TIM ANTI LITERASI
(Kepada Para Cagub, Cawagub, KPUD, Panwaslu, dan LSM)
yang miskin jangan bersedih
yang kaya janganlah bangga
derajat manusia di sisi Tuhannya
bukan karena hartanya....
***
JABATAN
Syair di atas adalah lagu dari Rhoma Irama, raja dangdut
sepanjang masa. Bagaimana realitasnya di tanah para sultan ini? Jauh
panggang dari api. Ternyata yang miskin, dipaksa-paksa tidak bersedih
juga, tetap saja bersedih. Bagaimana tidak sedih, kalau masuk sekolah
masih saja mahal. "Anak saya gratisnya Cuma masuk SD doang. Pas ke SMP,
mesti nyediain duit ratusan ribu. Apalagi nanti SMA, jutaan. Coba,
gimana nggak sedih jadi orang miskin!"
Terus, yang kaya apa dilarang berbangga diri? Boleh-boleh ajalah.
Bang Rhoma ini bagaimana, sih? Kita cari uang 'kan untuk jadi kaya.
Setelah kaya, kita boleh dong menikmati hasilnya! Pamer sandang dan
pangan serta selera kelas atas. Kalau perlu merubah penampilan dengan
cara operasi plastik, agar tampak kinclong. Kalau sudah selesai urusan
primer dan sekunder, boleh dong ke urusan lainnya! Untuk apa kita kaya
dan raya, kalau cuma pekerjaannya duduk ongkang-ongkang kaki. Mending
kalau kekayaan itu dari hasil pekerjaan profesional kita, tapi kalau
kaya karena gara-gara ketiban komisi? Tidak enak juga 'kan. Nanti
dikiranya kita kaya gara-gara babi ngepet lagi. Hualah!
Nah, sekarang 'kan sedang musim pilkadal (pemilihan kepala
daerah langsung). Boleh dong yang kaya mencalonkan diri jadi kepala
desa, bupati atau gubernur? Jadi, kekayaan yang kita miliki ada
manfaatnya, bisa memberi nafkah kepada jasa konveksi (spanduk, stiker,
kalender, dan kaos) memberi tambahan penghasilan kepada para aktivis
atau akademisi (jadi tim sukses gitchu lho!) dan syukur-syukur harta
kita memberi manfaat kepada orang banyak. Kalau misalnya nanti terpilih
jadi gubernur, treus kekayaan kita semakin bertambah, ya wajar-wajar
sajalah. Namanyanya juga hukum dagang. Ada modal, pasti ada keuntungan.
PERPUSTAKAAN
Tapi kadang kita lupa, bahwa selain ada tim anti korupsi,
mestinya juga ada tim anti literasi? Lho, apakah itu?
Literasi dan terasi, wahai, adakah hubungannya? Tentu saja ada.
Literasi dan terasi sebenarnya selalu hadir tanpa kita sadari
kehadirannya. Terasi, pasti selalu ada di antara deretan bumbu-bumbu
masak lainnya seperti garam, gula, merica, dan cabe rawit. Terasi ada
tapi tiada. Begitu juga dengan literasi (aksara). Dia selalu kita
gunakan setiap hari, tapi sebetulnya kita tidak peduli kepadanya.
Contoh nyata, literasi itu mau tidak mau selain harus berumah di
institusi pendidikan semisal sekolah dan perguruan tinggi, juga berumah
di gedung yang dinamakan perpustakaan. Apakah itu perpustakaan setingkat
kantor,UPTD, mesjid, masyarakat, juga perpustakaan pribadi di
rumah-rumah kita.Punyakah kita yang kaya raya ini rentetan aksara yang
terkumpul di dalam buku dan berumah di perpustakaan?
Terkait dengan para cagub dan cawagub Banten yang tentu kaya
raya, bisakah selain daftar kekayaannya kita catat dan laporkan, juga
buku-bukunya kita catat pula? Punyakah mereka perpustakaan pribadi di
rumahnya? Punyakah mereka buku-buku di kantor atau ruangan kerjanya?
Buku apa saja yang mereka baca? Membaca sastrakah mereka? Jika mereka
bepergian membawa tas, adakah buku selalu mereka bawa? Jangan-jangan di
tas Atut dan Marisa hanya ada alat kosmetik! Jangan-jangan di mobil Atut
dan Marisa tidak ada buku! Jangan-jangan di ruang kerja Atut, Tryana
Syam'un, Muchtar Mandala, Irsyad Djuwaeli, Zulkieflimansyah Cuma ada
sofa, lukisan kaligrasfi Allah dan Muhammad, tapi tidak ada rak berisi
buku.
Apa hubungannya para cagub dan cawagub dengan buku? Oh, ada
banget! Silahkan saja kita kaji kinerja para pemimpin di Pemprov Banten
generasi pertama ini (periode 2000 - 2004). Mulai dari gubernur yang
dinon-aktifkan, Plt gubernurnya, para pejabat setingkat Asda, dan
Kabironya. Juga ke para bupati di Banten, ke Kepala Dinas, ke ketua DPRD
Banten dan DPRD Kabupaten! Cobalah tim anti literasi kita bentuk dan
kita datangi rumah-rumah mereka. Kita catat daftar kekayaan bukunya!
Adakah di rumah mereka perpustakaan pribadi? Kok, ngotot sekali dengan
perpustakaan pribadi?
BANTEN CERDAS
Pernah mendengar cerita tentang seorang Abraham Lincoln, presiden
Amerika abad yang lewat? Dia adalah presiden kulit hitam yang hanya
lulusan SD. Dia bisa jadi presiden merangkak dari bawah. Awalnya dia
kurir. Karena rajin membaca buku, dia ditawari menjaga perpustakaan.
Semua buku dibacanya, hingga setiap presiden punya masalah, dialah yang
sanggup menasehati presiden dan mencarikan jalan keluarnya. Dia bisa
begitu, karena membaca buku. Kemudian orang-orang menyuruhnya ikut
pemilihan presiden. Terpilihlah dia. Di negeri kita, Adam Malik juga
contoh nyata. Dari kegermaran membaca, dia jadi menteri luar negeri,
lalu jadi wakil presiden.
Di Banten, tampak sekali para pemimpinnya tidak menyukai buku.
Padahal gelarnya berderet-deret dan aneh-aneh. Contoh nyata, di era awal
Banten jadi provinsi, para petinggi di DPRD Banten ogah membangun gedung
perpustakaan. Bahkan sekarang pun, rencana pembangunan gedung
perpustakaan dibatalkan. Plt gubernur dan Ketua DPRDnya setali tiga
uang. Lihatlah juga kebijakan-kebijakan publik atau politis yang mereka
putuskan, jauh rak dari buku. Lembaga setingkat Dinas Pendidikan saja,
tidak becus membangun SMA UNGGULAN yang kini berubah jadi SMA CMBBS.
Kalaulah pendidikan tidak mereka jadikan sebagai proyek, tentu ceritanya
jadi lain. Tapi itulah, cara berpikir mereka masih menggunakan hukum
'budaya berhitung" bukan "budaya berpikir".
Terus, apa maunya membentuk tim anti literasi? Maunya adalah,
jika di rumah-rumah yang saya sebutkan di atas itu tidak ada
perpustakaan pribadi, berarti mereka tidak pernah membaca buku. Kalau
kenyataannya begitu, bagaimana bisa mereka menjadi pemimpin kita kalau
tidak pernah membaca buku? Itu artinya, mereka termasuk yang anti
literasi alias anti menuju Banten Cerdas. Kalau sudah begitu, ngapain
kita memilih mereka jadi pemimpin? Terus, terus, siapa yang jadi tim
anti literasi?
Tayakan saja sama KPUD, Panwaslu, dan LSM! Mereka 'kan
orang-orang pinter. Eit, jangan-jangan malah di rumah mereka juga tidak
ada perpustakaan pribadi! Wealah!
***
*) Penulis adalah rakyat yang mndambakan perpustakaan megah di Banten.
Tetap Semangat Mencintai Banten!
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/