Ucu, Kang Daday anu bageuuuurrrr....,
   
  Ucu, kade maneh dibaledog ku urang Ciomas mawa-mawa Pangeran....hehehehe
   
  Kang Daday benar, bahwa sejarah tidak pernah mencapai kebenaran yang final. 
   
  Pada masa Orba kita dicekoki oleh monoversi bahwa PKI adalah dalang semua 
bencana yang terjadi di tahun 1965. Dan saya termasuk korban pencekokan versi 
itu. Mulanya saya sempat percaya. Jadi ingat waktu dulu, di mana kami murid SD 
diwajibkan nonton pilem G.30.S/PKI dan Operasi Trisula di gedung bioskop 
"Apollo" almarhum, Rangkasbitung. Ketika di dalam pilem, sang pemeran figur 
Soeharto muncul, yang terjadi adalah: kami para kumpul bocah cilik-cilik murid 
SD tepuk tangan dan berteriak kegirangan, bak nonton pilem koboy ketika sang 
jagoan datang.
   
  Ini merupakan kampanye dan indoktrinasi sejarah bagi para generasi penerus. 
Dan saya, alhamdulillah, tidak terus menerus menjadi korban indoktrinasi itu. 

  Ketika monoversi Orde baru tentang peristiwa 65 masih beredar, dan pada waktu 
itu Soeharto masih jaya-jayanya, mana ada yang berani ngoceh versi lain tentang 
peristiwa ini? Kalaupun ada sudah dapat dipastikan masuk bui, atau bahkan di 
"dor."
   
  Nah, ketika Soeharto tidak lagi jadi presiden, maka versi lain pun 
bermunculan. Versi yang beragam tersebut secara otomatis meragukan kebenaran 
narasi tunggal peristiwa 65 yang dibangun oleh Orba.
   
  Yang anehnya, banyak orang sekarang yang seakan trauma akan kekejaman PKI 
(seperti yang dipertontotonkan dalam pilem G.30.S/PKI karya Arifin C. Noer 
itu). Mereka bilang PKI begini, begino, tukang cungkil mata jenderal, tukang 
sembelih segala macem... Dan inilah hasil daripada indoktrinasi Orba yang 
bener2 dilakukan secara cerdas. Artinya, walaupun Soeharto udah pangsiun, orang 
masih saja percaya pada versi sejarah yang dibuatnya.
   
  Kang Daday bilang kalau ayahandanya adalah salah satu target pembunuhan 
"JIKA" PKI menang. Kata "JIKA" ini tidak berlaku dalam sejarah. Sejarah ada 
peristiwa yang post factum, sudah terjadi. Maka kalau menggunakan kata "JIKA" 
itu artinya belum tentu terjadi. Faktanya: justru ribuan orang komunislah yang 
dibantai. Dan faktanya PKI tidak pernah menang hingga hari ini. Jadi kata-kata 
"JIKA PKI menang" itu tak bisa digunakan sebagai pembenar bahwa PKI adalah 
penjahat yang wajar untuk dihabisi.
   
  Baru-baru ini, sejarawan Inggris David Irving dihukum 3 tahun oleh pengadilan 
Austria atas sikapnya yang menyangkal adanya holocaust. Ia menulis di dalam 
buku "Hittler's War" bahwa kamar gas di Auschwitz dan di Dachau adalah bohong 
dan pembunuhan massal kaum Yahudi adalah isapan jempol yang sengaja dibuat oleh 
orang-orang Yahudi. Sebelumnya, iapun mengalami kekalahan dalam perkara tuduhan 
pencemaran nama baiknya oleh Deborah Lipstadt penulis "Denying the Holocaust." 
Kasus ini membuat sejarawan yang telah menulis 30 buku itu jatuh bangkrut.
   
  Tapi itu di Eropa, di Indonesia mana bisa orang yang menyangkal pembantaian 
massal PKI tahun 1965-1966 dihukum. Yang ada malah orang yang mengungkapkan 
pembunuhan massal yang dicibir: PEKAI lah, pembela komunis lah, pembela atheis 
lah...macem-macem, dan itu saya rasakan sendiri ketika menulis skripsi tentang 
pembunuhan massal anggota dan simpatisan PKI di Purwodadi, Jawa Tengah. 
   
  Sekarang ada pendapat yang mewajarkan pembunuhan masal PKI. 
   
  "Biarin aje modar, biar masuk neraka sekalian, orang kagak percaya Tuhan, 
sukurin luh!" cibir sebagian orang seolah mereka pasti dapat tiket masuk sorga. 
   
  Benar memang PKI melakukan tindakan yang tak terpuji pada tahun 1948 dan pada 
periode 1960-an, namun apakah hal itu harus dibalas dengan penangkapan dan  
pembunuhan massal anggota dan simpatisannya serta menganggap anggota keluarga 
mereka sebagai warga buangan kelas dua?
   
  Bangsa ini akan selalu terbelit dalam permasalahan masa lalu jika tidak mau 
berdamai dengan masa lalu. Bagaimana mau jalan ke depan jika ribuan kontainer 
permasalahan di masa lalu mengantri untuk diselesaikan.
   
  Bagaimanapun komunisme adalah bagian inheren dalam sejarah negeri ini. Ingat, 
di Banten, di mana sebagian besar penduduknya beragama Islam pernah terjadi 
pemberontakan PKI tahun 1926 yang dipimpin oleh K.H. Achmad Chatib. Apakah 
Kiyai Chatib itu atheis??? Saya tidak percaya! 
   
  Demikian saja dari ane, budak Rangkasbitung di perantauan.
   
  tabik,
   
  Bonnie Triyana (bukan anak Tryana Sjamun..loh..)
ucu jauhar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Temenku, org Jerman blg orang Indonesia itu
ramah-ramah. Cuma ada 1 hal yg plg ia tidak suka.
Orang Endonesa plg tdk mau mngakui ksalahan atau aib
yg prnah ia buat. 

Palagi ksalahn atawa aib org lain, qt jg kena. Mana mo
org Endonesa ngakui. Klo prlu salahkan yg dah mati.
Biar modar 2x.

Mong-omong yg tabu diakui org Endonesa adalah :
1. komunis atawa PEKAI
2. Dokumen Otentik SuperSemar [super petruk]
3. The Black Month "Mei 98"
4. Ambon, Poso, Sampit Membara.

So, menutupinya dgn cara history (his = nya,
story=cerita) alias ceunah saur kang ddy mah. Tp
kunaon eta nabi nrima wahyu ti pangeran, ku kang ddy
henteu disebut ceunah.

he... he... he... biarkan sejarah berkata objektif.
laen kitu kang bonny


Tetap Semangat Mencintai Banten! 



  SPONSORED LINKS 
        Indonesia phone card   Indonesia calling card   Indonesia travel     
Bali indonesia   Indonesia   Indonesia hotel 
    
---------------------------------
  YAHOO! GROUPS LINKS 

    
    Visit your group "wongbanten" on the web.
    
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
    
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 

    
---------------------------------
  



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke