Saya katakan "bisa jadi" golput yang kemudian menyebabkan harus diadakan
putaran kedua, saya ambil contoh pada pilkada Serang dimana Golput di
prediksi sekitar 33%, sedangkan pemenang perhitungan hanya 22%, Kang Halim
harusnya bisa menghitung peluang bagaimana seandainya golput ikut memilih
"bisa jadi" tidak perlu ada putaran kedua.
Soal caleg yang harus beunghar, kang Halim salah, tidak semua partai seperti
itu, PKS salah satunya, ukuran yang dipakai keilmuan, bukan kekayaan.

-iip-

*bukan orang PKS*

2008/12/9 halim hd <[EMAIL PROTECTED]>

>   dek iip nu baguer, nu ganteng, hehehe, kalou gitu, golput juga belum ada
> kriteria yang jelas. lantaran golput sendiri masih nyari terus en terus.
> tapi, kalou ente bilang bahwa golput dianggap memboroskan dokap rakyat
> lantaran pilkada sampe dua putaran, rasanya seh analuisis en logika ente
> ambrool.
> sebab, soalnya putaran kedua itu bukan karena golput. tapi, aturannya. dan
> aturan itu kian sengkarut, karena proses kaderisasi pada partai, ditambah
> dengan aturan yang memang dibikin oleh partei-partei itu untuk mereka
> kangkangi.
> jika saja turan pemilu itu sekaligus, mislanya pemilu sekalian barengan
> dari bupati, walkot, ubernur, pilpres dan caleg, rasanya lebih "rasional"
> dan bisa ngirit. tentu saja, dek, yang juga dan justeru sangat penting,
> apakah partei memang memiliki mekanisme kaderisasi
> yang benar-benar yahuud. sebab, kini, seperti ente nyaholah, partei
> melakukan kaderisasi sejauh mereka yang punya dokap, partei memberikan
> kesempatan kepada "siapa saja" untuk jadi caleg jika sang balon calege itu
> memiliki kapital ekonomi, bukan kapital sosial, bukan kodal sosial.
> jadi, kalow dek iip punya dokap seadanya, ala kadarnya (apalagi cuma rupiah
> yang daya tahannya 2-3 bulan) jangan harap bisa jadi caleg.
> dan golput yang sedang mencari-cari, sepertti yang dicoba oleh salah
> seorang sesepuh sekber golput, gus sholahuddin (adeknya gus dur), dengan
> memberikan sodoran beberapa sosok, juga bukan jaminan. soalnya, gus
> sholahuddin masih bicara tentang sosok dan bukan kriteria yang prinsipiil.
> tapi sudah lumayan, bukan sekedar golput itu menolak orang yang ada.
> dan yang prinsipiil itu, saya sendiri masih kabur. kalou idealnya seh,
> mislanya saya sedang nyari, apa kira-kira ada sosok kayak tan malaka muda,
> sukarno muda, bung hatta muda, minimal, kalo bupati serang itu mislanya
> kayak bupati gogo jaman bung karno, yang keluarganya sederhana, anak-anaknya
> ke mana-mana naek becak, sepeda, paling-paling vespa, itu juga cuma
> dibonceng.
> hhd.
>
> --- On *Tue, 12/9/08, iip umar rifai <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
> From: iip umar rifai <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: Bls: Bls: [WongBanten] Sepertinya Boleh Juga Tuh!
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, December 9, 2008, 2:02 AM
>
>
> Penegasanya sudah pasti yang ini "pemimpin yang mau merubah image bangsa
> kita sebagai bangsa tukang jahit menjadi bangsa yang mandiri", karena saya
> tanya lagi bagaimana mendukung pemimpin yang demikian itu, tidak mungkin toh
> saya menanyakan bagaimana mendukung pemimpin yang Hardolin.
> Intinya sih tetap saja saya itu mengejar point bagaimana melakukan
> perubahan jika dengan golput? seandainya ada 4 calon pemimpin, dan semuanya
> brengsek, tidak sesuai dengan keinginan kita, tapi saya pikir saya, anda dan
> rekan-rekan yang lain-lain akan bisa menilai mana yang paling sedikit
> membuat kerusakan. Bukan opsi "MANA YANG LEBIH BAIK" yang kita cari diantara
> 4 calon tadi , tapi kita ambil minimumnya "MANA YANG PALING SEDIKIT
> MENIMBULKAN KERUSAKAN".........dan setelah itu kita tidak berhenti
> berjuang.... terus lakukan perbaikan... terus dan terus.....
>
>
>
> 2008/12/9 halim hd <[EMAIL PROTECTED] com <[EMAIL PROTECTED]>>
>
>>   quote anda gak jelas, karena sp. saparudin menyandingkan dua sisi
>> pemimpin. yang mana yang demikian itu?
>>
>> --- On *Tue, 12/9/08, iip umar rifai <[EMAIL PROTECTED] com<[EMAIL 
>> PROTECTED]>
>> >* wrote:
>>
>> From: iip umar rifai <[EMAIL PROTECTED] com <[EMAIL PROTECTED]>>
>> Subject: Re: Bls: Bls: [WongBanten] Sepertinya Boleh Juga Tuh!
>> To: [EMAIL PROTECTED] ups.com <[email protected]>
>> Date: Tuesday, December 9, 2008, 1:16 AM
>>
>>
>> Saya sudah quote email kang Udin, tentang "pemimpin yg demikian", mata
>> anda kabur kang?
>>
>>
>> 2008/12/9 halim hd <[EMAIL PROTECTED] com <[EMAIL PROTECTED]>>
>>
>>>    pertanyaannya kabur: "pemimpin yang demikian". yang demikian kayak si
>>> "hardolin", dahar modol ulin? atow kayak sukarno, SUka bongKAR moNOpoli?
>>> atow kayak suharto, SUka HARTa Orang? atow kayak SBY: Suka Boong Yaaa?
>>> hhd.
>>>
>>> --- On *Mon, 12/8/08, iip umar rifai <[EMAIL PROTECTED] com<[EMAIL 
>>> PROTECTED]>
>>> >* wrote:
>>>
>>>  From: iip umar rifai <[EMAIL PROTECTED] com <[EMAIL PROTECTED]>>
>>> Subject: Re: Bls: Bls: [WongBanten] Sepertinya Boleh Juga Tuh!
>>> To: [EMAIL PROTECTED] ups.com <[email protected]>
>>> Date: Monday, December 8, 2008, 11:17 PM
>>>
>>>
>>>  Kang Saprudin,
>>>
>>> Gimana kita bisa tahu kalau ada pemimpin yang demikian? bagaimana
>>> mendukungnya?
>>>
>>>
>>> 2008/12/9 Sp Saprudin <[EMAIL PROTECTED] co.id <[EMAIL PROTECTED]>>
>>> ....
>>>
>>>> Satu lagi yaitu kalau ada pemimpin yang mau merubah image bangsa kita
>>>> sebagai bangsa tukang jahit menjadi bangsa yang mandiri, walau apapun
>>>> konsekuensi nantinya, maka perlu didukung, maka saya coblos hidungnya.
>>>>  Selagi para pemimpin bangsa kita masih jadi sapi perahan pihak asing,
>>>> selagi bangsa kita tunduk kepada doktrin2 dan dogma2 pihak asing, maka
>>>> menurut pandangan saya "jika saya mencoblos sama saja dengan menyetujui
>>>> berlangsungnya homogenisme asing dibumi pertiwi ini".
>>>> Jadi pemilu lima tahunan hanya ajang pesta pora para don yuan dan kaum
>>>> borjuis dan tertawa diatas penderitaan rakyat. Berapa milyar uang yang
>>>> dikeluarkan untuk pesta demokrasi itu? Ini juga masih dikorupsi.
>>>> Penyelenggara pemilu aja gicu, apalagi pelaksana roda pemerintahan, lebih
>>>> gicu, gicu deh!!!
>>>>
>>>>
>>>
>>> .
>>>
>>>
>>
>> .
>>
>>
>
>  
>

Kirim email ke