Mari kita lanjutkan perang di Gaza sampai ada pemenangnya !!!  Padahal
khan Israel bukan cari menang, cuma mau melarang penyelundupan roket2,
senjata2, maupun amunisi yang digunakan untuk menembaki Israel dari
perbatasan.  Oleh karena itulah yang diserang oleh Israel justru
lubang2 rahasia tempat penyimpanan barang selundupan dan juga
menghancurkan terowongan2 rahasia yang digunakan untuk menyelundupkan
senjata2 tsb.

Namun sekarang Hamas menuntut gencatan senjata bukan menuntut damai,
mereka minta waktu untuk memperbaharui senjata2nya yang dihancurkan
oleh serangan2 Israel.  Lalu kalo Israel tidak mau kasih waktu,
bisakah Israel dianggap pihak yang kalah ???

Kalo Israel mau menang sebenarnya gampang, itu bantuan obat2an dan
makanan jangan dikasih masuk sama sekali sehingga rakyat miskin yang
kelaparan akan merebut makanan dari gudang2 makanan milik Hamas dan
Israel tak perlu menyerangnya lagi.

Dan kalo Israel melakukan blokade total maka Hamas teriak2 meminta
bantuan Internasional dan Israel ditekan secara politik untuk
mengendorkannya.

Yaaah.... menang kalah tak perlu dipikirin, yang penting bagaimana
terrorist itu bisa dihancurkan tanpa perlu terlalu banyak korban2
rakyat jelata.





--- In [email protected], Abdul Rohim <peduli_kla...@...> wrote:
>
> 
> 
> Siapa Pemenang di Gaza? 
> 
> Oleh Muhsin Labib *
> 
> Terjadi perdebatan sengit di kalangan politisi serta media Arab dan
Palestina secara khusus seputar cara menentukan dan menilai hasil
perang tiga pekan yang dilancarkan Israel atas Jalur Gaza dari untung
dan rugi. Pendukung gerakan perlawanan mengaku sebagai pemenang.
> 
> Penentangnya di blok ''Arab moderat'', termasuk pejabat pro-Presiden
Mahmud Abbas di Ramallah, Tepi Barat, menganggapnya sebagai kekalahan
dengan menjadikan jumlah korban luka dan meninggal serta angka
kerugian material dan kerusakan bangunan dan infrastruktur sebagai
tolok ukur.
> 
> Pindah Isu 
> 
> Mari kita diskusikan dengan rasional, apalagi sejumlah fakta di
lapangan mulai muncul, setelah agresi Israel atas Gaza berhenti, meski
sementara. Fokus pindah ke isu-isu rekonstruksi, dana-dana yang telah
dianggarkan dan pihak manakah yang berhak melaksanakan tugas ini. 
> 
> Coba kita bersikap sebagai penentang gerakan perlawanan, Hamas.
Asumsikan secara dialetik bahwa Hamas tak menang. Bahwa kemenangannya
adalah kemenangan amat mahal, maka pertanyaannya, apakah Israel
pemenang dalam perang ini dan mencapai semua targetnya?
> 
> Berbagai pengalaman pertempuran yang silam mengajarkan kita bahwa
pemenang adalah yang mencapai target-targetnya dan memaksakan
syarat-syarat untuk menyerah terhadap pihak yang hanya punya opsi
menerima kekalahan terebut. Selanjutnya menandatangi dokumen tanpa
sedikit pun keberatan, sebagaimana dialami Iraq yang kalah pada perang
1991.
> 
> Lalu, apakah milisi-milisi perlawanan di Gaza mengalami
proses-proses kepecundangan seperti itu bila dianggap sebagai pihak
yang melemparkan handuk putih dan menerima syarat-syarat yang diajukan
pemenang?
> 
> Jawabannya tentu tidak. Hamas dan faksi-faksi perlawanan hingga
detik ini dengan lantang sesumbar untuk mempertahankan tanah dan
harkat rakyatnya dan sama sekali tidak meminta gencatan senjata sesuai
syarat-syarat yang diajukan Israel. 
> 
> Bukan hanya itu, Hamas dan faksi-faksi perlawanan menolak proposal
yang dirancang Mesir tanpa ragu-ragu, sehingga menyebabkan Israel
mengambil keputusan gencatan senjata sepihak dan menarik seluruh
pasukannya dari Gaza demi mengurangi kerugian-kerugian politik dan
militer.
> 
> Dapat dikatakan dengan tegas, Israel dalam agresi ini mengalami
kekalahan militer sekaligus kerugian politik. Jadi pecundang, meski
telah menciptakan kehancuran dan membunuh serta melukai ribuan warga.
> 
> Pertama, bila Israel memang pihak yang menang, mengapa mereka
mengemis ke masyarakat internasional agar mengirimkan kapal-kapal
perang guna mengawasi pantai Gaza dan buru-buru menandatangani
perjanjian keamanan dengan pemerintah AS demi menghalangi
penyelundupan senjata ke Gaza?
> 
> Kedua, jelas Israel memperlakukan Jalur Gaza dan faksi-faksi
perlawanan di dalamnya layaknya negara besar yang mengancam
keamanannya, yang memiliki kemampuan dahsyat kini dan mendatang, yang
bisa menjadi tantangan eksistensial bagi negara Israel.
> 
> Ketiga, mesin propaganda Israel secara masif mendramatisasi isu
terowongan Rafah. Hingga kini, Tel Aviv terus melakukan kontak
intensif dengan negara-negara besar dan Mesir demi memperkuat
langkah-langkah keamanan dan mengimpor teknologi mutakhir guna
melakukan misi ini.
> 
> Maka sebenarnya, bila Israel adalah sang pemenang dan faksi-faksi
perlawanan (dilukiskan sebagai) pecundang dan pihak yang kalah,
mengapa pasukan Israel tidak tetap menduduki lintasan Shalahuddin yang
dikenal dengan jalur Philadephia dan mengatasi masalah penyelundupan
ini tanpa meminta bantuan kepada pihak-pihak lain?
> 
> Keempat, galibnya, perang dilakukan demi meraih tujuan-tujuan
politik bagi mereka yang mengambil keputusan untuk melemparkan peluru
pertama dan mengerahkan tentara untuk memasuki medannya. 
> 
> Tak Mengubah Dominasi 
> 
> Lalu, apa tujuan politik yang diraih petinggi politik Israel dalam
agresi ini? Ia sama sekali tidak mengubah dominasi dan mengganti
kekuasaan Hamas di Gaza. Tidak juga mampu menghentikan tembakan roket
ke arah negaranya. Tidak pula berhasil menyerahkannya kepada pejabat
Palestina di Ramallah.
> 
> Kelima, semestinya porsi dan kontribusi pihak yang (mengaku) menang
dalam agresi ini menghiasi survei-survei dua pekan menjelang pemilu
Israel 10 Februari nanti. Namun, kenyataan menunjukkan kelompok kanan
Israel pimpinan Benjamin Netanyahu yang tidak ikut dalam agresi atas
Gaza malah melonjak (29 kursi hingga kini). 
> 
> Sebaliknya, porsi Partai Kadima pimpinan Menteri Luar Negeri Livni
menurun hingga 26 kursi. Sementara Ehud Barak, menteri pertahanan
Israel, hanya sibuk menghitung kursi-kursi yang tersisa untuk Partai
Buruh pimpinannya akibat agresi ini.
> 
> Sebaliknya, saat orang-orang Palestina sibuk menghitung jumlah
korban gugur, indikator-indikator menegaskan adanya perubahan tak
berarti dalam perjudian politiknya di dalam dan di luar Israel. 
> 
> Yang ingin menetapkan Israel sebagai pemenang adalah rezim-rezim
''poros moderat'', bukan rakyat Palestina, masyarakat dunia Islam yang
menjadi pemenang karena keteguhan faksi-faksi perlawanan. Bukan jutaan
massa di seluruh dunia yang turun ke jalan melakukan demonstrasi
solidaritas dengan warga Gaza sekaligus mengecam sikap diam pemimpin
mereka. 
> 
> Sikap itu menunjukkan adanya konspirasi andil rezim-rezim tersebut
dalam agresi ini karena semua memiliki kepentingan yang sama dengan
Israel. Yaitu, menumpas opsi perlawanan militer di tanah Palestina. 
> 
> Kita harus berterus terang bahwa faksi-faksi perlawanan dan pejuang
di Gaza tidak pernah berkata akan menaklukkan Tel Aviv, membebaskan
Masjid Al Aqsa, dan gereja-gereja Jerusalem yang dijajah. Apa yang
dikatakan dan menjadi slogannya adalah melawan agresi Israel dengan
segala daya dan upaya.
> 
> Itulah yang dilakukan secara menakjubkan. Belum pernah ada
sebelumnya sepanjang sejarah perang melawan pendudukan Israel, kecuali
dalam pertempuran heroik di perkemahan Jenin saat melawan agresi
Israel dengan tujuan yang sama pula.
> 
> *. Muhsin Labib, doktor filsafat, alumnus International Centre for
Islamic Studies, Iran; penulis buku ''Ahmadinejad: David di Tengah
Angkara Goliath'' dan ''Good Bye Bush'' 
>  
>  
> http://jawapos.com/
> 
>  
> http://media-klaten.blogspot.com/
>  
>  
>  
> salam
> Abdul Rohim
>


Kirim email ke