Terima kasih Mang Pedje atas segala koreksi dan kritikannya. saya coba untuk
meluruskan maksud yang tersirat dalam hati saya apa yang dimaksud dengan
"gotong royong yang sudah luntur dari masyarakat". Yang saya maksud adalah
jalinan sosial, rasa kebersamaan, rasa senasib sepenanggungan yang akrab
ditengah masyarakat sudah kelihatan pudar. Tidak dapat dipungkiri kalangan
masyarakat yang tingkat kesejahteraannya tinggi dimana segala keperluan
hidupnya dapat terpenuhi dengan baik. Namun kalangan masyarakat ini hanya
mementingkan dirinya sendiri dan tidak mau tahu dengan jeritan atau tangisan
orang-orang yang tidak mampu (bukankan ini fakta realita yang terjadi ditengah
kehidupan masyarakat. dan sikap individualistis yang demikian itulah yang saya
maksud).
Globalisasi adalah keniscayaan, tak bisa dibendung kata mang Pedje.
Ya betul apa yg Mang Pedje utarakan. Kondisi demikian yang harus diciptakan
oleh kita khususnya ummat Islam untuk menghadapi badai globalisasi, yang
menurut saya mengancam eksistensi keyakinan dan kebenaran adalah :
1). Ummat Islam tidak dapat menutup tangan atas derasnya globalisasi baik
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi serta sosial budaya dengan
berusaha studi komperatis atas khasanah ilmu khas keislaman.
2). Pada pranata sarana, Umma Islam harus berbenah diri dengan berusaha dapat
menciptakan proteksi sarana software maupun hardware komunikasi dan informasi
yang mengkondisikan masyarakat.
3). Menggugah peradaban Umat Islam dari kebodohan dan lemahnya etos kerja.
4). Membangun network komunikasi dan usaha disemua lini.
Pada tataran pemikiran yang menjadi PR adalah persoalan ini adalah langkah
taktis dan strategi yang dibangun ummat Islam terasa rapuh. Sebab nilai
perjuangan Islam masih berkisar pada masalah ibadah belum melangkah secara
makro yaitu menyatukan langkah antara ibadah, muamalah ang merupakan jaringan
perjuangan yang terintegrasi dengan pemahaman aqidah dan syariah. Insya Allah
semua kembali kepada komitmen ummat Islam itu sendiri.
Gombalisasi siapa takut !!!
Pedje <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Kang Yayat dan Kang Udin, sebaiknya kalau membicarakan
konsep-konsep dan pemikiran disertai dengan
contoh-contoh agar tulisannya dapat mudah dicerna dan
kesimpulan-kesimpulannya tak terkesan gebyah
uyah--yang malah bisa memancing orang untuk tertawa.
Coba lihat pernyataan "sudah lunturnya sikap gotong
royong, musyawarah dan mupakat ditengah kehidupan
masyarakat dewasa ini, akibat dari gejala
globalisasi". Apa benar begitu? Mana buktinya?
Bukankah sikap gotong-royong masih sangat jelas
terlihat dan kadang malah terasa semakin destruktif,
seperti maraknya fenomena gerombolan dari front ini,
kesatuan itu, forum A, lembaga B, serta semakin
brutalnya aksi tawuran, bahkan sampai ke gedung
parlemen; dan juga maraknya fenomena korupsi massal?
Globalisasi adalah keniscayaan, tak bisa dibendung.
Persoalannya, siapkah kita? Tentu saja kita tak akan
siap kalau kita lebih suka memaki daripada
memperbaiki, lebih suka "membuat peraturan" untuk
orang lain daripada untuk diri sendiri, lebih suka
memanjakan diri menjadi "orang yang tak berdaya",
lebih suka bicara ngawur ketimbang berpikir untuk
menjadi bagian dari solusi. Kalau kita memang tak
sanggup untuk ikut memecahkan masalah yang ada di
dalam masyarakat, sikap untuk tidak ikut menjadi
bagian dari masalah itu saja merupakan hal yang patut
dipuji.
"Penetrasi akibat dari arus globalisasi membawa dampak
kepada gaya hidup yang individualistis. Bukan hanya
segi ekonomi, tetapi lebih jauh adalah kepada tatanan
budaya luhur bangsa ikut tergilas," kata Kang Udin.
Ah, Kang Udin, tak selamanya individualistis itu
buruk. Justru sikap ini dapat menjadikan orang sebagai
pribadi yang bertanggung jawab. Orang seperti ini tak
akan berlindung di balik jubah gerombolan atau
institusi ketika ada tuntutan untuk
mempertanggungjawabkan pekerjaan atau tindakannya,
seperti banyak dilakukan oleh yang punya semangat
tinggi untuk bergotong royong. Btw, tatanan budaya
luhur bangsa ini yang seperti apa, sih?
Saya setuju agar kita kembali menengok kembali jati
diri bangsa ini, untuk memperkuat kembali ikatan kita
pada masa lalu guna membuat strategi yang lebih jitu
dalam menghadapi masa depan. Tapi, sebenarnya,
kenalkah kita dengan identitas bangsa ini?
Jangan-jangan begitu menengok masa lalu, kita justru
tak ingin mengenali lagi karena gambaran yang
diharapkan tak sesuai dengan keinginan kita. Tengoklah
album foto dalam keluarga kita yang dibuat tahun
1930-an, 1940-an, 1950-an, 1960-an, 1970-an. Adakah
Kang Yayat dan Kang Udin melihat gambar perempuan
berjilbab di sana, yang bergamis, misalnya? Bukankah
kebanyakan dari mereka hanya sekadar berkerudung dan
berkebaya, yang bersahaja?
"Dari sekian banyak persoalan yang ada, setidaknya ada
tiga permasalahan yang menonjol yang mengancam jati
diri dan kesatuan bangsa. Pertama, infiltrasi budaya.
Semakin mudah masyarakat memperoleh informasi, maka
pengaruh budaya luar akan langsung tereduksi dalam
kehidupan sosial masyarakat. Yang paling parah kalau
budaya tersebut menjadi trend dan gaya hidup
masyarakat kita hingga menjadi kontra produktif karena
budaya asli kita terisolasi oleh budaya asing.
Fenomena kehidupan bebas di kalangan remaja, narkoba
dan kejahatan kemanusiaan lainnya merupakan dampak
merambahnya budaya asing masuk dalam tatanan kehidupan
masyarakat kita.
"Kedua, polarisasi ideologi. Ideologi merupakan
jati diri atau karakter suatu bangsa. Ideologi memberi
karakter dan pengaruh bagi bangsa dalam pergaulan
dunia internasional. Ketika transfer informasi semakin
mudah, ditunjang dengan gencarnya pemberitaan media
massa, baik elektronik maupun cetak, maka faham atau
ideologi asing akan dengan mudah masuk dalam kehidupan
bangsa kita. Masuknya ideologi asing, secara tidak
langsung akan mengubah tatanan kehidupan dan sistem
berpikir masyarakat," kata Kang Yayat.
Kang Yayat, kita kok gemar menuding orang lain atas
kesalahan yang kita perbuat, ya? Masa sih "Fenomena
kehidupan bebas di kalangan remaja, narkoba dan
kejahatan kemanusiaan lainnya merupakan dampak
merambahnya budaya asing masuk dalam tatanan kehidupan
masyarakat kita"? Apakah bukan karena kesalahan para
orang tuanya dan para pendidiknya? Lagi pula, budaya
asing yang mana yang dimaksud Kang Yayat? Barat (Eropa
dan Amerika Serikat), Arab, India, Cina, Afrika? Bukan
tak mungkin lama-lama Kang Yayat akan menyalahkan
Tuhan yang telah menciptakan manusia bersuku-suku,
berbangsa-bangsa, dengan beragam budayanya.
Kang Yayat, adakah budaya yang benar-benar asli, yang
murni? Bukankah budaya adalah proyeksi pemikiran,
sikap, dan tindakan manusia, yang punya sejarah
panjang dan melintasi batas-batas geografis dalam
aliran darahnya?
"Berbagai bentuk pemikiran saat ini telah
berkembang
sedemikian rupa, sehingga mewarnai sistem kehidupan
bangsa, mulai dari penganut paham konservatif,
sosialisme, marxisme hingga radikalisme, berbaur
menjadi satu dalam kehidupan masyarakat. Kebebasan
berpikir tidak menjadi tabu dan haram, akan tetapi
ketika kebebasan tersebut sudah melampaui batas-batas
logika dan bisa merusak kehidupan sosial
kemasyarakatan, maka hal ini menjadi haram," tulis
Kang Yayat.
Kang Yayat, kebebasan berpikir seperti apa sih yang
melampaui batas-batas logika, sehingga Anda haramkan?
Logika apa? Bukankah logika ilmu pesawat terbang
justru menerobos logika hukum gravitasi?
Bukankah ketika Muhammad menyerukan bahwa Tuhan hanya
satu justru menimbulkan keguncangan dalam
masyarakatnya yang ketika itu menyembah berhala?
Begitu pula ketika beliau menyatakan telah melakukan
perjalanan dari Makkah ke Palestina dan kemudian ke
langit hanya dalam semalam, masyarakat Makkah menjadi
guncang dan banyak orang Islam yang murtad?
Kang Yayat dan Kang Udin, saya pribadi juga gentar
menghadapi derasnya arus kebudayaan dari berbagai
belahan bumi yang lain. Saya gentar karena merasa tak
punya cukup "peluru" untuk melakukan dialog dengan
budaya yang beragam itu. Saya gentar, jangan-jangan
nanti akan muncul konflik antara saya dan berbagai
kebudayaan itu akibat kurang lancarnya dialog; yang
pada akhirnya malah menggiring saya untuk sibuk
mencari kelemahan beragam budaya lain itu serta
mencaci-makinya dan lupa melakukan intropeksi ke diri
saya pribadi, yang ternyata seiring dengan berjalannya
waktu, cadangan peluru saya semakin sedikit saja. Ah!
Salam,
Pedje
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Tetap Semangat Mencintai Banten!
SPONSORED LINKS
Indonesia visa Indonesia phone card Indonesia calling card
Indonesia travel Bali indonesia Indonesia
---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS
Visit your group "wongbanten" on the web.
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
Saprudin
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]
Tetap Semangat Mencintai Banten!
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/