Kritis juga peje, thanks
   
  
 
  
--- Pedje <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Kang Yayat dan Kang Udin, sebaiknya kalau
> membicarakan
> konsep-konsep dan pemikiran disertai dengan
> contoh-contoh agar tulisannya dapat mudah dicerna
> dan
> kesimpulan-kesimpulannya tak terkesan gebyah
> uyah--yang malah bisa memancing orang untuk tertawa.
> Coba lihat pernyataan "sudah lunturnya sikap gotong
> royong, musyawarah dan mupakat ditengah kehidupan
> masyarakat dewasa ini, akibat dari gejala
> globalisasi". Apa benar begitu? Mana buktinya?
> Bukankah sikap gotong-royong masih sangat jelas
> terlihat dan kadang malah terasa semakin destruktif,
> seperti maraknya fenomena gerombolan dari front ini,
> kesatuan itu, forum A, lembaga B, serta semakin
> brutalnya aksi tawuran, bahkan sampai ke gedung
> parlemen; dan juga maraknya fenomena korupsi massal?
> 
> Globalisasi adalah keniscayaan, tak bisa dibendung.
> Persoalannya, siapkah kita? Tentu saja kita tak akan
> siap kalau kita lebih suka memaki daripada
> memperbaiki, lebih suka "membuat peraturan" untuk
> orang lain daripada untuk diri sendiri, lebih suka
> memanjakan diri menjadi "orang yang tak berdaya",
> lebih suka bicara ngawur ketimbang berpikir untuk
> menjadi bagian dari solusi. Kalau kita memang tak
> sanggup untuk ikut memecahkan masalah yang ada di
> dalam masyarakat, sikap untuk tidak ikut menjadi
> bagian dari masalah itu saja merupakan hal yang
> patut
> dipuji.  
> 
> "Penetrasi akibat dari arus globalisasi membawa
> dampak
> kepada gaya hidup yang individualistis. Bukan hanya
> segi ekonomi, tetapi lebih jauh adalah kepada
> tatanan
> budaya luhur bangsa ikut tergilas," kata Kang Udin. 
> 
> Ah, Kang Udin, tak selamanya individualistis itu
> buruk. Justru sikap ini dapat menjadikan orang
> sebagai
> pribadi yang bertanggung jawab. Orang seperti ini
> tak
> akan berlindung di balik jubah gerombolan atau
> institusi ketika ada tuntutan untuk
> mempertanggungjawabkan pekerjaan atau tindakannya,
> seperti banyak dilakukan oleh yang punya semangat
> tinggi untuk bergotong royong. Btw, tatanan budaya
> luhur bangsa ini yang seperti apa, sih?
> 
> Saya setuju agar kita kembali menengok kembali jati
> diri bangsa ini, untuk memperkuat kembali ikatan
> kita
> pada masa lalu guna membuat strategi yang lebih jitu
> dalam menghadapi masa depan. Tapi, sebenarnya,
> kenalkah kita dengan identitas bangsa ini?
> Jangan-jangan begitu menengok masa lalu, kita justru
> tak ingin mengenali lagi karena gambaran yang
> diharapkan tak sesuai dengan keinginan kita.
> Tengoklah
> album foto dalam keluarga kita yang dibuat tahun
> 1930-an, 1940-an, 1950-an, 1960-an, 1970-an. Adakah
> Kang Yayat dan Kang Udin melihat gambar perempuan
> berjilbab di sana, yang bergamis, misalnya? Bukankah
> kebanyakan dari mereka hanya sekadar berkerudung dan
> berkebaya, yang bersahaja? 
> 
> "Dari sekian banyak persoalan yang ada, setidaknya
> ada
> tiga permasalahan yang menonjol yang mengancam jati
> diri dan kesatuan bangsa. Pertama, infiltrasi
> budaya.
> Semakin mudah masyarakat memperoleh informasi, maka
> pengaruh budaya luar akan langsung tereduksi dalam
> kehidupan sosial masyarakat. Yang paling parah kalau
> budaya tersebut menjadi trend dan gaya hidup
> masyarakat kita hingga menjadi kontra produktif
> karena
> budaya asli kita terisolasi oleh budaya asing.
> Fenomena kehidupan bebas di kalangan remaja, narkoba
> dan kejahatan kemanusiaan lainnya merupakan dampak
> merambahnya budaya asing masuk dalam tatanan
> kehidupan
> masyarakat kita.   
>     "Kedua, polarisasi ideologi. Ideologi merupakan
> jati diri atau karakter suatu bangsa. Ideologi
> memberi
> karakter dan pengaruh bagi bangsa dalam pergaulan
> dunia internasional. Ketika transfer informasi
> semakin
> mudah, ditunjang dengan gencarnya pemberitaan media
> massa, baik elektronik maupun cetak, maka faham atau
> ideologi asing akan dengan mudah masuk dalam
> kehidupan
> bangsa kita. Masuknya ideologi asing, secara tidak
> langsung akan mengubah tatanan kehidupan dan sistem
> berpikir masyarakat," kata Kang Yayat.
> 
> Kang Yayat, kita kok gemar menuding orang lain atas
> kesalahan yang kita perbuat, ya? Masa sih "Fenomena
> kehidupan bebas di kalangan remaja, narkoba dan
> kejahatan kemanusiaan lainnya merupakan dampak
> merambahnya budaya asing masuk dalam tatanan
> kehidupan
> masyarakat kita"? Apakah bukan karena kesalahan para
> orang tuanya dan para pendidiknya? Lagi pula, budaya
> asing yang mana yang dimaksud Kang Yayat? Barat
> (Eropa
> dan Amerika Serikat), Arab, India, Cina, Afrika?
> Bukan
> tak mungkin lama-lama Kang Yayat akan menyalahkan
> Tuhan yang telah menciptakan manusia bersuku-suku,
> berbangsa-bangsa, dengan beragam budayanya. 
> 
> Kang Yayat, adakah budaya yang benar-benar asli,
> yang
> murni? Bukankah budaya adalah proyeksi pemikiran,
> sikap, dan tindakan manusia, yang punya sejarah
> panjang dan melintasi batas-batas geografis dalam
> aliran darahnya?  
> 
>    "Berbagai bentuk pemikiran saat ini telah
> berkembang
> sedemikian rupa, sehingga mewarnai sistem kehidupan
> bangsa, mulai dari penganut paham konservatif,
> sosialisme, marxisme hingga radikalisme, berbaur
> menjadi satu dalam kehidupan masyarakat. Kebebasan
> berpikir tidak menjadi tabu dan haram, akan tetapi
> ketika kebebasan tersebut sudah melampaui
> batas-batas
> logika dan bisa merusak kehidupan sosial
> kemasyarakatan, maka hal ini menjadi haram," tulis
> Kang Yayat.
> 
> Kang Yayat, kebebasan berpikir seperti apa sih yang
> melampaui batas-batas logika, sehingga Anda
> haramkan?
> Logika apa? Bukankah logika ilmu pesawat terbang
> justru menerobos logika hukum gravitasi? 
> 
> Bukankah ketika Muhammad menyerukan bahwa Tuhan
> hanya
> satu justru menimbulkan keguncangan dalam
> masyarakatnya yang ketika itu menyembah berhala?
> Begitu pula ketika beliau menyatakan telah melakukan
> perjalanan dari Makkah ke Palestina dan kemudian ke
> langit hanya dalam semalam, masyarakat Makkah
> menjadi
> guncang dan banyak orang Islam yang murtad? 
> 
> Kang Yayat dan Kang Udin, saya pribadi juga gentar
> menghadapi derasnya arus kebudayaan dari berbagai
> belahan bumi yang lain. Saya gentar karena merasa
> tak
> punya cukup "peluru" untuk melakukan dialog dengan
> budaya yang beragam itu. Saya gentar, jangan-jangan
> nanti akan muncul konflik antara saya dan berbagai
> kebudayaan itu akibat kurang lancarnya dialog; yang
> pada akhirnya malah menggiring saya untuk sibuk
> mencari kelemahan beragam budaya lain itu serta
> mencaci-makinya dan lupa melakukan intropeksi ke
> diri
> saya pribadi, yang ternyata seiring dengan
> berjalannya
> waktu, cadangan peluru saya semakin sedikit saja.
> Ah!
> 
> Salam,
> 
> Pedje
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam
> protection around 
> http://mail.yahoo.com 
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Tetap Semangat Mencintai Banten! 


    
---------------------------------
  YAHOO! GROUPS LINKS 

    
    Visit your group "wongbanten" on the web.
    
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
    
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 

    
---------------------------------
  




Saprudin
                
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke