Busyet, persoalan tahun kuda kayak gini masih diangkat
lagi. Capek ah berdebat untuk urusan tafsir yang
sepele ini, ada banyak persoalan yang lebih penting.
Daripada disetelin house music kan orang mati lebih
baik dibacain Quran. Iya, kan? Udah ah, capek....



--- SP Saprudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Sumber dari :
>  
>
http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=308
>    
>   Al-Qur’an datang menyinari hati yang gelap dan
> menyinari jiwa yang gersang. Dan dia datang sebagai
> juru nasehat bagi orang yang membutuhkan bimbingan,
> sebagai pembawa kabar gembira bagi orang yang mau
> beriman dan sebagai pemberi peringatan bagi orang
> yang mengingkarinya. Betapa banyak kebaikan yang
> dapat di rasakan dengan kedatangannya, sehingga
> orang yang sedih akan menjadi gembira dengan
> membacanya dan orang yang bingung akan menjadi
> tenang jalannya serta orang yang hina akan menjadi
> mulia dengan mempelajari dan mengamalkannya.
> 
> Lebih jauh, diapun sebagai obat mujarab bagi segala
> penyakit. Siapa yang membaca ayat-ayatnya untuk
> pengobatan, maka dia akan mengetahui kehebatan
> Al-Qur’an dengan menyembuhkan beberapa penyakit
> dengan seizin Allah Ta’ala dan beberapa penyakit
> yang kalangan medis saat ini belum mampu
> menyembuhkannya. Sehingga tidaklah mengherankan
> kalau di katakan Al-Qur’an adalah penawar dan
> rahmat bagi orang yang beriman, sebagaimana
> firman-Nya (yang artinya) : 
> “Dan kami turunkan Al-Qur’an sesuatu yang
> menjadi penawar (penyembuh penyakit fisik maupun
> rohani) dan rahmat bagi orang yang beriman
> kepada-Nya. “(QS. Al-Isra’ : 82).
> 
> Bahkan di lihat dari segi pahala dan keutamaannya.
> Al-Qur’an menyimpan sekian banyak pahala dan
> keutamaan bagi orang yang membaca, mempelajari,
> memahami dan mengamalkannya. Orang yang mahir
> membaca Al-Qur’an maka pada hari kiamat akan di
> kumpulkan bersama rombongan malaikat yang mulia.
> Sedangkan bagi orang yang terbata-bata dalam
> membacanya akan mendapatkan dua pahala, yaitu pahala
> dia membaca Al-Qur’an dan pahala kesungguhan dalam
> membacanya dengan baik dan benar.
> 
> Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai
> pemberi syafa’at bagi orang yang membacanya dan
> mengamalkannya. Bahkan Al-Qur’an akan menjadi
> pelindung baginya dari adzab Allah Ta’ala di dunia
> maupun akhirat. Sehingga di katakan, orang yang
> mempelajari Al-Qur’an akan mengamalkannya sebagai
> sebaik-baik manusia, karena Rasulullah Shallallahu
> ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : 
> “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang
> yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
> (HR. Bukhari – Muslim).
> 
> Tetapi kebaikan, keutamaan dan pahala tersebut tidak
> dapat di rasakan kecuali orang-orang yang diberi
> taufik dan hidayah Allah Ta’ala agar mau beriman
> kepadanya, membaca, mempelajarinya, dan mampu
> mengaplikasikannya. Adapun orang yang ingkar
> terhadapnya, tidak mau beriman kepadanya, tidak mau
> membaca maupun mempelajarinya, apalagi
> mengamalkannya, maka sekali-kali dia tidak akan
> merasakan manfaat sedikitpun. Bahkan Al-Qur’an
> akan menjadi sebab di hinakan dan di sesatkannya
> orang tersebut, dan akan menjadi hujjah (alasan) di
> hadapan Allah Ta’ala untuk menyiksakan pada hari
> kiamat.
> 
> Yang lebih mengherankan, ada di kalangan ummat Islam
> ini yang salah dalam menyikapi Al-Qur’an. Mereka
> menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana mencari
> nafkah. Sebagian mereka menghapal Al-Qur’an dengan
> tujuan agar bisa di gunakan oleh orang yang
> membutuhkannya dalam acara-acara pernikahan dan
> perayaan-perayaan tertentu. Kemudian dia mendapat
> upah dari bacaannya. Ada lagi yang menggunakan
> Al-Qur’an sebagai alat mencari nafkah di pemakaman
> kaum muslimin. Bila ada di antara kaum muslimin yang
> ingin menziarahi saudaranya di perkuburan umum, maka
> tidak perlu repot-repot membaca ayat-ayat
> Al-Qur’an dan menghapalkan do’a-do’anya. Ini
> baru sebagian contoh kesalahan yang merebak di
> masyarakat dan di anggap lumrah.
> 
> Akar dari musibah memilukan ini adalah adanya
> keyakinan bahwa bacaan Al-Qur’an yang mereka
> bacakan untuk orang mati itu bisa bermanfaat bagi si
> mayit. Sehingga mereka berlomba-lomba untuk
> mengamalkannya, bahkan mereka semangat untuk
> melakukan amalan bid’ah ini lebih besar daripada
> untuk ibadah yang wajib, yang sangat jelas keutamaan
> dan faedahnya. Ambillah contoh, mereka sangat getol
> dalam mengamalkan bi’dah ini, sementara sholat
> berjama’ah di masjid mereka lalaikan.
> 
> Harapan mereka, bacaan tersebut bisa bermanfaat bagi
> si mayit agar terbebas dari siksa kubur dan mendapat
> pahala yang terus mengalir, padahal Allah Ta’ala
> dan Rasulnya tidak pernah mengajarkan yang demikian.
> Bahkan di tegaskan dalam firman-Nya bahwa sseorang
> tidak memperoleh pahala melainkan dari yang di
> usahakannya saja. Jika usahanya baik maka dia akan
> mendapatkan balasannya dan jika usahanya buruk dia
> akan mendapatkan balasannya pula. Allah Ta’ala
> berfirman (yang artinya) : 
> “Dan bahwasanya seseorang tidak memperoleh selain
> apa yang telah di usahakannya. “(QS. An-Najm :
> 39).
> 
> Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam juga
> menegaskan dalam sabda beliau (yang artinya) : 
> “Jika manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya
> kecuali tiga perkara : Shodaqah jariyah, ilmu yang
> bermanfaat, dan anak sholeh yang mendo’akannya.
> “(HR. Muslim).
> 
> Adapun jika anak si mayit yang membaca Al-Qur’an,
> maka pahalanya akan sampai kepadanya, karena anak
> adalah hasil usaha ayahnya. Ini adalah pendapat
> ulama, diantaranya Al-Imam Asy-Syafi’i
> Rahimahullah.
> 
> Yang perlu di pertanyakan, bagaimana mungkin
> Al-Qur’an bisa memberi manfaat kepada si mayit,
> yang semasa hidupnya suka meninggalkan sholat, suka
> berbuat maksiat, dan perbuatan dosa yang lainnya ?
> Bahkan Al-Qur’an sendiri malah memberinya kabar
> gembira dengan kecelakaan dan siksa.
> 
> Allah Ta’ala tidaklah menurunkan Al-Qur’an yang
> mulia ini melainkan agar di baca, di pahami dan
> diamalkan isinya. Yang berupa perintah hendaknya
> dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai dengan contoh
> dari Rasulullah Shollallahu ‘alahi wa sallam dan
> para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum ajmai’in.
> Adapun yang berupa larangan hendaknya di jauhi
> dengan sejauh-jauhnya. Dan tentu tidak ada yang
> dapat melakukannya melainkan orang yang hidup yang
> masih sehat akal dan fikirannya serta masih terjaga
> fitrahnya. Sehingga jelaslah, bahwa Al-Qur’an
> memang untuk orang hidup bukan untuk orang mati.
> 
> Maraji’ :
> 1. Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah, karya Syaikh
> Muhammad bin Jamil Zainu.
> 2. At-Tibyan fii Aadaabi Hamalatil Qur’an, karya
> Al-Imam An-Nawawi.
> ( Dinukil dari Buletin Al-Bayyinah, edisi 09 / 03 /
> 01).
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Apakah Anda Yahoo!?
> Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 
> 
> Tetap Semangat Mencintai Banten! 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
>     [EMAIL PROTECTED]
> 
>  
> 
> 
> 
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke