Menghadapi Era Pertelekomunikasian Baru 

Oleh AW Subarkah

Menjelang peralihan ke tahun 2008 sebenarnya merupakan masa peralihan
yang penting bagi dunia telekomunikasi kita. Pembaruan ke arah
pertelekomunikasian modern akan semakin kuat, sudah tentu akan ada
"turbulensi", meski dunia akan terus berputar dan tidak peduli apakah
bangsa ini akan semakin tertinggal atau tidak. 

Sungguh bukan hal yang mudah untuk meluruskan persoalan yang sudah
telanjur karut-marut, apalagi menyangkut kebiasaan bertelekomunikasi
selama ini. Bisa saja yang terjadi justru saling menyalahkan ketika ada
sebuah upaya "memperbaiki", karena pada era sebelumnya sangat jarang
sebuah tindakan dilandasi dengan pemikiran yang tulus. 

Awal tahun 2008 merupakan tahun penting dalam upaya melakukan
pembenahan. Didahului dengan penertiban alokasi frekuensi radio FM,
kemudian awal tahun depan dengan pemindahan alokasi frekuensi FWA (fixed
wireless access) CDMA pada pita frekuensi 1.900 MHz ke 800 MHz dan
pengaturan frekuensi 450 MHz yang semula digunakan untuk jasa keamanan
resmi berlaku. 

Dan, baru saja, 3 Desember lalu, Menteri Komunikasi dan Informatika
Mohammad Nuh memutuskan membuka kode akses sambungan langsung jarak jauh
(SLJJ). Semua langkah di atas tentu saja tidak dengan begitu saja bisa
diterima, terutama bagi mereka yang merasa dirugikan, atau paling tidak
merasakan adanya ancaman-ancaman yang merugikan. 

Ketulusan pihak yang penyelenggara aturan memang sangat diharapkan
sehingga semua pihak bisa menerima dengan ikhlas. Kerugian pasti akan
muncul akibat penertiban itu, tetapi jika masyarakat luas yang
diuntungkan pasti akan berdampak positif bagi bangsa ini. 

Dalam wawancara khusus Kompas dengan Direktur Utama PT Telekomunikasi
Indonesia (Telkom) Rinaldi Firmansyah sebelum Lebaran lalu
memperlihatkan perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia itu
sedang menyusun langkah-langkah ke depan. Sekalipun waktu itu keputusan
menteri soal pembukaan saluran SLJJ belum turun. 

Telkom tampaknya sedang mempersiapkan strategi menghadapi perkembangan
di dunia telekomunikasi yang sangat cepat. Saat ini setidaknya sekitar
8,7 juta pelanggan telepon tetap dan sudah tentu hal ini merupakan modal
yang besar untuk menyongsong era baru. 

"Untuk membangun jaringan kabel tetap dengan teknologi berbasis IT kami
memilih melakukan dengan cara overlay secara bertahap. Program ini akan
berlangsung hingga tahun 2012," kata Rinaldi. Ke depan pihak Telkom
mengembangkan fixed line menjadi jaringan multiplay, seiring dengan
kesiapan masyarakat menghadapi perubahan. 

Perkembangan 

Untuk meningkatkan jaringan kabel tetap ini Rinaldi menargetkan
pelanggan Speedy, jaringan kabel tetap broadband hingga dua juta sampai
tahun 2010. Dari pengalaman sekarang, masyarakat banyak mengharapkan
Speedy sebagai solusi berkomunikasi masa depan. 

"Pengalaman kami di daerah seperti Bengkulu, sebagian besar memilih
berlangganan Speedy dengan kuota akses tak terbatas," tambahnya.
Bagaimanapun ke depan Telkom akan menjadikan Speedy dan jaringan tetap
nirkabel Flexi sebagai mesin pertumbuhan baru. 

Harapan barunya pada Flexi yang mempergunakan CDMA telah membuahkan
hasil hingga 5 juta pelanggan di seluruh Indonesia. Sementara pelanggan
seluler Telkomsel yang juga milik Telkom sudah mencapai hampir 45 juta. 

Optimisme pengembangan Speedy diperkuat dengan bertambahnya pita
frekuensi hingga 15 kali lipat koneksi ke jaringan internasional dari
sekitar 2,5 gigabit per detik (Gbps) saat ini. Peningkatan ini diperoleh
setelah bergabung dalam konsorsium serat optik laut AAG yang akan mulai
beroperasi pada kuartal pertama tahun 2009. 

Di luar Telkom, perusahaan lain lebih mengembangkan jaringan seluler.
Seperti PT Excelcomindo Pratama atau XL melalui Vice President VAS and
New Services I Made Harta Wijaya berharap pemanfaatan jaringan 3G
sebagai sebuah upaya pembelajaran bersama. Karena, bagaimanapun sampai
saat ini belum ada aplikasi yang betul-betul luar biasa dari jaringan
broadband nirkabel ini. 

Sedangkan Indosat merasa yakin jaringan seluler berpita lebar itu
sebagai sarana cepat untuk memenuhi kebutuhan akses internet. Secara
bertahap pengembangan jaringan 3G akan disusul dengan jaringan tetap dan
bahkan mengembangkan sampai kapasitas serat optik sampai ke pelanggan
rumah. 

"Seharusnya dengan kondisi seperti sekarang ini tidak ada lagi daerah
yang tertinggal karena hampir semua daerah bisa dijangkau jaringan
telekomunikasi," kata Indar Atmanto, Presdir IM2. Untuk daerah terpencil
Indosat juga sudah menyediakan akses melalui satelit. 

Satelit 

Saat ini baik Indosat maupun Telkom masing-masing sudah sama-sama
mempersiapkan satelit barunya untuk menggantikan satelit lama yang
hampir habis masa berlakunya. Indosat akan meluncurkan Palapa D
menggantikan Palapa C-2, sedangkan Telkom akan meluncurkan satelit
Telkom-3 untuk memperkuat Telkom-1 dan Telkom-2 yang kapasitasnya makin
terbatas. 

Indosat bahkan telah menunjuk Thales Alenia Space (TAS) sebagai mitra
pengadaan dan peluncuran Palapa D yang akan menggantikan Palapa C-2 di
Slot 113ยบ BT yang akan habis masa beroperasinya pada tahun 2011. Satelit
Palapa D akan diluncurkan tahun 2009 dan akan memiliki masa operasi
selama 15 tahun ke depan. 

"Peluncuran satelit Palapa D merupakan wujud komitmen kami dalam
mengembangkan bisnis satelit, yang antara lain untuk mendukung penetrasi
bisnis seluler di daerah terpencil, serta memenuhi kebutuhan yang tinggi
untuk layanan data tetap, broadband dan solusi korporat, baik dalam
Indosat Group maupun pelanggan eksternal," ujar Johnny Swandi Sjam,
Dirut Indosat, belum lama ini. 

Biaya pengadaan dan peluncuran satelit Palapa D ini sebesar 228,5 juta
dollar AS yang terdiri dari biaya pembuatan satelit, peluncuran,
asuransi, peningkatan kapabilitas/kemampuan stasiun pengendali satelit
(augmentation of master control station) dan pelatihan. Pendanaan yang
dilaksanakan oleh the Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC)
ini terdiri dari dua fasilitas kredit ekspor 12 tahun yang didukung oleh
Coface (kredit ekspor Perancis) dan Sinosure (kredit ekspor China). 

Palapa D memiliki kapasitas lebih besar dibandingkan Palapa C-2, yaitu
24 standar C-band, 11 extended C-Band serta 5 Ku-band transponder,
dengan jangkauan lebih luas mencakup Indonesia, Australia, negara-negara
di Asia, Timur Tengah, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Palapa-D saat
dijadwalkan diluncuran ke orbit pada September 2009 dengan menggunakan
kendaraan peluncur Long March 3B buatan Beijing Talentway Technology
Corporation China. Palapa-D. 


-- 
Kuliner Indonesia, milis tentang makanan dan tempat makan di dalam, 
juga dari luar negeri. Disajikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Daftar ke mailto:[EMAIL PROTECTED] Arsipnya bisa 
dibaca di http://groups.yahoo.com/group/kuliner_ind/messages



If you like this list, the moderator will be thankful
if you would transfer some amounts to BCA account no.
064 100 2762.  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke