Mampukah Pemerintah Membersihkan Jalur 3G?

Oleh: AW Subarkah

Setelah menertibkan jalur frekuensi bagi siaran radio FM, maka
hajat besar berikutnya bagi pemerintah adalah menyapu daerah
yang akan diperuntukkan bagi jaringan telekomunikasi nirkabel
generasi ketiga atau 3G.

Hal ini jelas bukan pekerjaan mudah, bukan hanya
”penguasaan” frekuensi sangat sarat dengan berbagai
kepentingan. Namun, juga diperlukan sapu yang benar-benar
bersih untuk tetap bisa menjaga tidak terlibat dengan
kepentingan lain yang ingin menggantikan.

Jalur frekuensi untuk 3G sebenarnya merupakan daerah baru yang
sebelumnya teknologi nirkabel berkecepatan tinggi itu memang
tidak pernah ada. Tuntutan sebagian dari pengguna telepon
seluler yang tak puas dengan kecepatan pada jaringan 2G
(generasi kedua), selain juga karena pengaruh perkembangan
telekomunikasi seluler dunia tentunya.

Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) menganggap
penataan jalur frekuensi 3G merupakan salah satu tema sentral
yang akan mereka laksanakan. Dalam hal ini Depkominfo berencana
mengalokasikan jalur frekuensi sesuai dengan standar radio
interface yang telah ditetapkan badan telekomunikasi dunia
(International Telecommunication Union/ITU) untuk sistem 3G.

ITU melalui IMT-2000 (International Mobile
Telecommunications-2000) menentukan batas-batas frekuensi 3G
yang bekerja pada frekuensi sekitar 2 gigahertz (GHz). Dalam
frekuensi yang dibutuhkan (downlink maupun uplink) pada jalur
frekuensi 3G.

Maka, tidaklah mengherankan apabila Menteri Komunikasi dan
Informatika Sofyan A Djalil mengisyaratkan pengguna frekuensi
yang dialokasikan bagi 3G harus keluar, termasuk di dalamnya
adalah operator jaringan 2G code division multiple access
(CDMA) Telkom Flexi dari Telkom dan StarOne (Indosat) di
kawasan tertentu harus keluar dari jalur frekuensi 1.920-1.980
megahertz (bukan kilohertz) atau 1,920-1,980 GHz.

Jalur 3G

Jalur di atas merupakan jalur uplink (dari perangkat ponsel ke
BTS). Jalur ini berpasangan dengan jalur downlink pada
frekuensi 2.110-2.170 MHz sebagai jalur transmisi dari base
station ke perangkat ponsel 3G.

Sementara ini perangkat ponsel 3G yang sudah beredar di
Indonesia ditandai dengan frekuensi kerja 2,1 GHz sebagai jalur
downlink. Ini sesuai dengan frekuensi kerja jaringan 3G yang
menggunakan teknologi WCDMA (wideband CDMA) yang pertama kali
digunakan di Jepang.

Jaringan WCDMA menggunakan teknik frequency division duplex
(FDD) serupa dengan pemakaian handie talkie yang beroperasi
dengan stasiun repeater. Di mana pada saat yang sama
dipancarkan sinyal radio dengan uplink dan downlink yang
berbeda frekuensi.

Teknik lain disebut time division duplex (TDD), di mana pada
saat yang sama bisa mempergunakan jalur frekuensi yang sama
untuk uplink dan downlink. Untuk alokasi frekuensi teknologi
yang menggunakan basis CDMA 2000 adalah 1.900-2.025 MHz dan
2.010-2025 MHz.

Jika memang Depkominfo mengacu pada kedua jalur frekuensi
(untuk teknik FDD dan TDD), tentu akan lebih mudah bagi Flexi
maupun StarOne untuk meningkatkan kemampuan menjadi 3G dengan
teknik TDD. Dan, hal ini juga merupakan peluang penyelesaian
bagi kasus yang menimpa kedua perusahaan telekomunikasi besar
itu.

Apabila Depkominfo masih juga mempertahankan kedua perusahaan
yang sudah menerima lisensi 3G sebelumnya, berarti memang hanya
tinggal satu ”kursi” yang harus diisi, kecuali ada
keberanian untuk melalukan tindakan yang tegas, termasuk upaya
penggabungan.

Diperlukan

Bagaimanapun langkah Depkominfo dengan mengundang masyarakat
untuk ikut memikirkan problem dalam membenahi jalur frekuensi.
Termasuk pujian dari AS (Andy) Cobham sebagai seorang pengamat
dalam hal frekuensi untuk 3G dari perusahaan Motorola yang
mengikuti lokakarya yang diselenggarakan Depkominfo pekan lalu.

Andy melihat tidak mudah bagi Depkominfo untuk membersihkan
jalur yang saat ini sudah digunakan untuk kepentingan lain,
termasuk jalur gelombang microwave pihak PLN. Selain juga
adanya pemberian izin untuk mengoperasikan 3G di Indonesia oleh
perusahaan yang justru dinilai tidak ”layak”.

”Selama ini orang memandang, dengan bisa membeli lisensi ini,
sudah bisa mengoperasikan 3G. Sebenarnya operator yang ada
sekarang juga sudah memiliki izin untuk mengoperasikan
telekomunikasi seluler, hanya sekarang mereka harus memiliki
izin untuk beroperasi pada jalur yang ditetapkan untuk 3G yang
berbeda jalur 2G,” katanya dalam percakapan dengan Kompas
akhir pekan lalu.

Dengan bandwidth selebar 60 MHz diperkirakan bisa diisi sekitar
lima operator 3G dalam tender ulang yang akan dilakukan
kemudian. Secara seleksi alam mereka diharapkan akan berkurang
karena memang jaringan 3G menuntut biaya yang lebih mahal dan
sudah tentu tidak semua pelanggan akan bersedia membayar lebih,
apalagi mengingat 95 pelanggan seluler Indonesia saat ini
adalah pelanggan prabayar.

Pengalokasian 3G dibutuhkan untuk menggalang dana bagi
pengembangan daerah yang belum memiliki infrastruktur
telekomunikasi. Hal ini jelas masih sangat dibutuhkan dan
diharapkan ini bisa terwujud.

Persoalan yang harus diselesaikan sekarang adalah tentang
lisensi 3G yang sudah diberikan kepada dua perusahaan
sebelumnya, yaitu PT Cyber Access Communications (CAC) dan PT
Natrindo Telepon Seluler (Lippo Telecom) yang masing-masing
mengusung mitra asingnya.

Menarik kembali lisensi CAC tentu juga mengundang permasalahan
dengan Hutchison Telecommunications International. Demikian
pula dengan menyingkirkan PT NTS yang bermitra dengan Maxis
Communications dari Malaysia, akan mengundang campur tangan
Pemerintah Malaysia, bisa-bisa akan membangkitkan konflik Blok
Ambalat jilid kedua.

---
If you need an office in Surabaya you don't have to invest
on furnitures, ac etc. Use our 'virtual' office offerings,
visit http://www.datacom.co.id/profile/office.htm or email
[EMAIL PROTECTED] for enquiry that suit your needs.


Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke