Menuju 4G dengan MIMO

Oleh: Gamantyo Hendrantoro

Belum lagi tuntas implementasi sistem nirkabel generasi ketiga
alias 3G, termasuk di Indonesia, orang sudah mulai memikirkan
generasi berikutnya, yaitu generasi keempat (4G). Sistem 4G
yang sedang diteliti oleh para pakar di seluruh dunia ini
dijanjikan dapat mengirimkan data sampai lebih dari 20 Mbps.

Lingkup istilah 4G tidak hanya memayungi versi nirkabel dari
LAN seperti yang dibakukan oleh IEEE dalam standar 802.11 di
mana pelanggan berkomunikasi dari notebook atau desktop-nya
sambil duduk diam, namun juga meliputi generasi penerus dari
sistem komunikasi bergerak 3G. Di sini tampak bahwa fitur yang
ditekankan pada sistem 4G adalah pencapaian kapasitas yang
tinggi dengan tetap menjaga mobilitas bagi pelanggannya.

Teknologi relatif baru yang kini sedang dipuja-puji berbagai
pakar karena kemampuannya meningkatkan secara drastis kapasitas
maupun kualitas kanal nirkabel adalah teknologi multi-antena
MIMO (multi-input multi-output), di mana baik BTS maupun
terminal pelanggan menggunakan lebih dari satu antena yang
bekerja pada frekuensi yang sama.

Sebagai contoh, misalkan pemancar memiliki M antena,
masing-masing mengirimkan sinyal yang berbeda-beda, sedangkan
penerima menggunakan N antena. Semua sinyal dari M antena
pemancar akan sampai pada setiap antena penerima dalam keadaan
tercampur baur—efek ini secara matematis dinyatakan dalam
respons kanal yang berbentuk matriks berukuran NM.

Namun, dengan bantuan lintasan propagasi radio yang jamak
akibat adanya berbagai obyek penghambur gelombang di sekeliling
antena, perangkat penerima dapat didesain untuk mampu
memilah-milah sinyal yang berbeda-beda tersebut.

Malah sistem MIMO mampu memanfaatkan keberadaan lintasan jamak
ini untuk menciptakan sejumlah kanal ekivalen yang seolah-olah
terpisah satu sama lain. Ini bisa dipandang sebagai suatu
mukjizat tersendiri karena pada kondisi normal keberadaan
lintasan jamak justru bersifat merugikan sebab menimbulkan
fading. Aplikasi MIMO pun kemudian dapat diarahkan untuk
mencapai dua tujuan yang berbeda yang diwujudkan dalam dua
teknik: multipleks spasial dan pengkodean ruang-waktu.

Multipleks spasial

Aplikasi pertama diperoleh jika sistem pemancar dan penerima
dioperasikan dalam mode yang disebut multipleks spasial
(spatial multiplexing) dengan tujuan untuk mencapai kapasitas
kanal yang besar. Pada multipleks spasial, aliran data berlaju
tinggi dipecah-pecah menjadi sejumlah aliran paralel sesuai
dengan jumlah antena pemancar, masing-masing dengan laju yang
lebih rendah dari aliran aslinya.

Sebelum masuk ke antena, aliran-aliran data ini dilewatkan pada
matriks khusus yang berfungsi menggabung-gabungkan sinyal dari
semua aliran dengan kombinasi tertentu untuk dipancarkan
melalui setiap antena—suatu proses multipleks yang berlangsung
pada dimensi spasial karena setiap kombinasi data paralel
ditujukan ke salah satu antena pemancar.

Jika diasumsikan terdapat saluran umpan balik informasi dari
penerima ke pemancar, penerima dapat melakukan estimasi respons
kanal (dengan training sequence misalnya) dan mengumpanbalikkan
informasi ini kepada pemancar. Pemancar kemudian dapat
mengetahui bagaimana seharusnya dia menata matriks multipleks
agar dapat dicapai kapasitas kanal yang setinggi-tingginya.

Teknik yang pertama kali diusulkan di sini adalah dengan
menerapkan operasi dekomposisi nilai singular (singular value
decomposition atau SVD) pada matriks respons kanal. Dua matriks
unitary, biasa disimbolkan sebagai U dan V, yang dihasilkan
oleh operasi ini adalah matriks multipleks dan demultipleks
yang harus digunakan oleh pemancar dan penerima.

Konfigurasi sistem kemudian menjadi ekivalen dengan sistem
pemancar-penerima yang terhubung melalui sejumlah saluran
paralel sebanyak M atau N, tergantung mana yang lebih kecil.
Sebagai contoh, misalkan M bernilai lebih kecil dari N, maka
sistem ini seolah-olah memiliki M saluran yang terpisah satu
sama lain untuk membawa M aliran data yang berbeda,
masing-masing dengan laju rata-rata 1/M dari laju aliran data
aslinya, padahal seluruh sistem multi-antena ini bekerja pada
frekuensi yang sama.

Kesimpulannya jelas, telah terjadi penghematan penggunaan
bandwidth sebesar 1/M kali, atau dengan kata lain, terjadi
peningkatan kapasitas kanal sebesar M kali. Bayangkan kondisi
ekstremnya, dengan sedikitnya 10 antena pada masing-masing sisi
pemancar dan penerima, aliran data sebesar 1 Mbps dapat
dikirimkan ke penerima dengan bandwidth sekitar 100 kHz saja
apabila digunakan modulasi dengan efisiensi 1 bps/Hz.

Atau dari sudut pandang yang berlawanan, lebar spektrum 100 kHz
yang sebelumnya hanya mampu membawa sinyal 100 kbps, sekarang
mampu mengangkut data berlaju 1 Mbps dengan menggunakan minimal
10 antena pada setiap sisi.

Kesimpulan yang sangat menggiurkan ini diupayakan terealisasi
oleh para ahli dengan susah payah. Tantangan utama adalah
penyediaan saluran umpan balik dengan estimasi respons kanal
yang cepat dan akurat. Implementasi yang lebih realistis, yaitu
pada kondisi di mana tidak ada saluran umpan balik dari
penerima ke pemancar, adalah dengan menyalurkan aliran-aliran
data berlaju rendah secara apa adanya ke antena pemancar yang
bersesuaian.

Kondisi ini sama saja dengan memasang matriks identitas sebagai
matriks multipleks pada pemancar. Jika cara ini diterapkan,
penerima perlu menggunakan teknik deteksi yang mirip dengan
deteksi multi-user pada sistem CDMA untuk dapat
memisah-misahkan sinyal dari aliran data yang berbeda yang
telah tercampur baur pada setiap antenanya.

Pada penerima yang berarsitektur BLAST (Bell Labs Layered
Space-Time Architecture), digunakan teknik deteksi dengan
penghapusan interferensi antar-aliran data secara bergantian
yang dimulai dari aliran data dengan kualitas sinyal terbaik,
teknik yang biasa disebut successive interference cancellation
atau SIC. Arsitektur BLAST adalah sistem deteksi yang pertama
kali berhasil diuji coba secara eksperimental pada sistem
pemancar-penerima MIMO yang riil.

Jenis aplikasi MIMO yang kedua adalah sistem pengkodean
ruang-waktu (space-time coding atau STC). Tujuannya adalah
mendapatkan kualitas sinyal setinggi mungkin dengan
memanfaatkan teknik diversity pada pemancar dan penerima
(Tentang teknik diversity, baca ”Meningkatkan Kinerja Sistem
Komunikasi Radio dengan Teknologi Multi-antena” di Kompas,
Sabtu 6 November 2004).

Konvensional

Diversity secara konvensional diterapkan dengan memasang lebih
dari satu antena pada penerima, dengan harapan bahwa kualitas
sinyal yang diterima dapat ditingkatkan dari sistem satu antena
dalam kondisi kanal fading dengan adanya lintasan jamak.

Besarnya peningkatan ini diukur dengan parameter diversity
gain, yang harganya makin meningkat dengan makin besarnya
tingkat diversity N, yaitu jumlah antena yang digunakan pada
penerima. Penggunaan STC pada sistem MIMO dengan M antena
pemancar dan N antena penerima menjanjikan kenaikan tingkat
diversity menjadi M×N. Untuk memberikan bayangan, dengan empat
antena pada masing-masing pemancar dan penerima, sistem MIMO
dengan STC diharapkan mampu menyediakan tingkat diversity yang
ekivalen dengan metode konvensional yang menggunakan 16 antena
pada penerima.

Bentuk STC yang paling sederhana dan termasuk penemuan paling
awal—malah sudah sempat diterapkan pada beberapa sistem
3G—adalah sistem pengkodean blok STBC (space-time block codes)
hasil temuan Siavash Alamouti pada tahun 1998 yang penerapannya
terbatas pada sistem dengan dua antena pemancar. Pada sistem
STBC ala Alamouti, aliran data yang sama dipancarkan melalui
kedua antena pemancar. Namun, sebelum siap dipancarkan, aliran
data yang menuju ke setiap antena mengalami perlakuan yang
berbeda.

Setiap dua simbol data akan tetap dikirimkan dalam dua periode
simbol, namun pada antena kedua urutan simbolnya dibalik,
dikonjugasikan, dan salah satunya dinegatifkan. Tujuan dari
perlakuan yang kelihatannya ruwet namun sebenarnya cukup
sederhana ini adalah untuk memudahkan pemisahan kedua simbol
pada penerima sedemikian hingga deteksi dua simbol yang semula
harus dilakukan bersamaan pada sinyal campuran sekarang dapat
dipecah menjadi dua proses deteksi simbol yang terpisah.

Alamouti berhasil membuktikan bahwa sistem STBC temuannya yang
diterapkan pada sistem dengan dua antena pemancar dan satu
antena penerima mampu menunjukkan kinerja yang sama dengan
sistem diversity konvensional dengan dua antena pada penerima.
Hasil yang dicapai akan lebih baik lagi apabila pada penerima
digunakan lebih dari satu antena yang bekerja dalam mode
diversity pula.

Temuan STBC Alamouti ini kemudian disusul oleh temuan- temuan
lainnya, terutama untuk sistem pemancar dengan lebih dari dua
antena. Teknik STC lainnya diperoleh dengan menggunakan kode
trellis, lazim disebut sebagai space-time trellis codes (STTC),
dengan kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan STBC.

Masih banyak permasalahan yang harus diklarifikasi untuk
mematangkan teknologi MIMO ini sampai benar-benar siap
diterapkan pada sistem nirkabel 4G. Salah satunya adalah
kemampuan sistem untuk beradaptasi dengan perubahan kanal, hal
yang lazim terjadi pada terminal pelanggan yang bergerak, di
atas kendaraan yang sedang mengebut misalnya. Untuk sistem
dengan lebih dari satu antena pada kedua sisi, dapatlah
dibayangkan bahwa proses adaptasi akan memerlukan sumber daya
lebih besar.

Orang juga berupaya memadukan keunggulan kapasitas dari teknik
multipleks spasial dengan kualitas sinyal yang tinggi yang
menjadi kelebihan pengkodean ruang-waktu.

Dari sisi perangkat keras, masih harus dicari konstruksi antena
larik yang memungkinkan sejumlah antena dengan pita spektrum
lebar dimampatkan dalam ruang yang terbatas tanpa mengorbankan
keuntungan kapasitas yang sudah diperoleh dari adanya lintasan
jamak.

Celah lain yang lebih tinggi di awang-awang namun masih bisa
diintip kemungkinan realisasinya adalah pemanfaatan konfigurasi
MIMO dalam skala lebih besar secara terdistribusi. Dalam
skenario yang berlaku pada sistem seluler ini, sejumlah base
station yang berbeda dapat bekerja secara terkoordinasi
seolah-olah sebagai satu perangkat pemancar/penerima dengan
sejumlah antena, yaitu antenanya masing-masing. Penerapan yang
lebih canggih lagi, misalnya, adalah dengan meletakkan sistem
MIMO terdistribusi dalam konteks jaringan nirkabel ad-hoc.

GAMANTYO HENDRANTORO Staf Pengajar Jurusan Teknik Elektro ITS;
Kepala Laboratorium Propagasi dan Radiasi Gelombang
Elektromagnetik ITS

---
If you need an office in Surabaya you don't have to invest
on furnitures, ac etc. Use our 'virtual' office offerings,
visit http://www.datacom.co.id/profile/office.htm or email
[EMAIL PROTECTED] for enquiry that suit your needs.


Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke