Bung Syafril, Kalau membaca tanggapan anda saya berpikir betul juga yaaa. Cukup panggil Orari untuk melakukan "spleteran"...sudah senyap seluruh NAD plus kita kirim dosen UNPAD yang doktor urusan internasional untuk menghadapi diplomat asing yang bawel/plin-plan. Kemudian untuk melacak keberadaan HP nya GAM, cukup provider-provider seperti telkomsel, pro XL, satelindo dll secara suka rela memasang alat penyadap di towernya masing-masing.
Jadi tidak perlu kita mengirim TNI yang peralatan dan kemampuan/pengetahuan sudah tentu ketinggalan jaman. Bagaimana bisa meningkatkan peralatan dan kemampuan, untuk anggaran hidup saja presiden sudah mengakui pas-pasan. sudah itu diembargo senjata lagi(dan tentunya peralatan lainnya).....atau berharap partisipasi masyarakat untuk menyumbang dana, peralatan, pengetahuan? wow bisa gugur hipotesa "krisis kepercayaan" yang terjadi di Indonesia sekarang ini. Maaf agak sinis.....sebenarnya yang mau saya sampaikan bahwa perang elektronika itu baru pada tahap "pengetahuan" saja. Saya yakin perwira kita sudah tahu semua tetapi TNI memang tidak mempunyai peralatan menunjang perang tersebut dan pemerintah tidak mempunyai dana untuk membeli nya karena telah dikuras habis oleh???? Ibarat jaman dahulu radio kita tidak bersuara maka yang kita lakukan bukannya membawa ke tukang ahli....itu mahal.....biasanya kita getok-getok radio tersebut. Sekali lagi Maaf, Wasalam -----Original Message----- From: Syafril Hermansyah [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, May 29, 2003 2:50 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [yonsatu] Re: [hankam] Teknik Identifikasi posisi GAM On Thu, 29 May 2003 14:13:36 +0700 Nugroho Setyabudi (NS) wrote: > Saya membaca TNI sedang berusaha mengisolasi GAM dari dunia > internasional. Beberapa LSM asing sekarang berusaha untuk hadir > di Aceh supaya komunikasi dan koordinasi lebih baik dengan > GAM....ini yang dicegah oleh pemerintah. Kalau alasanya spt itu, kurang tepat rasanya. Kan bisa pasang 'spleteran', dan juga bisa disadap. Lebih baik jelas sourcenya, shg mudah melakukan pelacakan dpd gelap-2x an :-) > Pengalaman Timor Timur (walau berbeda back ground) menunjukkan > kita kedodoran di tingkat internasional....karena saat ini kita > tidak punya diplomat ulung plus kemampuan kita yang terbatas > dari segi relationship dengan negara lain. Makanya belajar donk dari pengalaman, sudah waktunya yg namanya Dubes itu mrpkan jenjang karir dari para diplomat, bukan tempat para pensiunan menghabiskan hari tua (kayak kota Madiun aja <g>). Kalau perlu panggil ahli dari luar kalangan sendiri, yg penting sama nasionalisnya, nggak usah malu atau gengsi kan ini semua untuk kepentingan nasional. > Pelacakan HP nya puluhan panglima GAM butuh waktu lama, akan > kalah cepat dengan disinformasi dari GAM yang terus mengalir > keluar..... Cari donk cara biar bisa cepat deteksinya, pasang penyadap di setiap Base Station tower kalau perlu :-) -- syafril ------- Syafril Hermansyah<syafril-at-dutaint.co.id> . --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
