Telkom, profesionalisme, dan pasar oligopoli

PT Telkom Tbk sebagai BUMN besar akan berganti pimpinan dalam RUPS
dalam waktu dekat ini, sekitar awal atau pertengahan Juni 2005.
Pergantian pimpinan BUMN besar dan strategis seperti Telkom sangat
menentukan masa depan badan usaha tersebut, sekaligus memperkuat
kesinambungan organisasi dan bisnisnya.

Telkom telah mengalami proses evolusi dalam masa yang panjang
sebagai perusahaan negara. Masa-masa pasang surut sudah dilaluinya
sampai menampakkan eksistensinya sebagai badan usaha publik yang
terbuka.

Sedikit yang patut dicatat adalah peran Cacuk Sudariyanto, sebagai
direktur utama, yang mempunyai kesan dalam membenahi Telkom. Cacuk
Sudaryanto mendapat hadiah Lembaga Manajemen UI karena telah
meletakkan dasar-dasar manajemen modern bagi BUMN tersebut.

Ketika saya kenal pertama selalu berkomunikasi tentang hal yang
kompleks dalam bahasa yang sederhana. Bagi Cacuk, Telkom harus
meningkatkan persentase keberhasilan ketika memutar nomor telepon
untuk mendapatkan nada panggil.

Hal sederhana tersebut adalah inti pelayanan Telkom sebelum era
digital. Ketika itu, pada masa dua dekade yang lalu, teknologi
digital masa belum meluas dan pelanggan masih menggunakan nomor
putar untuk memanggil nomor lainnya.

BUMN tersebut telah diantar masuk ke dalam fase atau tahap
kematangan di mana organisasi seperti Telkom tanggap pada berbagai
perubahan, termasuk perubahan yang berupa krisis terburuk. Fondasi
sistem organisasi modern telah diletakkan, kini pimpinan-pimpinan
selanjutnya tinggal meneruskan tradisi kemoderenan tersebut untuk
melayani dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

Sepeninggal Cacuk, Telkom telah berkembang menjadi badan usaha
publik milik negara, yang mutlak harus terbuka, transparan,dan
menerapkan prinsip organisasi bisnis modern.

Kinerjanya bisa dikatakan cukup meyakinkan dengan keuntungan yang
sangat besar dilihat dari ukuran BUMN di Indonesia. Sebagai badan
usaha yang tercatat di bursa saham, standarisasi pelaporan keuangan
dilakukan secara rutin, sebagai bagian dari praktik good corporate
governnance.

Sejauh ini, hanya ada beberapa BUMN yang benar-benar potensial
menguntungkan bagi negara, baik dari besarnya dividen saham maupun
dari pajak. BUMN yang strategis dan menguntungkan seperti itu,
termasuk Telkom, tidak perlu dijual seperti terjadi pada kasus PT
Indosat Tbk, tetapi harus diikuti oleh pelaksanaan manajemen yang
sehat, yakni prinsip good corprate governance.

Dibanding BUMN lainnya, Telkom menghasilkan kentungan yang paling
besar bagi anggaran negara. Keuntungannya lebih tinggi dari BUMN
besar lainnya. Perbankan juga tercatat sebagai pencetak keuntungan
yang besar, tetapi itu terjadi karena disuntik dana obligasi rekap,
yang mengambil uang dari rakyat.

Pertumbuhan laba Telkom pada kuartal pertama 2005 ini juga cukup
baik. Bahkan, besaran keuntungannya juga terlihat sangat signifikan
untuk membantu anggaran negara.

Dibandingkan perusahaan sejenis, pertumbuhan penjualan dan
keuntungan Indosat lebih besar. Tetapi Telkom memiliki laba lebih
besar, yang sebagian dividennya masuk langsung ke dalam anggaran
negara karena kepemilikan saham pemerintah di Telkom masih mayoritas
(51%). Dengan demikian, kita masih memiliki perusahaan negara yang
bisa memasukkan dividen dan pajak bagi negara.

Dalam rapat umum pemegang saham 2004, misalnya, diputuskan pembagian
50% dari laba bersih Rp6 triliun, atau sebesar Rp3 triliun. Angka
ini meningkat dari tahun ke tahun: hanya Rp303,33 miliar (1998),
Rp1,045 triliun (2001), dan Rp1,39 triliun (2002). Belum lagi jika
dihitung sumbangan Telkom terhadap penerimaan pajak.

Sumbangan BUMN itu sendirian saja terhadap APBN (dividen dan pajak)
mencapai 20% dari total sumbangan seluruh BUMN. Terdaftar juga di
bursa New York Stock Exchange, kinerja Telkom layak diperbandingkan
dengan perusahaan-perusahaan telekomunikasi dunia.

Angka-angka ini memberi makna penting bagi keuangan pemerintah,
sekaligus sangat penting sebagai dasar untuk memutuskan kebijakan
pemerintah untuk BUMN. Bagi publik, data seperti itu juga diperlukan
untuk melihat nilai strategis sebuah BUMN agar publik bisa ikut
mengawasi perkembangan dan prakteknya.

Dilema Telkom

Keuntungan tinggi BUMN seperti Telkom memang bisa menjadi dilema.
Telkom bisa menjadi ajang perburuan rente ekonomi oleh politisi,
penguasa, birokrasi dan aparat pemerintah. Karena itu, publik dan
media massa mesti waspada terhadap kemungkinan ini.

Pada Mei dan Juni ini akan merupakan bulan tersibuk bagi Kementerian
BUMN menyangkut pergantian direksi sejumlah BUMN. Pergantian
dirut-dirut itu sarat dengan "pertempuran" kepentingan bisnis dan
politik, yang mungkin akan berbau KKN. Ada 120 orang yang kini
dikabarkan maju menjadi calon direksi BUMN perbankan.

Belum lagi BUMN lainnya. Beberapa nama BUMN besar yang akan membahas
suksesi kepemimpinan meliputi: Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia,
Bank Nasional Indonesia, Bank Tabungan Negara, Pertamina, Semen
Gresik dan Telkom.

Pergantian kepemimpinan BUMN, termasuk Telkom di dalamnya, mesti
lepas dari kepentingan-kepentingan kelompok jangka pendek yang tidak
produktif. Serahkan mekanismenya pada aturan main yang baik.

Seperti industri transportasi udara, Telkom mewarisi struktur pasar
monopoli-ologopoli. Kedua industri ini sangat padat modal, sehingga
di masa lalu negara mengambil inisiatif dengan memprakarsai lebih
dulu melalui pembentukan BUMN. Tetapi lambat laun swasta mulai masuk
ke dalam pasar tersebut sehingga semakin banyak pesaing-pesaing baru
yang terlibat.

Industri transportasi udara telah berhasil melakukan transformasi
dari pasar monopoli menjadi pasar yang bersaing dengan tekanan pasar
yang memaksa terjadinya efisiensi. Akhirnya, konsumen memperoleh
manfaat yang besar karena biaya transportasi udara se-makin murah.

Tetapi industri telekomunikasi belum berhasil melakukan transformasi
seperti itu. Dominasi Telkom di dalam pasar telekomunikasi ini masih
sangat dominan sehingga mekanisme persaingan yang sehat masih belum
sepenuhnya terwujud dengan baik.

Struktur pasar seperti ini masih menjadi kendala bagi efisiensi
pelaku di dalamnya dan masih belum berhasil menurunkan tarif telepon
sampai setara dengan negara-negara lainnya.

Pasar yang kompetitif

Sebagai contoh, ketika kita berada di AS, Australia, atau Eropa dan
iseng menelepon ke Jakarta, maka carilah kartu telepon
internasional.

Kita dapat menelepon ke Jakarta sampai kuping panas dengan tarif
sangat murah, hanya beberapa dolar saja. Ini terjadi karena pasar
dibuka dan ditransformasikan menjadi pasar yang lebih bersaing
dengan banyak pelaku-pelaku pasar di dalamnya.

Telkom dalam waktu cepat atau lambat akan menghadapi tekanan dari
publik, konsumen, media, dan parlemen untuk masuk ke dalam pasar
yang lebih bersaing secara sehat. Pasar telekomunikasi selular masih
bersifat oligopolis dengan tarif yang sangat mahal.

Tetapi lambat laun produk-produk teknologi baru dalam bidang
komunikasi ternyata memberi tekanan pada persaingan yang lebih dan
semakin terbuka luas. Produk Flexi, Esia dan sejenisnya mulai
memberi tekanan pada pasar seluler sehingga banyak item biaya
dikurangi.

Pulsa untuk Internet yang mahal mulai mendapat tekanan yang kuat
dari produk GPRS, yang memberikan tarif cukup murah untuk pemakai
Internet.

Jadi, dengan teknologi dan informasi yang semakin terbuka, konsumen
dan masyarakat luas akan semakin mendapat akses yang lebih banyak
pada pasar telekomunikasi. Pada gilirannya, harga pulsa telepon akan
lebih murah.

Oleh Didik J. Rachbini
Ekonom dan anggota DPR

---
Ruang Kantor siap pakai di Surabaya, fasilitas lengkap, meja, ac.
Hubungi: 031 5013570. Visit http://www.warnet2000.net/kantor.htm


Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke