Benar bung !!

Yang kalah ada penduduk sipil yang tidak tahu apa apa.
Mereka yang menginginkan damai, tapi tidak sadar bahwa mereka telah 
dijadikan tameng hidup untuk sukses perjuangan sekelompok orang yang 
mengaku kepanjangan tangan Tuhan mereka untuk memerdekakan mereka.

Di lain sisi Negara penguasa yang sudah tidak tahan di panasi terus, 
yang tadinya berpikir jika menyerang maka akan kena warga sipil akhirnya 
menyerang.

Sebelum diserang HAMAS berkoar tidak takut dan akan menghancurkan Israel 
dan terus menggoda Israel dengan menembaki mereka. Tapi seperti biasa, 
ketika diserang maka HAMAS akan teriak teriak kepada dunia bahwa mereka 
dibantai.

sayang sekali penduduk sipil Palestina begitu bodoh untuk terus 
mendukung mereka, seperti ajaran mereka yang MEMUJA ULAMA, sekalipun 
mereka sesat.

Dan saat ini hal ini juga terjadi di Indonesia. Dan parahnya justru 
Dilegalkan oleh negara. Lihat saja apa yang dilakukan MUI, FPI dan 
laskar mujahidin.
Jika ini terus terjadi makan bukan tidak mungkin PERANG SIPIL BESAR 
TERBUKA akan terjadi diseluruh wilayah Indonesia.


wirajhana eka wrote:
>
> isu palestina, sekarang bukan masalah penting lagi..kalah menang bukan 
> hal penting.rakyat telah menjadi kormab komoditi agama dan politik 
> negara....jadi
>
> siapa yang menang? siapa yang kalah?
>
> tapi mau memenangkan apa kecuali nyawa yang terkapar dimedan perang ego
>
>
> 2009/2/15 edogawa2000 <edogawa2...@gmail.com 
> <mailto:edogawa2...@gmail.com>>
>
>     Tulisan tidak berimbang dan nyata bahwa memang sudah ada rasa
>     kebencian
>     akan musuh palestina.
>     Sayang sekali ada insan pers tidak dewasa seperti ini masuk ke dalam
>     editorial Jawa pos yang mengklaim media berimbang dan tidak memihak.
>
>     Abdul Rohim wrote:
>     >
>     >
>     > Siapa Pemenang di Gaza?
>     > Oleh Muhsin Labib *
>     >
>     > Terjadi perdebatan sengit di kalangan politisi serta media Arab dan
>     > Palestina secara khusus seputar cara menentukan dan menilai hasil
>     > perang tiga pekan yang dilancarkan Israel atas Jalur Gaza dari
>     untung
>     > dan rugi. Pendukung gerakan perlawanan mengaku sebagai pemenang.
>     >
>     > Penentangnya di blok ''Arab moderat'', termasuk pejabat
>     pro-Presiden
>     > Mahmud Abbas di Ramallah, Tepi Barat, menganggapnya sebagai
>     kekalahan
>     > dengan menjadikan jumlah korban luka dan meninggal serta angka
>     > kerugian material dan kerusakan bangunan dan infrastruktur sebagai
>     > tolok ukur.
>     >
>     > *Pindah Isu*
>     >
>     > Mari kita diskusikan dengan rasional, apalagi sejumlah fakta di
>     > lapangan mulai muncul, setelah agresi Israel atas Gaza berhenti,
>     meski
>     > sementara. Fokus pindah ke isu-isu rekonstruksi, dana-dana yang
>     telah
>     > dianggarkan dan pihak manakah yang berhak melaksanakan tugas ini.
>     >
>     > Coba kita bersikap sebagai penentang gerakan perlawanan, Hamas.
>     > Asumsikan secara dialetik bahwa Hamas tak menang. Bahwa
>     kemenangannya
>     > adalah kemenangan amat mahal, maka pertanyaannya, apakah Israel
>     > pemenang dalam perang ini dan mencapai semua targetnya?
>     >
>     > Berbagai pengalaman pertempuran yang silam mengajarkan kita bahwa
>     > pemenang adalah yang mencapai target-targetnya dan memaksakan
>     > syarat-syarat untuk menyerah terhadap pihak yang hanya punya opsi
>     > menerima kekalahan terebut. Selanjutnya menandatangi dokumen tanpa
>     > sedikit pun keberatan, sebagaimana dialami Iraq yang kalah pada
>     perang
>     > 1991.
>     >
>     > Lalu, apakah milisi-milisi perlawanan di Gaza mengalami
>     proses-proses
>     > kepecundangan seperti itu bila dianggap sebagai pihak yang
>     melemparkan
>     > handuk putih dan menerima syarat-syarat yang diajukan pemenang?
>     >
>     > Jawabannya tentu tidak. Hamas dan faksi-faksi perlawanan hingga
>     detik
>     > ini dengan lantang sesumbar untuk mempertahankan tanah dan harkat
>     > rakyatnya dan sama sekali tidak meminta gencatan senjata sesuai
>     > syarat-syarat yang diajukan Israel.
>     >
>     > Bukan hanya itu, Hamas dan faksi-faksi perlawanan menolak proposal
>     > yang dirancang Mesir tanpa ragu-ragu, sehingga menyebabkan Israel
>     > mengambil keputusan gencatan senjata sepihak dan menarik seluruh
>     > pasukannya dari Gaza demi mengurangi kerugian-kerugian politik dan
>     > militer.
>     >
>     > Dapat dikatakan dengan tegas, Israel dalam agresi ini mengalami
>     > kekalahan militer sekaligus kerugian politik. Jadi pecundang, meski
>     > telah menciptakan kehancuran dan membunuh serta melukai ribuan
>     warga.
>     >
>     > Pertama, bila Israel memang pihak yang menang, mengapa mereka
>     mengemis
>     > ke masyarakat internasional agar mengirimkan kapal-kapal perang
>     guna
>     > mengawasi pantai Gaza dan buru-buru menandatangani perjanjian
>     keamanan
>     > dengan pemerintah AS demi menghalangi penyelundupan senjata ke Gaza?
>     >
>     > Kedua, jelas Israel memperlakukan Jalur Gaza dan faksi-faksi
>     > perlawanan di dalamnya layaknya negara besar yang mengancam
>     > keamanannya, yang memiliki kemampuan dahsyat kini dan mendatang,
>     yang
>     > bisa menjadi tantangan eksistensial bagi negara Israel.
>     >
>     > Ketiga, mesin propaganda Israel secara masif mendramatisasi isu
>     > terowongan Rafah. Hingga kini, Tel Aviv terus melakukan kontak
>     > intensif dengan negara-negara besar dan Mesir demi memperkuat
>     > langkah-langkah keamanan dan mengimpor teknologi mutakhir guna
>     > melakukan misi ini.
>     >
>     > Maka sebenarnya, bila Israel adalah sang pemenang dan faksi-faksi
>     > perlawanan (dilukiskan sebagai) pecundang dan pihak yang kalah,
>     > mengapa pasukan Israel tidak tetap menduduki lintasan
>     Shalahuddin yang
>     > dikenal dengan jalur Philadephia dan mengatasi masalah
>     penyelundupan
>     > ini tanpa meminta bantuan kepada pihak-pihak lain?
>     >
>     > Keempat, galibnya, perang dilakukan demi meraih tujuan-tujuan
>     politik
>     > bagi mereka yang mengambil keputusan untuk melemparkan peluru
>     pertama
>     > dan mengerahkan tentara untuk memasuki medannya.
>     >
>     > *Tak Mengubah Dominasi*
>     >
>     > Lalu, apa tujuan politik yang diraih petinggi politik Israel dalam
>     > agresi ini? Ia sama sekali tidak mengubah dominasi dan mengganti
>     > kekuasaan Hamas di Gaza. Tidak juga mampu menghentikan tembakan
>     roket
>     > ke arah negaranya. Tidak pula berhasil menyerahkannya kepada
>     pejabat
>     > Palestina di Ramallah.
>     >
>     > Kelima, semestinya porsi dan kontribusi pihak yang (mengaku) menang
>     > dalam agresi ini menghiasi survei-survei dua pekan menjelang pemilu
>     > Israel 10 Februari nanti. Namun, kenyataan menunjukkan kelompok
>     kanan
>     > Israel pimpinan Benjamin Netanyahu yang tidak ikut dalam agresi
>     atas
>     > Gaza malah melonjak (29 kursi hingga kini).
>     >
>     > Sebaliknya, porsi Partai Kadima pimpinan Menteri Luar Negeri Livni
>     > menurun hingga 26 kursi. Sementara Ehud Barak, menteri pertahanan
>     > Israel, hanya sibuk menghitung kursi-kursi yang tersisa untuk
>     Partai
>     > Buruh pimpinannya akibat agresi ini.
>     >
>     > Sebaliknya, saat orang-orang Palestina sibuk menghitung jumlah
>     korban
>     > gugur, indikator-indikator menegaskan adanya perubahan tak berarti
>     > dalam perjudian politiknya di dalam dan di luar Israel.
>     >
>     > Yang ingin menetapkan Israel sebagai pemenang adalah rezim-rezim
>     > ''poros moderat'', bukan rakyat Palestina, masyarakat dunia
>     Islam yang
>     > menjadi pemenang karena keteguhan faksi-faksi perlawanan. Bukan
>     jutaan
>     > massa di seluruh dunia yang turun ke jalan melakukan demonstrasi
>     > solidaritas dengan warga Gaza sekaligus mengecam sikap diam
>     pemimpin
>     > mereka.
>     >
>     > Sikap itu menunjukkan adanya konspirasi andil rezim-rezim tersebut
>     > dalam agresi ini karena semua memiliki kepentingan yang sama dengan
>     > Israel. Yaitu, menumpas opsi perlawanan militer di tanah Palestina.
>     >
>     > Kita harus berterus terang bahwa faksi-faksi perlawanan dan
>     pejuang di
>     > Gaza tidak pernah berkata akan menaklukkan Tel Aviv, membebaskan
>     > Masjid Al Aqsa, dan gereja-gereja Jerusalem yang dijajah. Apa yang
>     > dikatakan dan menjadi slogannya adalah melawan agresi Israel dengan
>     > segala daya dan upaya.
>     >
>     > Itulah yang dilakukan secara menakjubkan. Belum pernah ada
>     sebelumnya
>     > sepanjang sejarah perang melawan pendudukan Israel, kecuali dalam
>     > pertempuran heroik di perkemahan Jenin saat melawan agresi Israel
>     > dengan tujuan yang sama pula.
>     >
>     > /*. Muhsin Labib, doktor filsafat, alumnus International Centre for
>     > Islamic Studies, Iran; penulis buku ''Ahmadinejad: David di Tengah
>     > Angkara Goliath'' dan ''Good Bye Bush''/
>     > //
>     > //
>     > http://jawapos.com/ <http://jawapos.com/> <http://jawapos.com/
>     <http://jawapos.com/>>
>     >
>     > *http://media-klaten.blogspot.com/*
>     <http://media-klaten.blogspot.com/*>
>     <http://media-klaten.blogspot.com/
>     <http://media-klaten.blogspot.com/>>
>     > **
>     > **
>     > **
>     > *salam*
>     > *Abdul Rohim*
>     >
>     >
>     >
>
>
> 

Kirim email ke