Menurut rekan-rekan islam, ajaran berikut ini kira-kira berasal
dari Tuhan atau setan?



Nikah mut’ah = Pelacuran yang dihalalkan oleh islam



Dalam nikah mut'ah tidak ada batas minimal mengenai kesepakatan
waktu berlangsungnya mut'ah. Jadi boleh saja bersepakat nikah mut'ah dalam
jangka waktu satu malam, satu hari, satu minggu, satu bulan, atau satu tahun.



Dari Khalaf bin Hammad dia berkata aku mengutus seseorang untuk
bertanya pada Abu Hasan tentang batas minimal jangka waktu mut'ah? Apakah
diperbolehkan mut'ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan suami
istri? Jawabnya : ya.



Orang yang melakukan nikah mut'ah diperbolehkan melakukan apa saja
layaknya suami istri dalam pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam, sampai
habis waktu yang disepakati. Jika waktu yang disepakati telah habis, mereka
berdua tidak menjadi suami istri lagi, alias bukan mahram yang haram dipandang,
disentuh dan lain sebagainya. Bagaimana jika terjadi kesepakatan mut'ah atas
sekali hubungan suami istri? Yang mana setelah berhubungan layaknya suami istri
mereka sudah bukan suami istri lagi, yang mana berlaku hukum hubungan pria
wanita yang bukan mahram? Tentunya diperlukan waktu untuk berbenah sebelum
keduanya pergi.



Dari Abu Abdillah, ditanya tentang orang nikah mut'ah dengan
jangka waktu sekali hubungan suami istri. Jawabnya : " tidak mengapa,
tetapi jika selesai berhubungan hendaknya memalingkan wajahnya dan tidak
melihat pasangannya".



Nikah mut'ah berkali-kali tanpa batas = Ngelonte berkali-kali yang
dihalalkan auloh setan.



Diperbolehkan nikah mut'ah dengan seorang wanita berkali-kali
tanpa batas, tidak seperti pernikahan yang lazim, yang mana jika seorang wanita
telah ditalak tiga maka harus menikah dengan laki-laki lain dulu sebelum
dibolehkan menikah kembali dengan suami pertama. Hal ini seperti diterangkan
oleh Abu Ja'far, Imam Syiah yang ke empat, karena wanita mut'ah bukannya istri,
tapi wanita sewaan. Disini dipergunakan analogi sewaan, yang mana seseorang
diperbolehkan menyewa sesuatu dan mengembalikannya lalu menyewa lagi dan
mengembalikannya berulang kali tanpa batas.



Dari Zurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Ja'far, seorang
laki-laki nikah mut'ah dengan seorang wanita dan habis masa mut'ahnya lalu dia
dinikahi oleh orang lain hingga selesai masa mut'ahnya, lalu nikah mut'ah lagi
dengan laki-laki yang pertama hingga selesai masa mut'ahnya tiga kali dan nikah
mut'ah lagi dengan 3 lakii-laki apakah masih boleh menikah dengan laki-laki
pertama? Jawab Abu Ja'far : ya dibolehkan menikah mut'ah berapa kali 
sekehendaknya,
karena wanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mut'ah adalah wanita
sewaan, seperti budak sahaya.



Wanita mut'ah diberi mahar sesuai jumlah hari yang disepakati =
bayaran ngelonte yang dihalalkan auloh setan.



Wanita yang dinikah mut'ah mendapatkan bagian maharnya sesuai
dengan hari yang disepakati. Jika ternyata wanita itu pergi maka boleh menahan
maharnya.



Dari Umar bin Handholah dia bertanya pada Abu Abdullah : aku nikah
mut'ah dengan seorang wanita selama sebulan lalu aku tidak memberinya sebagian
dari mahar, jawabnya : ya, ambillah mahar bagian yang dia tidak datang, jika
setengah bulan maka ambillah setengah mahar, jika sepertiga bulan maka ambillah
sepertiga maharnya.



Jika ternyata wanita yang dimut'ah telah bersuami ataupun seorang
pelacur, maka mut'ah tidak terputus dengan sendirinya.



Jika seorang pria hendak melamar seorang wanita untuk menikah
mut'ah dan bertanya tentang statusnya, maka harus percaya pada pengakuan wanita
itu. Jika ternyata wanita itu berbohong, dengan mengatakan bahwa dia adalah
gadis tapi ternyata telah bersuami maka menjadi tanggung jawab wanita tadi.



Dari Aban bin Taghlab berkata: aku bertanya pada Abu Abdullah, aku
sedang berada di jalan lalu aku melihat seorang wanita cantik dan aku takut
jangan-jangan dia telah bersuami atau pelacur. Jawabnya: ini bukan urusanmu,
percayalah pada pengakuannya.



Ayatollah Ali Al Sistani berkata :



Masalah 260 : dianjurkan nikah mut'ah dengan wanita beriman yang
baik-baik dan bertanya tentang statusnya, apakah dia bersuami ataukah tidak.
Tapi setelah menikah maka tidak dianjurkan bertanya tentang statusnya.
Mengetahui status seorang wanita dalam nikah mut'ah bukanlah syarat sahnya
nikah mut'ah[79].



---- Ibrahim Yohannes Syihab ----

Aku percaya bahwa auloh itu adalah setan, dan muhammad adalah utusan setan.

Kunjungi: www.indonesia.faithfreedom.org




      

Kirim email ke