SPORT CENTER. ente ngomong soal manpaat. manpaat untuk siapa?
MALAIKAT. justeru karena manusia bukan malaikat, maka manusia adalah mahluk 
yang melebihi malikat nilainya. dan karena melebihi malaikat, maka dia juga 
memiliki lobang hitam di dalam perjalanan hidupnya. dan karena memiliki lobang 
hitam, maka diperlukan suatu kriteria yang sebaik mungkin. dan itulah yang 
diinginkan oleh golput.
KANTONG SOEK. dan itulah kian busuknya politik ketika diukur oleh kantong. di 
wilayah golput, yanag dibicarakan adalah modal atau kapital sosial. bukan 
kapitala atau modal dalam perspektif dan ukuran ekonomi. kapitalisasi politik 
membuat semua ukuran dilihat dari sejauh mana akses politik dengan ukuran 
dokap. dan itu artinya manipulasi 
mendasar di dalam proses demokratisasi dan kehidupan berbangsa-bernegara.
NATO. sayang sekali jika seorang menganggap dirinya "penulisbanten"
menganggap bahwa saran, urun rembug, kritik, opini dianggap hanya talk only.
bukankah justeru yang talk only yang manipulatif adalah mereka yang menggunakan
kekuasaannya, dan hanya untuk kepentingan dirinya? untuk apa bicara tentanfg
politik, tentang demokratisasi jika opini, kritik, saran, (atau caci maki 
sekalipun!)
disampaikan dan dianggap sebagai "talk only". dan yang perlu diingat, semua 
warga, apapun jenis dan kelasnya adalah PEMBAYAR PAJAK, yang bukan hanya
berhak, tapi berkewajiban untuk melakukan kontrol.
TUNTUTAN. lucu, dan sangat ironis bagi saya apa yang disampaikan oleh 
penulisbanten
yang menyalahkan konstituen yang diangga[p meneuntut sembako dan sejenisnya.
bukankah hal itu dimulai oleh caleg yang sebenarnya tidak percaya diri, dan 
hanya 
mengandalkan dokap? dan bukankah tim sukses dipilihnya sendiri, dan kenapa
pula sang caleg memilih tim sukses yang mata duitan? kenapa tim suksesnya 
misalnya
tidak memilih penulisbanten ytang baik hati yang selalu melihat segala sesuatu 
dengan
sudut pandang "positip". betapa bodohnya sang caleg memuiouh tim sukses yang 
hanya merogoh kocek.
SAYA PAHAM:dan saya kian pahaam, betapa nelangsanya penulisbanten ketika 
menyatakan bahwa tidak bisa mikir kalou perut kosong. saya bisa memaklumi 
posisi dan
kondisi seseorang yang punya prinsip seperti itu. namanya juga manusia. 
tapi, menganggap bahwa semua orang seperti itu, rasanya berlebihan. sebagai 
penulis freelance, saya tak pernah menyerahkan prinsip saya hanya sekedar untuk 
mengisi 
perut. padahal kebutuhan saya bukan hanya perut, juga untuk beli buku, 
menyumbang buku, membeli tembako untuk pipa yang saya isap (sokur sering dapet 
kiriman para sohib) jalan kemana-mana, dan sebagainya. dan saya tidak 
menganggap apa yang saya kerjakan sebagai sesuatu yang berlebihan. hanya 
mengikuti pesan orangtua: jalan hidup kamu menentukan untuk kehidupan di dunia 
yang lain.
halim hd.

--- On Tue, 12/9/08, Penulis Banten <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Penulis Banten <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Balasan: Re: Bls: Bls: [WongBanten] Sepertinya Boleh Juga Tuh!
To: [email protected]
Date: Tuesday, December 9, 2008, 8:29 AM










    
            Ya iya lah! Boleh Juga seh nerusin neh judul kayaknya

nikmat banget menghentakkan tuts letok

(laptop-maksudnya) . "Sepertinya Boleh Juga Tuh", 

Dari mulai sport center - sampe Golput - sampe

ngomongin Caleg kudu punya kapital ekonomi. 



Geus lah, buat saya adanya sport center itu

bagus-bagus saja sepanjang memiliki nilai manfaat.

Persoalan proses mulai dari perencanaan sampai

selesainya sport center secara langsung bukan domain

kita. Kalau pun secara tidak langsung akan menjadi

beban kita semua tatkala prosesnya kurang baik. 



Lalu persoalan Golput, hemat saya manusia bukan

malaikat yang selalu berada di jalan yang benar.

Apakah dari sekian orang yang menjadi calon baik di

pilkada / pemilu legislatif nanti tidak ada yang

mendekati kriteria yang kita harapkan? Bila memang

tidak ada! Kenapa tidak kalian/kita/ anda/saya sendiri

yang mencalonkan diri - kalo memang memenuhi

persyaratan. kalo cuma nge-dumel, mencaci, mencerca,

sama saja nguyahan cai laut! No Action Talk Only!



Soal kapital dlm dunia politik mutakhir, saya kira

syah-syah saja selama terukur untuk pembiayaan (cost

politic) proses penjaringan, penyaringan, perencanaan

campaign, dan campaign itu sendiri sampai selesai

penghitungan suara. Siapa yang mau / rakyat mana yang

mau menjadi saksi di TPS kalo nggak ada ongkosnya.

Terlebih saat ini multi krisis melanda dunia. Dan itu

perlu Cost Politic.



Semua-mua itu dalam konteks politik ke-kinian dianggap

wajar, yang kurang ajar adalah memberikan uang kepada

rakyat pemilih H-1 atau dengan nama lain serangan

fajar. Kalau dalam proses Campaign ada yg

membagi-bagikan sembako dan lain sebagainya itu juga

karena tuntutan dari konstituen. Calon - saya kira

baik calbup/dan cal-cal lainnya siapa sih yang mau

mengeluarkan uang banyak-banyak sebetulnya. jujur saja

lah! Tidak ada yang mau sebetulnya.



Tetapi karena tuntutan konstituen, dan juga tuntutan

tim sukses yang biasanya melebih-lebihkan dari pada

tuntutan sebenarnya. Akhirnya mau tidak mau - rela

atau tidak rela Para Calon merogoh kantong sampe soek.

Jadi inget alm (Sagaf Usman) euy! Cak almarhum kieu; 

JADI PAMINGPIN MAH - KANTONG KUDU DAEK SOEK, SUKU KUDU

DAEK BOBOLOKOT! 



Tah hartikeun ku sakabeh jagad Banten-Naon eta

hartina?

Euwueh hartian ngadumel teu paruguh, berikan yang

terbaik buat Banten, buat Rakyat, buat kita juga

tentunya. Tidak mungkin kita berpikir dalam keadaan

perut kosong! Ngartoooooooooooooo ooooooooos! !! Ngartos

meuereuuuuuuunnnnnn nn! 



Ulah ngomong ngarti mah ngarti ngeun teu

ngartooooooooooos! Duh jadi kamamana euy! tos ah cos leos!



Image by Cool Text: Logo and Button Generator - Create Your Own



Pemerintahan yang jujur & bersih? Mungkin nggak ya? Temukan jawabannya di 
Yahoo! Answers! http://id.answers. yahoo.com




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke