Telepon Pasti, Kado Istimewa bagi Warga Terisolasi 

"HALO... bisa bicara deng (dengan) papa Santi. Ini dari Gemeh," kata Yopi 
Liung Sanda, warga Gemeh dari gagang telepon di kampungnya, Selasa (30/11). 
Karena orang yang dicari tidak ada, Yopi melanjutkan pembicaraan, "Nyanda 
apa-apa. Kita kwa cuma mo tes telepon baru yang dorang dari Jakarta ada 
pasang," tambah Yopi lagi. Ia kemudian menyebut nomor tempat ia menelepon 
0816812293371, sebelum menyudahi pembicaraan per telepon. Pembicaraan 
selama satu menit delapan detik itu menghabiskan biaya Rp 2.640.

Tidak hanya Yopi, Altin Binambun dan beberapa warga lainnya juga segera 
mencoba telepon umum Pasti yang baru dipasang di rumah Sekretaris Lembaga 
Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Gemeh, Elmer Laira. Binambun saat itu 
menghubungi kakaknya yang dipanggil Papa Meri di Manado. 

Dalam dua menit 47 detik (pada pukul 17.45) saja, sudah tercatat transaksi 
Rp 12.782. "Ini masih lumayan. Masih termaso murah. Kalo ba telepon di 
tampa laeng yang pake Pasti, malam hari deng waktu yang amper sama, boleh 
sampe Rp 40.000-an," kata Binambun.

Sanda dan Binambun mengatakan, harga menggunakan telepon yang baru dipasang 
agak murah dibandingkan dengan telepon berperangkat sama yang sudah lebih 
dulu hadir di desa itu.

"Depe harga selangit. Depe argo, argo kuda. Masak baru bilang halo depe doi 
so Rp 5.000. Jadi kalo mo bicara, torang mo ba telepon pa sudara atau anak 
musti kase kaluar doi banya. (Harganya selangit. Argonya, argo kuda. Masak 
baru mengatakan halo saja harus membayar Rp 5.000. Jadi kalau kami mau 
bicara lewat telepon kepada saudara (keluarga) atau anak harus mengeluarkan 
uang banyak)," jelas Binambun.

Tidak hanya warga, wartawan yang ikut dengan rombongan pun ikut mencoba 
menggunakan Pasti yang baru dipasang itu. Maklum tak ada sinyal untuk 
telepon seluler dari semua operator di daerah itu.

Mereka membayar kepada tuan rumah yang juga Sekretaris LPM Desa Gemeh Elmer 
Laira, yang dipercaya sebagai pengelola sarana telekomunikasi bantuan dari 
Direktorat Pos dan Telekomunikasi Departemen Perhubungan yang diserahkan 
melalui PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN). Perangkat Portable Fixed 
Satellite dengan nama layanan Pasti (Pasang Telepon Sendiri) yaitu telepon 
pedesaan yang dibangun oleh PT PSN.

SANDA dan Binambun hanyalah sebagian kecil warga desa dan Kecamaten Gemeh, 
Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara, yang menyambut antusias sarana 
telekomunikasi berupa telepon. Posisi kepulauan itu berada di ujung utara 
Kepulauan Indonesia yang berbatasan dengan Filipina.

Mereka yang selama ini terisolasi karena hubungan komunitas antara satu 
desa dan desa lain, apalagi kota, sangat sulit. Selain tidak ada alat 
transportasi, sarana telekomunikasi juga sangat terbatas. Padahal kalau mau 
jujur, daerah ini memiliki potensi wisata dengan pantai yang indah, situs 
purbakala, yakni goa dengan tengkorak Belanda peninggalan Raja-raja Talaud, 
yaitu Raja Akirang.

Bagaimana wisatawan mau ke sana kalau sarananya minim? Transportasi hanya 
dilayani speedboat dengan perjalanan empat jam di laut lepas dari Lirung 
(Sangihe). Warga Gemeh yang akan ke Manado harus menyediakan uang minimal 
Rp 600.000 dengan uang transpor, uang makan, dan uang rokok. Waktu tempuh 
pun dua hari dua malam. Malah ada yang tiga hari dua malam (tergantung 
kapal) untuk sekali perjalanan.

Kapal perintis sudah diprogram untuk melayani jalur Gemeh, Karatung, hingga 
Miangas (perbatasan Filipina). Sayangnya, sekarang ini kapal itu tidak 
pernah datang lagi ke desa-desa itu. Menurut warga, kapal itu lebih 
berorientasi kepada bisnis sehingga memilih bongkar muatan berhari-hari di 
Tahuna, Siau, atau kota-kota di Kepulauan Sangihe dan Talaud lainnya.

Untuk menghubungi sanak keluarga atau anak yang berada di Sangihe dan 
Talaud, Manado, atau Jakarta, warga harus ke Beo, desa tetangga yang dapat 
ditempuh satu jam perjalanan laut. Atau, menuju ke Lirung (perjalanan empat 
jam melalui laut lepas)

"Doi ba telepon jo so sampe Rp 40.000-an dan malah sampe Rp 70.000- an. 
Blum depe ongkos ka Beo Rp 10.000. Makang di sana, doi rokok. Satu kali 
bajalang so ambi sara," kata Sanda. Maksudnya, sekali bertelepon dari Beo 
diperlukan biaya Rp 40.000-Rp 70.000. Itu belum termasuk biaya 
transportasi, makan, dan rokok. Kalau ditotal, sekali jalan untuk 
bertelepon saja bisa menghabiskan Rp 100.000.

Mantan pelaut itu mengatakan, bertemu dengan wartawan bak gayung bersambut, 
ia banyak bercerita tentang kehidupan sosial di daerahnya yang serba 
kekurangan dari fasilitas hidup layak yang dijanjikan pemerintah. "Dulu 
untuk pelabuhan sudah diukur-ukur, tapi sampai sekarang tak dibangun-
bangun. Padahal daerah sebagai penghasil kopra," katanya.

Memang, di daerah itu sejak tiga tahun terakhir sudah ada telepon dengan 
perangkat sama yang merupakan hibah dari pengusaha. Namun, kondisinya sudah 
rusak. "So satu taong ada perbaiki di Manado. Mar sampe skarang blum datang-
datang," jelas Kepala Desa Gemeh Julian Anderson Ambana.

Adanya telepon, kata Anderson, setidaknya membantu komunikasi dengan sanak 
keluarga dan anak yang bekerja dan menuntut ilmu jauh dari desa. Itu juga 
diakui Ny Stience Manaida. "Torang so nyanda lagi mo ka Manado trus. 
Tinggal ba telepon jo pa anak, itu rindu so terobati," jelas Manaida. Sejak 
adanya telepon (yang sekarang rusak itu) sekitar tiga tahun lalu, Manaida 
hampir setiap hari menelepon anaknya yang sekolah di Manado.

PROGRAM Universal Service Obligation (USO) di 2.975 desa terisolasi seluruh 
Indonesia dari PSN merupakan perusahaan pelopor penyelenggara layanan 
telekomunikasi berbasis satelit swasta pertama di Indonesia untuk 
mengimplementasikan program Kewajiban Pelayanan Universal atau USO.

Berdasarkan surat Menteri Perhubungan No PL. 102/3/12. PHB 2003 tertanggal 
19 Agustus 2003 dan tetap berpedoman pada Keppres Nomor 18 Tahun 2000 
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi pemerintah, PT 
PSN ditunjuk oleh Ditjen Postel sebagai salah satu penyelenggara program 
Kewajiban Pelayanan Universal, yaitu dengan membangun telekomunikasi 
perintisan untuk tahun 2004 di lokasi daerah yang selama ini terisolasi 
dari akses telekomunikasi.

Rian Alisjahbana, Direktur Operasi PSN, mengatakan, pengalaman PT PSN 
merintis misi untuk membebaskan masyarakat dari isolasi telekomunikasi 
telah dimulai sejak awal tahun 1997. Saat itu pihaknya mengembangkan VSAT 
Xpress Connection atau yang dikenal dengan telepon umum satelit (TUS). 
Program itu sebagai infrastruktur telekomunikasi di daerah terpencil.

Dengan VSAT Xpress Connection ini, PT PSN memiliki pengalaman di beberapa 
wilayah sasaran USO dan telah membantu menunaikan sebagian kewajiban 
pelayanan universal-melalui kerja sama dengan Telkom-KSO Divre III, Divre 
IV. Divre I, dan Divre VI.

VSAT Xpress connection inilah yang kemudian menjadi cikal bakal 
dikembangkannya telepon tetap berbasis satelit di tahun 2001 dan dikenal 
dengan nama Pasti. Oleh Direktorat Pos dan Telekomunikasi, Pasti 
diklasifikasikan sebagai teknologi PFS dan merupakan salah satu 
infrastruktur yang dipilih untuk penggelaran kewajiban pelayanan universal 
tahun 2003.

Perangkat Portable Fixed SafeWe (Pasti) yang dimiliki PSN saat ini adalah 
satu-satunya perangkat telekomunikasi yang implementasinya sangat mudah. 
Pasti dapat dipasang sendiri oleh si pengguna, dapat dipindahtempatkan 
dengan mudah, tanpa blank spot, dan dapat langsung kring dengan sistem 
prabayar. "Portable Fixed Satellite kami adalah perangkat telekomunikasi 
yang paling efisien untuk daerah- daerah berteledensitas rendah jika 
dibandingkan dengan teknologi lain," kata Rian.

PSN menyadari bahwa pengguna Pasti umumnya berada di daerah terpencil dan 
mengantisipasi kondisi keterpencilan daerah. Oleh karena itu, PSN telah 
membangun berpuluh- puluh duster yang meliputi seluruh wilayah Indonesia 
(di luar Jawa dan Bali), dari Sabang sampai Merauke. Di dalam duster-duster 
ini terdapat homebase PSN, service point (yang merupakan layanan reparasi) 
dan point of sales (tempat penjualan produk PSN seperti penjualan voucher 
isi ulang).

Khusus untuk program USO, PSN menyiapkan paket produk yang telah 
mengantisipasi aspek-aspek yang menjadi karakteristik dari daerah sasaran 
USO agar kelangsungan operasinya di setiap desa dapat terus berjalan. 
Bentuk antisipasi ini berupa penyediaan paket yang terdiri atas perangkat 
Pasti yang akan dioperasikan sebagai telepon umum yang dilengkapi pulsa 
prabayar dan perangkat penghitung pulsa untuk wartel perintis, alat 
proteksi listrik, serta jasa pengiriman, pemasangan dan kelengkapan 
training untuk sosialisasi bagi operator pengelola di daerah.

Bagi PSN, pelaksanaan program ini sejalan dengan visi dan misi 
perusahaan "melayani yang tak terlayani". Adi Rahman Adiwoso, Presiden 
Direktur PT PSN, mengatakan, esensi program Kewajiban Pelayanan Universal 
(USO) ini tidak hanya bermakna pembebasan masyarakat dari isolasi 
telekomunikasi saja, tetapi merupakan pekerjaan raksasa yang harus betul-
betul dilaksanakan seoptimal mungkin.

"Ini merupakan tanggung jawab moral yang besar agar bangsa kita yang berada 
di seluruh pelosok Tanah Air dapat betul-betul ikut serta dalam pembangunan 
ekonomi yang berlandaskan informasi," katanya.

Maka, kehadiran telepon Pasti merupakan kado yang berharga bagi warga Gemeh 
di akhir tahun 2004. (PIN)

-- 
Warnet2000 menyediakan pasang banner dengan bonus. Banner anda 
akan kami pasangkan selama satu bulan gratis. Siapkan image
banner berikut link anda dan kirim ke [EMAIL PROTECTED] 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/IHFolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke