Bung Mohamad soleh, kita harus respek dan toleran kepada agama lainnya.
Setiap agama memiliki nabi terakhir. Apakah bilamana ada planet lain yang
memiliki penduduk pula tidak boleh mengakui nabi terakhirnya? Saya kira nabi
terakhir menurut pandangan Islam memang Muhammad tapi hal ini tidak boleh
kita paksakan kepemeluk agama lainnya karena jangan lupa Islam memiliki
Allah beberapa yang lainnya mempunyai serta mengakui dewa-dewa, apakah
mereka harus mengakui nabinya Islam? Islam bukanlah peraturan perundang2an
yang patut diakui dan ditaati oleh pemeluk agama yang lainnya seperti
misalnya daging babi dalam Islam atau Yahudi haram/tidak kosher (padahal
diciptakan pula oleh Tuhan - ciptaannya sendiri kemudian diharamkan...????)
sedangkan orang beragama lain atau atheis bebas makan apa saja. Kita sebagai
manusia harus bersikap universalis dan toleransi dengan agama lain, jangan
memaksakan kehendak dan peraturan agama kita kepada orang lain karena jangan
lupa tidak ada didunia ini kecap nomor dua, semua kecap pasti nomor satu.
Untuk itu supaya mengurangi peperangan, debat kusir, non-tolerancy terhadap
agama lainnya baiknya hal-hal yang berbau agama anda simpan saja dalam hati
anda persis seperti yang saya lakukan sehingga sahabat, handai taulan saya
banyak karena tidak ingin membicarakan hal intim ini. Karena bagi saya agama
adalah hal yang sangat intim sekali seperti kita kalau sedang mandi tentunya
idak mau supaya ada yang melihat kita. Biarkan setiap orang mempertanggung
jawabkan dirinya langsung keatas (atau kemana saja sesuai yang dia percaya).
salam hangat

Teddy

2009/12/31 Mohamad Soleh <aye.m.so...@gmail.com>

>
>
> Bung, Leonardo Rimba
>
> Nabi Muhamad SAW adalah Nabi terakhir, ada dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab :
> 40
>
> Artinya : "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki
> di antara kalian, tapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi. Dan
> Allah Maha Mengetahui segala Sesuatu"
>
>
> Seorang muslim amat sangat memegang teguh apa yang ada dalam Al-Quran,
> sebagai Ucapan Allah SWT (Kallamullah). Sehingga satu saja ada ayat yang
> sangat jelas dan gamblang tentang suatu masalah sudah cukup untuk
> membuktikan bahwa Allah SWT, memang mengharuskan seorang muslim memegang hal
> tersebut...demikian saudara Leo.
>
>
> Demikian terima kasih..
>
>
>
> m. soleh
>
> Dibawah ini apa yang ditulis saudara Leonardo
>
>
> Friends,
>
> Menurut pendapat saya penggunaan istilah 'nabi penutup' merupakan contoh
> pembodohan massal yg terakhir dan sempurna. Siapa yg mengatakan orang itu
> sebagai nabi penutup? Yg mengatakan adalah orang itu sendiri atau
> pengikutnya bukan? Pedahal masih banyak nabi-nabi lainnya. Setiap jaman dan
> masyarakat selalu mempunyai nabi-nabi yg terakhir. Kata 'terakhir' juga
> perlu dimengerti sebagai kiasan belaka.
>
> Tentu saja orang bisa berargumen bahwa "Allah ta'alla" (dalam tanda kutip)
> bilang bahwa orang itu adalah nabi penutup. Tetapi Allah ta'alla yg mulutnya
> sering kita sumpalkan dengan kata-kata kita sendiri itu siapa? Allah ta'alla
> itu konsep buatan kita saja bukan? Kita bilang itu Tuhan dan namanya Allah.
> Lalu kita keluarkanlah kata-kata yg menurut kita berasal dari Alllah dan
> disampaikan melalui Jibril. Pedahal kata-kata itu ke luar dari mulut kita
> sendiri saja ketika kita sedang trance dan merasa ada ruh yg menggerakkan
> mulut kita.
>
> Merasa digerakkan oleh ruh bisa diterangkan dari sudut pandang psikologi.
> Tidak ada yg aneh, sebenarnya. Itu fenomenon biasa saja. Yg aneh itu adalah
> orang-orang yg mempraktekkan kultus individu terhadap apa yg diakuinya
> sebagai nabi penutup. Kristen dan Islam sama-sama terjangkit kultus
> individu. Mengkultuskan manusia biasa yg kebetulan memiliki kemampuan
> bernubuah atau berbicara atas nama Allah.
>
> Pedahal berbicara atau menulis atas nama Allah atau Tuhan lainnya merupakan
> hal yg biasa dalam budaya Timur Tengah. Namanya bernubuah. Dan manusianya
> disebut nabi. Nabi itu profesi dan bukan gelar. Kalau profesinya bernubuah
> atau mengucapkan apa yg akan terjadi di masa depan, maka kita bilang orang
> itu seorang nabi. Ada juga nabi amatir, yaitu orang yg bernubuah tanpa
> mengumpulkan infak walaupun bukan berarti nubuahnya tidak bermutu. Mutu
> nubuahnya bisa saja lebih bagus walaupun orangnya tidak mengumpulkan
> pengikut dan membuka kotak sumbangan.
>
> Etnik non Yahudi di Timur Tengah biasanya punya nabi yg bernubuah untuk
> dewa dewi yg merupakan konsep kelas bawah. Ada dewi bulan, ada dewa
> matahari, macam-macam. Dan yg ternyata lebih bisa bertahan sampai sekarang
> adalah konsep dari orang Yahudi tentang Yehovah Elohim. Kata gantinya adalah
> Eloah. Dan dari sini muncul permainan kata Ilah dan Al Iilah. Akhirnya
> lahirlah nama 'Allah'. Konsep saja bukan?
>
> Tetapi ini konsep yg dikaburkan habis-habisan, dikaburkan juga oleh orang
> spiritual dari aliran Sufi. Dasarnya adalah ketakutan. Takut bahwa orang
> banyak akan membuat keonaran kalau memahami bahwa Allah itu cuma konsep
> thok. Pedahal ada keonaran apa? Apakah orang akan membuat keonaran ketika
> tahu bahwa ada Allah yg hidup di dalam kesadarannya? Dan ternyata itu sama.
> Ternyata di setiap orang itu ada Allah, apapun latar belakangnya, apapun
> kepercayaannya.
>
> Tetapi, sekali lagi, konsep 'nabi penutup' itu membuat orang benar-benar
> terpuruk secara spiritual. The reasoning goes, kalau nabi penutup begitu
> memuakkan kelakuannya, maka tentu saja orang-orang yg bukan nabi bisa lebih
> bebas. Seperti itu jalan pikirannya bukan? Setidaknya kita akan tahu bahwa
> kita tidak akan seperti si nabi penutup yg jelas-jelas menginjak-injak HAM
> (Hak Azasi Manusia).
>
> Tetapi sebenarnya konsep nabi penutup juga telah banyak ditinggalkan. Orang
> akhirnya akan mengerti juga bahwa konsep itu diciptakan oleh kelas guru
> agama/guru spriitual demi merekrut pengikut sebanyak-banyaknya. Demi uang
> dan kedudukan saja. So, go to hell with konsep nabi penutup, amin.
>
> Kita sekarang sudah tahu bahwa nabi-nabi tidak akan pernah habis-habisnya
> lahir ke dunia ini, bahkan sampai sekarang. Karl Marx dan Sigmund Freud
> adalah para nabi menurut tradisi Yahudi yg selalu ada di setiap jaman. Kanun
> berupa Tanakh (kitab suci Yahudi) sudah ditutup dua ribu tahun yg lalu oleh
> para pemuka agama Yahudi, tetapi manusia tidak kekurangan nabi-nabi dari
> tradisi Yahudi. Yg terakhir dan masih terus diingat orang namanya Karl Marx
> dan Sigmund Freud. Dan jasa-jasanya tidak kalah dari Y'sua ha Maschiah (Isa
> Al Masih) yg sampai sekarang juga tetap tidak diakui oleh kalangan keagamaan
> Yahudi orthodox.
>
> Kita di Indonesia juga tidak kekurangan para nabi. Ada nabi-nabi yg anonim
> atau tidak bisa ditelusuri secara fisik, melainkan cuma bisa dilihat hasil
> nubuahnya melalui karya tulis yg diwariskan dari satu generasi ke generasi
> berikutnya. Seperti banyak nabi Yahudi yg tidak jelas asal usulnya, maka
> nabi-nabi Indonesia ini juga tidak perlu dipolemikkan. Kita cuma tahu nubuah
> atau tulisannya. Yg masuk kategori ini adalah penulis Serat Darmo Gandul,
> Syekh Siti Jenar, dan Empu Kuturan dari Bali. Bahkan di deretan ini termasuk
> juga Ibu Kartini dan Presiden Sukarno. Kalau orangnya bernubuah, maka kita
> sebut nabi. Bernubuah artinya mengucapkan apa yg akan terjadi di masa depan.
>
> Lia Eden itu nabi juga yg didzolimi oleh penguasa, persis seperti nasib
> para nabi Yahudi yg didzolimi oleh penguasa di jamannya. Muhammad Amin yg
> ada di Holland juga seorang nabi, walaupun mungkin tidak didzolimi karena
> dia tinggal di Eropa Barat yg sangat menghormati HAM, haiyya !! Dan siapa
> bilang kalau George Aditjondro dan para penulis 5 buku yg dibreidel
> Kejaksaan Agung RI bukan nabi? Mereka ddzolimi bukan? Didzolimi oleh
> pemerintah RI. Itulah ciri-ciri seorang nabi: didzolimi oleh penguasa. Ciri
> lainnya adalah berani, tidak malu-malu kucing, tidak suka menjilat kanan dan
> kiri, tidak suka main oral melainkan main gigi atawa suka menggigit saja.
> Kregg KREGG... !!
>
> Dan jelas tidak ada kata 'penutup' di sini. Kalau masih pakai kata
> 'penutup', artinya kita mau ikut melanggengkan pembodohan massal yg terakhir
> dan sempurna. Untuk apa?
>
> Ajaran nabi-nabi yg asli semuanya akan merujuk kepada kultivasi kesadaran
> yg diperoleh ketika kita meditasi di cakra mata ketiga yg disebut sebagai
> Mata Siwa oleh orang Bali. Maybe harus saya akui terus terang bahwa meditasi
> di cakra mata ketiga (titik antara kedua alis mata) juga otomatis akan
> diimbangi oleh cakra mata kesatu (titit antara kedua pangkal paha). Jadi
> memang tubuh bagian bawah akan gelisah (geli-geli basah) ketika tubuh bagian
> atas merasa menyambung dengan Allah ta'ala. Istilahnya nyambung atas dan
> bawah. This is very normal, makanya orang yg kuat di cakra mata ketiga juga
> kuat buat esex esex. Esex esex is the istilah ketika sang gondal gandul
> diaktifkan. Namanya politik luar negri bebas dan aktif. Bebas artinya suka
> sama suka. Aktif artinya maju terus pantang mundur. Maju satu mundur satu
> persis seperti tari poco-poco. Bisa juga dengan gaya tari legong. Atau, yg
> lebih oke lagi, gaya goyang Karawang. So, menurut saya, penyeimbang cakra
> mata ketiga itu memang cakra sex. Nyambung atas dan bawah. Konek and konak,
> yeah !!
>
> Mereka yg fokus di cakra jantung tidak mengalami gangguan nabirong (napsu
> birahi merongrong)i karena cakra jantung diseimbangkan oleh cakra solar
> plexus. Yg main cuma dada dan perut saja, sehingga orangnya akan penuh
> dengan welas asih dan mau kerja bakti. Mereka yg berasal dari aliran
> Buddhist banyak yg fokus di cakra jantung. Aliran-aliran keagamaan lainnya
> banyak juga yg fokus di jantung. Keuntungannya adalah mereka bisa bebas dari
> gairah birahi yg mungkin dengan sengaja dihindari karena mereka percaya
> bahwa sex itu dosa atau kotor. Tetapi cakra jantung bukanlah cakra
> tertinggi, sehingga orang yg fokus di cakra jantung gampang jatuh. Gampang
> tertekan. Dan tidak berani berbicara karena kalau berbicara dan mengemukakan
> pendapat ditakutkan akan membawa dirinya semakin jauh dari sorga atau
> nirwana. Mereka yg fokus di cakra jantung (baik sadar maupun tidak),
> biasanya selalu penuh dengan belief systems atau kepercayaan yg terasa
> menyesakkan. Banyak haramnya. Banyak takutnya.
>
> Pada pihak lain, kita juga bisa bilang bahwa semua fokus yg ada di jalur
> tengah tubuh manusia sebenarnya berguna. Berguna untuk menstabilkan
> manusianya. Bisa dibilang grounding atau centering. Mungkin centering atau
> 'memusat' merupakan istilah yg lebih tepat karena grounding biasanya
> digunakan untuk menyebut teknik pembersihan ketika kita membuang energi yg
> kotor ke dalam tanah. Jadi, kita bisa centered atau terpusat kalau fokus di
> titik-titik tengah. Bisa di cakra dasar, cakra sex, cakra solar plexus,
> cakra tenggorokan, cakra mata ketiga, cakra mahkota dan cakra gerbang alam
> semesta. Saya pernah mencoba semuanya. Ini basic biasa saja. Tetapi
> lama-kelamaan saya merasa bahwa pembersihan ala kundalini tidak diperlukan
> terus-menerus. Kita sudah bersih dari atas sampai bawah. Kalau sudah bersih
> maka kita bisa langsung fokus di cakra tertinggi. Mungkin lebih pas disebut
> sebagai cakra "terdalam", yg tidak lain dan tidak bukan merupakan cakra mata
> ketiga atau God Spot. Di sini kita merasakan sadar bahwa kita sadar.
>
> Lanjut tentang hal pernabian yg terakhir dan sempurna. Bagi banyak orang di
> Jawa dan di Bali, Serat Darmo Gandul dan Sabdo Palon (penulisnya?) dianggap
> cukup penting. Mungkin semakin lama semakin penting karena prediksi yg
> dituliskan di serat itu sedang terjadi saat ini di seluruh Indonesia.
> Kembalinya ajaran Budhi (Budi Pekerti?) itu dengan cara mengobrak-abrik
> kebekuan ajaran lama yg dianggap "luhur" (dalam tanda kutip). Pedahal semua
> tahu bahwa ajaran yg disohor-sohorkan saat ini itu tidak luhur, melainkan
> cuma diluhur-luhurkan saja.
>
> Apakah MUI mengajarkan agama luhur? Of course tidak. MUI itu mengajarkan
> kefanatikan beragama yg membawa manusia semakin terpuruk. Semakin manusianya
> terpuruk secara spiritual, maka semakin senanglah MUI. Kita tahu bahwa agama
> adalah lahan yg sangat basah untuk pemasukan sumbangan bagi MUI dan mereka
> yg duduk di dalamnya. Mereka asumsikan bahwa Islam adalah agama paling
> "luhur" (dalam tanda kutip), pedahal prakteknya justru berkebalikan. Semakin
> orangnya menyohorkan Islam, maka semakin terbongkarlah borok-boroknya. Itu
> semua sudah dilihat oleh Sabdo Palon dan dituliskan di dalam Serat Darmo
> Gandul.
>
> Bukan Islam saja, melainkan semua agama di Indonesia sudah terjangkit oleh
> virus komersialisme, termasuk yg ada di Bali juga. Banyak sekali teman-teman
> yg berasal dari Bali sudah menyuarakan isi hatinya bahwa agama bukan membawa
> pembebasan, melainkan keterpurukan. Masa agama Hindu Bali sudah
> ke-islam-islaman? Masa agama Kristen di Indonesia juga sudah
> ke-islam-islaman? Ke-islam-islaman adalah ciri yg menandakan bahwa agamanya
> sudah mencapai titik jenuh. Pembaharuan tidak terelakkan lagi.
>
> Dan siapa Sabdo Palon yg akan datang kembali itu kalau bukan kita semua?
> Kita semua yg ada di sini, pribadi per pribadi. Sabdo Palon bukanlah seorang
> figur, walaupun bisa juga diartikan demikian. Tapi nanti kita bisa jatuh
> terpuruk ke dalam kultus individu lagi kalau menunggu datangnya kembali
> figur Sabdo Palon di dalam diri seorang manusia, pedahal sekarang jaman
> kultus individu sudah lewat. Kultus individu hanya akan membawa keterpurukan
> manusia yg mungkin juga merupakan satu proses yg tidak terelakkan. Kalau
> kita sudah terpuruk habis-habisan barulah kita akan mau berubah.
>
> Sebelum jatuh terpuruk, kita tidak mau berubah. Kita merasa diri kitalah yg
> paling benar. Kejaksaan Agung RI merasa diri paling benar membreidel 5 buku.
> Mereka merasa bahwa mereka lebih tahu siapa itu Tuhan dibandingkan dengan
> kita semua. Pedahal banyak dari kita sudah tahu bahwa Tuhan yg
> digembar-gemborkan itu cuma konsep thok. Kita mau bilang Tuhan berbentuk
> apapun tidak akan menjadi masalah karena Tuhan tidak bisa apa-apa. Tuhan
> tidak bisa berbicara. Yg berbicara adalah kita semua, berbicara atas nama
> Tuhan. Dan kita bisa saja menyebut Tuhan dengan nama apapun. Bisa disebut
> Acintya. Bisa tanpa nama. Bisa dibawa menjadi lagu cengeng 'Oh, Tuhan...'
> (dan yg seperti itu tidak pernah dilarang).
>
> Saya tidak mengerti bahasa Jawa, saya tidak tahu isi Serat Darmo Gandul.
> Pengertian yg saya dapat saya peroleh langsung ketika Darmo Gandul datang
> dan mengganduli kaki saya. Makanya saya tahu bahwa kalau Darmo Gandul datang
> ke kesadaran kita, maka artinya kita tidak akan bablas, kita akan membumi.
> Walaupun kita ngomong jorok, kita akan mengajarkan Budhi... Dan saya bisa
> tahu itu karena sebelumnya muncul Buddha dalam bentuk Dewi Kuan Im di atas
> kepala saya. Dewi Kuan Im atau Bodhisatva Avalokitesvara muncul di paling
> atas, dan Darmo Gandul di paling bawah. Keduanya dibutuhkan agar kita bisa
> seimbang.
>
> Sebelumnya lagi, Dewa Ganesha muncul di sebelah kiri saya, dan seorang sufi
> di sebelah kanan saya. Sanghyang Yesus itu berjalan bersama saya. Itu saja
> sudah lima simbol yg muncul. Sadulur papat limo pancer.
>
> Yg pertama muncul itu Ganesha, lalu seorang sufi yg saya sebut 'Syekh Abdul
> Qadir Jaelani'. Artinya, ajaran Hindu itu perlu diseimbangkan dengan ajaran
> manunggaling dari Sufisme. Tidak bisa praktek ritual belaka, melainkan harus
> kultivasi kesatuan kesadaran juga.
>
> Buddha muncul paling atas, dan tidak bisa seimbang sebelum muncul Darmo
> Gandul di paling bawah. Artinya, ajaran welas asih itu perlu dipraktekkan
> bersamaan dengan hal-hal yg realistis, seperti bilang bahwa kontole gondal
> gandul, gatholoco, kalau gatel ngeloco saja,... things like that. Dan ini
> semuanya ajaran Budhi. Dan praktisinya adalah kita semua.
>
> Sabdo Palon sudah datang. He is you and me. Women and men, kita semua yg
> ada di sini.
>
>
> Leo
> @ Komunitas Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/gr
> oup/spiritual-indonesia>
>  
>

Kirim email ke