Pembangunan telematika masih terjebak soal 
organisasi

      Oleh  : Deriz S. Syarief

      Selang satu hari setelah pelantikan Kabinet 
Indonesia
      Bersatu, Menteri Komunikasi dan Informasi (Kominfo) 
Sofyan
      Djalil melontarkan gagasan menggabungkan Direktorat
      Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Postel) dari 
Departemen
      Perhubungan ke Kementerian Kominfo.

      Sepintas, upaya ini ibarat angin segar bagi 
komunitas
      telematika nasional yang sejak lama mengupayakan 
agar
      pembangunan telekomunikasi dan teknologi informasi
      dikoordinasikan dalam satu atap. Langkah Sofyan 
Djalil ini
      juga mengobati kekecewaan atas kegagalan membentuk
      Departemen Telematika.

      Sebaik apapun gagasan penggabungan ini, 
pelaksanaannya
      seperti memanah rembulan. Ada perbedaan prinsipil 
disini.
      Ditjen Postel adalah bagian dari satu Departemen
      Portofolio. Lingkup tugasnya lebih bersifat teknis
      operasional di lapangan dan memiliki jaringan hingga 
ke
      daerah. Sebaliknya, Kominfo hanyalah Kementerian 
yang
      hanya ada di tingkat pusat, tugasnya lebih condong 
dalam
      merumuskan kebijakan.

      Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia 
(APJII)
      datang dengan mengusulkan terobosan baru, yakni 
Dephub
      membuka Direktorat Jenderal baru yang membidangi
      Informatika (teknologi informasi). Alasannya 
praktis,
      Dephub sebagai departemen portofolio memiliki sumber 
daya
      dan jaringan yang memadai. Hanya saja perlu 
diperjelas
      fungsi direktorat ini agar tidak tumpang tindih 
dengan
      Kominfo.

      Gagasan Menkominfo maupun terobosan APJII ini 
memiliki
      benang merah yang sama, yakni reorganisasi lembaga
      pemerintahan -baik departemen atau kementerian. 
Dua-duanya
      tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. 
Apalagi,
      Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dalam rapat 
kabinet
      perdananya menginstruksikan kepada 
menteri-menterinya agar
      dalam sepekan menyusun program 100 hari.

      Oleh karena itu, reorganisasi menjadi langkah yang 
tidak
      efektif. Sudah lama diketahui bahwa hal-hal 
non-teknis,
      seperti perbedaan budaya kerja dan konflik 
kepentingan
      menjadi kendala terbesar dalam merger dan akuisisi. 
Lihat
      saja, merger bank-bank di Indonesia yang diwarnai
      tarik-ulur berbagai kepentingan.

      Tarik-ulur ini akan menghebat bila menyangkut 
lembaga
      pemerintah setingkat departemen atau kementerian. 
Nuansa
      politiknya lebih kental, berpotensi melebar dan 
menjauhkan
      dari akar masalahnya.

      Reorganisasi ini sebenarnya pernah dicoba pada 
Kabinet
      Gotong Royong yang silam. Namun gagal karena kendala
      non-teknis tadi, bahkan hubungan kedua pihak sempat
      memanas. Akankah sejarah kembali terulang ?

      Adapun usulan APJII, betapapun praktisnya juga tidak 
mudah
      dan cepat. Mau tidak mau direktorat baru ini akan
      mengambil porsi tugas dan wewenang yang tadinya ada 
di
      tangan Postel atau Kominfo. Potensi terjadinya 
konflik
      kepentingan sangat besar, sesuatu hal yang paling 
tidak
      diinginkan terjadi dalam pemerintahan yang belum 
genap
      seumur jagung ini.

      Tetapkan koordinasi

      Berbagai kendala non-teknis dalam reorganisasi ini 
justru
      berpotensi menguras energi komunitas telematika. 
Kalau
      sudah begini, perjuangan untuk mengembangkan 
telematika
      akan mentok di masalah bentuk organisasi belaka. 
Komunitas
      telematika sebaiknya jangan terjebak dengan masalah
      organisasi.

      Maksudnya terjebak di sini, adalah terlalu lama dan 
besar
      upaya yang dikeluarkan untuk menggolkan penggabungan 
ini.
      Boleh-boleh saja mengupayakan hal ini dalam satu 
hingga
      tiga hari pertama Kabinet Bersatu.

      Bukankah komunitas telematika sudah mengusulkan
      penggabungan ini sejak jauh hari, saat kampanye 
Pilpres,
      namun ternyata tak membuahkan hasil.

      Bahkan pada dialog dengan komunitas telematika pada
      kampanye dahulu, tak satupun capres yang hadir, 
hanya tim
      suksesnya saja. Pepatah mengatakan pengalaman adalah 
guru
      terbaik.

      Untuk itu, lebih baik komunitas melangkah maju 
dengan
      menginventarisasikan berbagai persoalan nyata 
telematika
      (bukan administratif keorganisasian), membuat 
prioritas
      dan merumuskan rekomendasi, lalu menyampaikan 
minimal
      kepada Kominfo atau Postel. Langkah ini mendesak, 
karena
      pada pekan inilah para menteri menyusun program 100
      harinya.

      Upaya penggabungan atau reorganisasi departemen 
untuk
      memudahkan koordinasi semakin tidak relevan lagi. 
Presiden
      SBY dalam rapat kabinet pertama telah menetapkan 
tiga
      garis koordinasi, yakni garis instruksi, garis 
laporan dan
      garis koordinasi.

      Dalam rapat itu, diputuskan Bappenas sebagai 
instansi yang
      bertugas menyusun agenda prioritas Kabinet Indonesia
      Bersatu. Presiden juga menegaskan bahwa para menteri 
tidak
      boleh membawa pertentangan dalam kabinet. Bila ada 
masalah
      mendasar, harus dibicarakan secara internal.

      Koordinasi, inilah kata yang hilang dalam 
perencanaan dan
      pembangunan telematika nasional selama ini.

      Kurangnya koordinasi antar instansi pemerintah 
seperti
      Kominfo, Postel, Ristek, Depperindag, Depkeh dan 
HAM,
      Depkeu, Depdagri dan Diknas yang membuat mereka 
bergerak
      sendiri-sendiri, bahkan tak jarang kontradiktif.
      Seringkali program pemerintah hanya simbolik belaka, 
tidak
      membumi dengan realitas masyarakat dan bisnis.

      Hal mendasar dalam rekomendasi dari komunitas ini 
adalah
      menetapkan garis koordinasi antar instansi 
pemerintah
      khusus dalam pembangunan telematika.

      Langkah presiden SBY menetapkan tiga garis 
koordinasi
      sebagai "aturan main" dan pondasi kabinet dalam 
bekerja
      sudah tepat. Tinggal bagaimana menambahkan garis
      koordinasi telematika ke dalam "aturan main" 
tersebut.

      Sebagai contoh, masalah frekuensi perlu koordinasi 
Postel
      dan Kominfo, persoalan industri dan investasi perlu 
kerja
      sama Kominfo, Perindustrian dan Menko Perekomian, 
SIN
      (Single Identification Number) antara Kominfo, 
Depkeu dan
      Depdagri.

      Rekomendasi tentang koordinasi ini merupakan 
pendekatan
      holistik terhadap masalah pembangunan telematika,
      dibandingkan pendekatan parsial yang menguntungkan 
satu
      segmen telematika saja.

      Koordinasi menjadi lebih penting dan strategis 
daripada
      pembebasan frekuensi 2,4GHz dan 5,8GHz, masalah
      interkoneksi atau pembajakan peranti lunak.

      Bukannya menafikkan pentingnya ketiga masalah tadi, 
tetapi
      seperti pepatah "first thing first," harus ada 
prioritas
      dalam 100 hari ini.

      Sudah jelas bahwa penting untuk menempatkan Kominfo 
pada
      posisi yang tepat dalam garis koordinasi pembangunan
      telematika. Namun Kominfo bukanlah Kementerian
      Koordinator, bukan pula Bappenas yang ditunjuk 
sebagai
      penyusun agenda.

      Tetapi Kominfo termasuk instansi sentral dalam Tim
      Koordinasi Telematika Indonesia (TKTI) yang dibentuk
      melalui Keppres.

      Kala itu TKTI dibentuk sebagai lembaga adhoc sambil
      menunggu terbentuknya semacam Departemen Telematika. 
Namun
      dalam perjalanannya, TKTI dinilai tidak efektif 
karena
      belum menelurkan satu produk pun yang bisa
      diimplementasikan.

      Lagi-lagi lemahnya koordinasi dari pemerintah pusat
      menjadi penyebabnya. Dengan menetapkan garis 
koordinasi
      tadi dan menempatkan Kominfo serta TKTI dalam posisi
      sentral, cukup menjawab kendala kurangnya 
koordinasi.

      Paling baik fungsi TKTI adalah membantu menjalin
      koordinasi antar instansi pemerintah, baik di 
tingkat
      pusat maupun daerah. TKTI juga bisa menjadi ujung 
tombak
      untuk menjalin kerja sama luar negeri. Tinggal 
bagaimana
      komunitas meyakinkan Presiden untuk memberdayakan 
TKTI,
      dan ini tidaklah sesulit reorganisasi.

---
www.warnet2000.net is up and running!
=============================================
Netkuis Instan untuk wilayah Bandung (kode area 022) - SD,SMP,SMA
Berhadiah total puluhan juta rupiah... periode I dimulai 1 April 2004
=============================================


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IHFolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke