tiap munas, para arsitek itu selalu kasih tema atau topik yang keren-keren. tapi, anehnya kota kita, tata ruang kita, sampe sekarang kian bubar. mungkin para arsitek kita kebanyakan jadi kuli investor. hhd.
--- On Fri, 11/21/08, das albantani <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: das albantani <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [WongBanten] dari Munas IAI - Makassar : "Kebangkitan Arsitek Indonesia - Ikut Menata Masa Depan Negeri" To: [email protected] Date: Friday, November 21, 2008, 9:33 PM Senang rasanya bisa bersosialisasi kembali dengan arsitek arsitek terkenal di indonesia, bahkan mancanegara, tema Munas Ikatan Arsitek Indonesia yang diambil kali ini adalah "Kebangkitan Arsitek Indonesia - Ikut Menata Masa Depan Negeri". Momentum ini saya jadikan sebagai 'sumber energi' untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai, yaitu membangun Eco Village Wong Banten (eVwb) di pesisir utara Banten. Ke depan, kawasan ini akan saya jadikan pilot project untuk kawasan yang hemat energi, ramah lingkungan, dan tempat berkumpulnya komunitas yang peduli akan kelestarian bumi kita tercinta, baik dari arsitek, pelukis, seniman, pegiat lingkungan ataupun masyarakat lainnya. Banyak inspirasi yang saya dapat dari munas IAI yang saya ikuti ini, presentasi "design urban for lifestyle" oleh M. Ridwan Kamil yang intinya bagaimana tanggung jawab seorang arsitek yang merupakan pelaku utama dalam menyelamatkan peradaban ini bisa berperan secara optimal dengan isu-isu yang strategis seperti global warming, green architecture dan recycle material untuk karya arsitektur. Untuk tingkat regional, banten harus belajar banyak dengan kota Makassar, pemerintah provinsi nya sangat apresiatif sekali terhadap karya arsitektur, desain-desain banyak yang disayembarakan sehingga pilihan-pilihan desain yang bermutu bisa ditampilkan secara utuh. Kota yang sangat demokratis di Indonesia adalah Kota Makassar, demikian komentar M. Ridwan Kamil dalam diskusinya, penataan pantai losari dimana masyarakatnya bisa bebas menikmati ruang publik tanpa dipungut biaya, berbeda sekali dengan kawasan ancol di Jakarta, atau Anyer di Banten. Ruang-ruang publik itu semuanya dikuasai kaum kapitalis sehingga masyarakat harus mengeluarkan cost extra untuk bisa menikmatinya. Jadi tidak salah kalau kualitas hidup di jakarta yang nota bene merupakan salah satu wajah kota di Indonesia ini setiap tahunnya terus menurun menjadi peringkat 147, sedangkan dana yang telah dihabiskan untuk membangun property di kota-kota besar Indonesia tiga tahun terakhir ini lebih dari 150 trilyun, sebuah perbandingan yang sangat mencengangkan dan perlu menjadi perhatian khusus terutama untuk para pelaku pembangunan. salam, mukoddas syuhada Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before someone else does! http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/
