SUDAH WAKTUNYA kita semua yg merasa bangsa Indonesia tidak
membeda-bedakan apakah kita keturunan Arab, Belanda, Cina, Denmark,
Ethiopia, France dsb. Lebih2 kalo pengunaan embel2 ato nama etnis itu
dimaksud untuk melecehkan.

Marilah kita berbangga bhw kita adalah bangsa Indonesia apapun ethnicity
ortu ato bahkan nenek moyang kita! Mungkin dg merasa dan menghayati bhw
kita semua adalah orang Indonesia, kita bisa bersama-sama membangun
negara dan bangsa kita yg terpuruk habis2-an ini.

Rukunlah dan Majulah bangsa-ku.

Gabriela Rantau

--- In zamanku@yahoogroups.com, "Hafsah Salim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> IndoCines = Indonesian Chinese Bukanlah Orang Cina
>
> Seharusnya bangsa negara Indonesia mau memahami perasaan sesama
> bangsanya juga sesama umat seagamanya untuk hal2 apa yang tidak
> disukai, hal2 yang dirasakannya sebagai penghinaan sebagai halnya
> penyebutan kata Cina untuk orang2 Indonesia Chinese.  Juga hal2 yang
> menyinggung sesama umat Islam seperti halnya umat Islam Ahmadiah
> dilarang mengaku Islam dan disebut sebagai Islam murtad dll.
>
> Penghinaan2 seperti ini tidak mungkin bertujuan mempersatukan
> melainkan memang bertujuan rasis, diskriminasi, untuk memecah belah,
> untuk menghina, dan untuk memancing permusuhan dan melestarikan
kebencian.
>
>
> > "Ferry Wardiman" ferrywar@ wrote:
> > Rekan Umbu dan rekan rekan yang lain,
> > Sebetulnya dalam arti kata "Cina", tidak ada
> > konotasi penghinaan. Dan tidak mungkin kata
> > "Cina" yang berasal dari kata dalam bahasa
> > Inggris "China" mengandung penghinaan karena
> > pemerintah Cina sendiri memakai kata "China"
> > untuk menunjuk negaranya.
>
>
> Masalah terhina atau tidak bukan mereka yang menyebutnya yang
> menentukan melainkan yang disebut itulah yang merasakan apakah itu
> penghinaan atau bukan.
>
> Sama saja kalo dikatakan Muhammad Pedophilia, mereka yang mengatakan
> tentu tidak merasa terhina dan menganggap kenyataan itu bukanlah
> penghinaan.  Sebaliknya mereka yang percaya justru naik pitam
> menganggapnya sebagai penghinaan.
>
> Tidak berbeda dengan Islam Ahmadiah, sudah dibakari mesjidnya,
> dijarahi harta benda umatnya, dihina habis2an agamanya, malahan
> dituduh oleh MUI dan FPI-nya sebagai menghina Islam, padahal yang
> dihina Islamnya itu justru Umat Ahmadiah.  Beginilah caranya memutar
> balik antara yang dihina dan penghina.
>
> Oleh karena itu saya selalu mengatakan, janganlah melakukan hal2 yang
> kita tahu orang lain tidak senang, bukan malah disuruh memahaminya,
> disuruh memahami Islam, disuruh mendalami Quran, disuruh baca Quran
> jangan setengah2 tetapi keseluruhannya.  Bego bukan ???
>
> Lhooo.... kalo mau main kayak begitu saya kira baik China maupun
> Amerika pun mampu lebih gila daripada begitu bukan ???
>
> Memang betul negara China menamakan negerinya China dalam bahasa
> Inggris, tapi dalam bahasa China sendiri tidak disebutnya China.
>
> Namun China tidak sama dengan Cina meskipun kelihatannya hampir sama.
>  Karena China dalam bahasa Inggris bukan penghinaan, sebaliknya Cina
> itu bukanlah bahasa Inggris melainkan bahasa Indonesia yang artinya
> penghinaan.
>
> Kembali kepada tujuannya, kalo memang mau memecah belah dan cari
> musuh, teruskan saja, tapi kalo mau persatuan dan kedamaian, maka stop
> saja kembali kepada mereka yang disebut maunya disebut bagaimana,
> apakah Tionghoa bisa dianggap cukup baik???
>
> Orang Tionghoa di Indonesia karena sudah warganegara Indonesia
> seharusnya disebut jelas sebagai Tionghoa Indonesia.  Jelasnya, orang
> Tionghoa itu bukan cuma warganegara Indonesia saja, tapi ada yang
> warganegaraa Singapore, China, Taiwan, Thailand, Filipine, juga ada
> yang warganegara Jepang dan Korea.
>
> Tionghoa yang warganegara Singapore bisa disebut sebagai Singapore
> Chinese.
>
> Tionghoa yang warganegara Taiwan malah disebut sebagai Taiwanese.
>
> Apakah Tionghoa warganegara Indonesia tidak sebaiknya disebut sebagai
> IndoCines ?????
>
> Kata Tionghoa itu sendiri asalnya dari bahasa China: Chunghua yang
> artinya Chung = tengah (negeri tengah), Hua = orang/penduduk.
>
> Dari asal kata diatas, maka orang Tionghoa yang warganegara Indonesia
> tidaklah mungkin bisa disebut sebagai Tionghoa, juga tidak mungkin
> disebut Cina karena memang mereka bukan warganegara Cina, juga tidak
> mungkin disebut China karena memang mereka bukan warga China.
>
> Mereka adalah warganegara Indonesia, mereka adalah bangsa Indonesia,
> mereka adalah berbahasa Indonesia.  Seharusnya tidak boleh disebut
> Tionghoa, tidak boleh disebut Cina, tidak boleh disebut China, tidak
> boleh disebut Chunghua.
>
> Yang tepat adalah sbb:
> Tionghoa Indonesia
> Indonesia keturunan Tionghoa
> Indonesia Chinese
> Cina-Indonesia
> Atau yang saya usulkan adalah IndoCines.
>
> Ny. Muslim binti Muskitawati.
>

Kirim email ke