Saya akan mencoba berbagi pendapat dengan Mas Kencana, pemikiran saya
berbeda, tapi saya tetap menghargai keyakinan mas Kencana. 

1. Tuhan umat Hindu itu sebenarnya bagaimana wujudnya? sekarang
bagaimana keadaannya? Di mana? 
Tuhan dalam Islam (yang saya yakini) sengaja tidak menampakkan diri.
Tapi melalui ciptaanNya Dia menyuruh makhlukNya (manusia & jin)
percaya kalam2Nya yang di ilhamkan lewat para nabi dan rosulNya.
Sebelum orang percaya akan ajaran dlm kitab2Nya, kita terlebih dulu
lihat siapa yang bawa kalam (ayat2 tersebut). Intinya kita kita harus
tau sejarah rosulNya juga (Nabi Muhammad dan pendahulunya). Sengaja di
pilih orang yang sudah dikenal jujur di kalangan umat di jamannya. Dan
kita dilarang atau tepatnya diingatkan untuk tidak membayangkan wujud
Tuhan (Allah) karena kita tidak akan pernah mampu, jadi percumah saja
mau membandingkan Allah dengan apa yang pernah kita lihat (bayangkan).
Nah inilah bentuk Ke-Maha-Kuasaan Allah, bahwa kita tidak akan pernah
mampu membayangkan seperti apa Allah itu, kecuali Dia akan
memperlihatkan diri nanti di akhir peradaban (hari akhir yang dijanjikan).

2. Seperti kita mengucapkan ijab kabul, harus ada saksi bahwa kita
masuk Islam, sifatnya legalitas secara hukum bahwa kita sudah masuk
Islam, untuk yang beragama Islam dari lahir ya ga perlu lagi. Hanya
yakin dalam hati dan perbuatan tdk perlu diucapkan. Menyebut nama
Muhammad sangat berkaitan erat dengan kitab Al-Qur'an yang di 'bawa'
sama beliau. Karena Al-Qur'an diturunkan lewat beliau, makanya kita
sebut nama Muhammad.

3. Kiblat itu hanya sebagai arah, contoh kalo kita rapat di aula biar
kita teratur dalam berposisi. Sholat itu cerminan kita dalam bejamaah
(bervisi dalam misi) jadi harus searah dan satu tujuan. Dan ini hanya
ada dalam Islam. Perintah sholat langsung dari Allah, jadi kenapa kita
sholat, bagaimana kita sholat, kapan kita sholat, kita ikuti
aturanNya. Dan setelah di teliti banyak hikmah yang Saya bisa ambil.
Kita bisa sholat menghadap manapun dalam posisi tidak memungkinkan,
jadi arah kiblat itu tidak mutlak, tapi kalo kita jamaah dan arahnya
jelas, ya kenapa kita ambil arah yang lain? Salah satu kikmahnya
adalah kita akhirnya belajar ilmu astronomi. Perintah untuk sholat pun
"Dirikanlah sholat" bukan "lakukan sholat" atau "tunaikan sholat",
artinya kita selain melakukan sholat dengan gerak yg sudah ditentukan,
kita juga mengaplikasikan sholat dalam kehidupan berjamaah di
kehidupan sehari2, yaitu ada imam (pemimpin), ada makmum (jamaah), ada
"amiiin" ketika imam baca surat Fatihah yang artinya makmum meng-amini
imam, dan lain2..

4. Haji, ibadah wajib hanya untuk yang kuasa (mampu) menjalankannya.
Disini ada pertemuan (silaturahiim) tahunan bagi sesama muslim di
seluruh dunia, untuk mengingat sejarah para nabi sebelum Nabi
Muhammad. Juga sebagai wujud syukur dari rejeki yang telah di terima.
Bagi yang sudah pernah berhaji, sebagian besar dr mereka memiliki
cerita yang bisa membangkitkan semangat untuk kembali ke sana.
"SubhanaLLAH Nikmatnya", kata mereka.

5. Saya terbalik memahami Jilbab, justru itu untuk melindungi martabat
mereka kaum hawa. Allah yang menciptakan laki2 dan perempuan, jadi
Allah tau potensi yang ada pada diri laki2 (baik yang beriman maupun
tidak). Kalo aurat (laki2/wanita) dipertontonkan, bisa mengundang
syahwat. Munafik kalo kita ga terpengaruh dengan hal itu. Nah makanya
Allah menyuruh kita untuk "menahan pandangan" disamping "menutup aurat".

6. Tidak harus menutup seperti baju di arab, tapi yang penting
menutupi bentuk tubuh kita (laki2&wanita), berpakaian tertutup
sewajarnya saja kalo tidak 'sreg' dengan cadar/gamis. Saya ga munafik,
kalo ada wanita dengan bentuk tubuh yang mulus, paha terbuka, lengan
terbuka, maaf imaginasi saya pun dangdutan... Nah jadi siapa yang
salah kalo akhirnya saya curi2 pandang, dan syahwat saya berdendang?

Karena sampai detik ini saya bisa mengerti ajaran Islam, jadi saya
belum memiliki alesan untuk pindah keyakinan... Itulah sedikit sharing
dari apa yang saya pahami/yakini... 

Peace..
nur





--- In zamanku@yahoogroups.com, Kencana Parwata <kencanaparw...@...>
wrote:
>
> Jawaban ini sengaja saya ambil dari tulisan seorang sahabat yang
saya anggap seorang guru berfikir dan bertindak bagi saya. Namun demi
melindungi beliau terpaksa nama saya rahasiakan.Semoga beliau
mengijinkan saya menyebarkan tulisan beliau yang saya yakin adalah
buah fikiran cemerlang beliau.
> 
> 
> Saya dengan suka-rela dan senang hati akan menjadi penganut Islam, 
tanpa harus Anda ajak2, asalkan pikiran saya yang liberal-radikal
diberi  kebebasan dan mendapatkan jawaban2 rasional dan dapat diterima
akal sehat  atas beberapa "ajaran" keyakinan Islam berikut ini:
>  
> 1. Allah, Tuhan Yang Tidak Berwujud, dengan 99 sifat-Nya; salah satu
 sifat-Nya tersebut adalah Maha Kuasa. Pertanyaannya, dimana letak 
ke-Maha-Kuasa- an Tuhan versi Islam bila Tuhan-nya tidak bisa
Berwujud?  Berarti, salah satu sifat-Nya, yaitu Maha Kuasa, hilang
dong..? Tidak-kah  ini "meremehkan" Tuhan yang saya puja?
>  
> 2. Mengapa kalau saya akan jadi pemeluk Islam harus menyebutkan 
kalimat syahadat ke-dua "Muhammad adalah Rasul Allah", sementara nabi2
 versi Islam yang lain tidak (minta) disebut-sebut? Kok ego 
kekanak-kanakan, childish? Tidak-kah ini  "penjajahan ideologis" yang
mengekang  pikiran saya yang liberal-radikal?
>  
> 3. Karena filsafat dan teologi Islam butir 1 di atas, saat shalat 
tidak memakai bantuan visualisasi apa pun seperti pratima. Tapi
mengapa  harus menghadap kiblat ke ka'bah? Memang ada apa di
balik/dalam "batu  hitam" yang ada hajatul aswad-nya tersebut,
bolehkah saya  melihatnya? Tidak-kah ini "penjajahan ritual" untuk
saya berkomunikasi pada Tuhan?
>  
> 4. Mengapa saya harus pergi ke Arab untuk naik haji, sekali pun saya
 mampu? Tidak-kah ini semacam "penjajahan ekonomi" yang berlindung
pada jubah agama yang membuat  pemiskinan pada bumi pertiwi saya?
>  
> 5. Mengapa kaum wanita harus menutup aurat? Tidak-kah ini 
"penjajahan gender" yang merendahkan  martabat wanita, seolah-olah
wanita hanya dilihat sebagai obyek  libido-sexual semata? Hanya
se-rendah itukah penilaian ajaran yang Anda  anut pada wanita, padahal
Anda dilahirkan dari seorang wanita yang mulai,  seorang Ibu? 
>  
> 6. Kalau kaum wanita menutup aurat-nya harus memakai pakaian ala
Arab  yang disebut jilbab, tidak-kah ini bentuk "penjajahan budaya"
yang berlindung pada ayat2 dalil agama? Dan  wanita Indonesia penganut
Islam sekarang, disadari atau pun tidak, sedang  ramai2 menjajah
budaya diri dan bangsanya sendiri? Di mana letak harga  diri saya
sebagai bangsa Indonesia?
>  
> Karena sampai detik ini saya belum mendapat jawaban pencerahan yang
 sejalan dengan akal sehat saya atas pertanyaan2 di atas, jadi... saya
 tidak mau jadi penganut Islam. Bila saya paksakan diri saya, saya
khawatir  jadi pribadi yang neurotis-paranoid.
>  
> Dan.., saya dengan senang hati mau membantu teman2 penganut Islam 
untuk menjadi pengikut Sanathana Dharma (Hindu) sehingga mereka tumbuh
 jadi pribadi yang penuh welas asih dan beroleh kedamaian dan
kebahagiaan  di dunia dan alam rohani.
>  


Kirim email ke