Matinya Telepon Rumah, Terdesak Kemajuan Telepon Nirkabel yang Canggih
MENYIMAK hasil 3GSM Conference 2005 yang berlangsung di Cannes, Perancis, pertengahan bulan ini, mungkin kesimpulan yang bisa diperoleh untuk sementara ini adalah matinya jaringan kabel telepon di rumah-rumah yang lazim disebut sebagai PSTN atau Public Switch Telephone Network, yang di Indonesia dikelola PT Telkom. Artinya, dalam kurun waktu 3-5 tahun ke depan, sistem jaringan kabel telepon yang digali di dalam tanah tidak akan bisa berkembang dan kehilangan minat banyak orang untuk menggunakannya, bahkan dalam skala perusahaan. ARTINYA lagi, apa pun yang dilakukan PT Telkom, misalnya, tak akan mampu menandingi kecepatan serta pilihan alternatif yang banyak tersedia dalam teknologi telekomunikasi nirkabel yang berkembang secara pesat dan penuh dengan berbagai gagasan yang cemerlang melampaui bayangan kita sendiri tentang perkembangan telekomunikasi. Sekarang saja, jumlah telepon seluler (ponsel) di rumah- rumah di kota besar di Indonesia sudah melebihi dari 2-3 buah, sedangkan telepon rumah yang sudah bertahun-tahun jumlahnya hanya satu saja (atau mungkin dua) dan bentuknya tidak pernah berubah. Memang ada upaya untuk meningkatkan fitur telepon rumah ini, misalnya dengan memberikan kemampuan digital, seperti mampu menerima layanan pesan singkat (SMS) yang sekarang populer atau memecah saluran kabel di sentral boks untuk digunakan sebagai akses jaringan internet pita lebar seperti layanan Speedy. Namun, kedua upaya ini pun mungkin tidak memadai untuk mampu menyaingi teknologi nirkabel 3G yang berkembang sangat pesat dengan pilihan fitur yang beragam. Menggunakan SMS melalui telepon rumah menjadi sangat tidak praktis karena mahal dan bertentangan dengan sifat privasi SMS tersebut karena siapa saja bisa membacanya di telepon rumah. Layanan broadband Speedy masih mempunyai banyak persoalan, khususnya sistem penagihan dan mekanisme perhitungan yang masih berdasarkan besarnya data yang diakses para penggunanya. Bagi konsumen awam, mereka tidak akan mengerti apa yang dimaksud dengan 500 MB per bulan. Karena memang jumlah megabyte ini menjadi sangat absurd karena pengguna Speedy tidak pernah tahu berapa besar data yang mereka gunakan ketika sedang berselancar di situs internet atau memeriksa e-mail. Tidak bicara Semua kelemahan teknologi telekomunikasi lama, walaupun di beberapa negara maju sudah diupayakan sebisa mungkin didorong untuk lebih mudah dimengerti konsumen awam, tetap saja tidak akan mampu untuk bisa secara cepat mengantisipasi laju perkembangan teknologi telekomunikasi nirkabel. Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, telekomunikasi sudah tidak lagi masalah berbicara melalui perangkat telepon, tetapi menuju apa yang disebut beyond voice services, di mana kita mampu mengakses data kecepatan tinggi, menonton video maupun teve, melihat lawan bicara, bekerja, dan segala hal yang tidak mampu disediakan oleh telekomunikasi PSTN. Kita sekarang baru mengenal teknologi GPRS dan EDGE (Enhance Data Rate for GSM Evolution) atau CDMA2000-1X yang dianggap mampu mewakili kepentingan akses data kecepatan tinggi. Sebagai teknologi, kehadiran berbagai fitur telekomunikasi nirkabel yang tersedia sekarang ini seharusnya menjadi pengantar dan sekaligus sarana pembelajaran untuk membiasakan penggunaan akses data kecepatan tinggi. Namun, karena memang para operator penyedia fitur ini tidak memiliki bayangan dalam menentukan tarif yang wajar bagi penggunaan akses data melalui telepon seluler, maka di sisi konsumen sendiri masih ada keraguan apakah akses data yang mereka gunakan tersebut adalah wajar. Ini kondisi yang terjadi kalau kita memerhatikan bagaimana para operator GSM menetapkan tarif Rp 5 KB yang sebenarnya juga tidak memiliki sebuah justifikasi yang bisa dinalar oleh para konsumen. Sementara dalam skala perkembangan teknologi sendiri, penggunaan GPRS maupun EDGE yang dianggap sebagai gerbang menuju ke teknologi telekomunikasi generasi ketiga (3G) sebentar lagi akan ditinggal menuju ke sistem yang lebih baru, WCDMA (Wideband Code Division Multiple Access) dengan kecepatan akses lima kali lipat GPRS. Salah satu fitur lain dalam teknologi 3G adalah HSDPA (High Speed Download Packet Access) yang mempunyai kecepatan sampai 14,4 mbps atau setara dengan akses hotspot yang kita kenal kini. Menghubungkan manusia Yang menarik dari penggelaran teknologi baru oleh kalangan industri ini adalah sebenarnya konsep yang ditawarkan apa yang bisa dilakukan oleh teknologi 3G (juga dianggap sebagai Super 3G). Motorola Inc, misalnya, memperkenalkan konsep yang disebut sebagai seamless mobility, sedangkan raksasa telekomunikasi lain asal Swedia, Ericsson AB, memperkenalkan gagasan yang disebut sebagai mobile triple play. Seamless mobility mengacu pada terkoneksi dan tersinkronisasi berbagai perangkat melalui jaringan nirkabel, orang- orang akan terus terhubung secara terus-menerus di mana saja mereka berada. Bahkan, apa pun perangkat yang dipilih, mulai dari layar raksasa teve plasma, notebook, telepon seluler saku, hingga radio satelit di mobil, semua tersedia dalam seketika. Dalam peragaan yang dilakukan Motorola diperkenalkan konsep seamless mobility ini, diperagakan seseorang di rumah sedang mendengarkan musik melalui sistem stereonya yang tertayang ada sebuah monitor. Ketika orang ini pindah ke mobilnya, musik yang sedang didengarkan di rumah ini pindah ke sistem stereo mobil dan meneruskan lagu yang diputar. Ketika sampai di kantor dan berada di belakang komputer, musik yang sedang didengarkan di mobil berlanjut terdengar pada komputer yang terhubung dengan sistem pengeras suara komputer. Dan seterusnya..., dan seterusnya.... Ke mana pun orang tersebut bergerak, semua aktivitas digitalnya akan terus mengikuti orang ini, termasuk misalnya pekerjaan terakhir yang sedang dilakukan, atau video terakhir yang sedang disaksikan, dan berbagai kegiatan digital lainnya. Semua dilakukan secara real-time, menggunakan sistem jaringan gabungan antara nirkabel dan kabel tetap, menggunakan teknologi internet protocol (IP), dan kompabilitas perangkat yang sangat tinggi. Seamless mobility adalah konsep menghubungkan manusia dengan manusia, manusia dengan perangkat, perangkat dengan manusia, serta perangkat dengan perangkat. Kebutuhan mendesak Adapun konsep mobile triple play yang dirumuskan Ericsson berangkat dari kenyataan bahwa perangkat ponsel di dunia sekarang ini diproduksi sebanyak 600 juta setiap tahun, komputer (desktop maupun notebook) sebanyak 150 juta setiap tahun, dan perangkat seperti video, audio, maupun teve yang diproduksi 170 juta per tahun. Mobile triple play menggabungkan teknologi yang sekarang tersedia secara masif, yaitu telepon, internet, dan teve yang bermanfaat dan bisa diakses dari rumah, sambil bergerak (mobile), ataupun dari kantor. Dalam konsep ini, perangkat ponsel menjadi sentra keseluruhan kegiatan mobile triple play, baik untuk kepentingan telepon di kantor maupun di rumah, sebagai sarana akses internet, dan sarana melihat teve. Pengejawantahan mobile triple play ini berdasarkan proyeksi bahwa pada tahun 2009 nanti penggunaan akses broadband, baik menggunakan kabel maupun nirkabel, akan mencapai 400 juta pelanggan. Dan gagasan ini juga diilhami oleh mulai banyaknya jasa layanan mobile TV seperti Vfe di Jerman yang menyediakan lima saluran atau Sprint di AS yang menyediakan 13 saluran dikenal sebagai jasa MobiTV. Semua saluran teve untuk ponsel ini menyediakan berbagai jenis program, mulai dari MTV yang sangat populer di kalangan anak muda sampai siaran berita seperti CNBC. Kenyataan yang juga mendorong konsep mobile triple play ini adalah angka statistik di negara-negara Eropa Barat menunjukkan bahwa ARPU (Average Rate Per User) penggunaan ponsel jauh lebih tinggi pada penggunaan bisnis dibandingkan dengan penggunaan biasa. Apalagi, teknologi ponsel sekarang ini secara mudah bisa dijadikan sebagai sarana sambungan ekstension kantor (PABX tersambung menggunakan IP), terintegrasinya dengan berbagai aplikasi perkantoran, serta mulai mendesaknya kebutuhan individual perkantoran. Sebuah kenyamanan Semakin cepat teknologi akses yang tersedia memang akan mendorong terjadinya konvergensi yang tanpa batas. Digitalisasi sekarang menjadi segalanya sehingga infrastruktur telekomunikasi yang tidak bergerak ke arah digitalisasi akan tertinggal dan bahkan akan menjadi sejarah yang dilupakan orang. Sekarang mungkin orang tidak banyak yang ingat bagaimana awalnya infrastruktur telekomunikasi dimulai. Tidak banyak yang ingat atau mengetahui bentuk perangkat telegram yang digunakan sebagai kode morse untuk berkomunikasi. Dan perangkat itu pun sebenarnya sudah punah dan tidak ada lagi yang menggunakannya, kecuali mungkin di lingkungan militer yang menjadikannya sebagai sarana komunikasi rahasia. Digitalisasi memungkinkan konvergensi berbagai perangkat teknologi yang sekarang tersedia di pasaran untuk berbicara satu sama lain. Kita baru mengenal bagaimana perangkat PDA (Personal Digital Assistant) atau notebook terhubung dengan ponsel sebagai sarana akses internet melalui fitur Bluetooth atau inframerah. Kalangan industri komunikasi mendorongnya lebih maju, menyatukan semuanya sebagai sebuah kenyamanan untuk bekerja, akses pribadi, dan sebagainya. (rlp) Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
