Hello Gank,

On  Thu, 25 Oct 2001 at 00:55:26 GMT +0700 (which was 25/10/2001 0:55)
"Bambang Subianto"=[BS] wrote to [EMAIL PROTECTED] :

> Ada  satu  hal  yang  beberapa  hari  terakhir ini jadi pikiran. Ini
> mengenai laskar.
> Kalau  kita  amati  gejala  di  sekitar  kita,  semasa orde baru ada
> semacam  laskar,  kalau  tidak  salah namanya Pemuda Pancasila. Pada
> pasca  orde  baru,  berbarengan  dengan  menjamurnya  partai politik
> nampaknya  tumbuh  pula  tradisi baru. Setiap partai (dan organisasi
> masyarakat)  ikut latah punya semacam laskar. PKB punya, PDIP punya,
> PAN   juga   punya.   Golkar   ya  tentu  punya,  wong  yang  mulai.
> Partai-partai yang lainnya kemungkinan juga punya.

> Pertanyaannya,  laskar-laskar ini statusnya apa dalam konteks sistem
> keamanan   nasional.   Otoritasnya   apa,   tanggung-jawabnya   apa,
> rambu-rambu apa yang membatasinya, landasan hukum apa yang mendasari
> pembentukannya,  siapa  yang bertanggung-jawab atas ekses-ekses yang
> terjadi, dan seterusnya . . . .

Apa bukan Ormas (organisasi Massa) Pak ?

> Kalau  tidak  salah  keberadaan  tentara  informal ini semakin tidak
> keruan, ada laskar jihad yang bawa kotak menunggu sumbangan di pintu
> tol,  katanya  untuk  jihad  ke Maluku. Sudah berbulan-bulan, sampai
> minggu  lalu  masih  ada  (contohnya di dekat pinto tol Rawamangun).
> Apakah   kegiatan  seperti  itu  konsisten  dengan  keinginan  untuk
> memulihkan  kedamaian  di  Maluku?  Rasanya  tidak konsisten, tetapi
> instansi berwenang kok seperti diam saja?

Kelihatannya  instansi  yg  punya "wewenang" sdg bingung sendiri kalau
mau  menindak...disamping  sedang bingung apakah instansi itu nantinya
akan  tetap eksis :-)

Hal  spt  ini  terasakan sejak jamannya Gus Dur yl, maunya Gus Dur kan
agar  masyarakat  dan  orang  pemerintah  mau/bisa  berpikir  sendiri,
menentukan  mana yg baik mana yg jelek...cuma Gus Dur melakukan gebyah
uyah semua tingkatan dilakukan spt itu, padahal setiap tingkatan punya
"daya pikir" masing-2x, interprestasinya masing-2x.

Seperti  halnya  saat  kita  belajar CMI dulu, kalau memberi instruksi
kepada Catam mestinya berbeda dg memberikan instruksi ke Perwira walau
(mungkin) isi perintah sama.
Maksud  baik,  akan  tetapi penyampaian tidak baik, hasilnya (umumnya)
tidak seperti yg diharapkan, malah-2x disalah artikan orang lain :-(

> Contoh   lain  dari  Kediri.  Adik  saya  (yang  kebetulan  tentara)
> bercerita  bahwa  di  sana  kalau  orang  mau slametan misalnya saja
> sunatan, ya harus lapor ke laskar yang kuasa di situ. Kalau tidak ya
> repot lah.

Interpretasi  saya  kalau  ini  preman  namanya,  tp  orang  lain bisa
menginterpretasikan  orang  yg  slametan  itu sudah "menyumbang kepada
negara" dan si laskar berjasa  telah "menarik pajak" untuk kepentingan
umat he..he..he.. (bukti interpretasi yg berbeda).

[ ... ]

> Jadi,  ekonomi  sedang  amburadul, pertahanan dan keamanan nampaknya
> juga kita tidak tahu mau ke mana, hukum idem dito, repot juga ya . .
> . .

Konon  yg berani mengatakan bahwa Negara sedang amburadul hanya rakyat
kecil  Pak, buktinya sejak tahun 1998 yl s/d sekarang belum pernah ada
pernyataan  *resmi*  dari  Kepala  Negara bahwa Indonesia sedang dalam
kondisi amburadul/krisis, sehingga tidak ada deklarasi "mari kita bahu
membahu untuk membereskan semua keruwetan ini...."

-- 
Salam,
- Syafril -

Old Ekek Never Die, They Just Regenerates!
YON-1 ITB <RET> A-7911664
#...Moderator and Fellow [EMAIL PROTECTED] List Member...#

Thought of The Day :
***Hanya  dia  yg  mempunyai  keberanian  yg  sesungguhnya,  yg  mampu
menanggung  beban  dari pengalaman yg seburuk-buruknya yg bisa dialami
manusia dg sikap bijaksana (william Shakepeare, 1564-1616).



-- 
--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=vacation%20yonsatu>
1 Mail/day     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=set%20yonsatu%20digest>

Kirim email ke