01. - mungkin bukan cuma imajinasi, sebagai modal tumbuhnya 
nasionalisme. mesti ada media. novel, koran. dan jaringan organisasi.
dan sekarang ada teve, ada internet, facebook, dsbnya. jadi, nasionalisme 
jenis atau berupa kayak apa yang sekarang ini.
02. - sangat mungkin nasionalisme menciptakan difabel, korban
nasionalisme. tapi nasionalisme juga - dalam kasus indonesia - yang 
menolak "kenormalan" ala belandisme, yang bilang dan menepuk
dada dengan semboyan "rust en orde", sejenis stabilitas demi kepentingan
kekuasaan imperium kolonial.
03. - mungkin "nasionalisme" indonesia yang menolak "kenormalan"
belandisme itu punya ironi dan tragedi: tak mampu menampung, menerima, dan
mengembangkan kaum difabel. dalam pengertian 'difabel" yang lebih luas,
mungkin "nasionalisme indonesia" juga gagal dalam menerima, 
misalnya kasus-kasus khasanah senibudaya tionghoa, seperti dijaman
suharto. atau berbagaai ideologi lain yaang ditolak. dalam konteks ini 
gus dur melalui kapasitas pluraalitas dan humanismenya membongkar 
sistem orba. "nasionalisme gus dur" sangat mungkin berpijak kepada 
pengalaman awal dari usaha pendiri republik: nasionalisme yang didasarkan 
kepada internasionalisme (baca: humanisme) dan keadilan. poin terakhir
inilah yang mestinya menjadi dasar dari seluruh bangunan dan prinsip
nasionalisme. jika tidak, nasionalisme hanyaa akan bicara menurut
yang punya kuasa.
04. - nasionalisme selalu bicara atas nama kepentingan (penguasanya)
sendiri. hitler bicara tentang nasioalisme dan membantai kaum yahudi. dan
ini ironi dan tragedi dalam sejarah kemanusiaan, ketika nasionalisme
digabungkan dengan orgaanisasi kaum buruh (!!!) melahirkan nazisme
yang brutal. dan disitu pula berhimpit secara fundaamental dengan cita-
cita "yang asli".
hhd.









________________________________
From: Slamet Thohari <[email protected]>
To: YJP <[email protected]>
Sent: Sun, February 21, 2010 1:40:55 PM
Subject: [Jurnal Perempuan] Difabel dan negara bangsa!

  

Dari pada eyel-eyelan, mari memulai diskusi. silahkan tanggapi tulisan saya 
untuk blog ini! 
Nasionalisme, Produk Siapa?

Ini masih terkait dengan refleksi soal ke kemerdekaan. Balapan karung, panjat 
pinang, hingga hapalan menghapal sifat "wajibe Gusti Allah". Yang saya ingat 
soal 17-an adalah upacara bendera. Dulu, saat SMP, saya agak jarang ikut 
upacara bendera. Alasannya, saya Difabel.(heheheh) Capek, dan panas. Sekali 
lagi ini masalah Nasionalisme, dan itu tidak bisa pisah dengan namanya 
“negara-bangsa”. 

Bangsa, kata Sejaharawan Marxis asal inggeris itu “…the idea of `the nation`, 
once extracted, like the mollusc, from the apparently hard shell of the 
`nation-state’, emerges in distinctly wobbly shape..”(kutipan dari kholid) 
Moluska (sejenis kerang), sekali dibetot keluar dari tempurung ‘negara-bangsa’ 
yang nampaknya keras, segera menyembul sosok yang sama sekali rapuh. 

Bagi saya ini benar. Dalam altar sejarah, negara bangsa merupakan produk 
cita-cita keperkasaan, “kenormalan” dan kekerasan. Perjanjian Westphalia tahun 
1648 (kalau gak 1646), adalah “tetenger” yang namanya negara itu ada. Perlu 
diingat, perjanjian ini merupakan akomodasi untuk perang yang berdurasi 30 
tahun. Perang selalu ada disana tentara, keperkasaan, kelelakian. Yang 
lemah-lemah kayak difabel, akan tersisih, sejak dalam pemikiran. Rasa sentiman 
kenegaraan musti diakui, tak bisa lepas dari gerakan komandan Marthin Luther, 
yang merestui pembunuhan bayi-bayi difabel karena dianggap sebagai sebagai 
“titisan setan” 

Yang namanya negara atau bangsa tentu erat dengan bagaimana membangun kekuatan 
erat akan identitas. Lalu munculah “nasionalisme”. Imajinasi, kata Om Ben, 
adalah punggung utama dari nasionalisme. Bendera, lagu-lagu, ilmu pengetahuan, 
dan sejarah yang dipermak dan ditata sedemikian mungkin. Masa lalu dihadirkan, 
realitas dipungut, dipilah, dan disistematisasi untuk kepentingan sang 
megalomanian (para elit). Normalisme terus berlanjut. Perang dunia kedua 
(1939-1946) merupakan bukti sejarah. Kegagahan, keperkesaan, kekuatan dan 
normalisme tampil dalam wajah tentara-tentara. Dan buah dari normalisme pun 
terlihat, sekitar 291.557 tentara AS mati, 357.116 tentara Inggris, dan lebih 
dari 1 juta tentara China hilang. Lebih dari 3 juta tentara Jerman menjadi 
korban. Belum lagi negara-negara lain, terlebih negara dunia ketiga. 

Jutaan orang menjadi difabel, bahkan gugur sebagai korban perang yang paling 
besar sepanjang sejarah umat manusia itu. Bahkan setelah Bom atom diledakkan, 
ribuan orang binasa, akibat keangkuhan normalisme. Banyak warga negara yang 
menjadi difabel, bahkan menimbulkan efek kultural yang panjang. Hibakusa, 
orang-orang yang menjadi difabel karena efek nuklir di Jepang, dijauhi dan 
terkucilkan. Bahkan anak turun Hibakusa sulit mendapatkan pekerjaan atau 
pasangan. 

Roosevelt sang Presiden, namun di tengah perjalanan, dia mengindap polio. Dan 
kursi roda pun menjadi teman yang paling akrab. Namun, demi menjaga keoptimisan 
orang banyak, tampaknya lebih utama dari kejujuran realitas. Terlebih karena 
masyarakat yang sedang dilanda depresi. Semua gambar Roosevelt dengan kursi 
roda hilang. Dari ribuan gambar baik photo maupun film, sejak tahun 1928 hingga 
maut hinggap dirinya saat duduk di kantor tahun 1945, hanya ada dua photo dia 
memakai kursi roda. Itupun baru ditemukan akhir-akhir ini. Olalala.. 

Ini merupakan bentuk “pengenyahan the weakest” demi sebuah kepentingan public 
yang lebih luas: ke-optimisan masyarakat pada sebuah negara. Bentuk kejam 
tindakan salah satunya adalah doktrinasi rasial kaum arya oleh demagog Jerman, 
Hitler. Orang-orang difabel, bersama kaum gay, dan Yahudi dibinasakan, dianggap 
sebagai “the “useless eater”. Mereka dihembuskan begitu saja. tak tersisa. 

Sukarno yang modernis, tergila-gila dengan kerapian, kemegahan. Impian-impian 
kegagahan tercermin dalam proyek-proyek besar: Monas, Isttiqlal, dan halaman 
luas disediakan untuk tentara-tentara yang gagah. Sukarno adalah Sang 
megalomanian, optimistis, pendamba kerapian, pengagum bangunan-bangunan Soviet 
yang gagah, dan perkasa. Patung-patung monumental bernada misi kegagahan, dan 
keperkasaan dipasang di banyak sudut kota. 

Demikian pada masa Orde Baru: era kekuasan militer yang tentu sangat mendaba 
akan sebuah kota, dan negara “normal”. Demi kepentingan kekuasaan dan suksesnya 
program-program develpomentalisme. Orde Baru secara terang benderang melakukan 
political surveillance, dan politik tubuh demi kepentingan kuasa. Tubu-tubuh 
pun ditata, dipisahkan, di-liyan-kan dari orang biasa. Sekolah-sekolah khusus 
dibangun, dibedakan menurut jenis difabelitas. Sebagaimana istilahnya “Sekolah 
Luar Biasa” yang sarat dengan kuasa, kehadiran sekolah-sekolah khusus merupakan 
politik pengontrolan, simplikasi, dan tentu saja pendisiplinan demi sebuah 
kota/negara yang rapi dalam matrix persepsi “orang-orang normal”. 

Negara Bangsa… Produk Kuasa orang Normal…? Mungkin. 

NB: Maaf, perspektif difabel telah merasuk ke pikiran saya sangat dalam. Jadi 
kadang sangat spontanitas untuk menilai sesuatu, tanpa memperhatikan hal-hal 
lain yang semestinya juga penting. heheheh. Maaf. 

Slamet Thohari
Honolulu, 
Perpustakaan Sinclair, in the half way of my long paper: Disability and 
postcolonialism!
 Regard,Slamet Thohari 
Disability Studies, University of Hawaii at Manoaemail: amex...@yahoo. 
com/sthoh...@hawaii. edupersonal- site: www.amexius. multiply. comPhone: 
808-944-6299

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      

Kirim email ke