On Mon, 14 Jul 2003 20:19:27 -0700 (PDT) Rifki Muhida (RM) wrote: > Ini bukan canda lho... > Sebenarnya saya sedih melihat kasus PT DI, sedihnya kok 9000 orang > dirumahkan (dibuat menganggur) sementara gaji mereka jalan terus, ini > pasti manajemennya kurang tanggap, punya sumber daya manusia yang > banyak kok disia-siakan sementara mereka harus digaji terus (seperti > juga republik Indonesia punya banyak orang kok banyak pengangguran, > sementara mereka perlu makan untuk hidup).
Ada benarnya, akan tetapi nampaknya Anda blm melihat lbh dalam dampak dirumahkan ini dari sudut operation cost. Bukan saya bermaksud membela Edwin (yg kebetulan satu angkatan dg saya di ITB), saya cuma mencoba melihat sudut pandang yg dia ambil. Dg dirumahkan, maka office cost (listrik, AC, air, Telepon, alat peralatan dll) akan turun drastis, demikian pula dg biaya transportasi, uang makan atau emulement lain, secara singkat yg perlu dibayar oleh PTDI hanya Gaji Pokok. Kasus semacam ini jika di swasta tidak terlalu hebat gemanya, IndoMobil pernah melakukan hal ini (IIRC lbh dari 1 bulan), demikian pula Toyota Astra Motor (1 minggu, digilir per shift) dan Daihatsu Indonesia. Semasa di Astra saya pernah mengalami 2 tahun berturut-turut gaji di hold (tidak ada kenaikan gaji saat ulang tahun kerja) sekalipun perusahaan mengalami surplus, krn perusahaan kami perlu membantu group otomotif (keuntungan perusahaan 'dipinjamkan' ke mereka). > Daripada dirumahkan tetapi digaji, menurut saya saya mendingan dibuat > pembangkit listrik tenaga manusia (toh mereka tetap digaji kan). > Misalkan mereka kita suruh menggerakkan turbin beramai2 dari pagi > sampai paginya lagi secara rotasi. 9000 orang kita bagi dalam 3 > term,jadi masing-masing term 3000 orang, bekerja 8 jam, menggerakkan > 60 turbin (misalnya 1 turbin memerlukan 50 orang,) wah lumayan besar > energinya, (ada yang bisa ngitung nggak), berapa puluh desa yang bisa > kita aliri listrik. :-))) Itu namanya differensiasi produk, dan differensiasi produk mestinya jangan jauh-2x dari kompetensinya (krn akan mahal utk training ulang SDM dan penyediaan alat peralatan). Akan tetapi ide dasar bhw perlu dilakukan differensiasi produk itu sudah benar. Kalau menurut saya sih PTDI sudah kehilangan "market" sejak lama (lihat posting teman saya Witarto), shg produknya tidak bisa masuk pasar. Kelihatannya sih sudah ada pemikiran mengenai differensiasi produk dan sudah coba dilakukan (saya lihat teman-2x dari PTDI mengemukan soal produk pemroses sampah, Pembangkit Listrik Tenaga Angin dll di berbagai Milis), cuma tidak/belum jalan ... entah karena tidak sesuai dengan kemauan pasar entah karena dikelola secara tidak serius (salah seorang teman mengeluhkan soal order parabola ukuran kecil ke PTDI yg tidak ditindak lanjuti). Market itu penting, perusahaan bisa saja hidup tanpa punya karyawan, tidak punya kantor (cyber/virtual office) akan tetapi tidak mungkin tanpa pelanggan. Sejak awal 1990-an dulu, Unilever bersedia invest alat peralatan komputer di semua "distributor" nya, IIRC mereka outsource membuat program yg mirip MRP yg disesuaikan dg kebutuhannya. Ini program yg mahal, akan tetapi dg demikian mereka jadi bisa memantau jalur distribusi mereka, memantau perubahan needs dari end user mereka. Mungkin system mereka yg sekarang sdh lbh maju dpd yg saya kenal dulu, Pak Syarif Hidayat mungkin bisa cerita lebih banyak. -- syafril ------- Syafril Hermansyah<syafril-at-dutaint.co.id> . --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
