BANKRUTNYA TEATER
______
Tahukah
anda kebangkrutan teater di Solo khususnya karena fasilitas yang berlebihan,
dan adanya dana yang diberikan kepada berbagai grup hanya demi mengisi teater
arena Taman Budaya Surakarta (TBS)? Begitu gampang sekarang teater manggung,
dan begitu pula hasilnya: tiada sesuatu yang bisa kita jadikan bahan perenungan.
Dan staf TBS yang tidak lagi mampu membaca peta permasalahan secara mendalam
apa kebutuhan yang sesungguhnya dari kehidupan teater, menganggap jika grup
teater diberi sangu bisa jalan dan bisa mentas sebagai ukuran utamanya.
Sementara itu, mereka yang baru merangkak dan ingin merasakan panggung dan
action agar dianggap sebagai pemain
teater, dengan gampang hanya membuat proposal. Teater bukan lagi suatu pilihan
untuk meretas tapak demi tapak di mana seluruh gejolak realitas kehidupan
dipertanyakan dan dilacak dan dengan lakon yang disajikan memberikan perspektif
yang luas dan mendalam yang bisa dijadikan bekal untuk melihat kehidupan
sehari-hari, sebagai media untuk membaca jaman yang sedang dan terus berubah.
Kini teater sekedar bagaimana manggung dan tanpa keringat dari hasil proses
eksplorasi
dan eksperimentasi. Tanpa visi!
Kemanjaan bisa menjebak, dan ironisnya
justeru itu berada di lingkungan kehidupan aktivis kesenian yang sok selalu
kritis, mengkritik ini dan itu dengan galak dan menggebrak, sementara dirinya
tak pernah mawas diri, bahwa dia tak lebih dari “bonsai” yang dipelihara oleh
sebuah lembaga yang tidak memiliki visi dan rencana kerja yang matang.
Kebankrutan
memang bukan hanya tanggungjawab sepihak. Semuanya terlibat: lembaga yang
sekedar
menjalankan proyek dan pengisi kocek staf yang sibuk melunasi kreditan motor
dan asesoris rumah; orang-orang teater yang mengemban mental menerabas, asal
bisa manggung dan action dan ditulis
dalam pemberitaan; tiadanya kritik sesudah pementasan dalam diskusi terbuka;
dan tak lagi berani
menghadapi kritik. Dan hal lainnya,
mentalitas menggampangkan yang didukung oleh staf TBS yang membuat teater
nglokro: basa basi dan asal kenal, dan
bisa sendika dawuh, maka teater
manggung, dan hanya untuk rekan-rekannya sendiri. Disini kita menyaksikan
narsisme dan ekshibisionisme, seperti para caleg dan elite politik yang senang
dengan tepuk tangan dan sorak sorai. Dan ketika kritik tajam datang, bukan
hanya pasang muka cemberut. Lengan baju digulung, tangan dikepal. Teater
memngandalkan otot, ketimbang otak.
Tapi, mong-ngomong, tanya rekan saya, apa memang masih ada otak di dunia
kesenian kita, khususnya seni pertunjukan, teater?
Ada, saya jawab dengan tegas, agar rekan saya
tidak sembarangan mengambil konklusi terlalu luas. Misalnya di Bandung,
Mainteater dengan sutradara Wawan Sofwan, yang dalam 4-5 tahun ini kian matang
bukan hanya dalam pengolahan berbagai segi dunia panggung, tapi juga dalam
membuka jaringan sosialnya. Gandrik, masih jalan terus dan berusaha melanjutkan
tradisinya dan dengan manajemen yang piawai, dan tidak tergantung kepada hibah
seni yang memperangkap itu. Komunitas Payung Hitam (KPH) masih melakukan
pencarian, walaupun tidak manggung tapi riset dengan bingkai tema tentang
lingkungan hidup dan erosi nilai pada kemanusiaan terus dijalankan. Mau contoh
yang lain? Teater Komunitas Banyuning dari Singaraja, Bali,
bukan maen dahsyaatnya; sebuah komunitas dengan proses yang mendekati “taksu’
di dalam pementasan mereka, sebagaimana tradisi yang mereka yakini di dalam
dunia kesenian. Dan mereka, ketika saya tanya, kami datang dari desa, mas,
inilah yang kami miliki dan yakini.
Naah lo, keyakinan! Mereka bicara
tentang keyakinan. Sementara di Solo dan banyak kota lainnya, ada begitu banyak
teater bicara
bukan tentang keyakinan tapi asal manggung, bagaimana action. Repot memang.
Perspektifnya, atau lebih tepatnya visinya
sudah beda. Yang satu sebuah keputusan untuk menjalani hidup melalui teater,
sementara satunya lagi seperti selebritis kenes yang kepingin lenggak lenggok,
atau caleg sing dodolan abab dan
dapat pemberitaan. Minimal keplok tangan dari teman-temannya; sambil terus
berulang kali menonton rekaman video, dan membayangkan dirinya dikenal di
seluruh
jagat. Jadi, mirip selebritis kenes dan caleg yang keblinger.
Lalu, kalau kondisinya seperti
begini apa yang mesti dilakonkan untuk masa yang akan datang, rekan saya
bertanya. Seperti tradisi dan keyakinan, jika masih percaya kepada cermin
kehidupan
dan kemungkinan-kemungkinannya, maka berkah kehidupan dan alat yang paling baik
untuk melihat ke depan adalah bagaimana silaturahim dan lakukan pemetaan
masalah dengan melacak, riset keberbagai daerah di Jawa Tengah. Dan satu hal
lagi, back to basic, yakni bagaimana
orang teater tidak ragu untuk kembali mempertanyakan diri, sejauh mana dari
soal teknis sampai visi dan kembali
mengolah diri dan menapaki jalan teater dengan martabat. Jika tidak, maka tak
ada hari esok untuk teater. Yang ada segerombolan orang yang hanya akan
memulung sumpah serapah, kutukan kepada mereka yang memanfaatkan dan kesenian
dari pajak rakyat. Sebab, selama ini teater hanya jadi media masturbasi diri
untuk mengundang keplok, sementara staf institusi penyelenggara, TBS, ndelak
ndelok sambil membenamkan amplop
ke dalam koceknya, lalu ngacir agar
tidak ada pertanyaan yang mengganggu tidurnya.
-o0o-
Halim HD. – Networker Kebudayaan.
Tulisan ini dimuat di Kedaulatan
Rakyat Minggu, 24 Mei 2009.