Hampir Semua Operator Dikuasai Investor Asing Oleh: Moch S Hendrowijono
Industri telekomunikasi Indonesia terlihat makin lama makin dikuasai, atau dikuasai bareng, oleh operator asing. Mulai dari Telkomsel yang merupakan operator seluler terbesar di Asia Tenggara dengan 35 persen saham milik Singapore Telecom (SingTel). Lalu Indosat yang sekitar 42 persen sahamnya dimiliki STT yang sebarisan dengan SingTel dari Singapura, Exelcomindo Pratama dikuasai Telecom Malaysia. Sementara gabungan operator AMPS yang lalu menjelma jadi operator CDMA, Mobile-8, dan Mobisel yang mengoperasikan NMT lalu jadi CDMA-450 dengan nama Mandara Seluler Indonesia, sudah dimiliki Sampurna. Pemegang lisensi generasi ketiga (3G), Natrindo, dibeli oleh Maxis, Malaysia, juga, dan Cyber Access Communication (CAC) separuh sahamnya dimiliki Hutchinson Whampoa dari Hongkong. Pemilik Primasel yang asli pun konon sudah tidak tahu-menahu perkembangan perusahaan yang baru lahir itu karena sudah pindah tangan. CAC bahkan belum sempat operasi ketika menjual sahamnya kepada Hutchinson meski pernah melakukan uji coba. CAC, seperti halnya Lippo Telecom yang mengelola Natrindo di Jatim yang hanya punya 12.000-an pelanggan, laku di pasar setelah memiliki lisensi 3G. Bedanya, CAC mendapatkan lisensi 3G lewat tender, sementara Natrindo gratisan, yang sama sekali dianggap gurem sebelum dapat 3G meski sudah berlisensi (GSM) nasional. PT Telkom? Walau menurut catatan resmi tak ada operator asing memiliki sahamnya, jumlah investor asing makin meningkat sejalan dengan meningkatnya kapitalisasi pasar BUMN itu. Catatan menyebutkan, pada saat usai penawaran saham ke publik (initial public offering/IPO) tahun 1995, investor asing hanya punya 3 persen saham, pada 2004 sudah meningkat menjadi 45 persen. Pengalaman menjual saham ke pihak asing sangat pahit, seperti ketika pemerintah menjual hampir 42 persen saham PT Indosat kepada STT dari Singapura. Tak lama dilakukan rapat umum pemegang saham dan menghitung pembagian laba, dividen. Ternyata, jumlah dividen yang diterima STTyang baru beberapa bulan memiliki Indosatsudah hampir sama dengan nilai nominal waktu belinya, dan kita pun menelan ludah. Hanya Esia Jadinya kini operator yang benar-benar masih berbendera Merah-Putih hanyalah Bakrie Telecom yang mengoperasikan CDMA nirkabel tetap (fixed wireless) dengan nama Esia. Sayangnya, pertumbuhan Esia yang melejit terkendala berbagai hal, antara lain soal interkoneksi dan potensi yang terhambat kawasan operasi. Esia hanya memiliki kawasan operasi Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, padahal dengan kawasan sedikit itu sulit bagi mereka untuk tumbuh menjadi operator nasional. Namun, kelebihan-kelebihan yang diberikan kepada pelanggan Esia membuat para pesaing, khususnya PT Telkom yang mengoperasikan fixed wireless Flexi, kesal. Mereka pernah berniat bertanya kepada Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) apakah manuver yang dilakukan Bakrie tidak menyalahi aturan. Kebijakan Bakrie menempatkan diri mereka sebagai operator yang mengutamakan nilai uang (value for money) menguntungkan pelanggannya. Misalnya, memberi bonus pulsa sebesar Rp 50 setiap ada panggilan masuk dari operator mana pun. Dana ini diambil dari hasil interkoneksi yang Rp 90 per menit, yang tidak masuk akal bagi para operator seluler atau fixed yang lain. Bakrie sendiri bukanlah operator fixed wireless yang masih hijau karena mereka perintis yang menggeluti industri ini sejak tahun 1993 dengan nama Ratelindo. Teknologi yang tidak pas-lah yang membuat Ratelindo sulit berkembang. Namun, dengan Esia yang mengusung teknologi CDMA, Bakrie tumbuh pesat dan memiliki sekitar 400.000 pelanggan, mengungguli Fren dari Mobile-8. Tidak sedikit operator atau investor mancanegara yang berminat mengambil alih semua atau sebagian saham Bakrie Telecom. Jika perusahaan induk berpikiran singkat untuk meraup keuntungan sekejap, sudah pasti nasibnya sama dengan Natrindo, sebagian atau bahkan seluruh saham ganti pemilik. Konon Telkom dan Indosat berniat mengakuisisi Bakrie Telecom untuk mendapat frekuensi 800 MHzfrekuensi terbaik untuk layanan CDMAbagi Flexi atau StarOne mereka, lalu Esia dimatikan. Namun, telekomunikasi sudah ditetapkan sebagai bisnis inti selain semangat nasionalisme kelompok Bakrie, membuat tawaran-tawaran tadi ditolak. Beda pula dengan CAC yang menjual lisensinya sebelum beroperasi, Bakrie terus membangun dan meluaskan jangkauan sesuai dengan izin dari pemerintah. Hanya saja, kendala interkoneksi yang tidak juga dibuka PT Telkom membuat pemasaran di kawasan Jawa Barat di luar Bandung tersendat. Penonjolan value for money yang dilakukan Esia membuat masyarakat pengguna telepon nirkabel di kawasan lain iri. Apalagi kini menelepon sesama Esia, Jakarta ke Bandung atau ke Tasik, Sumedang, atau Cirebon, tarifnya hanya Rp 50 per menit, yang di operator lain akan dihitung sambungan jarak jauh sehingga mahal. Jika dilihat dari keberpihakannya kepada pelanggan, rasanya wajar kalau Bakrie Telecom lalu mendapat lisensi nasional, tidak hanya di tiga provinsi. Pemberian lisensi nasional sekaligus menghapus kesan bahwa apa pun yang murah adanya hanya di Jabotabek dan sekitarnya, tidak di Denpasar, tidak di Medan, tidak di Manado, atau wilayah lain di Tanah Air. Walaupun demikian, tak akan mudah bagi pemerintah memberi Bakrie lisensi nasional pada frekuensi 800 MHz sebab frekuensi harus ditata ulang dulu. Sama dengan niat pemerintah memberi lisensi 3G kepada operator GSM eksis yang terkendala pembagian frekuensi yang acak-acakan sehingga banyak yang mubazir. Moch S Hendrowijono Wartawan, Tinggal di Cisarua, Bandung --- If you need an office in Surabaya you don't have to invest on furnitures, ac etc. Use our 'virtual' office offerings, visit http://www.datacom.co.id/profile/office.htm or email [EMAIL PROTECTED] for enquiry that suit your needs. Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
