8<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Temu akbar HANATA 2004, 3-4 Januari 2004 di Ciater
Pendaftaran di Milis Anggota, atau SMS ke 0815-9500-697
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>8




      Itulah kenangan yang mengharukan dan menyedihkan bagi kita Yonsatu & Mahawarman, 
yang lahir & dibesarkan dalam rumah/lingkungan Kodam VI/Siliwangi yang (menurut kesan 
saya) punya falsafah/strategi operasionalnya yang "cantik" selama berkiprah dengan 
operasi territorial dan pembinaan wilayahnya tsb (ref. catatan ABS dibawah ini). 
Bahkan track-record kiprah Kodam VI/Siliwangi di seantero bumi nusantara ini sangat 
mengesankan/menonjol, mulai dari "ikut andil" penumpasan pemberontakan PKI Madiun-I, 
DI-TII dll selain yang skala 'lokal/kecil' di Jabar sendiri, Bandung, Sukabumi, Banten 
dll, maupun dukungan hijrah dari Yogyakarta kembali ke Jabar dsb.

Dannnn ...., setelah itu Kodam VI/Siliwangi mulai di discarded atau dibungkam. Dengan 
penataan Kodam yang baru, 'trade-mark' Kodam-VI/Siliwangi jadi lenyap sudah. Tentu 
saja Kodam-IV/Diponegoro dan jg Yogyakarta kemudian sedikit terangkat, karena itu 
basis dibesarkannya Soeharto (1)
Dannnn ...., setelah itu Soeharto perlu "Teknokrat", bukan "Orang Kuat yang mumpuni 
atau piawai" --- bahaya, bisa jadi batu sandungan. Maka, antara lain Kasmen dan 
beberapa Danyon Mahawarman diangkat jadi jajaran pembantu2nya, caleg, menteri dsb.
Sementara 'orang kuat' seperti oom Ton, p. Sarwo-Edhie, p. Ali Sadikin, dll ditebas (2)
Dannnn ...., setelah itu Mahasiswa (yang dinamis dgn organisasi2 Kemahasiswaan, baik 
intern Kampus maupun external-nya), yang pada masa perjuangan lahirnya ORBA jadi 
mitra/partner perjuangan, dikemudian hari juga dibungkam atau dikebiri (3)

(1),(2),(3) logis --- dari segi politik(-nya Soeharto), begitulah.

Walau kemudian Siliwangi (& Mahawarman) tertunduk lesu, namun demikian kita (melalui 
Yonsatu khususnya) harus bangkit, tetap tegar, dan berkembang kembali !!! Amin.

Wassalam,

Wimoko G - Ekek-IV
* Sekedar catatan pribadi : kenangan & kebanggaan corps.
** Saya sendiri kala itu adalah juga anggota Brigcad Kodam-VI/Siliwangi yang bangga 
dengan emblim atribut "Maung Siliwangi" tertempel dibahu. Selain itu juga anggota 
jajaran pelatih Walawa.
*** Pustaka bibliography ABS tentu sangat lengkap mengenai 'sejarah' kita seperti 
diatas ---- mungkin catatan2 lama ABS perlu diangkat lagi melalui media ini untuk 
me-motivasi dengan mengingat 'potensi yang kita miliki', serta membuka peluang kedepan 
dengan memanfaatkan 'potensi' serta 'channel atau relasi yang kita miliki/bina' selama 
ini.


=============================

Ketemu perkataan "Sadagori", saya jadi ingat tahun 1966-1967, Mahawarman
banyak terlibat dalam operasi territorial Kodam VI/Siliwangi untuk "to win
the heart and mind of the people" rakyat Jawa Barat, agar mendukung
pemerintahan baru ketika itu (Orba), dan melepaskan kesetiaan pada
pemerintah lama (Orla).

Pimpinan ops-terr itu Kasdam, yang kemudian menjadi Pangdam, Jend. H. R.
Dharsono, yang kira-kira tiga tahun kemudian malahan menjadi korban pertama
rezim Orba, di-"lempar" menjadi duta di Thailand, karena berselisih pendapat
dengan Soeharto tentang ke mana kekuasaan itu harus berorientasi, pada
kepentingan rakyat atau pada kepentingan penguasa.

Oom Ton, begitu kita biasanya memanggil Jend. H. R. Dharsono, menamai
ops-terr Siliwangi itu dengan code name: "Operasi Sadagori".
Karena ia ingin mengacu pada suatu tembang rakyat Cirebon di mana dalam
lirik-nya digambarkan bagaimana rumput sadagori itu merupakan pencerminan
rakyat kecil di tataran akar rumput ("grass-root").

Begitu intens keterlibatan kita ketika itu, sampai banyak aktivis Mahawarman
yang jadi hafal kata-kata tembang Sadagori itu dalam bahasa Cirebon.
Barangkali di  milis ini ada yang masih hafal atau punya catatannya (Mas
Hariyadi Suwandar mungkin?  Atau teman-teman lain yang dulu di Brigcad?).

Saya sendiri yang dulu juga hafal, sekarang sudah lupa, tetapi satu baitnya
yang terpenting saya masih ingat:

"Yen ana angin bolang-baling,
Aja gagandulan maring kiara,
gagandulan maring sadagori"

(Kalau ada prahara angin ribut,
janganlah berlindung pada pohon beringin,
tetapi berpeganglah pada akar rumput)

Maksudnya dalam keadaan krisis, jangan kita berlindung pada kekuasaan (pohon
beringin) yang karena karakteritik-nya mudah roboh oleh terpaan angin,
tetapi berlindunglah pada massa rakyat (rumput sadagori), yang karena rendah
tetapi menyebar luas, tidak akan terpengaruh terpaan angin.
Dan untuk itu tentara harus senantiasa memelihara kemanunggalannya dengan
rakyat.
Ini tentu sejalan dengan doktrin perang rakyat semesta.

Eh, tiga tahun setelah itu, di tahun 1970, Soeharto membentuk mesin
politiknya, Golkar, dan menetapkan lambangnya ... pohon beringin!!

Dan, sementara Oom Ton, yang menentang orientasi politik Soeharto tersebut,
terpental keluar struktur komando, tetapi Kasmen dan beberapa Danyon
Mahawarman malahan ramai-ramai menjadi caleg Golkar...

Wasalam.



--[YONSATU - ITB]-----------------------------------------------    
Arsip           : <http://yonsatu.mahawarman.net>  atau 
<http://news.gmane.org/gmane.org.region.indonesia.mahawarman> 
News Groups     : gmane.org.region.indonesia.mahawarman   
List Admin      : <http://home.mahawarman.net/lsg2> 
 

--[YONSATU - ITB]-----------------------------------------------
Arsip           : <http://yonsatu.mahawarman.net>  atau
<http://news.gmane.org/gmane.org.region.indonesia.mahawarman>
News Groups     : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
List Admin      : <http://home.mahawarman.net/lsg2>

Kirim email ke