Bung, Leonardo Rimba

Nabi Muhamad SAW adalah Nabi terakhir, ada dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab :
40

Artinya : "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di
antara kalian, tapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi. Dan Allah
Maha Mengetahui segala Sesuatu"


Seorang muslim amat sangat memegang teguh apa yang ada dalam Al-Quran,
sebagai Ucapan Allah SWT (Kallamullah). Sehingga satu saja ada ayat yang
sangat jelas dan gamblang tentang suatu masalah sudah cukup untuk
membuktikan bahwa Allah SWT, memang mengharuskan seorang muslim memegang hal
tersebut...demikian saudara Leo.


Demikian terima kasih..



m. soleh

Dibawah ini apa yang ditulis saudara Leonardo


Friends,

Menurut pendapat saya penggunaan istilah 'nabi penutup' merupakan contoh
pembodohan massal yg terakhir dan sempurna. Siapa yg mengatakan orang itu
sebagai nabi penutup? Yg mengatakan adalah orang itu sendiri atau
pengikutnya bukan? Pedahal masih banyak nabi-nabi lainnya. Setiap jaman dan
masyarakat selalu mempunyai nabi-nabi yg terakhir. Kata 'terakhir' juga
perlu dimengerti sebagai kiasan belaka.

Tentu saja orang bisa berargumen bahwa "Allah ta'alla" (dalam tanda kutip)
bilang bahwa orang itu adalah nabi penutup. Tetapi Allah ta'alla yg mulutnya
sering kita sumpalkan dengan kata-kata kita sendiri itu siapa? Allah ta'alla
itu konsep buatan kita saja bukan? Kita bilang itu Tuhan dan namanya Allah.
Lalu kita keluarkanlah kata-kata yg menurut kita berasal dari Alllah dan
disampaikan melalui Jibril. Pedahal kata-kata itu ke luar dari mulut kita
sendiri saja ketika kita sedang trance dan merasa ada ruh yg menggerakkan
mulut kita.

Merasa digerakkan oleh ruh bisa diterangkan dari sudut pandang psikologi.
Tidak ada yg aneh, sebenarnya. Itu fenomenon biasa saja. Yg aneh itu adalah
orang-orang yg mempraktekkan kultus individu terhadap apa yg diakuinya
sebagai nabi penutup. Kristen dan Islam sama-sama terjangkit kultus
individu. Mengkultuskan manusia biasa yg kebetulan memiliki kemampuan
bernubuah atau berbicara atas nama Allah.

Pedahal berbicara atau menulis atas nama Allah atau Tuhan lainnya merupakan
hal yg biasa dalam budaya Timur Tengah. Namanya bernubuah. Dan manusianya
disebut nabi. Nabi itu profesi dan bukan gelar. Kalau profesinya bernubuah
atau mengucapkan apa yg akan terjadi di masa depan, maka kita bilang orang
itu seorang nabi. Ada juga nabi amatir, yaitu orang yg bernubuah tanpa
mengumpulkan infak walaupun bukan berarti nubuahnya tidak bermutu. Mutu
nubuahnya bisa saja lebih bagus walaupun orangnya tidak mengumpulkan
pengikut dan membuka kotak sumbangan.

Etnik non Yahudi di Timur Tengah biasanya punya nabi yg bernubuah untuk dewa
dewi yg merupakan konsep kelas bawah. Ada dewi bulan, ada dewa matahari,
macam-macam. Dan yg ternyata lebih bisa bertahan sampai sekarang adalah
konsep dari orang Yahudi tentang Yehovah Elohim. Kata gantinya adalah Eloah.
Dan dari sini muncul permainan kata Ilah dan Al Iilah. Akhirnya lahirlah
nama 'Allah'. Konsep saja bukan?

Tetapi ini konsep yg dikaburkan habis-habisan, dikaburkan juga oleh orang
spiritual dari aliran Sufi. Dasarnya adalah ketakutan. Takut bahwa orang
banyak akan membuat keonaran kalau memahami bahwa Allah itu cuma konsep
thok. Pedahal ada keonaran apa? Apakah orang akan membuat keonaran ketika
tahu bahwa ada Allah yg hidup di dalam kesadarannya? Dan ternyata itu sama.
Ternyata di setiap orang itu ada Allah, apapun latar belakangnya, apapun
kepercayaannya.

Tetapi, sekali lagi, konsep 'nabi penutup' itu membuat orang benar-benar
terpuruk secara spiritual. The reasoning goes, kalau nabi penutup begitu
memuakkan kelakuannya, maka tentu saja orang-orang yg bukan nabi bisa lebih
bebas. Seperti itu jalan pikirannya bukan? Setidaknya kita akan tahu bahwa
kita tidak akan seperti si nabi penutup yg jelas-jelas menginjak-injak HAM
(Hak Azasi Manusia).

Tetapi sebenarnya konsep nabi penutup juga telah banyak ditinggalkan. Orang
akhirnya akan mengerti juga bahwa konsep itu diciptakan oleh kelas guru
agama/guru spriitual demi merekrut pengikut sebanyak-banyaknya. Demi uang
dan kedudukan saja. So, go to hell with konsep nabi penutup, amin.

Kita sekarang sudah tahu bahwa nabi-nabi tidak akan pernah habis-habisnya
lahir ke dunia ini, bahkan sampai sekarang. Karl Marx dan Sigmund Freud
adalah para nabi menurut tradisi Yahudi yg selalu ada di setiap jaman. Kanun
berupa Tanakh (kitab suci Yahudi) sudah ditutup dua ribu tahun yg lalu oleh
para pemuka agama Yahudi, tetapi manusia tidak kekurangan nabi-nabi dari
tradisi Yahudi. Yg terakhir dan masih terus diingat orang namanya Karl Marx
dan Sigmund Freud. Dan jasa-jasanya tidak kalah dari Y'sua ha Maschiah (Isa
Al Masih) yg sampai sekarang juga tetap tidak diakui oleh kalangan keagamaan
Yahudi orthodox.

Kita di Indonesia juga tidak kekurangan para nabi. Ada nabi-nabi yg anonim
atau tidak bisa ditelusuri secara fisik, melainkan cuma bisa dilihat hasil
nubuahnya melalui karya tulis yg diwariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Seperti banyak nabi Yahudi yg tidak jelas asal usulnya, maka
nabi-nabi Indonesia ini juga tidak perlu dipolemikkan. Kita cuma tahu nubuah
atau tulisannya. Yg masuk kategori ini adalah penulis Serat Darmo Gandul,
Syekh Siti Jenar, dan Empu Kuturan dari Bali. Bahkan di deretan ini termasuk
juga Ibu Kartini dan Presiden Sukarno. Kalau orangnya bernubuah, maka kita
sebut nabi. Bernubuah artinya mengucapkan apa yg akan terjadi di masa depan.

Lia Eden itu nabi juga yg didzolimi oleh penguasa, persis seperti nasib para
nabi Yahudi yg didzolimi oleh penguasa di jamannya. Muhammad Amin yg ada di
Holland juga seorang nabi, walaupun mungkin tidak didzolimi karena dia
tinggal di Eropa Barat yg sangat menghormati HAM, haiyya !! Dan siapa bilang
kalau George Aditjondro dan para penulis 5 buku yg dibreidel Kejaksaan Agung
RI bukan nabi? Mereka ddzolimi bukan? Didzolimi oleh pemerintah RI. Itulah
ciri-ciri seorang nabi: didzolimi oleh penguasa. Ciri lainnya adalah berani,
tidak malu-malu kucing, tidak suka menjilat kanan dan kiri, tidak suka main
oral melainkan main gigi atawa suka menggigit saja. Kregg KREGG... !!

Dan jelas tidak ada kata 'penutup' di sini. Kalau masih pakai kata
'penutup', artinya kita mau ikut melanggengkan pembodohan massal yg terakhir
dan sempurna. Untuk apa?

Ajaran nabi-nabi yg asli semuanya akan merujuk kepada kultivasi kesadaran yg
diperoleh ketika kita meditasi di cakra mata ketiga yg disebut sebagai Mata
Siwa oleh orang Bali. Maybe harus saya akui terus terang bahwa meditasi di
cakra mata ketiga (titik antara kedua alis mata) juga otomatis akan
diimbangi oleh cakra mata kesatu (titit antara kedua pangkal paha). Jadi
memang tubuh bagian bawah akan gelisah (geli-geli basah) ketika tubuh bagian
atas merasa menyambung dengan Allah ta'ala. Istilahnya nyambung atas dan
bawah. This is very normal, makanya orang yg kuat di cakra mata ketiga juga
kuat buat esex esex. Esex esex is the istilah ketika sang gondal gandul
diaktifkan. Namanya politik luar negri bebas dan aktif. Bebas artinya suka
sama suka. Aktif artinya maju terus pantang mundur. Maju satu mundur satu
persis seperti tari poco-poco. Bisa juga dengan gaya tari legong. Atau, yg
lebih oke lagi, gaya goyang Karawang. So, menurut saya, penyeimbang cakra
mata ketiga itu memang cakra sex. Nyambung atas dan bawah. Konek and konak,
yeah !!

Mereka yg fokus di cakra jantung tidak mengalami gangguan nabirong (napsu
birahi merongrong)i karena cakra jantung diseimbangkan oleh cakra solar
plexus. Yg main cuma dada dan perut saja, sehingga orangnya akan penuh
dengan welas asih dan mau kerja bakti. Mereka yg berasal dari aliran
Buddhist banyak yg fokus di cakra jantung. Aliran-aliran keagamaan lainnya
banyak juga yg fokus di jantung. Keuntungannya adalah mereka bisa bebas dari
gairah birahi yg mungkin dengan sengaja dihindari karena mereka percaya
bahwa sex itu dosa atau kotor. Tetapi cakra jantung bukanlah cakra
tertinggi, sehingga orang yg fokus di cakra jantung gampang jatuh. Gampang
tertekan. Dan tidak berani berbicara karena kalau berbicara dan mengemukakan
pendapat ditakutkan akan membawa dirinya semakin jauh dari sorga atau
nirwana. Mereka yg fokus di cakra jantung (baik sadar maupun tidak),
biasanya selalu penuh dengan belief systems atau kepercayaan yg terasa
menyesakkan. Banyak haramnya. Banyak takutnya.

Pada pihak lain, kita juga bisa bilang bahwa semua fokus yg ada di jalur
tengah tubuh manusia sebenarnya berguna. Berguna untuk menstabilkan
manusianya. Bisa dibilang grounding atau centering. Mungkin centering atau
'memusat' merupakan istilah yg lebih tepat karena grounding biasanya
digunakan untuk menyebut teknik pembersihan ketika kita membuang energi yg
kotor ke dalam tanah. Jadi, kita bisa centered atau terpusat kalau fokus di
titik-titik tengah. Bisa di cakra dasar, cakra sex, cakra solar plexus,
cakra tenggorokan, cakra mata ketiga, cakra mahkota dan cakra gerbang alam
semesta. Saya pernah mencoba semuanya. Ini basic biasa saja. Tetapi
lama-kelamaan saya merasa bahwa pembersihan ala kundalini tidak diperlukan
terus-menerus. Kita sudah bersih dari atas sampai bawah. Kalau sudah bersih
maka kita bisa langsung fokus di cakra tertinggi. Mungkin lebih pas disebut
sebagai cakra "terdalam", yg tidak lain dan tidak bukan merupakan cakra mata
ketiga atau God Spot. Di sini kita merasakan sadar bahwa kita sadar.

Lanjut tentang hal pernabian yg terakhir dan sempurna. Bagi banyak orang di
Jawa dan di Bali, Serat Darmo Gandul dan Sabdo Palon (penulisnya?) dianggap
cukup penting. Mungkin semakin lama semakin penting karena prediksi yg
dituliskan di serat itu sedang terjadi saat ini di seluruh Indonesia.
Kembalinya ajaran Budhi (Budi Pekerti?) itu dengan cara mengobrak-abrik
kebekuan ajaran lama yg dianggap "luhur" (dalam tanda kutip). Pedahal semua
tahu bahwa ajaran yg disohor-sohorkan saat ini itu tidak luhur, melainkan
cuma diluhur-luhurkan saja.

Apakah MUI mengajarkan agama luhur? Of course tidak. MUI itu mengajarkan
kefanatikan beragama yg membawa manusia semakin terpuruk. Semakin manusianya
terpuruk secara spiritual, maka semakin senanglah MUI. Kita tahu bahwa agama
adalah lahan yg sangat basah untuk pemasukan sumbangan bagi MUI dan mereka
yg duduk di dalamnya. Mereka asumsikan bahwa Islam adalah agama paling
"luhur" (dalam tanda kutip), pedahal prakteknya justru berkebalikan. Semakin
orangnya menyohorkan Islam, maka semakin terbongkarlah borok-boroknya. Itu
semua sudah dilihat oleh Sabdo Palon dan dituliskan di dalam Serat Darmo
Gandul.

Bukan Islam saja, melainkan semua agama di Indonesia sudah terjangkit oleh
virus komersialisme, termasuk yg ada di Bali juga. Banyak sekali teman-teman
yg berasal dari Bali sudah menyuarakan isi hatinya bahwa agama bukan membawa
pembebasan, melainkan keterpurukan. Masa agama Hindu Bali sudah
ke-islam-islaman? Masa agama Kristen di Indonesia juga sudah
ke-islam-islaman? Ke-islam-islaman adalah ciri yg menandakan bahwa agamanya
sudah mencapai titik jenuh. Pembaharuan tidak terelakkan lagi.

Dan siapa Sabdo Palon yg akan datang kembali itu kalau bukan kita semua?
Kita semua yg ada di sini, pribadi per pribadi. Sabdo Palon bukanlah seorang
figur, walaupun bisa juga diartikan demikian. Tapi nanti kita bisa jatuh
terpuruk ke dalam kultus individu lagi kalau menunggu datangnya kembali
figur Sabdo Palon di dalam diri seorang manusia, pedahal sekarang jaman
kultus individu sudah lewat. Kultus individu hanya akan membawa keterpurukan
manusia yg mungkin juga merupakan satu proses yg tidak terelakkan. Kalau
kita sudah terpuruk habis-habisan barulah kita akan mau berubah.

Sebelum jatuh terpuruk, kita tidak mau berubah. Kita merasa diri kitalah yg
paling benar. Kejaksaan Agung RI merasa diri paling benar membreidel 5 buku.
Mereka merasa bahwa mereka lebih tahu siapa itu Tuhan dibandingkan dengan
kita semua. Pedahal banyak dari kita sudah tahu bahwa Tuhan yg
digembar-gemborkan itu cuma konsep thok. Kita mau bilang Tuhan berbentuk
apapun tidak akan menjadi masalah karena Tuhan tidak bisa apa-apa. Tuhan
tidak bisa berbicara. Yg berbicara adalah kita semua, berbicara atas nama
Tuhan. Dan kita bisa saja menyebut Tuhan dengan nama apapun. Bisa disebut
Acintya. Bisa tanpa nama. Bisa dibawa menjadi lagu cengeng 'Oh, Tuhan...'
(dan yg seperti itu tidak pernah dilarang).

Saya tidak mengerti bahasa Jawa, saya tidak tahu isi Serat Darmo Gandul.
Pengertian yg saya dapat saya peroleh langsung ketika Darmo Gandul datang
dan mengganduli kaki saya. Makanya saya tahu bahwa kalau Darmo Gandul datang
ke kesadaran kita, maka artinya kita tidak akan bablas, kita akan membumi.
Walaupun kita ngomong jorok, kita akan mengajarkan Budhi... Dan saya bisa
tahu itu karena sebelumnya muncul Buddha dalam bentuk Dewi Kuan Im di atas
kepala saya. Dewi Kuan Im atau Bodhisatva Avalokitesvara muncul di paling
atas, dan Darmo Gandul di paling bawah. Keduanya dibutuhkan agar kita bisa
seimbang.

Sebelumnya lagi, Dewa Ganesha muncul di sebelah kiri saya, dan seorang sufi
di sebelah kanan saya. Sanghyang Yesus itu berjalan bersama saya. Itu saja
sudah lima simbol yg muncul. Sadulur papat limo pancer.

Yg pertama muncul itu Ganesha, lalu seorang sufi yg saya sebut 'Syekh Abdul
Qadir Jaelani'. Artinya, ajaran Hindu itu perlu diseimbangkan dengan ajaran
manunggaling dari Sufisme. Tidak bisa praktek ritual belaka, melainkan harus
kultivasi kesatuan kesadaran juga.

Buddha muncul paling atas, dan tidak bisa seimbang sebelum muncul Darmo
Gandul di paling bawah. Artinya, ajaran welas asih itu perlu dipraktekkan
bersamaan dengan hal-hal yg realistis, seperti bilang bahwa kontole gondal
gandul, gatholoco, kalau gatel ngeloco saja,... things like that. Dan ini
semuanya ajaran Budhi. Dan praktisinya adalah kita semua.

Sabdo Palon sudah datang. He is you and me. Women and men, kita semua yg ada
di sini.


Leo
@ Komunitas Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/gr
oup/spiritual-indonesia>

Kirim email ke