Layanan "Mobile Data" di Persimpangan Jalan PONSEL yang beredar semakin canggih. Dari hanya berbentuk dual function ponsel, seperti ponsel yang juga merangkap kamera digital atau ponsel yang juga merangkap sebagai game device, hingga ponsel pintar yang kemampuannya hampir bisa mengalahkan komputer desktop kita.
Namun, kita juga sering menemukan hal yang mengganggu mengenai konvergensi fungsi ponsel-ponsel canggih tersebut. Kadang kita temukan hasil foto kamera megapiksel di ponsel ternyata sangat mahal untuk bisa dikirim dengan MMS. Dan yang lebih menyedihkan lagi foto-foto indah liburan di luar negeri tidak bisa langsung dikirim ke Indonesia pada saat itu juga karena ketiadaannya fasilitas data international roaming. Kalau untuk melihat foto-foto tersebut teman-teman harus menunggu kita kembali ke Indonesia, apa bedanya ponsel canggih tersebut dengan kamera digital biasa? Melihat pasar di Indonesia kita menemukan hal yang lebih memilukan dengan lebih populernya proses download ringtone, wallpaper, dan aplikasi game dari kios ponsel daripada menggunakan fasilitas GPRS yang sudah ada sejak tahun 2001. Kalau aplikasi game yang dimainkan di ponsel lebih sering didapatkan dari kios-kios ponsel, maka apa nilai lebih menyatunya fungsi ponsel dan game device dalam ponsel-ponsel canggih zaman sekarang. Semua ini ditambah dengan pandangan umum pelaksana bisnis Value Added Service yang menganggap bisnis mobile data jika dibandingkan dengan bisnis SMS pooling adalah bisnis yang tidak menjanjikan karena ketidakjelasan bisnis modelnya dibandingkan dengan bisnis model SMS pooling yang jelas-jelas membukukan keuntungan yang sangat signifikan bagi penyelenggaranya, pemilik acara, dan operator seluler. Semua fakta ini hanya membuat definisi GPRS sebagai transisi dari cellular 2nd generation menuju kesuksesan peluncuran cellular 3rd generation yang didengung-dengungkan dengan sangat lantang pada saat peluncuran GPRS menjadi tidak jelas maknanya. Kita, pengguna jasa seluler, kehilangan kesempatan mempersiapkan diri menuju era teknologi seluler generasi ketiga kalau GPRS gagal. Sejarah kelabu perkembangan GPRS atau lebih tepatnya 2,5G/mobile data di Indonesia dapat ditumpukan pada ketiga hal. Pertama, pernyataan yang menyebutkan 2,5G hanya sebuah teknologi transisi telah membuat para operator seluler di Indonesia menjadi tidak serius dan setengah hati dalam menggelar teknologi 2,5G. Bisa dikatakan dari pengalaman kita sebagai masyarakat pengguna teknologi 2,5G, operator 2,5G tidak mengerti atau tidak tertarik untuk mencoba menjaga kualitas layanan (service level) dari layanan mobile data mereka, dan untuk membuat struktur pricing yang menarik. Kedua, para operator seluler yang memberikan layanan mobile data mungkin memang tidak pernah berusaha mengerti apa sebenarnya yang kita butuhkan dari layanan mobile data. Mereka pikir kebutuhan kita dalam mobile data sama dengan kebutuhan kita dalam mobile voice. Ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi di Jepang dengan i-mode dari DoCoMo. I-mode mendapat hati dari masyarakat penggunanya sehingga pada saat teknologi 3G masuk di Jepang, bisa dikatakan perkembangannya sangat mulus dan cepat. Ketiga, para operator seluler ada pada kebingungan dalam mencoba menciptakan bisnis model mobile data. Berbeda dengan layanan mobile voice, di mana dalam operasinya operator seluler tidak perlu bekerja sama dengan banyak pihak, sedangkan untuk mobile data bisnis modelnya sangat kompleks dan melibatkan banyak pihak. Di sisi vendor ponsel yang semakin berkembang pesat dalam usaha menggabungkan aspek mobile data dengan mobile voice ke dalam ponsel yang mereka buat, akan sangat disayangkan kalau ternyata perkembangan ini tidak didukung oleh para operator seluler. Perkembangan yang pincang akan merugikan semua pihak, baik itu pelanggan maupun vendor ponsel sebagai pembuat ponsel dan operator seluler sebagai penyelenggara jasa layanan seluler di Indonesia. Ada tiga hal yang dapat dikembangkan oleh vendor ponsel dan operator seluler untuk mengusahakan teknologi mobile data menjadi sebuah hal yang menjanjikan bagi semua pihak. Pertama, mencoba untuk mengerti business model dari mobile data, mencoba untuk menciptakan value chain dari business mobile data. Sebagai dasar atau contoh, kita bisa gunakan inisiatif yang sudah sangat baik dari Mobile Entertainment Forum yang bekerja sama dengan Booz Allen Hamilton dan Mobile Entertainment Analyst di Eropa. Mereka sukses menciptakan value chain yang terbukti jalan untuk Mobile Entertainment Industry. Dengan sedikit penyesuaian, value chain ini akan bisa dijadikan dasar bagi bisnis mobile data. Jika value chain-nya jelas, maka jelas pula di mana untungnya untuk setiap pelaksana dalam proses menjalankan sebuah bisnis mobile data, maka kita semua, vendor ponsel, operator seluler, dan pengguna dapat bahu-membahu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk dapat berjalannya bisnis mobile data seperti yang diharapkan semua pihak. Kedua, mencoba mengerti siapa target pelanggan mobile data. Pengertian yang salah kalau kita menyepelekan perkembangan mobile data hanya karena kenyataan masih rendahnya penetrasi penggunaan internet di Indonesia. Pada saat DoCoMo bulan Maret 2000 diluncurkan, penetrasi penggunaan internet masih rendah di Jepang, dan pada umumnya hingga tahun tersebut orang Jepang belum tertarik bermain dengan internet. Tetapi, i-mode dengan ponselnya yang mudah dibawa dan digunakan di mana saja ternyata malah menjadi salah satu motor perkembangan yang sangat pesat dari penetrasi penggunaan internet di Jepang. Dalam jangka waktu satu tahun i-mode DoCoMo membantu mempercepat perkembangan dunia internet di Jepang dengan menambah 34,5 juta jumlah pengguna internet di Jepang (lebih kurang 50 persen dari total jumlah pelanggan internet di Jepang pada tahun 2001). Sebagai pembanding penyelenggara layanan internet terbesar di AS, AOL, membutuhkan waktu 5 tahun untuk bisa mencapai jumlah pelanggan 34 juta. Ketiga, berusaha lebih serius menjaga kualitas layanan mobile data yang tinggi dengan harga yang bisa diterima pengguna. Untuk ini diperlukan cost analysis dan pengertian teknis kapasitas yang lebih baik dari apa yang ada sekarang. Kalau operator tidak pernah mengerti apakah tarif Rp 5 per kb atau Rp 200.000 per bulan itu profitable bagi operator akan susah kita mengharapkan layanan yang lebih serius dari operator penyelenggara layanan seluler. Ketiganya layak dicoba bagi kesuksesan perkembangan konvergensi teknologi mobile data dan mobile voice di Indonesia. Sangat disayangkan kalau perkembangan konvergensi di sisi ponsel yang sangat pesat harus tertahan hanya karena ketidaksiapan operator memberikan dukungan layanannya. Dev Yusmananda Pernah Bekerja di McKinsey & Company, Sekarang Bekerja sebagai Senior Manager di Salah Satu Operator GSM di Indonesia. E-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
