belom tentu juga, jika latar belakang arsitektur elite maka kota jadi bagus. jakarta dulu ditata rapi karena jaman dan juga ali sadikin (yang marinir) yang mau dengerkan; punya kuping dan punya hati yang bisa menangkap perubahan jaman serta kebutuhan masa depan. lihat di jurusan arsitektur uns solo, minta ampun, malah pembangunan pertamanya, gedungnya roboh sebelum jadi. di unhas, juga sama, brengseknya. di lingkungannya sendiri saja sufah gak bener, apalagiĀ dilingkungan orang lain. soal arsitek dan arsitektur, saya kikra, naaampaknya republik ini di tata tanpa politik ruang yang manusia dan visioner. dan serang, dan banten, rasanya seh elite kota cuma mikir koceknya. suweerrrrr, mereka lebioh brengsek dari raja-raja arab dan emir-emir yang suka paha bule itu!! hhd.
--- On Sat, 11/22/08, das albantani <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: das albantani <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [WongBanten] dari Munas IAI - Makassar : "Kebangkitan Arsitek Indonesia - Ikut Menata Masa Depan Negeri" To: [email protected] Date: Saturday, November 22, 2008, 3:36 AM ya berarti ada yg salah dlm sistemnya..krn mslh seperti tidak hanya tanggung jawab seorang arsitek, sebagai contoh tahun 2006 dibuat Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) kota serang, menurut kami RTBL tersebut sdh layak menjadi pedoman acuan pembangunan krn sdh diuji dan diekspos ke seluruh stakeholder, hanya begitu masuk ke bupati dan dewan, RTBL tsb tdk diperdakan (masuk laci lg),sekarang. .. pembangunan kota serang ngikut apa maunya kaum kapitalis..! ! kadang saya bermimpi..seandainy a para "decision maker" itu backgroundnya arsitek...maka negeri ini akan tertata dengan baik dan benar salam, mukoddas syuhada --- On Sat, 22/11/08, halim hd <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > From: halim hd <[EMAIL PROTECTED] com> > Subject: Re: [WongBanten] dari Munas IAI - Makassar : "Kebangkitan Arsitek > Indonesia - Ikut Menata Masa Depan Negeri" > To: [EMAIL PROTECTED] ups.com > Date: Saturday, 22 November, 2008, 6:17 PM > tiap munas, para arsitek itu selalu kasih tema atau topik > yang keren-keren. tapi, anehnya kota kita, tata ruang kita, > sampe sekarang kian bubar. mungkin para arsitek kita > kebanyakan jadi kuli investor. > hhd. > > --- On Fri, 11/21/08, das albantani > <dasalbantani@ yahoo.com> wrote: > From: das albantani <dasalbantani@ yahoo.com> > Subject: [WongBanten] dari Munas IAI - Makassar : > "Kebangkitan Arsitek Indonesia - Ikut Menata Masa Depan > Negeri" > To: [EMAIL PROTECTED] ups.com > Date: Friday, November 21, 2008, 9:33 PM > > > > > > > > > > > > Senang rasanya bisa bersosialisasi kembali > dengan arsitek arsitek terkenal di indonesia, bahkan > mancanegara, tema Munas Ikatan Arsitek Indonesia yang > diambil kali ini adalah "Kebangkitan Arsitek Indonesia > - Ikut Menata Masa Depan Negeri". > > > > Momentum ini saya jadikan sebagai 'sumber energi' > untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai, yaitu > membangun Eco Village Wong Banten (eVwb) di pesisir utara > Banten. > > > > Ke depan, kawasan ini akan saya jadikan pilot project untuk > kawasan yang hemat energi, ramah lingkungan, dan tempat > berkumpulnya komunitas yang peduli akan kelestarian bumi > kita tercinta, baik dari arsitek, pelukis, seniman, pegiat > lingkungan ataupun masyarakat lainnya. > > > > Banyak inspirasi yang saya dapat dari munas IAI yang saya > ikuti ini, presentasi "design urban for lifestyle" > oleh M. Ridwan Kamil yang intinya bagaimana tanggung jawab > seorang arsitek yang merupakan pelaku utama dalam > menyelamatkan peradaban ini bisa berperan secara optimal > dengan isu-isu yang strategis seperti global warming, green > architecture dan recycle material untuk karya arsitektur. > > > > Untuk tingkat regional, banten harus belajar banyak dengan > kota Makassar, pemerintah provinsi nya sangat apresiatif > sekali terhadap karya arsitektur, desain-desain banyak yang > disayembarakan sehingga pilihan-pilihan desain yang bermutu > bisa ditampilkan secara utuh. > > > > Kota yang sangat demokratis di Indonesia adalah Kota > Makassar, demikian komentar M. Ridwan Kamil dalam > diskusinya, penataan pantai losari dimana masyarakatnya bisa > bebas menikmati ruang publik tanpa dipungut biaya, berbeda > sekali dengan kawasan ancol di Jakarta, atau Anyer di > Banten. Ruang-ruang publik itu semuanya dikuasai kaum > kapitalis sehingga masyarakat harus mengeluarkan cost extra > untuk bisa menikmatinya. > > > > Jadi tidak salah kalau kualitas hidup di jakarta yang nota > bene merupakan salah satu wajah kota di Indonesia ini setiap > tahunnya terus menurun menjadi peringkat 147, sedangkan dana > yang telah dihabiskan untuk membangun property di kota-kota > besar Indonesia tiga tahun terakhir ini lebih dari 150 > trilyun, sebuah perbandingan yang sangat mencengangkan dan > perlu menjadi perhatian khusus terutama untuk para pelaku > pembangunan. > > > > salam, > > mukoddas syuhada > > > > Get your new Email address! > > Grab the Email name you've always wanted before > someone else does! > > http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/ Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before someone else does! http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/
