Berarti ini salahnya Gus Dur dong ya, kok ya mengait-ngaitkan keputusan 
politik dengan keyakinan agama, padahal sudah jelas bahwa kalau menjadikan 
agama sebagai salah satu pertimbangan atau sebagai platform untuk 
memecahkan masalah multi-dimensi, hanya akan menciptakan masalah baru 
saja.  Bukannya masalah ekonomi yang terpecahkan, tetapi polemik tak ada 
guna yang justru berkembang yang dapat berlangsung berkepanjangan dengan 
segala eksesnya.
Melihat contoh diatas, tepat sekali pendapat pak ABS yang mengatakan bahwa 
pemimpin itu adalah seorang 'Yang membuat bangsa ini merasa bahwa mereka 
ada yang memimpin'.  Apa sih kurangnya negara kita ini?  Presiden kita 
punya, Ketua MPR kita punya, Ketua DPR kita punya, para Mentri kita punya, 
Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Ketua RW, Ketua RT kita punya, ulama, 
pastor, kiayi, pendeta, bhiksu alias pemimpin umat, kita punya, bahkan 
'pebelatak', kata orang Sunda bilang.  Kita punya tokoh2 itu semua, 
sayangnya yang kita nggak punya adalah ya... PEMIMPIN itu tadi.  Sayangnya 
pak ABS nggak menjabarkan contoh2 soal, apa yang dapat membuat rakyat 
merasa dipimpin.  Barangkali, Pak ABS bisa menyampaikannya di email beliau 
yang akan datang.

Menurut saya, seorang pemimpin itu dapat diaku sebagai pemimpin kalau 
pernyataannya2 dan pikiran2nya mampu menginspirasi dan menggerakkan orang2 
yang dipimpinnya untuk bersatu padu mendukung pikiran2 itu.  Karena 
Indonesia adalah negara demokratis dengan penduduk yang beraneka ragam, 
yang berpaham sekularisme alias memisahkan urusan kenegaraan dengan urusan 
ketuhanan, maka seyogyanya para pemimpin republik ini menyampaikan 
pikiran2 dan pernyataan2 yang dapat merangkul seluruh lapisan, golongan, 
suku yang berhak hidup di wilayah nusantara ini.  Bukan justru 
mengeluarkan pernyataan2 yang dapat menimbulkan polemik, pertentangan 
bahkan mempertajam pengelompokan yang ada.  Disamping itu, sang pemimpin 
harus terlihat bersih lahir bathin oleh yang dipimpin.  Jadi, kalau sudah 
jadi koruptor dan bermoral bejat, sudahlah jangan nafsu lagi untuk jadi 
pemimpin rakyat, mundur saja, jangan berdalih2, apa lagi mengintimidasi 
rakyat untuk memilihnya kembali.  Kalau jadi ulama tapi kerjanya cuma 
menghasut dan memperdaya umat, sudahlah, berenti saja jadi ulama, jangan 
menakut-nakuti dan menghasut umat terus, apa nggak takut sama 'api 
neraka'?, karena dibumi kerjanya hanya menciptakan keresahan dan 
kekacauan, dan lebih parah lagi mengambil kesempatan dalam kesempitan?.

Menurut saya, para pemimpin republik ini harus mau dan berani untuk tidak 
mengaitkan pernyataan2 mereka dengan keyakinan suatu agama.  Biarkan itu 
tugas para ulama.  Dan ulama, sebaliknya tidak boleh mengeluarkan 
pernyataan2 yang berkaitan dengan pengaturan suatu negara, biarklah hal 
itu diurusi oleh para politikus dan pemimpin2 negara.  Bahwasanya para 
pemimpin negara menjadikan agama sebagai salah satu sumber inspirasi 
mereka dalam berpikir, berkata, dan bekerja, itu tentulah sangat 
diharapkan, karena agama tidak pernah mengajarkan orang untuk berdusta dan 
mencuri, namun cukuplah itu disimpan di belakang kepala saja,  tidak perlu 
hal itu sang pemimpin sebut2 dalam pidato2nya.

Menurut saya, garis demarkasi antara pemimpin negara dan pemimpin umat ini 
harus jelas ditarik dengan tinta merah, kalau perlu dengan api.  Kalau 
tidak, maka republik Indonesia ini cuman akan jadi republik-republikan 
saja.  Dan kita rakyatnya cuman akan menjadi bulan2an para pemimpin 
gadungan saja.

Dilain pihak, kita yang sang rakyat mbok ya sadar, mbok ya bangun, kalau 
perlu mbok ya maju lah menjadi pemimpin negeri ini.  Seyogyanya kita ingat 
bahwa yang berkuasa atas negeri ini adalah kita secara bersama-sama, bukan 
segelintir pemimpin negara dan pemimpin umat itu.  Tanpa kita, tidak akan 
mungkin pemimpin2 gadungan itu duduk di singgasana kekuasaan rakyat atas 
nama kita.  Nggak mungkin ada republik ini tanpa kita, nggak mungkin ada 
jalan2, gedung2, hotel2 dlsb. tanpa pajak yang selalu kita bayar ke 
negara.  Nggak mungkin ada mesjid, gereja, candi, vihara, dan klenteng 
kalau kita nggak turut menyumbang biaya pembangunannya.  Jadi, mbok ya 
kita jangan gebleg2 dan takut2 lah sama mereka (Ini memang gampang 
diucapkan, tapi sulit dilaksanakan.  Akan tetapi prinsip bahwa kedaulatan 
negara berada ditangan rakyat itulah yang sekurang-kurangnya perlu 
ditanamkan didalam sanubari setiap rakyat Indonesia secara terus menerus).

Mungkinkah (para) pemimpin negeri idaman dapat lahir dari Corps? 

Salam hangat,
HermanSyah XIV.








EVY ARYANTI <[EMAIL PROTECTED]>
10/18/2003 07:11
Please respond to yonsatu

 
        To:     [EMAIL PROTECTED]
        cc: 
        Subject:        [yonsatu] Re: Fwd: Hubungan militer Indo-Israel


WCDS,
Alasan mantan presiden GusDur ketika membuka hubungan dagang dengan Israel 
kecuali aspek keuntungan secara ekonomi, juga ada pertimbangan politis dan 
.....ternyata...agama juga...kebetulan saya pernah membaca 
reason/alasannya....ya itu ...aspek bangsa yang 'terberkati' itu.......
Evy
Doddy Samperuru <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
WCDS,

saya tersenyum membaca "diskusi" lanjutan dgn subjek
awalnya "Hub Mil Indo-Israel" yg saya lempar. Kalau
boleh, ijinkan saya mengkritik kita semua yg kalo
diskusi cenderung suka memperluas subjek kemana-mana,
walaupun sebenarnya ini tidak selalu salah.

Tegasnya, saya tidak mempersalahkan hubungan Indo dgn
Israel, sebaliknya saya hanya bermaksud mengkritik
pihak yg suka alergi mempersalahkan kalau kita
berhubungan dgn Israel. Kalau alasannya kemanusiaan,
masih bolehlah, tetapi sering isu Israel ini dipakai
sbg artileri politik. Kalau tentara Israel menyerang
kamp pengungsi Palestina, semua orang sepakat untuk
menghujat habis. Sebaliknya, kalau ada bom bunuh diri
yg faktanya mayoritas korbannya sipil, sepertinya
semuanya tutup mulut. This is politics, bukan
kemanusian.

Opini saya pribadi, hubungan ekonomi dgn tujuan
mengangkat kesejahteraan rakyat kedua negara haruslah
lebih utama daripada aspek politiknya, dgn negara
manapun.

Kembali ke subjek awal, saya hanya bermaksud
mengatakan bahwa Indonesia, sadar tidak sadar, suka
tidak suka, disetujui atau tidak, telah cukup lama
berhubungan dgn Israel, baik militer maupun sipil.
That's all. Saya yakin, banyak di antara kita belum
tahu.

Have a good weekend.

Salam,
Doddy-ekek 25


__________________________________
Do you Yahoo!?
The New Yahoo! Shopping - with improved product search
http://shopping.yahoo.com

--[YONSATU - 
ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : 
Moderators : 
Unsubscribe : 
Vacation : 



---------------------------------
Do you Yahoo!?
The New Yahoo! Shopping - with improved product search

--[YONSATU - 
ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>






--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke