Peluncuran Satelit Telkom-2 Akan Terlambat

PELUNCURAN satelit komunikasi Telkom-2 akan mengalami penundaan hingga Mei
mendatang akibat belum siapnya satelit pasangannya, Syracuse 3A milik
Departemen Pertahanan Perancis. Mestinya Telkom-2 buatan Orbital dari
Amerika ini sudah diluncurkan Desember lalu oleh perusahaan peluncur
satelit, Ariane Space dari Perancis.

Ini merupakan penundaan kedua kalinya setelah sebelumnya direncanakan
diluncurkan pada Maret lalu, ditunda hingga April, dan ditunda lagi sampai
Mei. Padahal satelit yang akan digantikan, Palapa B4, sudah habis masa
teknis dan ekonomisnya, bahkan sudah lewat empat tahun dari seharusnya
tahun 2001.

Menurut Direktur Utama PT Telkom Kristiono, perpanjangan usia satelit yang
diluncurkan tahun 1992 ini justru membawa berkah. PT Telkom lalu mendapat
tambahan pemasukan dari sewa yang mencapai 80 juta dollar AS dari sewa 20
transpondernya. B4 memiliki 24 transponder dan sewa tiap transponder 1
juta dollar AS setahun.

Maklum akal orang melarat sehingga sejak awal PT Telkom memang menghemat
pengoperasian Palapa B4 dengan membatasi gerakannya. Gerakan yang sedikit
akan mengirit bahan bakar selain memang baterai dan solar panelnya bisa
tahan lama. Satelit harus sering dikontrol dan dikembalikan ke orbitnya
yang melenceng akibat gaya tarik bumi. Pengembalian ke tempatnya harus
dilakukan dengan menyalakan roket dan itu memakan bahan bakar.

Di sisi lain, harga satelit Telkom-2 sekitar 63 juta dollar AS dan biaya
peluncurannya 60 juta dollar AS. Biaya peluncuran relatif murah sebab BUMN
itu memilih roket peluncur yang bisa diisi dua satelit, dual passenger,
Ariane 5. Risikonya, walau sudah siap, kalau satelit pasangan belum siap,
peluncuran akan tertunda.

"Waktu menetapkan siapa yang akan meluncurkan, kita memang masih
dibayang-bayangi krisis moneter. Dicarilah cara yang paling mungkin
ditanggung oleh PT Telkom," ujar Kepala Divisi Long Distance PT Telkom
Sarwoto Atmosutarno.

Kelambatan peluncuran lazimnya tidak dapat diklaim untuk mendapat ganti
rugi. Tetapi Ariane kemudian memberi kompensasi berupa tambahan 20
kilogram bahan bakar untuk satelit, yang berarti akan memperpanjang
usianya 1 tahun dari 15 tahun yang direncanakan.

Kata Sarwoto, Palapa B4 masih dapat digunakan walau bebannya harus
dikurangi sehingga dari 24 transponder kini hanya diisi 16,2 transponder.
Sisa pemakainya sebagian dialihkan ke satelit Telkom-1 sampai satelit itu
penuh, selebihnya dialihkan ke satelit China Star yang disewa PT Telkom.
"Ini rencana untuk menghadapi segala kemungkinan (contingency plan) selama
tiga bulan," kata Sarwoto.

Satelit China Star itu berada pada posisi 87 derajat Bujur Timur di atas
khatulistiwa. Sementara Palapa B4 dan juga Telkom-2 nantinya berada pada
posisi 118 derajat Bujur Timur.

MENURUT Sujito, Manajer Pengendalian Satelit, dan Dani Widjanarko, Manajer
Pengoperasian dan Pemeliharaan Divisi Long Distance, mereka melakukan
pengiritan gerak satelit. Selain membuat usianya masih dapat ditambah,
juga Palapa B4 masih dapat dikendalikan walau harus "dipelototi" terus-
menerus dari stasiun bumi akibat sering pindah tempat.

Satelit Palapa B4 memang sudah dilepas kendali buminya untuk gerakan
utara-selatan walau kendali barat-timur dan ketegakannya masih dilakukan.
Pelanggan-pelanggan potensial, misalnya Citra Sari Makmur (CSM), Patrakom,
Perintis Sejahtera, dan Primakom sudah dipindah ke satelit Telkom-1.

Mereka menggunakan antena parabola di bumi yang garis tengahnya 10 meter
yang karena sifatnya memiliki titik yang tajam sehingga tak bisa menerima
sinyal satelit yang sedikit saja melenceng. Beda dengan antena yang
berdiameter 5 meter yang masih menangkap sinyal satelit yang naik turun
tadi.

Beda dengan di luar negeri di mana bisnis satelit sudah mengalami masa
suram sebab prasarana telekomunikasi terestrialnya sudah sangat bagus.
Kondisi Nusantara yang terdiri dari 17.000 pulau membuat keberadaan
satelit menjadi penting, selain serat optik dan radio gelombang
mikrodigital.

Di luar kepentingan riset dan pertahanan keamanan, satelit sangat
dibutuhkan oleh PT Telkom antara lain untuk layanan sambungan langsung
jarak jauh dan kanal sewa jarak jauh. Flexi yang makin membesar yang tahun
2008 akan memiliki 9 juta pelanggan juga akan membuat satelit Telkom
penuh.

Karenanya, hanya 30 persen kapasitas satelit yang disewakan pihak luar,
misalnya kepada stasiun-stasiun televisi, Telkomsel, dan sebagainya.
Menjadi penting, sebab kompetitor, PT Indosat, tak akan mengganti satelit
Palapa C milik mereka yang akan habis usianya dalam dua-tiga tahun
mendatang.

Menurut Sarwoto, Telkom tidak dapat memenuhi semua pasar yang ada, sebab
semua transpondernya sudah ada yang menyewa. Ke depan ini, untuk layanan
universal service obligation (USO) pun jasa satelit dibutuhkan, sebab USO
akan melayani kawasan terpencil yang belum punya fasilitas telekomunikasi.
(HW)



Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke