AWW. Saya sependapat bahwa urusan jajah-menjajah bukan hal yang mudah mendefinisikannya, karena sangat kental dengan aroma politik dan kekuasaan, sehingga sangat tergantung kepada siapa yang berkuasa secara politis dan sudut pandang hukum formalnya . Bahkan bila ditinjau dari segi "nilai" yang dianggap lebih universal pun, tidak mudah, karena terbentur dengan sumber atau tata nilai yang dianut, misal agama. Namun, konstruksi pandangan atau pendapat seseorang atau sekelompok orang bahkan secara kolektif sebagai representasi negara memiliki mekanisme yang berakar dari suatu nilai tertentu dan maujud dalam hukum formal. Ketika dalam konteks waktu dan ruang tertentu harus ada suatu pendapat (judgement) tentang sesuatu, maka muncullah pendapat tersebut sesuai mekanisme di atas (yang pasti kalau diurai akan sangat kompleks). Dalam kasus Israel vs Palestina, pendapat yang diberikan dalam konteks kedisinikinian menyatakan bahwa Israel sebagai penjajah. Bahwa suatu ketika pendapat itu berubah, seperti halnya kasus Timor Timur, itu sangat mungkin. Tapi, sekali lagi, kalau dikatakan Israel sebagai negara penjajah atau setidaknya melakukan pelanggaran kemanusiaan, itu karena konteks di sini dan sekarang! Bahkan Israel dan negara-negara pendukungnya (seperti AS) menganggap gempuran ke Palestina adalah sebagai tindakan polisional, mirip ketika Belanda menyerbu Indonesia pada tahun 1948 - 49 yang mengatakan sebagai aksi polisional, namun kita menyebutnya sebagai AGRESI. Andaikan dalam perang kemerdekaan itu kita kalah, maka Jenderal Sudirman dkk, akan dianggap sebagai ekstrimis (atau kalau menggunakan bahasa sekarang adalah teroris bersenjata). Namun saya percaya bahwa berdasarkan nilai agama yang kita anut (Islam, Kristen atau apapun agamanya) atau nilai kemanusiaan pada umumnya, akan mengatakan bahwa tindakan sewenang-wenang yang diperlihatkan oleg Israel dan AS dalam kasus Palestina adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Walaupun pada suatu ketika, misalnya karena perubahan politik, pendapat resmi negara kita berubah, namun nilai buruk kesewenang-wenangan akan tetap abadi. Wassalam. DZArifin
----- Original Message ----- From: "Akhmad Bukhari Saleh" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Sunday, October 19, 2003 1:08 AM Subject: [yonsatu] Re: Fwd: Hubungan militer Indo-Israel > Soal jajah-menjajah ini Doeng, sudah lama hal ini menjadi urusan yang > tidak jelas. > Lihat saja, ketika kita merebut Timor Timur, di tahun 1970-an, kita > menyelamatkan mereka dari penjajah. Begitu kata kita, begitu pula kata > dunia. Begitu jugalah menurut UUD 45! > > Tetapi di tahun 1990-an, berubahlah status kita jadi penjajah di Timor > Timur yang itu-itu juga. Sehingga kita harus ikhlas memberikan > kemerdekaan pada wilayah itu. Begitu kata dunia, begitu pula kata > sebagian bangsa kita yang juga mendasarkan argumennya pada UUD 45 yang > itu juga, sama-sama versi sebelum di-amandemen (dan yang tadinya > pendapat bahwa kita menjajah di sana itu merupakan pendapat sebagian > bangsa kita, sekarang sudah menjadi pendapat resmi negara kita, dengan > pengakuan RI pada negara Timor Leste itu) > > Mereka yang gugur dalam operasi Serodja dulu itu, Doedoeng, semula > adalah pahlawan kemerdekaan. Sekarang mereka itu, tanpa berpindah > kubur dan nisannya di Dilli sana, berubah menjadi tentara pendudukan > penjajah. > UUD 45 nya sih eta keneh eta keneh... > > ----------------------------- > > Kemudian, dengan UUD 45 yang sama itu-itu juga, kita bisa mengatakan > kita membebaskan Irian Barat, tetapi kita juga bisa mengatakan kita > menjajah tanah Papua. > > ----------------------------- > > Begitu pula sama tidak jelasnya urusan jajah-menjajah ini di Timur > Tengah sana itu. > > Kalau dikatakan Israel menjajah suatu wilayah di sana, itu kan kata > orang Arab, dan baru sejak 1948... > > Ratusan tahun sebelumnya, orang Arab yang menjajah wilayah itu, kata > orang Yahudi. Bahkan walaupun sejak 1948 sebagian wilayah mereka sudah > merdeka, tetapi sampai tahun 1967 Jeruzalem masih dikuasai Yordania. > Apa haknya Yordania untuk menjajah di kota itu, kata orang Yahudi... > > Sekian ribu tahun sebelumnya, Musa a.s. memerdekakan wilayah itu dari > penjajahan Firaun yang orang Mesir itu, kata kitab-kitab suci. Untung > waktu itu orang Mesir belum disebut orang Arab seperti sekarang ini. > Kalau orang Mesir sudah dianggap orang Arab sejak jaman itu, maka > sebetulnya orang Arab lah penjajah di wilayah itu yang paling awal > tercatat sejarah... > > Seribu tahun yang lalu, waktu Isa a.s. lahir di sana, wilayah itu > menjadi bagian kekaisaran Romawi. Untung Isa a.s. tidak membawa misi > revolusi, kalau tidak tentu ia sudah menuduh bangsa Romawi sebagai > penjajah, dan ia memimpin suatu perang kemerdekaan di sana itu... > > Tetapi toh seratus tahun kemudian ummat Isa a.s. lah yang menjajah > wilayah itu. Memangnya ummat Isa a.s. itu secara etnis orang apa? Ya > Arab! > > Dalam jaman Perang Salib, berbilang ratusan tahun berganti-ganti orang > Arab dan Anglo-Saxon menjajah wilayah itu. Dan selama itu pula orang > Yahudi jadi bangsa terjajah, yang terpaksa pasrah menerima siapa saja > yang giliran menjadi penjajah mereka. > > Begitu lamanya orang Yahudi di wilayah itu menjadi bangsa terjajah, > sehingga mereka mengungsi, menyebar di seluruh penjuru dunia. Ini > ber-diaspora, kata orang Yahudi... > > Tetapi fenomena tersebarnya orang Yahudi ini, katanya merupakan > kutukan atas bangsa Yahudi. Kata orang Arab... > > ----------------------------- > > Jadi, kembali pada pengambilan sikap Indonesia dalam konflik > Arab-Israel, apa mau ditinjau dari sudut agama, apa mau ditinjau dari > sudut jajah-menjajah, tidak ada kebenarannya untuk kita mengambil > pihak! > > Kalau mau mengambil sikap, ya seperti kata Hermansyah itu, ditinjau > dari segi kemanusiaan, menentang kekerasan dan kekejaman pihak-pihak > yang bersengketa di sana. > Tetapi ini pun case by case, dilihat pihak mana yang sedang melakukan > kekerasan dan kekejaman itu. > > Atau, dalam jaman ekonomi kita sulit begini, kalau mau mengambil > sikap, ya seperti kata Onang itu, dagang ya dagang. > Sejarah membuktikan bahwa sikap mereka, terutama orang Arab, kepada > kita (karena dengan Yahudi kita belum banyak berhubungan) pun begitu > juga koq! Bagi mereka, Indonesia yang dilihat bukan agama Islam atau > non Islamnya, bukan kulit bule atau sawo matangnya, bukan mata sipit > atau belo-nya, tetapi partner dagang yang menguntungkan atau tidak... > Why should we be different from themselves? > > > Wasalam. > > ======================= --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
