wach,,tambah asik aja nich,...thanks a lot.
--- primasaja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
chasansochib.blogspot.com/2007/10/chasan-sochib-aku-gubernur-jenderal.html
>
> On Wed, 20 Feb 2008 00:44:24 -0800 (PST)
> Dedi juanda <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Semenjak 10 tahun saya menjadi anggota milis
> > WongBanten baru sekarang ini, saya menikmati
> tulisan
> > ini dan saya ucapkan terima kasih kepada Bung
> > primasaja, ini akan kami gabung dengan data yang
> ada
> > pada saya. salam dewa99
> >
> > --- primasaja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >>
> >>
> >> Paparan Korupsi Karangsari Rp 5 Miliar, Libatkan
> >> Atut
> >> Chosiyah dan Ayahnya
> >>
> >> SETELAH 3 tahun, kasus dugaan korupsi pengadaan
> >> lahan
> >> Karangsari senilai Rp 5 miliar, berkas perkaranya
> >> tak
> >> kunjung ke Pengadilan Negeri Serang untuk
> >> mendapatkan
> >> keadilan.
> >> Padahal kasus ini menjadi sorotan masyarakat
> karena
> >> diduga
> >> kuat melibatkan Atut Chosiyah, Plt Gubernur
> Banten
> >> dan
> >> sang ayah tercinta, Chasan Sochib serta pejabat
> >> teras di
> >> lingkungan Pemprov Banten dan Pemkab Pandeglang.
> >>
> >> Kasus ini dilaporkan ke Komisi Pemberantasan
> Korupsi
> >>
> >> (KPK), Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi (Kejati)
> >> Banten
> >> dan Kepolisian Daerah (Polda) Banten pada tahun
> >> 2003.
> >> Pelaporannya adalah Lembaga Advokasi Masalah
> Publik
> >> (LAMP).
> >>
> >> Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten memang sudah
> >> menetapkan
> >> tersangka atas kasus ini, Tantan yang menjabat
> >> Pimpro.
> >> Namun Atut Chosiyah dan Chasan Sochib tak pernah
> >> dimintai
> >> keterangan tentang kasus ini yang menggunakan
> APBD
> >> tahun
> >> 2002, sehingga berkas perkara itu tidak pernah
> >> lengkap dan
> >> tidak memenuhi syarat untuk dilimpahkan ke
> >> pengadilan.
> >>
> >> Kepala Kejati Banten, Kemal Sofyan Nasution
> melalui
> >> Asisten Pengawasannya, AF Basyuni, penyebab
> >> tersendat-sendatnya penyelidikan kasus Karangsari
> >> adalah
> >> terdapat perbedaan antara hasil perhitungan
> kerugian
> >>
> >> negara oleh auditor dari Badan Pemeriksa Keuangan
> >> dan
> >> Pembangunan (BPKP) dengan Kejati Banten. Versi
> BPKP
> >> menyebutkan angka Rp 5 miliar, sesuai dengan
> >> nomenklatur
> >> di APBD. Sedangkan Kejati Banten berpegang teguh
> >> pada Rp
> >> 3,5 miliar karena hanya uang itu yang digunakan
> >> untuk
> >> membebaskan lahan Karangsari.
> >>
> >> Hasil pemeriksaan BPK maupun BPKP memang
> menyebutkan
> >> angka
> >> Rp 5,14 miliar, sesuai dengan besaran anggaran
> yang
> >> tercantum dalam APBD 2002. Di antaranya untuk
> >> pembebasan
> >> lahan Karangsari Rp 3,5 miliar. Namun sisanya, Rp
> >> 1,64
> >> miliar juga menjadi temuan BPK dan BPKP karena
> tak
> >> ada
> >> pelaksanaan proyek pelebaran jalan itu.
> >>
> >> Sebenarnya, Dengan temuan BPK dan perhitungan
> BPKP
> >> itu,
> >> Kejati Banten justru mendapatkan dua perkara.
> >> Pertama,
> >> perkara dugaan korupsi pengadaan lahan Karangsari
> Rp
> >> 3,5
> >> miliar. Kedua, perkara dugaan korupsi pelaksanaan
>
> >> pelebaran Jalan Raya Serang-Pandeglang tahun 2002
> >> yang
> >> dinilai tidak dilaksanakan. Kenyataannya, kasus
> ini
> >> terkatung-katung hingga 3 tahun lebih.
> >>
> >> UNTUK mengetahui lebih lanjut, berikut ini
> >> kronologis
> >> peristiwa kasus lahan Karangsari yang telah
> menjadi
> >> fenomena aneh bagi pemberantasan korupsi di ranah
> >> Banten.
> >> Kronologis ini hasil dari Tim Investigasi
> >> Bantenlink.com
> >> yang menyarikan dari fotokopi dokumen-dokumen
> >> terkait
> >> Karangsari dan sumber-sumber terpercaya yang
> >> menguatkan
> >> keabsahan dokumen tersebut.
> >>
> >> Awalnya.
> >> Lahan Karangsari yang diributkan telah menjadi
> objek
> >>
> >> korupsi berada di Kampung Karangasari, Desa
> >> Sukarame,
> >> Kecamatan Labuan (sebelum dimekarkan menjadi
> >> Carita),
> >> Kabupaten Pandeglang. Tanah ini milik Omo Sudarma
> >> bin
> >> Kamdani dengan luas 28.372 m2 (2,83) hektare
> dengan
> >> nomor
> >> sertifikat 17.
> >>
> >> 4 Januari 1997
> >> Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang membayar
> >> tanah
> >> Karangsari milik Omo Sudarmo. Ini sesuai
> keterangan
> >> Karna
> >> Suwanda yang waktu itu sebagai Bupati Pandeglang.
>
> >> Keterangan Karna dikuatkan oleh Omo Sudarma
> sendiri
> >> dalam
> >> suratnya bertanggal 4 Januari 1997 yang ditujukan
> >> kepada
> >> Bupati Pandeglang. Tanah Omo yang dibeli Pemkab
> >> seluas
> >> 22.000 m2 dari 22.460 m2. Omo mengaku hanya
> memiliki
> >> sisa
> >> tanah 400 m2. Pemkab menjadikan lahan sebagai
> objek
> >> wisata
> >> yang menghasilan pendapatan asli daerah (PAD)
> >> melalui
> >> retribusi parkir dan wisatawan.
> >>
> >> 2 Juni 1997.
> >> Omo Sudarma melaporkan kehilangan dokumen
> sertifikat
> >> No.17
> >> sesuai dengan laporannya kepada polisi No.SLBKS
> >> 35/VI/1997. Kehilangan dokumen ini diumumkan di
> >> media
> >> massa dan lembaran negara pada 19 Juni-25 Juli
> 1997.
> >>
> >> 14 Agustus 1997
> >> Omo Sudarma mengajukan surat permohonan
> sertifikat
> >> pengganti.
> >>
> >> 13 Oktober 1997
> >> Kantor Pertanahan Pandeglang menyatakan arsip
> >> sertifikat
> >> no.17 hilang dari kantor itu. Kemudian sertifikat
> >> diganti
> >> dengan No.690 pada tanggal 13 Oktober 1997 dan
> masih
> >> atas
> >> nama Omo, meskipun 22.000 m2 sudah dibayar oleh
> >> Pemkab
> >> Pandeglang, milik Omo hanya 460 m2.
> >>
> >> 25 Juli 2000
> >> Dadan Sudarma, anak tertua Omo Sudarma
> mengirimkan
> >> surat
> >> kepada Bupati Pandeglang yang berisi meminta
> >> sertifikat
> >> No.690 dipecah dan tanah yang masih milik Omo
> seluas
>
=== message truncated ===
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ