tadinya saya berharap hasil kajian Pak Ramli terhadap sebuah negara yang sukses menekan tindakan korupsi. dari hasil kajian tsb ada gak relasinya dengan formasi, struktur kekuasaan yang berjalan di negara tersebut dengan Indonesia, sehingga dengan latar belakang atau konsep atau model tsb konsep apa saja yang bisa dilakukan di Indonesia untuk menanggulangi tindakan korupsi, walaupun semuanya pasti ada resikonya. Semisal China yang berhasil menekan tindakan korupsi dengan konsep Carrot and Stick.
terima kasih atas tambahan wawasannya. SP Saprudin ----- Pesan Asli ---- Dari: Ferizal Ramli <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Minggu, 8 April, 2007 6:27:09 Topik: [WongBanten] Re: Mencoba membedah anatomi Korupsi Yth Teteh dan Akang semua, Saya yakin pasti ada banyak kebenaran tentang cerita Banten yang saat ini masih berkubangan dengan korupsi. Saya pun tidak keberatan jika banyak orang yang pesimis tentang pemberantasan korupsi. Sangat dimaklumi pula jika ada diantara rekän yang pengennya ingin langsung melakukan aksi dari pada berteori. "Apalah arti teori jika tidak ada aksi?" pikir sebagian temen. Jadi, keberatan dari sebagai temen seperti ini bisa dipahami dan bisa diterima. Oleh karena itu, secara moral saya yakin Masyarakat Banten akan mendoakan jika ada diantara wong Banten yang langsung turun beraksi membuat pergerakan melawan korupsi. Sebelum masuk pada tawaran bagus dari para akang yang ingin menukik pada diskursus "Good Corporate Government". Tawaran diskursus tentang pemberantas korupsi di level birokrasi dan politisi dan pembentukan sistem yang bersih. Ijinkanlah saya "tergoda" terlebih dahulu dengan tulisan menarik tentang budaya korupsi di masyarakat. Prof. MT Zen menyatakan bahwa budaya masyarakatlah yang menyebabkan suburnya korupsi. Tulisan beliau merupakan kajian introspeksi menarik untuk kebaikan kita ke depan. Hanya saja, selain sisi instropeksi, sebenarnya ada sisi tangguh yang merupakan watak asli dari masyarakat kita. Contoh-2 yang saya tulis dibawah ini sangat mungkin tidak berhubungan langsung dengan wacana tentang korupsi, tapi saya melihat bahwa budaya masyarakat kita sebenarnya tangguh. Saya pribadi menolak stigma yang menyalahkan budaya masyarakat Indonesia penyebab suburnya korupsi atau kemiskinan atau anarkisme, dll. Bagi saya, kenyataannya justru budaya masyarakat kita lah yang membuat kita tetap survive meskipun beban kita begitu berat saat ini. Lihatlah, pada saat banyak ahli sosialogi menuduh bahwa bangsa Indonesia itu bangsa pemalas sehingga kita tidak bisa maju. Pada saat yang bersamaan realitas yang saya lihat di Banten ataupun di Yogya (dan saya yakin terjadi di belahan manapun di Indonesia) justru sebaliknya. Lihatlah masyarakat Cipala (di Puncak Gunung di Merak), sehabis sholat Shubuh dengan penuh optimis memanggul hasil taninya (bertandan-tandan pisang dan buah-2 lainnya) yang begitu berat di pundaknya turun gunung ke pasar Merak, untuk menjemput rejekinya hari itu. Di Yogya, jam 2 pagi dini hari, setiap hari, ribuan para si-mbok pedagang sayur mengayuh sepeda ontel-nya berpuluh-puluh kilo meter untuk menuju Pasar Beringharjo, untuk menjemput rejekinya hari itu. Mereka bekerja keras disaat orang-2 bule di Eropa sana tidur nyenyak. Inikah yang dikatakan orang bahwa budaya bangsa Indonesia adalah budaya para pemalas? Mampukah orang-2 Bule di Eropa sana punya punya ketangguhan yang sama dengan masyarakat kita? Tapi jika kita bertanya; "Mengapa orang yang begitu tangguh dan rajin tetap saja hidup dalam kemiskinan?" Jawabnya, karena kita sampai hari ini gagal merumuskan sistem yang berpihak pada masyarakat banyak. Kita miskin bukan karena masyarakat kita malas, tapi kita gagal merumuskan sistem yang mensejahterakan kita. Ini bukan persoalan budaya atau kultur. Ini persoalan manajemen dan struktur. Lihat kasus pemilu 2,5 tahun yang lalu. Itu adalah pemilu langsung yang pertama dalam sejarah kita. Menariknya tidak ada darah, kerusuhan dan pembunuh dalam pemilu itu. Masyarakat kita dengan keteladanan nilai-2nya, justru membalikkan ramalan seluruh pakar dalam dan luar negeri. Ramalan para pakar yang menuduh kita bangsa anarkis, bla , bla.., ternyata salah semua. Bandingkan dengan India, bangsa yang puluhan kali mengadakan pemilu langsung. Tapi darah dan pembunuhan disana (di India) adalah konsekuensi langganan yang selalu terjadi setiap pemilu berlangsung. Apakah peristiwa ini bukan merupakan contoh agung dari ketangguhan masyarakat kita tentang toleransi? Mari kita renungkan kembali krisis moneter yang terjadi sampai hari ini. Sektor manakah yang tidak diproteksi, tidak disubsidi, tidak mendapat bantuan kredit, tidak diperdulikan tetapi tetap survive? Jawabnya, Sektor kaki lima. Sektor ekonomi usaha kecil lah yang tetap tangguh menopang jutaan dapur masyarakat agar tetap mengepul. Tukang baso, pecel lele, mbok pedagang sayur, warung tegal, adalah bukti ketangguhan budaya masyarakat kita yang tetap survive meskipun negara tidak pernah peduli dengan mereka sama sekali. Akang atau Teteh semua boleh berbeda pendapat dengan saya. Tapi bagi saya pribadi keyakinan saya cuma satu, saya menolak keras ada yang mengatakan bahwa budaya masyarakat lah penyebab kita terpuruk dalam kemiskinan ini. Contoh-2 kecil diatas merupakan fakta keras tak terbatahkan bahwa budaya masyarakat kita itu tangguh. Pertanyaanya, kenapa dengan budaya begitu tangguh kita tetap miskin? Mengapa bangsa dengan budaya tangguh seperti itu justru terjerumus dalam kubangan korupsi yang begitu hitam? Bagi saya pribadi, jawabnya bukan pada budaya masyarakat. Jawabnya, pada kegagalan kita untuk membangun sistem yang benar. Ini persoalan manajemen dan profesionalitas kerja para pemimpin dan para intelektual. Kedua kelompok inilah yang paling bersalah. Jadinya, solusinya bukan solusi budaya. Solusinya harus solusi struktural. Korupsi di Indonesia mewabah karena kita gagal membangun sistem yang transparansi dan akuntanbilitas. Kerja professional dan visioner adalah solusinya. "Good Corporate Government" adalah kata kuncinya. Kesanalah biduk perahu harus diarahkan. Tapi kalau ada yang menuduh ini cuma teori, maka maafkan lah keterbatasan saya... Salam, Ferizal Ramli --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, dian agusdiana <dian_agd92@ ...> wrote: > > korupsi aparat.. > benar kata akang , kalo aparat dia takut jika > peraturan dan atasnnya sangat kuat dan bersih. > tapi bagai ayam dan telur, bagimana bisa dibuat > regulasi yang kuat apabila pembuatnya punya > kepentingan dalam korupsi? contohnya UU tentang > Peradilan Tipikor malah mau dibuat utk memberangus > pengadilan khusus itu sendiri. wacananya sudah jelas > "asal pakar ia bisa asal berkomentar" ia bisa asal > berkomentar bahwa korupsi bukan extraordinary crime, > yg buat ekstra apabila uang yg dikorupsinya dlm jumlah > guede. > ia gelap tak bisa melihat jika seluruh aspek > administratur dinegeri ini mulai dr kelurahan sampe > lembaga kepresidenan, suka ama jenis kriminal yang > renyah ini!!! dan itu dia menganggap kejahatan biasa. > pertanyaannya, dia biasa juga melakukan kejahatan ini > ga ya? kan sudah dia anggap lumrah! > jika demikian maka korupsi sama dengan minum alkohol > bagi muslim di negeri ini. dilarang oleh agama tapi > dijadikan komoditi oleh negara. kenapa tidak sekalian > saja dia berkata demikian? pasti banyak yang > mengamini, apalagi dikatakan dari mulut seorang pakar > pidana. ilmiah gitulho... > kalo dipersamakan mana yang lebih dahulu, ayam atau > telur, maka jawabannya menurut saya, yang lebih dahulu > adalah pencipta tebak-tebakan itu. artinya dia cerdas > dan kreative sehingga mampu membuat tebak2an yang > melegenda gitu. jadi dikaitkan dengan pembasmian > korupsi maka , pencipta regulasi dan pencipta aparatur > yang lebih dahulu dibersihkan, supaya produk yang > ditelorkannya bagus-bagus. > duh account warnetnya dah abis..... > sambung lagi ntar lah.. > > > > NB: katanya KPK itu ada tugas lain selain penindakan, > ia juga mempunyai mandat mengantisipasi korupsi > (prefentive) . isinya mungkin kampanye-kampanye gitu, > seandainya ada wongbanten yang di KPK (kalo ketua na > mah sigana sibuk pisan meureun nya) bisa kasih masukan > ka milis ieu wuih kayaknya jadi lebih rame yeuh > diskusi. > > > > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ > It's here! Your new message! > Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar. > http://tools. search.yahoo. com/toolbar/ features/ mail/ > ________________________________________________________ Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! http://id.yahoo.com/ [Non-text portions of this message have been removed] Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
