Memasuki Era 3G, Masih Persoalan Kreatif
RIUH rendahnya kehadiran teknologi 3G (baca: triji), yang menggunakan teknologi jaringan terbaru disebut Wideband Code Division Multiple Access, tidak hanya menyangkut masalah teknologi dan perangkat telepon selulernya, tetapi juga lisensi frekuensi yang sekarang menjadi sorotan di Indonesia. Pasalnya, salah satu pemegang lisensi 3G ini menjual sahamnya kepada Hutchison Telecommunications International Ltd. OLEH karena itu, secara keseluruhan pun kita akan bertanya untuk apa sebenarnya masyarakat Indonesia memasuki teknologi 3G ini di tengah-tengah pasar seluler berbasis GSM yang sudah tersaturasi dan cukup puas dengan layanan suara dan SMS saja. Ketika Hutchison Telecommunications International Ltd menggelar layanan 3G melalui perusahaan seluler Three (www. three.com.hk), ada dua hal yang menjadi perhatian Kompas. Pertama, ketersediaan perangkat telepon seluler alias ponsel berkemampuan 3G, dan kedua, mengubah kebiasaan. Perangkat ponsel mungkin tidak menjadi sebuah persoalan karena operator Three menyediakan berbagai pilihan, termasuk subsidi perangkat agar penyebarannya bisa cepat. Yang menjadi persoalan adalah kebiasaan kita berseluler. Selama lebih dari satu dekade cara menelepon kita terbiasa dengan menempelkan ponsel ke kuping. Ketika 3G mulai beredar, kita harus mengubah kebiasaan tidak menempelkan ponsel di telinga, tetapi memegang ponsel di depan agar kamera ponsel 3G bisa merekam keseluruhan kepala kita agar terlihat lawan bicara. Pekan lalu, ketika Kompas berbicara dengan orang-orang dari Motorola Indonesia dan regional membahas teknologi 3G, ada cerita-cerita menarik mancanegara mengenai penggunaan teknologi terbaru ini. Salah satu di antaranya adalah kenapa penyebaran teknologi 3G menjadi sangat lambat (seperti di Hongkong) karena para lelaki yang sudah berumah tangga merasa tidak nyaman dengan teknologi canggih yang memungkinkan video streaming real-time memperagakan keberadaan mereka. Berbagai lelucon muncul dalam pembicaraan, tetapi intinya adalah kehadiran teknologi 3G di satu sisi mempunyai dampak sosial yang luas, berpengaruh terhadap eksistensi kehidupan yang sekarang hanya terbungkus melalui layanan fasilitas suara dan SMS. Fitur 3G Dari sisi perangkat ponsel, teknologi 3G memang memberikan sebuah dampak lain, yaitu kehadiran kamera kecil dua arah, berlawanan dan berhadapan dengan penggunanya. Dari segi jumlah, pilihan ponsel 3G sendiri memang masih terbatas seperti ketika teknologi GSM pertama kali diperkenalkan. Nokia sebagai salah satu pembuat ponsel terbesar di dunia pekan lalu mulai memperkenalkan ponsel 3G yang terbaru, seri Nokia 6680, berbentuk candybar, memiliki tombol seperti Vertu, dan dua kamera digital masing-masing 3,7 mm (belakang) dan 2,1 mm (depan). Seperti pada seri Nokia 6630 (lihat Kompas 8/11/2004), ponsel terbaru Nokia ini berjalan di atas dua teknologi, masing-masing GSM dan Wideband Code Division Multiple Access (WCDMA). Ponsel 6680 ini masuk kategori 3G karena bisa digunakan pada jaringan WCDMA yang diharapkan bisa bekerja pada kecepatan 1 Mbit per detik. Sementara tidak ada jaringan 3G, ponsel terbaru Nokia ini bisa berfungsi pada jaringan GSM konvensional yang kita kenal sekarang ini dan bisa menggunakan akses data GPRS yang disediakan beberapa operator sekarang ini. Seluruh fitur yang ada pada Noki 6630 yang memiliki kamera digital 4,5 mm juga terdapat pada Nokia 6680. Perbedaannya, ponsel 3G terbaru ini memiliki kapasitas warna sampai 262.000 serta memiliki fitur yang disebut XpressPrint menggunakan standar PictBridge untuk mencetak foto digital melalui akses Bluetooth. Fitur lainnya adalah terintegrasinya prosesor image dengan 1,3 megapiksel dengan zoom digital pembesaran sampai 6 kali, serta terpasangnya lampu kilat yang mampu bekerja sampai dengan jarak 1,5 meter. Penggunaan flash pada ponsel Nokia adalah yang pertama kali pada ponsel 3G ini sehingga dapat mengambil gambar pada malam hari atau pencahayaan yang terbatas. Fitur yang tidak kalah menarik adalah solusi Push To Talk (PTT), menjadikan Nokia 6680 sebagai sebuah walkie-talkie, memungkinkan pembicaraan murah melalui data paket yang dikirim melalui jaringan GPRS atau EDGE kepada siapa saja di dunia yang memiliki ponsel dengan fitur yang sama. Di Indonesia belum ada operator yang memberikan layanan PTT ini karena masih terbentur pada berapa besar tarif yang mau dikenakan kepada pelanggan dan dianggap akan menurunkan pendapatan average rate per user (ARPU) operator. Siaran teve Yang selalu menjadi pertanyaan dari kehadiran teknologi 3G, termasuk kehadiran perangkat ponsel yang semakin canggih seperti Nokia 6680, adalah apakah memang pilihan untuk masuk ke dalam teknologi video streaming (karena ini yang memang selalu dibanggakan dalam teknologi 3G) harus dilakukan dengan memasang instalasi jaringan baru WCDMA? Secara teoretis, jaringan WCDMA ini memang mempunyai pipa yang sangat besar dengan kecepatan yang sangat tinggi, menghasilkan apa yang dikenal sebagai wireless broadband. Masalahnya, teknologi jaringan yang sekarang sudah siap tersedia, baik itu GSM maupun CDMA-1X, penggunaannya masih belum maksimal. Kita tahu bahwa masing-masing operator GSM memiliki fitur percepatan akses data, baik melalui GPRS maupun teknologi turunannya yang disebut EDGE. Di sisi operator yang berbasis teknologi CDMA-1X masih ada teknologi yang mengandalkan EV-DO yang memiliki kecepatan akses sangat tinggi seperti pernah diuji Kompas pada jaringan milik Mobile-8 (lihat Kompas 30/8/ 2004). Pertanyaannya, memang kenapa akses data baik melalui GPRS maupun CDMA-1X yang lebih baik kualitas kecepatan koneksinya tidak pernah dimaksimalkan para operator. Sampai sekarang memang masih ada keraguan di kalangan pengelola operator jaringan seluler bahwa akses data tidak akan menambah penghasilan berarti. Ini persepsi yang ada di semua operator. Padahal, tanpa harus masuk ke dalam sistem jaringan WCDMA, dari percobaan yang dilakukan Mobile-8 sudah mampu untuk menghasilkan video streaming siaran televisi melalui ponsel Nokia CDMA 6255. Kualitas video streaming yang dihasilkan ponsel terbaru Nokia CDMA ini (foto-foto kanan) menggunakan sarana jaringan CDMA-1X milik Mobile-8 ini, ternyata mampu menghasilkan kualitas yang sama dengan ponsel 3G yang pernah disaksikan Kompas. Para insinyur di Mobile-8 menggunakan aplikasi video streaming, menggunakan aplikasi yang dikembangkan konsorsium The 3rd Generation Partnership Project (3gpp) yang memungkinkan pengembangan kemampuan multimedia secara penuh. Pada ponsel Nokia 6255 (sekarang ini hanya ponsel ini yang bisa-Red), aliran siaran televisi yang masuk ke dalam ponsel bisa mencapai 21 frame per second (fps), kira-kira di bawah kemampuan ponsel 3G yang bisa mencapai lebih dari 30 fps. Namun, kualitas yang dihasilkan oleh percobaan yang dilakukan para insinyur Mobile-8 ini menjadi sebuah prestasi sendiri, mengingat di negara-negara yang menggunakan sistem jaringan CDMA-1X hal ini belum pernah dilakukan. Bekerja pada sebuah komputer sederhana (bukan menggunakan server) dan terhubung dengan sistem jaringan Mobile-8, banyak hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan sistem jaringan seluler. Nilai ekonomis Kehadiran Nokia 6680 maupun Nokia CDMA 6255 yang berbentuk clamshell mengikuti desain yang minimalis, tetapi memiliki kemampuan fitur masa depan, menyebabkan kita sering kali berpikir keras seberapa jauh sebenarnya kita ingin menggeluti teknologi telekomunikasi masa depan ini. Sebuah Nokia 6680 begitu canggihnya dan memiliki berbagai fitur futuristik, tetapi jaringan 3G belum tersedia dan diperkirakan baru akan hadir di Indonesia pada tahun 2007-2008, menjadi mubazir dan akan tertinggal dengan seri Nokia yang lebih baru lagi. Di sisi lain, Nokia 6255 menggunakan sistem CDMA-1X yang baru berkembang di Indonesia, mampu dijadikan sebagai ponsel futuristik berkemampuan untuk menayangkan siaran teve, menghadirkan klip musik video, dan bahkan mampu menyediakan layanan video-on-demand. Persoalannya, sering kali kita tidak bisa atau tidak mau melihat sisi-sisi optimal yang bisa dihasilkan oleh teknologi, mengakibatkan adanya perbedaan yang signifikan dalam cara memandang antara para insinyur dan manajemen dalam struktur operator. Salah satu yang selalu menjadi pertimbangan adalah kalau memang sistem jaringan sudah memadai untuk menyalurkan data dalam kecepatan tinggi dan perangkat ponsel sudah tersedia untuk melayaninya, berapa besaran ongkos yang harus dibebankan kepada para pelanggan. Para operator sering kali lupa bahwa para pengguna ponsel yang orang awam tidak pernah akan memahami nilai ekonomis dari satuan-satuan satu kilobyte atau satu megabyte yang diterapkan ketika menggunakan akses layanan paket data. Kita memahami nilai ekonomis satu gram garam atau satu kilogram gula. Tapi dalam digitalisasi yang sekarang berkembang sangat pesat, satuan-satuan tera yang selama ini dikenal tidak ada bayangannya pada orang-orang awam pengguna ponsel. Dengan demikian, penarifan satuan digital tidak pernah akan mampu menarik minat orang-orang untuk mencoba dan memaksimalkan fitur yang disediakan dan langsung dianggap sebagai sesuatu yang mahal. Terlepas dari masalah ini, kita perlu juga melihat apa yang dilakukan para insinyur di Mobile-8, yang mampu menghasilkan fitur-fitur yang sama dengan yang dijanjikan oleh teknologi jaringan 3G. Artinya juga, lisensi 3G yang ada sekarang pun perlu dikaji ulang, supaya tidak dimiliki oleh mereka yang memang tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkannya. Semoga! (rlp) Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
