upsss, 
pemilu 2009 sudah dekat,
HATI-HATI ......



Setiadji Achmad wrote:
>             pengurus PKS dan Konstituennya juga manusia biasa xixixixixi 
> From: halim hd <[EMAIL PROTECTED] com> To: [EMAIL PROTECTED] ups.com Sent: 
> Monday, November 17, 2008 10:23:31 PM Subject: Re: [WongBanten] Soeharto 
> Pahlawan? 
>             iyaaa, saya tuh kecewa berat sama PKS. semula saya pikir bisa 
> jadi partai kayak di turki, yang bisa bikin ekonomi bagus, en mampu 
> menggalang warga en anggotanya untuk secara diam-diam memboikot produk 
> emberikan. tadinya saya membayangkan, misalnya, seperti yang pernah saya 
> tulis di forum pembaca kompas, gimana kalou PKS itu menganjurkan kepada 
> anggotanya untuk tidak masuk mall, menolak produk emberikan, eropa, en 
> belanja di pasar tradisional. jika impen-impen saya itu kelakon, rasanya 
> produk lokal bisa jalan. tapi, nampaknya antara "ideologi" dengan selera di 
> PKS masih beda; seleranya tetep saja kayak kalangan kelas menengah yang 
> kagetan yang suka
>  nampang di mall en bangga sama produk luar. saya tuh pengin banget lihat 
> contoh partei yang bisa menggalang massanya, warga anggotanya secara riil, 
> melawan secara konrkit kayak kaum bazaar di iran dulu dalam
>  gerakan anti-tembako. PKS menganjurkan kepada pengurusnya gak merokok, tapi 
> cuma sebegitu. produk lainnya tetep saja dilahap. hhd. (catatan: cuma saya 
> rada repot sebagei perokok, waloupun sekarang sudah rada kurang). --- On Mon, 
> 11/17/08, bayu sukma <bayu_banten@ yahoo.com > wrote: From: bayu sukma 
> <bayu_banten@ yahoo.com> Subject: Re: [WongBanten] Soeharto Pahlawan? To: 
> [EMAIL PROTECTED] ups.com Date: Monday, November 17, 2008, 4:32 AM 
>             Rupanya Partai PKS sudah milik kroni soeharto begitu  bangganya 
> mempromosikan iklan Soeharto sebagai seorang pahlawan. --- On Mon, 11/17/08, 
> halim hd <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: halim hd <[EMAIL PROTECTED] 
> com> Subject: Re: [WongBanten] Soeharto Pahlawan? To: [EMAIL PROTECTED] 
> ups.com Date: Monday, November 17, 2008, 4:17 PM 
>             dear bontjees, bisa nggak mereka yang mengorganisir pemberontkan 
> petani banten pada abad xix jadi pahlawan, atau mereka yang melakukan 
> pemberontakan pada tahun 1926-27 dan dibuang ke digul? hhd. (kalou suharto 
> kan layak dokap, mumpung bisa dijual buat nyari fresh money). --- On Sun, 
> 11/16/08, Boni Triyana <boni_triyana@ yahoo.com> wrote: From: Boni Triyana 
> <boni_triyana@ yahoo.com> Subject: Re: [WongBanten] Soeharto Pahlawan? To: 
> [EMAIL PROTECTED] ups.com Date: Sunday, November 16, 2008, 9:42 PM 
>             Tata yang baik, Betul kata Anda. Ada banyak tokoh Islam yang 
> gigih melawan penjajah. KH Noer Ali dari Bekasi pun sudah diangkat sebagai 
> pahlawan tahun lalu. Kalau Kyai Imam Zarkasyi, tentulah harus didorong supaya 
> dia diangkat jadi pahlawan. Saya "samar-samar" tahu soal sepak terjang dia 
> dalam bidang pendidikan. Sebetulnya ada satu nama lagi yang saya calonkan, 
> yakni Mas Marco Kartodikromo. Hanya saja saya akan menulisnya tersendiri 
> dalam satu artikel. Soal Soeharto?? Ya begitulah bangsa kita... Tabik, Bonnie 
> Triyana --- On Mon, 17/11/08, tata septayuda <[EMAIL PROTECTED] co.uk> wrote: 
> From: tata septayuda <[EMAIL PROTECTED] co.uk> Subject: Re: [WongBanten] 
> Soeharto Pahlawan? To:
>  [EMAIL PROTECTED] ups.com Date: Monday, 17 November, 2008, 12:31 PM 
>             Salam Bung Bonnie, 
>  Saya tertarik dengan ungkapan Anda, “Pahlawan mendatang.” Kalau lah boleh 
> pemberian gelar pahlawan disematkan pada mereka yang tidak berjuang pd 
> periode revolusi kemerdekaan, saya ingin menyebut satu nama : KH Imam 
> Zarkasyi (1910-1985), pendiri Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jatim. Maaf, 
> penyebutan dia sebagai tokoh Islam, jangan dianggap bagian dari islamophobia. 
> Semasa hidup, dia memang tidak bersentuhan langsung secara fisik dengan 
> penjajah negeri. Hanya beberapa kali ia aktif sebagai tentara ‘swasta’. Ia 
> lebih banyak mengurus pendidikan pesantren Gontor, yang sejak didirikan tahun 
> 1926 sudah mulai diintervensi oleh Asing. Imam Zarkasyi tetap berjuang 
> mempertahankan negeri, menyelamatkan anak bangsa lewat jalur pendidikan.   
>    
>  Kabarnya, PAGON (persatuan alumni Gontor) di Jakarta, sudah menyiapkan tim 
> pengusul Imam Zarkasyi sebagai pahlawan nasional bidang pendidikan. Tim ini 
> mengusulkannya sejak Oktober 2008 lalu dan kini sedang menunggu jawaban 
> Depsos. Pertimbangan PAGON mengususlkan Imam Zarkasyi antara lain: eksistensi 
> Pondok Modern Gontor yang reputasinya di bidang pendidikan diakui secara 
> nasional dan internasional. Kedua, anak didik Imam Zarkasyi yang mulai 
> merambah wilayah publik dengan menduduki pos-pos penting negeri ini, ormas 
> maupun pemerintahan, model Maftuh Basuni, Hidayat Nurwahid, Hasyim Muzadi, 
> Din Syamsuddin, (Alm) Nurcholis Madjid, Abu Bakar Basyir, Emha Ainun Najib, 
> ada juga petinggi GAM yang tobat. Di tingkat daerah dapat disebutkan beberapa 
> santrinya merambah wilayah publik seperti Sadeli Karim Wakil Ketua DPRD 
> Banten, Laode Asroruddin Taufiq, dan Nirwan Nazaruddin
>  masing-masing anggota DPRD Banten dan Suryadi ketua Pengadilan Tinggi 
> Agama.. Kabarnya acara Silatnas yg digelar 29 Nopember nanti di JCC yang 
> dihadiri Yudhoyono, isu pengusulan pahlawan ini juga mencuat kembali. 
>    
>  Di Lebak sendiri, ratusan kilometer dari Desa Gontor, ada sekitar 20 
> pesantren berbasis pendidikan modern yang kurikulumnya berafiliasi ke Gontor. 
> Saya kira, pemerintah berhak mempertimbangkan usulan ini sungguh-sungguh. 
> Dan, betul kata Bonnie, bahwa perjuangan mengisi kemerdekaan pun tak kalah 
> pentingnya dengan perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Asvi 
> Marwan Adam di Tempo Minggu pun demikian, supaya didaftar pahlawan yang tidak 
> cuma militer. Terlebih ikut mencerdasakan kehidupan anak bangsa. Ini sekadar 
> info, jaga-jaga Imam Zarkasyi terpilih sebagai pahlawan mendatang. 
>    
>  tata septayuda, 
>  Wartawan Majalah Gontor 
>    
>    --- On Mon, 17/11/08, Boni Triyana <boni_triyana@ yahoo.com> wrote: 
>  From: Boni Triyana <boni_triyana@ yahoo.com> Subject: [WongBanten] Soeharto 
> Pahlawan? To: [EMAIL PROTECTED] ups.com, pantau-komunitas@ yahoogroups. com, 
> [EMAIL PROTECTED] s.com Date: Monday, 17 November, 2008, 9:42 AM 
>  Koran TEMPO, 15 November 2008 Soeharto Pahlawan? Bonnie Triyana, 
> sejarawan-cum- wartawan. Sepuluh bulan setelah Soeharto meninggal, 
> kontroversi mengenai gelar pahlawan kembali mengemuka saat Partai Keadilan 
> Sejahtera (PKS) menayangkan iklan di televisi dalam rangka Hari Pahlawan 10 
> November. Mengomentari hal itu, tokoh sejarah Des Alwi, yang diwawancarai 
> oleh RRI Pro 2 FM, pada 11 November 2008 mengatakan penyebutan pahlawan untuk 
> Soeharto dinilainya masih terlalu dini. Hal itu memang beralasan, mengingat 
> Bung Karno digelari pahlawan 14 tahun setelah ia meninggal, sementara Bung 
> Hatta baru lima tahun sesudah ia wafat. Seperti diberitakan di harian ini, 
> politikus PKS, Fahri Hamzah, berpendapat Soeharto tetap pantas dihormati 
> sebagai guru bangsa. "Dia pernah mempengaruhi hidup kita," katanya. "Nilai 
> negatif pasti ada, tapi yang harus jadi contoh nilai yang positif." (Koran 
> Tempo, 11 November 2008.) Sebelum PKS, Partai
>  Golkar pernah (dan masih) getol mengajukan Soeharto untuk mendapat gelar 
> pahlawan nasional. Pengertian pahlawan menurut Peraturan Presiden Nomor 
> 33/1964 adalah: a) warga negara RI yang gugur dalam perjuangan membela bangsa 
> dan negara, b) warga negara RI yang berjasa membela bangsa dan negara yang 
> dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu perbuatan yang 
> membuat cacat nilai perjuangannya. Apakah mantan presiden Soeharto memenuhi 
> ketentuan ini? Nama Soeharto mulai populer ketika ia disebut-sebut sebagai 
> perwira yang menginisiasi sekaligus memimpin Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 
> 1949 di Yogyakarta. Pada 1979, untuk menunjukkan peran penting Soeharto dalam 
> SO 1 Maret 1949 itu, dibuatlah film Janur Kuning yang disutradarai oleh Alam 
> Rengga Surawidjaja. Film itu kemudian menjadi tontonan wajib bagi semua 
> lapisan rakyat, tak terkecuali siswa SD. Versi sejarah Orde Baru mengenai SO 
> 1 Maret 1949 pun ditulis dalam buku-buku sejarah yang
>  kemudian diajarkan kepada siswa sekolah. Ketika Soeharto tak lagi menjabat 
> presiden, muncul versi lain mengenai SO 1 Maret 1949. Dalam pleidoinya, 
> Kolonel Abdul Latief mengatakan, pada saat serangan itu berlangsung, ia 
> menemui Soeharto yang sedang berada di front belakang sembari menyantap soto 
> babat. Versi resmi Orde Baru menyebutkan, Soeharto adalah penggagas tunggal 
> SO 1 Maret 1949, sementara versi lain yang muncul kemudian menyebut nama Sri 
> Sultan Hamengku Buwono IX sebagai inisiator SO 1 Maret 1949. Semasa bertugas 
> menjadi Panglima TT-IV/Diponegoro di Semarang, Soeharto ketahuan menjalankan 
> aktivitas ekstra-militer dengan menyelundupkan gula ke Singapura untuk 
> dibarter dengan beras. Dalam otobiografinya, Soeharto mengatakan 
> penyelundupan itu ia lakukan untuk mengatasi kekurangan pangan di Jawa 
> Tengah.. Namun, aktivitas ekstra-militer itu menyebabkan ia diberhentikan 
> dari jabatan panglima dan diperintahkan mengikuti pendidikan di
>  Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD) di Bandung. Robert Elson dalam 
> Biografi Politik Soeharto mencatat pemberantasan korupsi di kalangan tentara 
> tak terlepas dari peran penting Jenderal Nasution, yang membentuk Inspektorat 
> Jenderal Angkatan Bersenjata sebagai "tangan kanannya". Pada April 1957 ia 
> mengeluarkan perintah untuk menyelidiki tindakan korupsi di setiap komando 
> teritorial, termasuk di antaranya TT IV pimpinan Soeharto. Atas mediasi 
> Jenderal Gatot Subroto kepada pucuk pimpinan Angkatan Darat, Soeharto urung 
> dipecat dari kedinasan tentara. Kariernya pun terselamatkan. Pada saat 
> konfrontasi dengan Malaysia berlangsung, Soeharto dipercaya menjabat Wakil 
> Panglima Komando Siaga Mandala (Kolaga). Ketika menjalankan tugas itu, ia 
> malah memilih "jalan lain" dalam menyelesaikan konfrontasi. Ia menugasi 
> beberapa pembantunya untuk mengadakan kontak dengan pihak Malaysia, yang 
> kemudian menjadi langkah awal normalisasi hubungan
>  Indonesia-Malaysia pada saat ia berkuasa. Tentu saja operasi-operasi itu 
> dilakukan tanpa sepengetahuan Bung Karno sebagai Panglima Tertinggi ABRI. 
> Ketika Soeharto mulai berkuasa, ia menjadikan pembangunan, stabilitas 
> politik, dan keamanan sebagai tolok ukur keberhasilan, kendati pencapaian 
> tersebut harus ditempuh dengan cara-cara yang mengabaikan demokrasi dan hak 
> asasi manusia. Keberhasilan pembangunan yang dipuja-puji banyak pihak menjadi 
> selubung penutup penderitaan rakyat di pelbagai sudut lain Indonesia. 
> Pembangunan di masa Soeharto berkuasa bertumpu pada "bantuan lunak" lembaga 
> donor internasional yang semakin lama semakin berlipat ganda bunganya. Ketika 
> Soeharto berhenti pada 1998, ia meninggalkan warisan utang (pemerintah dan 
> swasta) sebesar US$ 150 miliar. Warisan lain yang juga perlu diingat adalah 
> korban pelanggaran kemanusiaan sejak Soeharto berkuasa (secara de facto) pada 
> 1965, mulai dari pembantaian massal 1965-1969,
>  pembuangan ke Pulau Buru, terlunta-luntanya nasib eksil di luar negeri, 
> Tanjung Priok, penembakan misterius, peristiwa Lampung 27 Juli 1996, korban 
> operasi militer di Aceh dan Papua, penculikan aktivis, dan penembakan 
> mahasiswa Trisakti. Bahwa ada sebagian orang mengatakan Soeharto pernah 
> melakukan sesuatu yang bermanfaat, itu sah-sah saja, tapi bagaimana dengan 
> mereka yang justru dirugikan oleh pemerintah Orde Baru? Bukankah Perpres No. 
> 33/1964 mengatur bahwa seseorang yang membuat cacat nilai perjuangannya tak 
> memenuhi syarat untuk jadi pahlawan? Pahlawan mendatang Pemberian gelar 
> pahlawan kepada tokoh di republik ini selalu dikaitkan dengan perjuangan 
> bersenjata (baca: otot). Penganugerahan gelar pahlawan pun seakan terjebak 
> pada kepentingan politis atau malah seremonial belaka demi mengisi peringatan 
> Hari Pahlawan 10 November tiap tahunnya. Kecuali gelar pahlawan revolusi yang 
> diberikan kepada korban peristiwa G-30-S 1965, gelar
>  kepahlawanan biasanya disematkan kepada mereka yang berjuang pada periode 
> revolusi kemerdekaan dan di era kolonial Belanda. Padahal perjuangan mengisi 
> kemerdekaan pun tak kalah pentingnya dengan perjuangan merebut dan 
> mempertahankan kemerdekaan. Selain Soeharto, sebenarnya ada beberapa tokoh 
> yang punya jasa besar kepada masyarakat namun sampai hari ini belum pernah 
> dikaji untuk menjadi pahlawan. Sebut, misalnya, Prof Dr Sarwono 
> Prawirohardjo, dokter ahli kebidanan generasi pertama, inisiator gerakan 
> Keluarga Berencana sekaligus intelektual terkemuka salah satu pendiri Majelis 
> Ilmu Pengetahuan Indonesia (kemudian jadi LIPI). Ia juga dikenal sebagai 
> dokter kandungan yang bertugas melayani keluarga Bung Karno. Beberapa 
> putra-putri Bung Karno, salah satunya mantan presiden Megawati, kelahirannya 
> ditolong oleh Sarwono. Tokoh lain yang juga tak kalah pentingnya untuk dikaji 
> menjadi pahlawan nasional adalah Dr Soedjatmoko. Semua orang tahu
>  bagaimana sepak terjang Koko--demikian nama panggilannya- -di dalam dunia 
> intelektual nasional maupun internasional. Ia adalah satu-satunya orang 
> Indonesia yang pernah menjabat Rektor Universitas PBB di Jepang. Pemikirannya 
> merentang luas, mulai dari filsafat, sejarah, kebudayaan, sampai persoalan 
> lingkungan hidup. Pengakuan internasional terhadap kualitas 
> intelektualitasnya pun terbukti dari pemberian gelar doctor honoris causa 
> oleh Cedar Crest University, AS (1969), Yale University, AS (1970), dan 
> Universitas Kenegaraan Malaysia (1980). Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, 
> yang dikenal sebagai budayawan, arsitek, penulis, rohaniwan, aktivis, dan 
> pembela wong cilik, juga tak kalah pentingnya untuk bisa diajukan sebagai 
> pahlawan nasional. Pada era revolusi fisik, Romo Mangun turut berjuang 
> mempertahankan kemerdekaan dengan bergabung sebagai prajurit TKR Batalion X 
> Divisi III. Ia pernah ikut dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, dan
>  Mranggen. Setelah Indonesia merdeka, perjuangannya pun belum selesai. Ia 
> mencurahkan kebobrokan penguasa dan kepincangan sosial melalui 
> novel-novelnya, salah satu yang terkenal adalah Burung-burung Manyar. 
> Kepiawaiannya menulis sastra membuat Romo Mangun dianugerahi penghargaan 
> Raymond Magsaysay dari Filipina. Tak berhenti di sastra, Romo Mangun juga 
> dikenal sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. Kepeduliannya pada wong 
> cilik diwujudkan dengan merancang permukiman di tepi Kali Code, Yogyakarta, 
> yang kemudian mengantarkannya mendapat Aga Khan Award, salah satu penghargaan 
> tertinggi karya arsitektural di dunia berkembang. Ketika kasus pembangunan 
> waduk Kedung Ombo mencuat, tanpa ragu ia turun ke bawah, bergerak bersama 
> mahasiswa untuk membela warga Kedung Ombo yang dirugikan oleh pemerintah. 
> Bila dibandingkan dengan Soeharto, ketiga tokoh tersebut lebih memungkinkan 
> untuk diajukan sebagai pahlawan. Pertama, ketiga nama-nama di atas tak
>  berpotensi menimbulkan kontroversi. Kedua, mengacu pada Peraturan Presiden 
> No. 33/1964, baik Sarwono Prawirohardjo, Soedjatmoko, maupun Romo Mangun tak 
> memiliki catatan perbuatan tercela yang menodai nilai perjuangannya. 
> Bagaimana? * New Email addresses available on Yahoo! Get the Email name 
> you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before 
> someone else does! http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/ 
>         Get your new Email address!  
> Grab the Email name you've always wanted before someone else does! 
>      



      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke