White paper teknologi perbankan disiapkan

JAKARTA (Bisnis): Persatuan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) mulai
menyusun white paper Teknologi Perbankan Indonesia yang untuk
selanjutnya akan diserahkan ke Bank Indonesia dan pemerintah.
Rencana penyusunan white paper teknologi perbankan Indonesia
merupakan salah satu hasil dari konferensi dan pameran teknologi
perbankan Asia Pasifik (Apconex 2005) yang berakhir Jumat lalu.

Ketua Steering Committee Apconex 2005 Jos Luhukay mengatakan
penyusunan white paper teknologi perbankan Indonesia diharapkan
sejalan dengan rencana BI menerapkan Arsitektur Perbankan Indonesia.

"White paper [kertas kerja] ini akan dibahas oleh gugus tugas khusus
di bawah Perbanas yang akan bekerja hingga akhir Juli. Setelah jadi
laporan akan kami serahkan ke BI dan Menteri Keuangan," ujar dia
pekan lalu.

Proposal yang diserahkan ke BI dan Menkeu itu bersifat rekomendasi.
Oleh karena itu, implementasinya lebih lanjut akan diserahkan kepada
kedua institusi itu, lanjut dia.

Jos mengatakan kalangan perbankan secara umum membutuhkan panduan
implementasi teknologi seiring dengan rencana bank sentral
menerapkan aturan API.

Menurut dia, sistem TI di bank berskala besar diperkirakan akan
semakin kompleks seiring dengan upaya mereka memperbesar modal untuk
memenuhi aturan API. Sementara kebutuhan TI di bank berskala kecil
juga tidak kalah mendesak.

Padahal, sebagian besar bank berskala kecil memiliki kemampuan
terbatas untuk membangun infrastruktur teknologi sendiri. Jos
mengatakan arsitektur teknologi perbankan Indonesia diharapkan akan
dapat membantu mempercepat proses konsolidasi perbankan di Tanah
Air.

Menurut dia, seharusnya setiap bank bersedia mengumumkan kepada
publik besarnya biaya TI yang harus dikeluarkan untuk setiap
transaksi.

"Kalau setiap biaya TI per transaksi dapat diumumkan secara
transparan ke publik, maka secara otomatis akan ketahuan apakah
suatu bank sudah beroperasi secara efisien atau tidak."

Kalau biaya TI-nya ternyata masih terlalu tinggi, maka tidak ada
pilihan lain bagi bank tersebut selain melakukan konsolidasi, lanjut
dia.

Jos mengatakan bahwa bank yang modalnya sangat kecil secara otomatis
akan kesulitan melakukan investasi TI sendirian. Di sisi lain, bank
tersebut tetap diwajibkan menggunakan sistem TI.

Dengan kondisi itu, maka pilihannya adalah menggunakan infrastruktur
TI bersama bank-bank lainnya."Itu merupakan salah satu arah dari
arsitektur teknologi perbankan Indonesia," ujar dia.

Jos tidak dapat menyebutkan bank-bank mana saja yang biaya TI-nya
memiliki tingkat efisiensi yang paling tinggi karena riset mengenai
hal itu memang belum pernah dilakukan.

Belanja TI

Mengomentari tentang munculnya anggapan bahwa nilai investasi TI di
bank BUMN terlalu tinggi, Jos mengatakan nilai belanja TI tidak
dapat dijadikan ukuran untuk menilai apakah suatu bank sudah efisien
atau belum.

Yang harus dilihat adalah berapa besarnya biaya TI yang dibutuhkan
untuk setiap transaksi. Untuk bank berskala besar dengan volume
transaksi di atas 1 juta transaksi per hari, misalnya, nilai belanja
TI yang dikeluarkan bank sebesar itu otomatis akan sangat besar.

Menurut dia, saat ini jumlah transaksi di Bank Mandiri, misalnya,
frekuensinya sudah mencapai sekitar 1,2 juta hingga 1,3 juta
transaksi per hari. Meski begitu, dia mengatakan bank dengan jumlah
transaksi sebesar itu tidak menjadi jaminan apakah infrastruktur
TI-nya harus dikembangkan sendiri atau bersama-sama. (trd


---
Ruang Kantor siap pakai di Surabaya, fasilitas lengkap, meja, ac.
Hubungi: 031 5013570. Visit http://www.warnet2000.net/kantor.htm


Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke