Itu dari sudut pandang PT DInya, dari si pemberi hutang apa dia mau
tidak dibayar tunai ? Kecuali jika si pemberi hutang juga perusahaan
milik negara (sama aja boong, cuma mindah masalah doank).
------------
Pemberi utang yang mana, ini cuma penyehatan koq, belum ada utang.
Sementara ini utangnya ya ke negara. Jsustru dengan PMS, berarti utang
tersebut dianggap penyertaan modal. Karenanya di dalam Ballance Sheet,
kolom liabilities jadi turun, tapi nilainya naik di Equity.

Lha pemerintahnya punya dana kok :-)
-----------
Dananya yang disumbang kecil saja koq dibanding semua dana yang dibutuhkan.
Dana yang disuntik tidak sampai 5 % dari nilai perusahaan. Dana akan dicari
lewat convertible bond, tapi 67 % dari convertible bonds ini dijamin
pemerintah. Jadi yang dari pemerintah kebanyakannya kertas doank.


Nego donk dg IMF kalau yakin memang kita benar. kalau mrk nggak mau
ngerti ya go to hell lah IMF.
-----------
Itu sudah lewat, itu dulu jaman Pak Harto diremehkan oleh Michel Camdessus.
Yang sekarang ya,... warisannya. Makanya sebaiknya kita tidak usah dengan
IMF.


Ini soal lain, ini soal KKN.
Kalau tidak ada KKN mana berani perusahaan swasta macem-2x ? Kemarin
kamu sdh kasih contoh soal Singapore.
--------
Setuju, makanya inti persoalan itu di KKN. Kebijakan pun dibuat sarat
dengan KKN (?)


Hukum Maslow (atau lbh dikenal dg Piramida Maslow), pada tahap awal
orang butuh makanan, stl itu baru sandang dan papan; tingkat berikutnya
soal keamanan, esteem (kebanggaan) dst s/d piramida ke 7.
Sekarang ini banyak rakyat kita yg miskin, untuk cari makan saja susah,
apalagi mikirin soal "kebanggaan" apa segala, yg ingin memimpikannyapun
nggak bisa.
----------
Teori Maslow mah urang ngarti euy. Cuma yang menjadi pertanyaan saya kenapa
koq melihat teori Maslow dengan persoalan sebelumnya kurang komprehensif.


Kalau industrinya ditujukan untuk peningkatan kemampuan memberi makan
kepada rakyat, memberi sandang dan papan kepada rakyat barulah disebut
strategis (menurut Maslo Pyramid lho).
---------
Pandangan startegis bisa beda. Short term betul yang anda bilang. Bukan
berarti kita tidak harus memikirkan yang short term, tapi juga kita tidak
baik hanya memikirkan yang short term saja dalam pandangan pembangunan
kompetensi bangsa, apalagi kalau sudah kadung dimulai.  Industri strategis
yang dimaksud sebelumnya juga ujungnya untuk kepentingan peningkatan
kemampuan memberi makan, sandang dan pangan, bahkan lebih dari itu tapi
melihatnya harus jauh dan makro. Kombinasi pembangunan ekonomi yang
berorientasi jangka pendek dengan yang jangka menengah dan yang jangka
panjang adalah solusi yang lebih komprehensif.

Untuk yang berjangka pendek,  industri kecil dan menengah dengan lower
value added tapi quick return serta cash flow yang lancar  harus
dikembangkan (terutama yang berbasis sumber daya alam, seperti CPO, TPT
(tekstil dan produk tekstil), agro bisnis (baik hortikultura maupun tanaman
tahunan lainnya), industri alat-alat pertanian sederhana (mekanis, semi
mekanis,dll), industri kayu olahan dan produk hutan non kayu lainnya, serta
industri padat karya lainnya. Termasuk pula industri-industri pendukungnya.
Untuk ini pemerintah sebaiknya tidak buru-buru meratifikasi persetujuan
akan exclusion list di WTO maupun AFTA.

Untuk kepentingan ekonomi jangka menengah, perkembangan industri dasar
(untuk bahan baku industri) dengan proses yang "relatif" sederhana dan
berteknologi menengah bisa dikembangkan. Contohnya adalah Oleochemical
plants untuk mengolah CPO jadi produk bahan baku jadi (investasi 1/10 dari
petrochemical plant untuk capasitas yang sama), industri logam dasar,
industri kimia dasar, industri houseware seperti Maspion, industri gas dsb.
Bisa dimasukkan juga industri kenderaan ringan (penumpang, barang, dsb).

Untuk yang berjangka panjang, industri yang high tech dengan value added
yang tinggi serta memberi makna besar dalam kemandirian teknologi juga
perlu dikembangkan, disinilah masuk sektor informasi/telekomunikasi,
dirgantara, alat-alat berat, military and armamour,  proses yang lebih
rumit  semacam semen, kertas (bukan pulp), industri kimia derivatives,
pharmaceutical, komponen electronics, dsb.

Perimbangan ketiganya bagaimana ? Sepertinya sih sudah ada dalam
Repelita-repelita terdahulu. Hanya saja dalam pelaksanaan kita tidak
konsisten mengikuti rencana pembangunan tersebut, dan kita lalai mengawasi
perkembangan industri strategis ini, sehingga yang terjadi adalah seperti
sekarang ini. Lalu bagaimana kita memperbaikinya, masihkah kita punya waktu
? Apakah kita masih punya momentum ? Rasanya sih masih tuh, maka kita
benahi dong, jangan dibunuh. Gitu lho pak pandangan abdi....

Hatur nuhun pisan,... punten lamun aya anu henteu reseup kana pamikiran
iyeu.

Wassalam.




--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke