Mas Yoyok,
Maaf untuk kawan-kawan yang kurang mengerti dengan "bahasa Perancis" nya Mas
Yoyok ini.
Tentu saja saya juga tidak mengerti ukuran Moral.
Ada suatu fenomena yang sangat menarik.
Setiap orang hampir dipastikan mengetahui bahwa merokok adalah sangat
merugikan bagi kesehatan, baik diri sendiri maupun orang lain. Semua
informasi resiko sudah disebarkan, diketahui. Persoalannya adalah, bahwa
resiko itu baru didapatkan setelah berjalan 10 tahun atau 15 tahun, bahkan
25 tahun kemudian. Andaikan semua resiko kesehatan itu terjadi 1 (satu)
minggu setelah merokok, saya yakin sedikit sekali orang yang berani merokok.
Artinya, 1 (satu) minggu setelah merokok, maka orang bersangkutan langsung
kena Kangker Paru-paru, TBC, atau penyakit yang aneh-aneh.
Jadi, kalau seseorang melanggar aturan dengan resiko 1 (satu) Minggu
kemudian dipanggil Polisi untuk menerima konsekuensi nya, maka segala
pelanggaran dapat ditekan.
Fenomena ini memang tidak sederhana, di Jakarta tidak sedikit yang ditembak
gara-gara mencokel kaca spion mobil. Tidak sedikit yang mati dibakar
gara-gara mencopet.
Saya tidak tahu dari mana memulai membenahi segala kemelut yang ada di
sekitar kita, yang pasti saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak
melanggar aturan yang saya ketahui, mencoba mentaati lampu merah, mencoba
bersikap mengalah dalam ketegangan berlalu lintas, mencoba mendahulukan
orang lain dan semua masih tahap belajar, mencoba dan mencoba.
Apakah ini merupakan kontribusi yang memadai, saya juga tidak tahu.
Gimana, kalau semua pelanggaran ditunda sampai dengan 25 tahun, atau
diproses setelah berjalan 35 tahun.
MORAL yang baik, adalah orang yang tidak melanggar aturan-aturan
(kesepakatan) yang sudah diketahui, tidak mengambil hak orang lain. Kalau 2
(dua) kalimat itu sudah ditaati, mari kita tunggu KEJAYAAN INDONESIA.
Jadi ......,
BudiNir.
PS: Mas Yoyok, kapan pulang ke Jakarta, saya ingin makan bareng sekalian
dengan Mas Taufik. Maafkan segala khilaf dan tulisan diatas.
> -----Original Message-----
> From: widya utama [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Monday, September 10, 2001 7:51 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [yonsatu] Jakarta Surabaya Express
>
> cak budi,
> opo ukurane moral iku?
> nang paris: akeh wong rangkulan, seret pisan (pokoke enggak peduli wong
> ning sebelah), yo nang ndalan, yo nang metro, yo antara lanang-wedok, yo
> lanang-lanang, yo wedok-wedok. copet - rampok bank - nyolong / ngobong
> mobil yo enggak kurang. musim panas entas iki, wong njemur awak cawetan
> tok
> nang taman, pinggir kali seine yo enggak kurang. pamong praja korup, kkn
> yo
> onok ae beritane. tepu-menepu soal duit, bajak-membajak soal karya
> intelektual yo onok juga. anak ngusir wong tuwone saka omahe yo enggak
> kurang. presidene tarung terus karo perdana menterine, opo maneh saiki
> menjelang pemilihan presiden. judi sing cumak 10 francs gampang dituku,
> kasino yo aku tau mlebu (tapi apes, kalah 500 francs, lha wong cumak
> pingin
> ngerti, kenalan karo sing jenenge mejo rolet). sing mlebu grejo, melu misa
> yo cumak wong tuwo. sing mlebu mesjid akeh wong arab-e, tapi sing mlebu
> penjara yo jenenge akeh sing berbau arab. wong mabuk pinggir ndalan, nang
> stasiun metro yo akeh. wong ngemis nang metro yo onok ae. crito bab wong
> slingkuh iku crito biasa, lha wong dosenku ae yo ngono kok.
> tapi soal naati lampu merah, ndisikno penyebrang dalan, nepati wektu etc.
> yo jalan bagus. wong prancis lek tukaran, yo cumak omonge ae sing banter,
> tapi enggak katik bogem. lek onok tawuran, paling yo arek welasan tahun.
> lek senggolan nang pasar: terus saling senyum lan ngomong: pardon. bea
> siswaku sing wis entek yo disambung karo wong prancis, tanpa onok imbalan
> kwajiban saka aku. barusan iki, sebulan lalu, aku teledor: dompetku tibo
> tanpa tak sadari nang stasiun sepur pas njemput konco saka jerman,
> seminggu
> berikutnya aku diceluk kantor polisi dikon njupuk dompet: isine komplit,
> utuh termasuk duit, hampir 2000 francs (duwik hotele konco) sing enggak
> onok tulisane milik widya (lha lek kartu bank, pasport kan onok tulisane
> milik widya).
> kontradiksi kan?
> sing jelas: wong wedi karo aturan / undangg; polisi, hakim, jaksa-ne
> kereng
> tenan. kehidupan pribadi enggak diurusi wong liyo, tapi kehidupan
> profesional sangat dituntut.
> voila, upsss maaf aku terlanjur pakai bahasa prancis, mungkin hanya cak
> budi yang mengerti.
> salam,
> widya
>
>
> >Kecelakaan/kekacauan/kehancuran/kebrutalan dan berbagai macam kerusakkan
> >hanya disebabkan oleh MORAL yang BOBROK,
> >Bukan oleh jumlah Insinyur ataupun Sarjana.
> >Jadi, yang dibutuhkan sekarang adalah Manusia yang mempunyai MORAL yang
> >baik.
> >
> >BudiNir.
> >
>
> --
> --[YONSATU - ITB]------------------------------------------------------
> On-line arsip : <http://yonsatu.mahawarman.net>
> Moderator : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
> -----------------------------------------------------------------------
>
>
> Anda terdaftar di List ini dg alamat : [EMAIL PROTECTED]
>
--
--[YONSATU - ITB]------------------------------------------------------
On-line arsip : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderator : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
-----------------------------------------------------------------------
Anda terdaftar di List ini dg alamat : [email protected]