PERISTIWA BERSEJARAH!
 
Dubes Belanda akan hadir di Peringatan Peristiwa Pembantaian di Rawagede, 9 
Desember 2008
 
Untuk memperingati peristiwa pembantaian di Rawagede yang terjadi pada 9 
Desember 1947, Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) bersama Pemerintah 
Kabupaten Karawang dan Yayasan Rawagede akan menyelenggarakan acara Peringatan 
61 Tahun Peristiwa Pembantaian di Rawagede, yang akan dilaksanakan pada:
 
Hari/tanggal               : Selasa, 9 Desember 2008
Tempat                       : Monumen Rawagede, Desa Balongsari,
                                      Kecamatan  Rawamerta, Kabupaten
                                      Karawang, Jawa Barat.
Waktu                        : Pukul 10.00 – 12.00
 
Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Republik Indonesia, Dr. Nikolaos van Dam, 
telah mengkonfirmasikan kehadirannya, dan akan memberikan sambutan.
Ini untuk pertamakalinya pejabat tertinggi perwakilan Belanda di Indonesia 
hadir pada acara peringatan peristiwa kekejaman tentara Belanda di Indonesia 
antara tahun 1946 – 1949, selama agresi militer yang dilancarkan oleh Belanda 
dalam upaya menjajah kembali Indonesia, setelah bangsa Indonesia menyatakan 
kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Pada 9 Desember 1947, tentara Belanda membantai 431 penduduk desa, semua 
laki-laki di atas usia 15 tahun,
 
U N D A N G A N
 
Bagi pers dan pecinta sejarah yang berminat untuk menghadiri acara tersebut, 
kami menyediakan bis (pakai AC). 
 
Jadwal :
 
06.30 : Berkumpul di halaman parkir Gedung Joang ’45, Jl. Menteng Raya 
             31, Jakarta Pusat.
07.00  : Berangkat dari Gedung Joang ’45, Jakarta
10.00  : Acara di Rawagede dimulai
12.00  : Makan siang (disediakan oleh Panitia)
13.00  : Berangkat dari Rawagede
15.30  : Tiba di Jakarta (kalau tidak macet)
 
Mengingat keterbatasan tempat, mohon mendaftarkan diri ke:

Purwanto (Sekretaris KUKB), 0812 – 26715699, atau
Batara (Ketua KUKB), 0852 – 86007458
  
Salam,
 
Batara R Hutagalung
==========================
 
Latar belakang kehadiran Duta Besar Belanda
Pada 18 November 2008, di Tweede Kamer (parlemen Belanda) dibahas mosi (usulan) 
yang dimajukan oleh Harry van Bommel, anggota parlemen Belanda dari Partai 
Sosialis, yang isinya mendesak pemerintah Belanda untuk mengutus Duta Besar 
Kerajaan Belanda untuk Republik Indonesia menghadiri acara Peringatan Peristiwa 
Pembantaian di Rawagede 9 Desember 1947, yang akan dilaksanakan pada 9 Desember 
2008 di Monumen Rawagede, Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten 
Karawang.
Hasilnya, mayoritas anggota parlemen menerima usulan tersebut sebagai keputusan 
Parlemen Belanda. Hari itu juga (di Jakarta pukul 23.30), Harry van Bommel 
menelepon Batara R Hutagalung, Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) 
dari Belanda guna menyampaikan berita yang sensasional tersebut.
“Ik zal het goede nieuws over het bezoek van de ambassadeur persoonlijk aan de 
vertegenwoordigers van de bevolking van Rawagadeh overbrengen”, aldus Van 
Bommel. (“Saya akan menyampaikan kabar baik tentang kunjungan Duta Besar 
tersebut secara pribadi kepada perwakilan dari penduduk Rawagede.“)
Setelah usulannya diterima, Van Bommel mengatakan: ”Ik ben heel blij dat de 
Kamer wil dat de hoogste vertegenwoordiger van de Nederlandse regering in 
Indonesië de herdenking bezoekt. Dit kan het langverwachte begin zijn van de 
erkenning van de misdaden die toen door Nederlandse militairen zijn gepleegd.”  
(“Saya sangat gembira karena parlemen menginginkan agar perwakilan tertinggi 
pemerintah Belanda di Indonesia menghadiri peringatan tersebut. Hal ini dapat 
menjadi awal yang telah lama dinantikan, dari pengakuan atas 
kejahatan-kejahatan yang dilakukan militer Belanda pada saat itu.”). Teks 
lengkap lihat di bawah ini.
Pada 9 Desember 1947, tentara Belanda membunuh 431 penduduk desa Rawagede (kini 
bernama Balongsari) –semua laki-laki di atas 15 tahun- dalam operasi militer 
mencari Kapten TNI Lukas Kustario, yang mereka duga berada di desa tersebut. 
Para petani tersebut ditembak mati dengan menggunakan metode eksekusi di tempat 
(standrechtelijke excecuties), yang digunakan oleh Raymond Westerling di 
Sulawesi Selatan, 11 Desember 1946 – 21 Februari 1947.
 
KUKB segera mengirim undangan resmi kepada Duta Besar Belanda Untuk Republik 
Indonesia. Dari sekretaris Duta Besar Belanda, KUKB memperoleh jawaban, bahwa 
Duta Besar Dr. Nikolaos van Dam akan hadir pada peringatan tersebut. Hal ini 
tentu merupakan suatu peristiwa bersejarah, karena untuk pertamakalinya 
pimpinan tertinggi perwakilan Belanda –yang merupakan wakil pemerintah Belanda- 
di Republik Indonesia menghadiri acara peringatan peristiwa kejahatan perang 
(war crime) dan kejahatan atas kemanusiaan (crime against humanity) yang 
dilakukan oleh tentara Belanda di Indonesia selama agresi militer yang 
dilancarkan oleh Belanda antara tahun 1946 – 1949, dalam upaya Belanda menjajah 
kembali bangsa Indonesia, setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya 
pada 17 Agustus 1945.
Selama 60 tahun, pemerintah Belanda –dibantu oleh pemerintah Indonesia dan 
banyak sejarawan Indonesia-  berusaha menutup-tutupi masa lalu yang hitam dalam 
sejarah Belanda. Namun justru banyak kalangan di Belanda, termasuk kini 
parlemen Belanda mendesak pemerintah Belanda untuk mengakui kesalahan di masa 
lalu dan meminta maf serta memberikan ganti rugi atas kerusakan yang 
ditimbulkan oleh agresi militer Belanda tersebut.
 
Pada 17 Agustus 2005, Menlu (waktu itu) Ben Bot hadir dalam peringatan 
Proklamasi Kemerdekaan RI di Jakarta. Ini untuk pertama kalinya seorang menteri 
cabinet Belanda hadir dalam acara 17 Agustus di Jakarta. 
Dalam sambutannya di Jakarta pada 16 Agustus 2005, Menlu Belanda Ben Bot 
mengakui bahwa: “In retrospect, it is clear that its large-scale deployment of 
military forces in 1947 put the Netherlands on the wrong side of history.” 
Namun setelah itu, tidak ada tindaklanjut atau konsekwensi dari ucapannya 
tersebut.
Selain itu, Ben Bot juga mengatakan, bahwa kini pemeintah Belanda menerima 
proklamasi 17 agustus 1945 secara moral dan politik, atau hanya  menerima de 
facto, dan tidak mengakui de iure (secara yuridis). Hal ini tentu sangat 
mengejutkan, bahwa hingga 17 Agustua 2005, ternyata di mata pemerintah Belanda 
Republik Indonesia tidak eksis sama sekali. Ben Bot dalam wawancara di Metro TV 
pada 18 Agustus 2005 mengatakan, bahwa pengakuan yuridis telah diberikan akhit 
tahun 1949 (27 Desember 1947), yaitu kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). 
RIS sendiri telah dibubarkan pada 16 Agustus 1950.
Kebijakan yang menempatkan Belanda pada “sisi yang salah dari sejarah”, telah 
memakan banyak korban di kedua belah pihak, terutama di pihak Indonesia.
Salah satu “ladang pembantaian” yang dilakukan oleh tentara Belanda adalah di 
Desa Rawagede (kini bernama Balongsari). Bagi yang berminat untuk mengetahui 
mengenai pembantaian di Rawagede, 9 Desember 1947, lihat: 
http://batarahutagalung.blogspot.com/2006/08/pembantaian-di-rawagede-9-desember.html
 
=====================================================
 
http://www.sp.nl/wereld/nieuwsberichten/6208/081118-ambassadeur_naar_herdenking_bloedbad_in_rawagadeh.html
Ambassadeur naar herdenking bloedbad in Rawagadeh
18-11-2008 • Een meerderheid van de Tweede Kamer heeft ingestemd met het 
voorstel van SP-Kamerlid Van Bommel om de Nederlandse ambassadeur naar de 
herdenking van de massamoord in het Indonesische plaatsje Rawagadeh te sturen. 
Van Bommel: ”Ik ben heel blij dat de Kamer wil dat de hoogste vertegenwoordiger 
van de Nederlandse regering in Indonesië de herdenking bezoekt. Dit kan het 
langverwachte begin zijn van de erkenning van de misdaden die toen door 
Nederlandse militairen zijn gepleegd.” 
De herdenking in Rawagedeh, een klein plaatsje op Java, vindt plaats op 9 
december. Op die dag in 1947 vermoordden Nederlandse troepen daar ruim 
vierhonderd mensen uit wraak omdat zij een Indonesische strijder niet konden 
vinden in het dorp. Op dit moment is nog een kleine groep nabestaanden van 
slachtoffers en één overlevende van het drama in leven. Ze vragen om erkenning 
van de misdaden van toen en om verzoening nu. Zij hebben aangedrongen op 
aanwezigheid van een hoge vertegenwoordiger uit Nederland op hun herdenking en 
zien dit als belangrijke stap in het proces van verzoening. De Nederlandse 
regering is in dit proces zeer terughoudend geweest tot nu toe. Pas in 2007, 
zestig jaar na de feiten, werd een laaggeplaatste ambtenaar naar de bijeenkomst 
gestuurd. 
Van Bommel hoopt dat naast de ambassadeur ook de Nederlandse veteranen, die 
toentertijd verplicht waren in Indonesië te vechten, de uitgestoken hand van de 
bevolking aannemen en dat sommigen van hen naar de herdenking in Rawagadeh 
gaan. “Ik zal het goede nieuws over het bezoek van de ambassadeur persoonlijk 
aan de vertegenwoordigers van de bevolking van Rawagadeh overbrengen”, aldus 
Van Bommel. 
=================================
Terjemahannya (Oleh Sarah Sayekti):
Mayoritas (lihat catatan di bawah) anggota parlemen Belanda sepakat dengan 
usulan anggota parlemen dari partai Sosialis (SP), van Bommel untuk mengutus 
Duta Besar Kerajaan Belanda ke peringatan peristiwa pembantaian massal di 
Rawagede. Van Bommel: “Saya sangat gembira karena parlemen menginginkan agar 
perwakilan tertinggi pemerintah Belanda di Indonesia menghadiri peringatan 
tersebut. Hal ini dapat menjadi awal yang telah lama dinantikan, dari pengakuan 
atas kejahatan-kejahatan yang dilakukan militer Belanda pada saat itu.” 
Peringatan di Rawagede, sebuah tempat kecil di pulau Jawa, akan dilaksanakan 
pada tanggal 9 Desember. Di hari itu pada tahun 1947 pasukan Belanda membunuh 
sekitar empat ratus orang sebagai balas dendam karena mereka tidak dapat 
menemukan seorang pejuang Indonesia di desa itu. Saat ini hanya ada sekelompok 
kecil ahli waris dari para korban dan seorang saksi hidup dari peristiwa 
tersebut yang masih hidup. Mereka menuntut pengakuan atas berbagai tindakan 
kejahatan dari masa lalu dan perdamaian untuk saat ini. Mereka mendesak 
perwakilan tertinggi Belanda untuk hadir dalam peringatan dan memandang hal ini 
sebagai langkah penting dalam proses perdamaian. Pemerintah Belanda sangat 
tertutup dalam proses ini hingga saat ini. Pada tahun 2007, enam puluh tahun 
setelah peristiwa, seorang pegawai rendahan diutus untuk menghadiri pertemuan 
tersebut. 
Van Bommel berharap bahwa selain Duta Besar, anggota veteran Belanda yang pada 
saat itu sebagai wajib militer ikut berperang di Indonesia, akan menerima 
uluran tangan masyarakat dan bahwa sebagian dari mereka akan datang ke 
peringatan di Rawagede. “Saya akan menyampaikan kabar baik tentang kunjungan 
Duta Besar tersebut secara pribadi kepada perwakilan dari penduduk Rawagede. “
 
Catatan:
Harry van Bommel memberi keterangan mengenai partai yang mendukung dan yang 
tidak mendukung mosi yang disampaikannya di parlemen sebagai berikut:
Yang mendukung mosi adalah:
Partai van de Arbeid (PvdA)/Partai Buruh, partai koalisi di pemerintah – 33 
kursi
Christen Unie (CU), partai koalisi di pemerintah – 6 kursi
Socialistische Partij (SP), oposisi – 25 kursi
Groen Links (GL)/Hijau-Kiri, oposisi – 7 kursi
Democraten 66 (D66) oposisi – 3 kursi
Partij voor de dieren (PvdD)/Partai Penyayang Hewan – oposisi – 2 kursi
Jumlah: 76 kursi
 
Yang menolak mosi adalah:
Christen Democratisch Appel (CDA) partai koalisi di pemerintah - 41 kursi
Volkspartij voor Vrijheid en Democratie (VVD), oposisi – 21 kursi
Partij voor de Vrijheid (PVV), oposisi – 9 kursi
Staatkundig Gereformeerde Partij, oposisi – 2 kursi
Verdonk, oposisi – 1 kursi
Jumlah: 74 kursi
 
http://www.tweedekamer.nl/images/18-11-2008_tcm118-176070.pdf
TWEEDE KAMER DER STATEN-GENERAAL
STEMMINGSUITSLAGEN
Dit bestand bevat de stemmingsuitslagen van de stemmingen in de Tweede Kamer. 
Onder elke
pagina is een legenda opgenomen met een verklaring van de gebruikte 
afkortingen. Bij
amendementen die uit meer onderdelen bestaan is de uitslag alleen bij het 
eerste onderdeel vermeld.
Indien de stemmen staken komt dit tot uiting door het opnemen van de in dat 
geval geconstateerde
stemverhouding.
 
18 november 2008
31 700-V, nr. 31 -de motie-Van Bommel over de aanwezigheid van de Nederlandse
ambassadeur op de herdenking in Rawagade  A (A = Aangenomen)
 
 
 
 


      

Kirim email ke