On Mon, 14 Jul 2003 21:41:12 -0700 (PDT) Rifki Muhida (RM) wrote:

> mana yang lebih besar gaji pokok untuk 9000 karyawan (yang harus
> dibayar IPTN perbulan) atau (office cost+transport+uang makan; yang
> juga dibayar IPTN dalam sebulan)?

Gaji Pokok umumnya lebih kecil.
Di PNS (bahkan di Swasta) yg besar itu tunjangan-2x, dan itu wajar
(umumnya di design spt itu) krn hanya karyawan yg masuk kerja yg bisa
produktif.
 
> > Itu namanya differensiasi produk, dan differensiasi produk mestinya
> > jangan jauh-2x dari kompetensinya (krn akan mahal utk training
> > ulang SDM
> > dan penyediaan alat peralatan).
> 
> saya pikir untuk menggerakkan turbin nggak perlu ditraining khusus
> yang diperlukan otot tangan dan otot kaki juga berat badan (yang
> semuanya dapat dinayatakan kiloWatt). Mungkin energi yang dihasilkan
> 9000 orang akan lebih besar dari (office cost+transport+uang makan
> IPTN). Mungkin masalahnya banyak diantara 9000 karyawan PT DI yang
> sudah tua, dan tidak berotot lagi juga berat badannya ringan (tetapi
> saya pikir masih memadahi). 

Ada masalah kompetensi nantinya, krn Pembangkit Listrik bukan urusannya
PTDI melainkan PLN (ingat masalah Sukhoi terakhir ini, yg
dipermasalahkan soal legalitas/kompetensi, bukan soal layak/tidaknya
beli sukhoi).

> Mungkin kelihatannya ide pembangkit listrik tanaga manusia ini
> berlebih-lebihan, tetapi amat disayangkan kalau energi 9000 karyawan
> itu disia-siakan, sementara IPTN harus membayar setiap bulan gaji
> pokok mereka, dan hanya mendapat keuntungan dari berkurangnya (office
> cost+transport+uang makan IPTN). 

Kemungkinan apa yg dilakukan sekarang adalah yg terbaik dari pilihan
buruk yg tersedia.
Dan jangan lupa, ini baru langkah awal saya kira, lihat saja tindak
lanjutnya nanti.

> Saya sengaja nggak menyinggung latar belakang dan investasi
> sumberdaya manusia yang sudah dikeluarkan untuk 9000 orang karyawan
> itu, karena hanya untuk menjadi seorang penunggu rumah nggak perlu
> gelar atau sekolah khusus, beda dengan anjing penunggu rumah yang
> terkadang memerlukan latihan dan training yang mahal.

Pertanyaan yg muncul, maukah karyawan PTDI diminta untuk kerja kasar,
tidak sesuai dg kompetensi/keahlian mereka ?

-- 
syafril
-------
Syafril Hermansyah<syafril-at-dutaint.co.id>

.


--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke