Soal jajah-menjajah ini Doeng, sudah lama hal ini menjadi urusan yang tidak jelas. Lihat saja, ketika kita merebut Timor Timur, di tahun 1970-an, kita menyelamatkan mereka dari penjajah. Begitu kata kita, begitu pula kata dunia. Begitu jugalah menurut UUD 45!
Tetapi di tahun 1990-an, berubahlah status kita jadi penjajah di Timor Timur yang itu-itu juga. Sehingga kita harus ikhlas memberikan kemerdekaan pada wilayah itu. Begitu kata dunia, begitu pula kata sebagian bangsa kita yang juga mendasarkan argumennya pada UUD 45 yang itu juga, sama-sama versi sebelum di-amandemen (dan yang tadinya pendapat bahwa kita menjajah di sana itu merupakan pendapat sebagian bangsa kita, sekarang sudah menjadi pendapat resmi negara kita, dengan pengakuan RI pada negara Timor Leste itu) Mereka yang gugur dalam operasi Serodja dulu itu, Doedoeng, semula adalah pahlawan kemerdekaan. Sekarang mereka itu, tanpa berpindah kubur dan nisannya di Dilli sana, berubah menjadi tentara pendudukan penjajah. UUD 45 nya sih eta keneh eta keneh... ----------------------------- Kemudian, dengan UUD 45 yang sama itu-itu juga, kita bisa mengatakan kita membebaskan Irian Barat, tetapi kita juga bisa mengatakan kita menjajah tanah Papua. ----------------------------- Begitu pula sama tidak jelasnya urusan jajah-menjajah ini di Timur Tengah sana itu. Kalau dikatakan Israel menjajah suatu wilayah di sana, itu kan kata orang Arab, dan baru sejak 1948... Ratusan tahun sebelumnya, orang Arab yang menjajah wilayah itu, kata orang Yahudi. Bahkan walaupun sejak 1948 sebagian wilayah mereka sudah merdeka, tetapi sampai tahun 1967 Jeruzalem masih dikuasai Yordania. Apa haknya Yordania untuk menjajah di kota itu, kata orang Yahudi... Sekian ribu tahun sebelumnya, Musa a.s. memerdekakan wilayah itu dari penjajahan Firaun yang orang Mesir itu, kata kitab-kitab suci. Untung waktu itu orang Mesir belum disebut orang Arab seperti sekarang ini. Kalau orang Mesir sudah dianggap orang Arab sejak jaman itu, maka sebetulnya orang Arab lah penjajah di wilayah itu yang paling awal tercatat sejarah... Seribu tahun yang lalu, waktu Isa a.s. lahir di sana, wilayah itu menjadi bagian kekaisaran Romawi. Untung Isa a.s. tidak membawa misi revolusi, kalau tidak tentu ia sudah menuduh bangsa Romawi sebagai penjajah, dan ia memimpin suatu perang kemerdekaan di sana itu... Tetapi toh seratus tahun kemudian ummat Isa a.s. lah yang menjajah wilayah itu. Memangnya ummat Isa a.s. itu secara etnis orang apa? Ya Arab! Dalam jaman Perang Salib, berbilang ratusan tahun berganti-ganti orang Arab dan Anglo-Saxon menjajah wilayah itu. Dan selama itu pula orang Yahudi jadi bangsa terjajah, yang terpaksa pasrah menerima siapa saja yang giliran menjadi penjajah mereka. Begitu lamanya orang Yahudi di wilayah itu menjadi bangsa terjajah, sehingga mereka mengungsi, menyebar di seluruh penjuru dunia. Ini ber-diaspora, kata orang Yahudi... Tetapi fenomena tersebarnya orang Yahudi ini, katanya merupakan kutukan atas bangsa Yahudi. Kata orang Arab... ----------------------------- Jadi, kembali pada pengambilan sikap Indonesia dalam konflik Arab-Israel, apa mau ditinjau dari sudut agama, apa mau ditinjau dari sudut jajah-menjajah, tidak ada kebenarannya untuk kita mengambil pihak! Kalau mau mengambil sikap, ya seperti kata Hermansyah itu, ditinjau dari segi kemanusiaan, menentang kekerasan dan kekejaman pihak-pihak yang bersengketa di sana. Tetapi ini pun case by case, dilihat pihak mana yang sedang melakukan kekerasan dan kekejaman itu. Atau, dalam jaman ekonomi kita sulit begini, kalau mau mengambil sikap, ya seperti kata Onang itu, dagang ya dagang. Sejarah membuktikan bahwa sikap mereka, terutama orang Arab, kepada kita (karena dengan Yahudi kita belum banyak berhubungan) pun begitu juga koq! Bagi mereka, Indonesia yang dilihat bukan agama Islam atau non Islamnya, bukan kulit bule atau sawo matangnya, bukan mata sipit atau belo-nya, tetapi partner dagang yang menguntungkan atau tidak... Why should we be different from themselves? Wasalam. ======================= ----- Original Message ----- From: DZArifin To: [EMAIL PROTECTED] Sent: 18 Oktober 2003 23:31 Subject: [yonsatu] Re: Fwd: Hubungan militer Indo-Israel AWW. Memang tidak sederhana untuk melakukan hubungan dengan Israel. Namun kalau disederhanakan, rumusannya adalah karena kita punya prinsip, sesuai mukadimah UUD 45, bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan. Secara umum, pemerintah dan sebagian besar elemen bangsa ini melihat bahwa Israel adalah penjajah. Dengan melakukan hubungan dagang, misalnya, selain akan ada, bahkan mungkin banyak keuntungan, bagi RI, namun tentu Israel juga diuntungkan. Nah, kalau keuntungan Israel itu digunakan untuk membiayai operasi penjajahannya, tentu kita (menurut pemerintah dan sebagian besar elemen bangsa ini) mengkhianati semangat mukadimah UUD 45 tersebut. Jadi persoalannya bukan apakah ada untung atau tidaknya, yang saya yakin pasti banyak untungnya!!! Tapi apakah bila tindakan tersebut dilakukan, dianggap mengkhianati mukadimah UUD 45 atau tidak??? Atau kita sudah siap mengatakan persetan dengan UUD 45, yang penting untung. Mungkin itu yang ada di benak penyalur fosfat untuk pabrik pupuk, terutama Petrogres. Wassalam. DZArifin. --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
