Nikah Mut'ah pernah diijinkan oleh Nabi, tetapi lantas di haramkan untuk 
selamanya :
 
Dalil hadits yang mengaramkan antara lain adalah:
Dari Ibnu Majah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Wahai manusia, dahulu aku 
mengizinkan kamu nikah mut'ah. Ketahuilah bahwa Allah SWT telah mengharamkannya 
sampai hari kiamat." (HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).
 
Dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah SAW telah mengharamkan nikah 
mut'ah dengan wanita pada perang Khaibar dan makan himar ahliyah. (HR Bukhari 
dan Muslim).
 
Hadits ini diriwayatkan oleh dua tokoh besar dalam dunia hadits, yaitu 
Al-Bukhari dan Muslim. Mereka yang mengingkari keshahihahn riwayat dua tokoh 
ini tentu harus berhadapan dengan seluruh umat Islam.
 
Bahkan sanad pertamanya langsung dari Ali bin Abi Thalib sendiri. Sehingga 
kalau ada kelompok yang mengaku menjadi pengikut Ali ra tapi menghalalkannya, 
maka dia telah menginjak-injak hadits Ali bin Abi Thalib.
 
Al-Baihaqi menukil riwayat dari Ja'far bin Muhammad bahwa beliau ditanya 
tentang nikah Mut'ah. Jawabannya adalah bahwa nikah Mut'ah itu adalah zina.
 
Tujuan nikah mut'ah bukan membangun rumah tangga sakinah, melainkan semata-mata 
mengumbar hawa nafsu dengan imbalan uang.
 
Apalagi bila dikaitkan bahwa tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan 
keturunan yang shalih dan shalihat. Semua itu jelas tidak akan tercapai 
lantararan nikah mut'ah memang tidak pernah bertujuan untuk mendapatkan 
keturunan. Tetapi untuk sekedar kenikmatan seksual sesaat.
 
Tidak pernah terbersit dalam benak pelaku nikah untuk nantinya punya keturunan 
daripernikahan seperti itu. Bahkan ketika dahulu sempat dihalalkan di masa Nabi 
yang kemudian segera diharamkan, para shahabat pun tidak pernah berniat 
membentuk rumah tangga dari pernikahan itu.
 
Ungkapan bahwa nikah mut'ah itu adalah zina dibenarkan oleh Ibnu Umar. Dan 
sebagai sebuah kemungkaran, pelaku nikah mut'ah diancam dengan hukum rajam, 
karena tidak ada bedanya dengan zina.
 
Salam,


--- On Tue, 9/23/08, ttbnice <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: ttbnice <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [zamanku] Re: Pelacuran yang islami
To: zamanku@yahoogroups.com
Date: Tuesday, September 23, 2008, 5:17 AM






Rekan2 Islam kudu nerangin, apa bener sinyalir di bawah? Kalo bener
maka ini merupakan penipuan berkedok agama. Jika resmi dari agama,
artinya ini adalah agama yang palsu.

--- In [EMAIL PROTECTED] .com, "Ibrahim Y. Syihab" <dakwah_umat@ ...>
wrote:
>
> 
> 
> Menurut rekan-rekan islam, ajaran berikut ini kira-kira berasal
> dari Tuhan atau setan? 
> 
>  
> 
> Nikah mut¢ah = Pelacuran yang dihalalkan oleh islam 
> 
>  
> 
> Dalam nikah mut'ah tidak ada batas minimal mengenai kesepakatan
> waktu berlangsungnya mut'ah. Jadi boleh saja bersepakat nikah mut'ah
dalam
> jangka waktu satu malam, satu hari, satu minggu, satu bulan, atau
satu tahun. 
> 
>  
> 
> Dari Khalaf bin Hammad dia berkata aku mengutus seseorang untuk
> bertanya pada Abu Hasan tentang batas minimal jangka waktu mut'ah?
Apakah
> diperbolehkan mut'ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali
hubungan suami
> istri? Jawabnya : ya. 
> 
>  
> 
> Orang yang melakukan nikah mut'ah diperbolehkan melakukan apa saja
> layaknya suami istri dalam pernikahan yang lazim dikenal dalam
Islam, sampai
> habis waktu yang disepakati. Jika waktu yang disepakati telah habis,
mereka
> berdua tidak menjadi suami istri lagi, alias bukan mahram yang haram
dipandang,
> disentuh dan lain sebagainya. Bagaimana jika terjadi kesepakatan
mut'ah atas
> sekali hubungan suami istri? Yang mana setelah berhubungan layaknya
suami istri
> mereka sudah bukan suami istri lagi, yang mana berlaku hukum
hubungan pria
> wanita yang bukan mahram? Tentunya diperlukan waktu untuk berbenah
sebelum
> keduanya pergi. 
> 
>  
> 
> Dari Abu Abdillah, ditanya tentang orang nikah mut'ah dengan
> jangka waktu sekali hubungan suami istri. Jawabnya : " tidak mengapa,
> tetapi jika selesai berhubungan hendaknya memalingkan wajahnya dan tidak
> melihat pasangannya" . 
> 
>  
> 
> Nikah mut'ah berkali-kali tanpa batas = Ngelonte berkali-kali yang
> dihalalkan auloh setan. 
> 
>  
> 
> Diperbolehkan nikah mut'ah dengan seorang wanita berkali-kali
> tanpa batas, tidak seperti pernikahan yang lazim, yang mana jika
seorang wanita
> telah ditalak tiga maka harus menikah dengan laki-laki lain dulu sebelum
> dibolehkan menikah kembali dengan suami pertama. Hal ini seperti
diterangkan
> oleh Abu Ja'far, Imam Syiah yang ke empat, karena wanita mut'ah
bukannya istri,
> tapi wanita sewaan. Disini dipergunakan analogi sewaan, yang mana
seseorang
> diperbolehkan menyewa sesuatu dan mengembalikannya lalu menyewa lagi dan
> mengembalikannya berulang kali tanpa batas. 
> 
>  
> 
> Dari Zurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Ja'far, seorang
> laki-laki nikah mut'ah dengan seorang wanita dan habis masa
mut'ahnya lalu dia
> dinikahi oleh orang lain hingga selesai masa mut'ahnya, lalu nikah
mut'ah lagi
> dengan laki-laki yang pertama hingga selesai masa mut'ahnya tiga
kali dan nikah
> mut'ah lagi dengan 3 lakii-laki apakah masih boleh menikah dengan
laki-laki
> pertama? Jawab Abu Ja'far : ya dibolehkan menikah mut'ah berapa kali
sekehendaknya,
> karena wanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mut'ah adalah
wanita
> sewaan, seperti budak sahaya. 
> 
>  
> 
> Wanita mut'ah diberi mahar sesuai jumlah hari yang disepakati =
> bayaran ngelonte yang dihalalkan auloh setan. 
> 
>  
> 
> Wanita yang dinikah mut'ah mendapatkan bagian maharnya sesuai
> dengan hari yang disepakati. Jika ternyata wanita itu pergi maka
boleh menahan
> maharnya. 
> 
>  
> 
> Dari Umar bin Handholah dia bertanya pada Abu Abdullah : aku nikah
> mut'ah dengan seorang wanita selama sebulan lalu aku tidak
memberinya sebagian
> dari mahar, jawabnya : ya, ambillah mahar bagian yang dia tidak
datang, jika
> setengah bulan maka ambillah setengah mahar, jika sepertiga bulan
maka ambillah
> sepertiga maharnya. 
> 
>  
> 
> Jika ternyata wanita yang dimut'ah telah bersuami ataupun seorang
> pelacur, maka mut'ah tidak terputus dengan sendirinya. 
> 
>  
> 
> Jika seorang pria hendak melamar seorang wanita untuk menikah
> mut'ah dan bertanya tentang statusnya, maka harus percaya pada
pengakuan wanita
> itu. Jika ternyata wanita itu berbohong, dengan mengatakan bahwa dia
adalah
> gadis tapi ternyata telah bersuami maka menjadi tanggung jawab
wanita tadi. 
> 
>  
> 
> Dari Aban bin Taghlab berkata: aku bertanya pada Abu Abdullah, aku
> sedang berada di jalan lalu aku melihat seorang wanita cantik dan
aku takut
> jangan-jangan dia telah bersuami atau pelacur. Jawabnya: ini bukan
urusanmu,
> percayalah pada pengakuannya. 
> 
>  
> 
> Ayatollah Ali Al Sistani berkata : 
> 
>  
> 
> Masalah 260 : dianjurkan nikah mut'ah dengan wanita beriman yang
> baik-baik dan bertanya tentang statusnya, apakah dia bersuami
ataukah tidak.
> Tapi setelah menikah maka tidak dianjurkan bertanya tentang statusnya.
> Mengetahui status seorang wanita dalam nikah mut'ah bukanlah syarat
sahnya
> nikah mut'ah[79]. 
> 
>  
> 
> ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
> 
> 
> ---- Ibrahim Yohannes Syihab ----
> Saya meninggalkan ajaran setan yang nyaru bernama auloh, karena
terbukti auloh itu adalah setannya orang arab. 
> 
> Kunjungi: www.indonesia. faithfreedom. org
> 
> http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/
>

 














      

Kirim email ke