingga 
ketika calon pelanggan menawar, mereka harus membawa 
masalahnya ke tingkat yang lebih tinggi. Pada saat itu 
calon pelanggan yang menghendaki kecepatan layanan sudah 
digaet pesaing yang luwes dalam tawar-menawar.

Padahal, nyaris tak ada beda antara PT Pos Indonesia dan 
Tiki, DHL, atau UPS dan soal bisnis yang mereka geluti. 
Jaringan, PT Posindo pun memilikinya sampai keluar negeri, 
ke mana pun tujuannya dan itu bukan milik pesaing baik 
domestik maupun internasional.

PT Posindo diyakini akan dapat tumbuh dan berkelas dunia 
jika saja pemerintah memberi keleluasaan, walau untuk itu 
unsur terpenting, sumber daya manusia (SDM), dibenahi 
dengan ketat. SDM menjadi modal utama untuk beralih rupa 
dan fungsi dari pegawai menjadi entrepreneur, dari 
birokrat ke pengusaha.

Sebagai birokrat, mereka akan tetap seperti sekarang, 
menunggu saja di kantor sampai ada yang meminta jasanya, 
dan nrimo ing pandum, menerima saja apa yang jadi "jatah". 
Tetapi sebagai wirausaha, mereka harus merebut peluang 
yang juga diperebutkan oleh banyak pihak lain yang lebih 
berani dan punya strategi.

Dengan dukungan pemerintah, tidak mustahil PT Posindo akan 
lebih maju dan dapat sekelas dengan perusahaan 
multinasional semisal DHL, atau seperti Tiki yang tumbuh 
pesat. Bagi PT Pos, kalau semua mendukung, tidak sulit 
untuk menjadi perusahaan yang punya kemampuan menantang 
dunia.

Apalagi ke depan potensi pedesaan sebagai sumber daya alam 
yang akan digarap dengan lebih profesional akan tumbuh 
sebagai sentra ekonomi yang menandingi industri di 
perkotaan. Menangani ini, PT Pos sudah memiliki jaringan 
yang tak mudah ditembus pesaing.

Tentu saja layanan publik di pedalaman tidak dapat begitu 
saja ditinggalkan asal saja ada hitung-hitungannya berupa 
PSO (public service oblication) yang sesuai sehingga tidak 
malah membebani BUMN itu. PSO ini akan memudahkan PT Pos 
memilah mana berupa layanan masyarakat, mana yang harus 
diperlakukan sebagai transaksi bisnis. Dengan cara itu, PT 
Pos Indonesia akan mampu masuk lahan bisnis dunia, mampu 
ikut dalam arus globalisasi sehingga akan diperhitungkan 
oleh pemain yang lain, bukan sekadar pelengkap penderita.

ORANG sudah menganggap bahwa telekomunikasi kini merupakan 
bisnis, baik yang dikerjakan PT Telkom, PT Indosat, para 
operator seluler, atau para penyedia jasa transmisi. 
Paradigmanya sudah berubah dari kecenderungan yang lebih 
menekankan fungsi sebagai public utility, sebagai sarana 
kepentingan umum yang disediakan pemerintah. Kini 
telekomunikasi sudah berubah menjadi komoditas industri 
yang pertumbuhannya sangat cepat yang melibatkan transaksi 
dan investasi miliaran dollar AS.

Telekomunikasi memang dengan mudah langsung mengglobal 
sebab justru telekomunikasi menjadi wahana untuk 
mengglobal. Mustahil keinginan mendunia terwujud tanpa 
telekomunikasi sehingga tuntutan masyarakat akan 
layanannya pun kelas global pula.

Telekomunikasi saat ini merupakan bisnis yang paling 
menjanjikan yang jika dikelola dengan baik akan 
mendatangkan keuntungan semua pihak, baik operatornya, 
masyarakat, maupun pemerintah. Iklim persaingan yang 
sehat, yang sudah dibuktikan oleh pemain di seluler, 
membuat perusahaan tumbuh dan masyarakat ikut diuntungkan.

Di luar pajak-pajak, dari sektor telekomunikasi pemerintah 
menerima pemasukan berupa penerimaan negara bukan pajak 
(PNBP) yang jumlahnya naik dari tahun ke tahun. Data dari 
Ditjen Postel menyebutkan sebagai contoh tahun 2002 mereka 
menyetor ke kas negara dalam bentuk PNBP sebesar Rp 633 
miliar, yang meningkat menjadi Rp 1,2 triliun pada tahun 
2003.

Catatan menyebutkan, dari PT Telkom saja, pemerintah 
menerima pemasukan baik dari pembagian dividen maupun dari 
berbagai pajak semisal Pajak Pertambahan Nilai (PPN), 
Pajak Penghasilan (Pph), dan Pajak Bumi dan Bangunan 
(PBB). Tahun 1998, pemerintah menerima dividen dari PT 
Telkom sebesar Rp 303 miliar, tahun 2001 sebesar Rp 1,045 
triliun, tahun 2002 menerima Rp 1,39 triliun.

Dari PPN tahun 2002, pemerintah menerima Rp 1,766 triliun, 
dari PPh Badan Rp 1,7 triliun, dari PBB sebesar Rp 7,7 
miliar, berbagai pajak lain sebesar Rp 386 miliar dan 
kontribusi lain sebesar Rp 82,6 miliar. Selama tahun 2002 
itu, PT Telkom menyetor kepada pemerintah total sebesar Rp 
5,3 triliun, hampir 25 persen dari pendapatan usahanya 
yang Rp 21,4 triliun.

Masyarakat, sementara itu, dengan iklim persaingan yang 
tercipta, mulai menikmati layanan yang prima, selain 
kemungkinan besar untuk memilih operator mana yang mereka 
sukai sesuai mutu layanannya. Terutama di seluler, 
berkomunikasi terasa makin lama makin murah sebab operator 
dalam menghadapi persaingan ini harus makin efisien kalau 
ingin tetap hidup dan layanannya digunakan masyarakat.

Tidak sia-sia iklim yang tercipta dari kebijakan 
persaingan. PT Telkomsel, misalnya meraih Ebitda atau earn 
before interest, tax, depreciation and 
amortization-penghasilan sebelum bunga, pajak, depresiasi 
(penurunan nilai mata uang) dan penghapusan tertinggi di 
dunia, 72 persen.

Karena Telkomsel anak perusahaan PT Telkom, 65 persen 
saham milik BUMN itu, maka keberhasilan Telkomsel pun 
diadopsi oleh PT Telkom. Kinerja PT Telkom juga membaik 
sehingga mampu menerapkan berbagai standar internasional 
untuk bisnis dan layanannya yang ujung-ujungnya masyarakat 
juga yang diuntungkan.

Contohnya, kini petugas PT Telkom yang mengejar calon 
pelanggan memberi layanan terbaik kepada pelanggan yang 
ada, misalnya dengan layanan cepat menangani gangguan. 
Bagi masyarakat, fasilitas telepon yang terganggu, 
misalnya mati, akan membuat aktivitas mereka pun 
terkendala.

Apabila telepon pelanggan terganggu, sehingga tidak 
memproduksi pulsa, akhirnya yang rugi Telkom juga karena 
pemasukan pun berkurang. Pemahaman akan hasil akhir ini 
yang membuat Telkom menjadi sangat efisien dan ketat yang 
membuat perusahaan itu mampu bersaing di kancah bisnis 
dunia. Hal semacam itu tidak cuma terjadi di PT Telkom, 
tetapi juga di semua perusahaan telekomunikasi di Tanah 
Air.(HW)


---
Visit www.warnet2000.net for directory of internet cafes.
=============================================
Netkuis Instan untuk wilayah Bandung (kode area 022) - SD,SMP,SMA
Berhadiah total puluhan juta rupiah... periode I dimulai 1 April 2004
=============================================


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/IHFolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke